
"Nah, dokter itu memang merasakannya, tetapi ia tidak diajak memeriksa tubuh jenazah itu saat ditanya!" jelas Komisaris Saga.
"Berapa lama korban sudah meninggal? Sebaliknya, ia diberitahu bahwa korban masih terlihat hidup sepuluh menit sebelumnya. Jadi, pada waktu pemeriksaan mayat selanjutnya, dokter hanya menyatakan adanya kekakuan yang tidak wajar pada kaki dan tangan korban. Sesuatu yang tidak dapat ia jelaskan sebabnya." kata Rani yang berpendapat.
"Sekarang semua mengarah pada teori saya. Davidson membunuh Lord Cronshaw segera setelah makan malam, yaitu pada saat kalian ingat dia terlihat menarik Cronshaw kembali ke ruang makan. Kemudian ia meninggalkan tempat itu bersama Nona Courtenay, mengantarnya hingga pintu flat-nya (bukannya masuk dan berusaha menenangkan Nona Courtenay seperti yang diakuinya), dan secepat kilat kembali ke Colossus Hall - tetapi sebagai Harlequin, bukan Pierrot - pergantian sederhana dengan cara mencopot kostum luarnya." jelas Komisaris Saga.
Paman korban mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya menunjukkan kebingungan.
"Kalau begitu, dia pasti datang ke pesta dalam keadaan siap membunuh korbannya. Apa gerangan yang mendorongnya berbuat begitu. Motifnya, ini yang tidak saya mengerti." kata Rani yang penasaran.
"Ah! Kita sampai pada tragedi kedua yang menimpa Nona Courtenay. Ada satu hal kecil yang dilupakan setiap orang. Nona Courtenay meninggal karena keracunan kokain, padahal persediaan obat biusnya ada dalam kotak email yang ditemukan pada jenazah Lord Cronshaw. Lalu, dari mana wanita itu memperoleh dosis yang mematikannya" kata Komisaris Saga.
"Hanya satu orang yang mungkin memberikan kokain kepada Davidson. Dan hal ini menjelaskan semuanya. Inilah yang menyebabkannya bersahabat dengan suami-istri Davidson dan meminta Davidson menemaninya pulang. Lord Cronshaw, yang secara agak fanatik menentang pemakaian obat bius, mengetahui bahwa Nona Courtenay kecanduan kokain dan mencurigai Davidson-lah yang menyediakan obat bius itu. Tidak diragukan lagi, Davidson menyangkal tuduhan itu, namun Lord Cronshaw memutuskan untuk memastikan kebenarannya dari Nona Courtenay pada malam pesta dansa itu. Dia dapat memaafkan wanita malang itu, tetapi jelas dia tidak akan mengampuni orang yang hidup dari memperdagangkan obat bius. Davidson dihadapkan pada kemungkinan terbongkarnya perbuatannya sekaligus kehancurannya. Dan dia berangkat ke pesta dansa dengan tekad untuk membungkam Cronshaw apa pun akibatnya." dugaan Rani.
"Lalu, apakah Coco meninggal karena kecelakaan?" tanya Inspektur Alex yang sejak tadi menyimak.
"Saya curiga kematian itu adalah kecelakaan yang didalangi oleh Davidson. Nona Courtenay luar biasa marahnya kepada Cronshaw; pertama karena mencelanya, kedua karena merampas kokainnya. Davidson memberikan lebih banyak kokain, dan, mungkin sekali, menyarankan gadis itu menambah dosisnya sebagai tantangan terhadap 'Cronch yang kuno'!" jelas Rani.
"Satu lagi,. Ceruk dinding dan tirai itu. Bagaimana engkau tahu?" tanya inspektur Alex yang penasaran.
"Ah , gampang sekali. Para pelayan masuk dan keluar ruang makan itu. Jadi, jelas jenazah tidak mungkin terkapar di tempat ia ditemukan. Pasti ada tempat yang dapat menyembunyikan jenazah di ruangan itu. Saya menyimpulkan ada ceruk dinding bertirai di ruangan itu. Davidson menyeret tubuh korban ke sana, kemudian, setelah menampakkan dirinya di balkon, ia menyeret jenazah itu ke luar lagi sebelum akhirnya meninggalkan Colossus Hall. Tindakannya hebat sekali. Ia cerdas!" jelas Rani.
