
"Kuliah, tapi aku cuti satu semester. He..he..!" kata Raditya sambil terkekeh.
"Cutinya kok lama?" tanya Yuki kembali yang penasaran.
"Selain mengurus bisnis papa, sebetulnya aku ada niat mau melamar pacar aku. Tapi sejak perjuampaan terakhir kemarin, aku rasa ada kebimbangan pada kekasih aku itu. Eh, kok aku malah curhat ya? He... he...he..!" jawab Raditya yang terkekeh yang sebenarnya tak enak hati.
Tapi 3ntah keapa dia terasa nyaman jika bercerita bersama Yuki
"Oh, jadi kak Radit sudah punya pacar ya?" tanya Yuki yang ada rasa sedikit kecewa.
"Iya, dia seorang selebritis, gengsinya gede? sedangkan aku masih kuliah, semua masih di penuhi oleh papa Wibowo." jawab Raditya yang merendah.
"Yang sabar saja kak, di jalani apa adanya dulu. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi nanti." kata Yuki yang seolah ikut prihatin.
"Kamu cantik manis lagi, apa belum punya pacar?" tanya Raditya.
"Eh..maksudnya apa kak?" tanya Yuki.
"Apa dia mau menembak aku ya? eh aku nggak mau jadi batu lampiasan..!" gumam Yuki dalam hati.
"Kamu kelihatannya menyukai adik tua ya? maka dari itu aku tanya, apa kamu sudah punya pacar apa belum. Karena aku ingin kamu jangan jadi duri di antara mereka. Kamu cantik dan manis, pasti akan banyak laki-laki yang menyukaimu!" jelas Raditya.
"Eh, kirain mau nembak. Dasar Yuki-Yuki, aneh kamu!" umpat dalam hati Yuki untuk dirinya sendiri seraya menghela napasnya.
"Adik tua? siapa dia?" tanya Yuki yang bingung.
"Saga..! Sersan Saga....!" jawab Raditya.
"Ah kak Radit bisa saja memberi julukan Saga sebagai adik tua!" kata. Yuki sambil tersenyum malu.
"Lha iya, lha dia bakal jadi suami karena dia akan bertunang adik aku, Rani. Sedangkan usia Sersan Saga itu lebih tua dari aku." jelas Raditya yang seketika itu juga dia sangat terkejut.
"A...apa! Saga akan bertunangan dengan Rani!" seru dalam hati Yuki yang tak percaya.
"Boleh dong minta nomor ponselmu? Kita berteman, dan suatu saat bisa lebih..!" seru Raditya sambil tersenyum.
"Iya kak, suatu saat jika aku butuh bantuan bisa hubungi kak Radit ya?" tanya Yuki yang memandang Raditya dalam jarak dekat.
"Pastilah!" jawab Raditya seraya mengulas senyumnya, dan keduanya saling bertatapan secara intens.
Ada semacam getar-getar mengalun dalam hati mereka, namun mereka belum berani mengungkapkannya. Kemudian mereka segera bertukar nomor ponsel.
Setelah itu Raditya menjalankan mobil pick Up nya dan melanjutkan perjalanan mereka.
Akhirnya mereka pun sampai di perguruan Anggrek putih.
"Kak bunganya taruh di teras ya..!" pinta Yuki saat sudah turun dari mobil pick up.
"Ok siap..!" jawab Raditya, yang bergegas turun dan menuju ke belakang untuk mengangkat keranjang-keranjang bunga mawar.
Namun Raditya tak melihat sesosok tubuh Bima anak paman Sidiq yang tadi ikut menjaga keranjang bunga mawar.
Setelah mengitari mobil pick up yang di kendarainya, Raditya menemukan sesosok tubuh yang terlentang di antara keranjang-keranjang bunga mawar.
"Aist..malah enak-enakan tidur dianya." gumam Radit dalam hati, saat mengetahui yang sedang tidur itu si Bima
"Woi...bangun-bangun...!" seru Raditya sambil menggoyang-goyangkan badan Bima.
"Huuahemm...ada apa sih?" tanya Bima yang kemudian duduk dan mengusap kedua matanya agar nyawanya terkumpul.
"Sudah sampai... ayo bantuin angkat keranjang-keranjangnya..!" seru Raditya.
