Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Menjalin Persahabatan Dengan Dio


"Eh, tumben anak ini baik? apa salah minum obat kali ya?" tanya dalam hati Rani yang penasaran, maka dia menyanggupi mengikuti Dio.


"Baiklah!" balas Rani.


Dio berbisik sama salah satu pengawalnya, dan pengawal itu pergi dan yang satunya mengikuti Dio.


"Dio syukurlah kamu bisa masuk sekolah dan bisa ulangan." kata Rani pada saat keduanya melangkahkan kaki meninggalkan bangku kelas masing-masing.


"Iya syukurlah aku bisa sembuh tepat waktunya." kata Dio sambil tersenyum.simpul.


Mereka pun sampai ditaman sekolah dan cari tempat duduk yang nyaman.


"Rani, terima kasih ya kemarin kamu telah menyelamatkan saya padahal saya sering mengganggu kamu." kata Dio saat mereka sudah duduk di kursi taman.


"Ah sudahlah jangan diomongin lagi." kata Rani.


"Aku juga minta maaf karena aku menyuruhmu keluar dari kamarku lewat jendela. Mengakibatkan kamu dan Dito..." Dio tak melanjutkan kata-katanya.


"Ha...! Siapa yang bilang?" tanya Rani kaget, karena yang tahu kejadian itu hanya Dia, Dito dan Sersan Saga


"Dito yang mengatakanya" jawab Dio menatap Rani.


"Andai aku berani menghadapi Bella waktu itu, kamu tak harus pergi lewat jendela dan tak perlu sembunyi di kamar Dito." kata Dio.


"Kenapa Dito menceritakannya pada Dio? Dito kau membuatku malu..." gerutu Rani dalam hati.


"Kami memang saudara kembar, tapi kami memang dibedakan. Kenapa? karena Dito yang membunuh Ibunda kami pada saat itu!" jelas Dio.


"Apa? tidak mungkin. Dito kan masih kecil waktu itu?" tanya Rani yang kaget.


"Iya cerita Mama Annet ibu tiri ku begitu. Sejak ibundaku meninggal, kami tidak bisa bersama-sama lagi. Dito dikurung dipenjara bawah tanah berbulan-bulan. Sampai kakak Sania berhasil membujuk mama Annet untuk mengeluarkan Dito.Yang aku ingat, papa dan mama Annet tidak pernah sedikitpun mengeluarkan uang untuk Dito, kecuali Dito mau jadi pembantu. Jadi biaya hidupnya dari gaji Dito yang jadi pembantu. Tapi kadang kak Sania membantu biaya sekolah Dito. Makanya kita bisa sekolah bareng." cerita Dio.


"Tragis ya nasib Dito? kalau benar Dia yang membunuh Ibunda kalian, kalau bukan dia yang membunuh?" tanya Rani yang penasaran.


"Kamu peduli ya sama Dito, padahal kalian baru ada masalah?" Dio balik bertanya.


"Mendengar cerita kamu, terlepas Dito bersalah atau tidaknya. Dia sudah merasakan hukumannya begitu lama. Dan disitu ada hak dia mendapat fasilitas sama dengan kamu? Walau pun mama Annet dan papamu menghukum Dito. Kamu jangan ikut menghukum atau membencinya. Bukan karena aku teman sebangku Dito, tapi karena rasa kemanusiaan dan rasa peduliku pada kalian. Kalian bersaudara, seharusnya lah kalian jaga rasa persaudaraan antara kalian " jawab Rani panjang.


"Peduli? kamu peduli pada kami?" tanya Dio dan sedikit terpancar wajah berseri.


"Iya, bukankah kalian bersaudara? suatu saat kalian saling membutuhkan." kata Rani.


"Misalnya saja, salah satu dari kalian kecelakaan dan butuh darah. Orang yang dicari pasti keluarga. Betul tidak?" jelas Rani.


Dio tersenyum, seperti mendapat suatu pencerahan tentang masalah yang dia hadapi.


"Rani, bolehkah kita bersahabat? aku suka jalan pemikiran kamu." pinta Dio sambil tersenyum


"Boleh-boleh saja, asalkan demi kebaikan bersama," jawab Rani membalas senyuman Dio.