"Hm, kau benar! Bukti-bukti sudah terkumpul! Jadi tunggu apa lagi Inspektur Alex? Lekas tangkap pelaku yang kita curigai!" perintah komisaris Saga.
"Siap laksanakan komisaris!" seru Inspektur Alex dengan sikap tegasnya.
***
Kasus pembunuhan pesta dansa telah terselesaikan dan muncullah berita-berita keberhasilan para polisi dalam mengungkapnya. Dan muncul pula kasus-kasus baru.
Keesokan harinya Rani berkunjung ke kantor suaminya, Komisaris Saga.
Mereka berdua sedang membahas berita yang telah tersiar, tentang pembunuhan di pesta dansa yang mengakibatkan banyak orang yang berkomentar baik dan buruk.
Tak berapa lama mereka kedatangan seorang wanita berbadan besar dan berwajah merah. Napasnya terengah-engah karena ia menaiki anak tangga dengan terburu-buru.
"Anda komisaris Saga?" tanya wanita itu seraya membenamkan tubuhnya di kursi.
"Benar, Madame! saya Komisaris Saga." jawab Komisaris Saga yang mempersilahkan nyonya itu duduk.
"Anda sama sekali tidak seperti yang saya bayangkan," kata wanita itu sambil menatap komisaris Saga dengan pandangan kecewa.
"Apa maksud anda?" tanya Komisaris Saga yang penasaran.
Rani dan Inspektur Alex pun saling pandang dan mengernyitkan kedua alisnya.
"Madame!" seru Komisaris Saga seraya duduk tegak.
"Maaf. Saya percaya Anda tahu bagaimana media sosial sekarang-sekarang ini. Anda membaca artikel yang sangat menarik, tentang 'Apa yang dikatakan pengantin wanita kepada temannya yang belum menikah'. Dan isinya sama sekali tidak berharga. Cuma asap saja!" seru Komisaris Saga yang menatap tamunya itu dengan tajam.
Kali ini lidah tajamnya tidak berkutik. Rani menoleh ke samping untuk menyembunyikan senyuman lebar yang tak dapat Rani tahan.
"Semua ini gara-gara juru masak saya yang menjengkelkan itu!" seru tamu komisaris Saga yang melanjutkan bicaranya.
"Dia menanamkan gagasan-gagasan di kepala pelayan. Ingin mendapatkan tunjangan-tunjangan yang memberatkan saya!" sambung nyonya itu.
"Terus apa maksud kedatangan anda kemari?" tanya Rani yang menatap wanita itu.
"Bukankah tadi saya katakan bahwa saya inginkan kepolisian dapat menemukan juru masak saya yang menghilang. Ia meninggalkan rumah Rabu lalu. Tanpa pamit dan tidak pernah kembali lagi." jawab wanita itu.
",Maaf, Madame. Saya tidak menangani persoalan seperti ini. Mohon silahkan anda pergi!" seru Komisaris Saga yang sedikit mengusir wanita itu.
Wanita itu mendengus karena kesal.
"Beginikah komisaris yang baik? Terlalu sombong, eh! Hanya mengurusi rahasia pemerintah dan permata para putri!" seru wanita itu dengan geram.
"Izinkan saya berbicara. Pelayan sama pentingnya dengan mahkota bagi wanita dalam posisi saya. Tidak semua wanita dapat menjadi wanita terhormat yang keluar dengan mobil, mengenakan berlian dan permata. Juru masak yang baik sangat berarti bila Anda kehilangan dia, itu sama halnya dengan kehilangan permata bagi wanita kaya." kata Rani yang mencoba menengahi.
Sejenak kelihatannya kata-kata itu seperti batu undian yang dilemparkan di antara martabat dan rasa humor komisaris Saga.
Akhirnya komisaris Saga tertawa dan duduk kembali.
"Madame, Anda benar dan saya keliru. Kata-kata Anda tepat dan cerdik. Kasus ini baru bagi saya. Selama ini belum pernah saya mencari pembantu rumah tangga yang hilang. Ini benar-benar kasus yang mempunyai kepentingan nasional, syarat yang saya tuntut sebelum Anda datang." kata Komisaris Saga.
"Saudari Rani tadi mengatakan bahwa juru masak yang sama nilainya dengan permata itu tadi pergi pada hari Rabu dan tidak kembali lagi. Jadi, ia pergi kemarin dulu." sambung Komisaris Saga.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...