"Iya...!" balas Bima.
Mereka pun mengangkat keranjang-keranjang yang berisi bunga mawar itu ke teras rumah.
"Bila sudah selesai, ini ada teh dan kue buat kalian" kata Yuki saat meletakkan nampan berisikan dua gelas teh manis dan satu piring kue bolu kukus.
"Wah..enak nih, sering-sering begini..!" celetuk Bima.
"Hust... !! kamu itu Bim kalau ada makanan pasti nomor satu..!" seru Raditya.
"Habiskan saja. Ini ada bekal untuk perjalanan nanti." kata Yuki.
Kemudian mereka makan kue bolu itu sambil bercanda untuk melepas lelah.
Setelah selesai makan kue bolu dan minum teh, Raditya dan Bima pamit undur diri.
Raditya mengambil sekuntum bunga mawar yang paling cantik, dan kemudian dia menyelipkan ke telinga sebelah kiri Yuki.
"Yang semangat latihannya ya... tinggal hari ini, besok kita ketemu di Turnamen. Semangat...!!" seru Raditya memberi semangat pada Yuki.
"Degh...!!'
Jantung Yuki serasa berhenti.
"Tak mungkin aku cinta kakaknya Rani..! cintaku hanya untuk Kak Saga..!! Dia cintaku sejak kecil!" gumam Yuki dalam hati.
"I..iya terima kasih, hati-hati di jalan ya..!!" sahut Yuki sedikit gugup.
Raditya membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala.
Dan mereka berdua, Raditya dan Bima melangkahkan kaki menuju pick up dan menyalakannya.
Setelah putar balik, Raditya mengklakson pick up nya sebagai tanda perpisahan sama Yuki.
Yuki gadis itu pun tersenyum dan melambaikan tangannya. Kemudian laju kendaraan Raditya menuju ke arah Perguruan Darma putih.
Di sepanjang perjalanan, Raditya melihat gerombolan yang tak asing baginya. Gerombolan itu sedang singgah di warung-warung pinggir jalan.
Mereka rata-rata memakai jaket bergambar kepala ular Kobra, tentu saja itu ciri khas dari gerombolan geng ular kobra.
"Mau apa mereka di kota terpencil seperti ini?" tanya Raditya dalam hati, sedangkan Bima sibuk dengan headsetnya.
"Astaga...! banyak sekali mereka..! mengapa mobil ini terasa lamban ya!" seru Raditya saat melihat geng Kobra memenuhi lapangan di pinggir jalan dan di ruas-ruas jalan.
Pikiran Raditya berkecamuk, ingin cepat sampai ke perguruan dan menyampaikannya pada Kakek Darma dan yang lainnya, karena itu setelah melewati gerombolan itu,dia langsung mempercepat laju mobil pick up yang dia kendarai.
Benar saja, sesampainya di perguruan, Raditya segera turun tanpa sempat membangunkan Bima yang tertidur pulas di dalam mobil dengan headset masih di telinga.
"Bim, bangun Bim!" seru Raditya seraya mengoyang-goyangkan lengan sebelah kanan Bima.
"Ah, A...ada apa kak Radit?" tanya Bima yang terkejut begitu membuka kedua matanya, seraya melepaskan headsetnya.
"Kakeeeek....! Pamaaaan...! Papaaa...! semuanyaa...! dimana kalian...!" panggil Raditya dengan nada tinggi saat melangkahkan kakinya masuk ke rumah.
Nyonya Lani dan bibi Dewi tergopoh-gopoh keluar dari dapur saat mendengar panggilan Raditya.
"Radit ada apa? mereka ada di tempat latihan..!" jawab nyonya Lani yang terkejut dan penasaran.
"Gawat Ma...! geng Kobra ada di kota ini..!" jawab Raditya dengan rasa kecemasan.
"Oooh,eh.. apaaa? geng Kobra?" kata nyonya Lani yang terkejut dan tak percaya.
"Iya Ma.. banyak sekali, satu lapangan penuh..! aku beritahu yang lainnya Ma...!" jawab Raditya sekalian pamit.
"Iya, mereka ada di tempat latihan!" seru Nyonya Lani.
"Baik ma!" jawab Raditya yang bergegas melangkahkan kakinya ke tempat latihan dan diikuti oleh Bima.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...