Pengawal Dio yang tadi pergi, datang membawa dua bungkusan dan dua botol air meneral. Setelah itu dia serahkan pada Dio, lalu Dio memberikan Rani satu bungkusan dan satu air mineral.


"Apa ini?" tanya Rani.


"Buka aja!" jawab Dio.


Rani kemudian membukanya.


"Burger..!" kata Rani.


"Iya, makanlah!" jawab sekaligus perintah Dio.


Rani melihat kedua pengawal Dio, dan melihat pengawal tersebut yang hanya berdiri saja. Ada perasaan risih karena Rani tak terbiasa jika makan dilihat orang.


"Kita makan, lantas mereka apa nggak makan juga?" tanya Rani.


"Mereka akan makan setelah kita masuk ke kelas nanti secara bergantian" jawab Dio sambil membuka burgernya.


Dio menghentikan niatnya menyantap Burger, Dia menatap Rani ingin tahu alasan Rani.


"Aku tak terbiasa makan di awasi itu aja kok. Jadi boleh ya mereka makan dulu?" tanya Rani yang sedikit memohon.


"Oh begitu ya. Baiklah, kalian dengar kata sahabatku tadi? Sekarang makan sianglah dulu.Temanku butuh privasi!" perintah Dio.


"Baik tuan." jawab kedua pengawal itu yang kemudian bergegas meninggalkan mereka menuju ke kantin Sekolah.


Rani mengulas senyumnya dan Dio membalasnya, mereka pun akhirnya menghabiskan burger dengan sesekali bercanda. Mereka tak menyadari ada dua pasang mata yang mengawasi disisi berbeda.


Dito dan Bella yang memandang mereka berdua dengan amarah.


"Dio, aku nggak dapat fasilitas seperti kamu. Mengapa temanku satu-satunya kau rebut juga? Aku seperti nya lupa arti sebuah persaudaraan, tega sekali kamu Dio!" seru dalam hati Dito dengan tangan mengepal.


"Cewek cupu! pakai ramuan apa sih kamu sampai semua laki-laki mendekatimu? sekarang kau rebut juga pacar aku! tak ada ampun lagi bagimu dasar cewek cupuuuu...!!" seru Bella yang geram dengan tangannya beraksi menyobek-nyobek daun pada tanaman di depannya.


"Teeett....Teeett.... Teeett....!"


Bel mulai pelajaran pun berbunyi. Semua siswa bergegas melangkahkan kaki mereka untuk masuk ke kelas masing-masing.


Demikian pula dengan Rani, Dio, Dito dan Bella.


Disaat siswa berdesakan antri masuk ke kelas masing-masing, situasi itu di manfaatkan Bella menjahili Rani.


Bella medorong Rani dari samping kanan, Rani yang tak menyadarinya pun terhuyun-huyun ke arah samping kiri.


Belum sampai Rani terjatuh, tubuh Rani ada yang menangkapnya dari belakang. Yang tak lain adalah Dio yang sejak tadi berjalan di belakang Rani.


Adegan Dio menangkap Rani yang hampir jatuh, sama seperti drama atau sinetron di televisi. Dio dan Rani pun saling pandang. Sontak saja membuat semua siswa-siswi menoleh, mereka bersorak dan bertepuk tangan dengan riuhnya.


"Tom and Jerry dah akur....!"


"Wah seperti adegan sinetron itu ya...!"


"Drama Korea ada disini..!"


Dan lain sebagainya, itulah sebagian sorak-sorai para siswa yang berada di kejadian Dio menangkap Rani.


Melihat usahanya tak sesuai yang diinginkan, Bella menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali. Yang mengungkapkan perasaannya saat ini baru tidak senang.


"Siaaaaal....! Kenapa nasib mujur ada pada gadis cupu itu!" gerutu Bella sambil masuk ke kelas dengan kesal.


Sementara itu Rani dan Dio yang sadar jadi pusat perhatian, segera memperbaiki posisi mereka jadi sewajarnya.


"Eh, terima kasih ya Dio." kata Rani yang tersipu malu dan bergegas masuk ke kelas sambil membenarkan kacamatanya.


Sedangkan Dio terdiam terpaku merasakan jantungnya yang berdebar tak menentu, pada saat bersama Rani.


Setelah menguasai dirinya, Dio pun masuk ke kelas untuk menyusul Rani dan Bella.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


.