
Kemudian Raditya melajukan mobilnya dan berhenti di sebuah restoran kecil depan sebuah toko perhiasan emas.
"Kita makan disini ya Ran." kata Raditya yang menoleh ke arah Rani.
"Iya kak!" jawab Rani yang kemudian turun dari sepeda motor dan diikuti oleh Raditya. Keduanya saling melepaskan helm masing-masing dan meletakkannya diatas sepeda motor.
Radit dan Rani bergegas melangkahkan kaki masuk ke restoran. Mereka menuju tempat duduk yang tak jauh dari pintu keluar, setelah membaca daftar menu yang ada di meja dan segera memesan beberapa menu makanan dan minuman pada saat seorang pelayan restoran menghampiri mereka.
"Dorr.....dorr.....dorr....!"
Tiba-tiba ada bunyi tembakan di luar restoran kecil itu, tepatnya di toko perhiasan emas depan restoran tersebut.
"Perampokan...! perampokan...! ditoko perhiasan emas...!" seru beberapa pengunjung restoran kecil itu yang berlarian melihat keluar namun tak berani keluar dari restoran kecil itu.
Rani dan Radit saling pandang, keduanya saling penasaran dan langsung bangkit berdiri dari duduk mereka.
"Kak aku kebelakang dulu...!" seru Rani yang pamit, dan Raditya hanya bisa menganggukkan kepalanya karena dia sendiri sangat terkejut disituasi seperti ini.
Rani melangkahkan kaki meninggalkan Raditya yang masih terbengong dan pergi menemui seorang pelayan restoran dan menanyakan dimana letak toilet restoran kecil itu.
...***...
Sementara itu suasana di toko perhiasan emas semakin mencekam, perampok mengancam dengan senjata pistol. Yang otomatis semuanya mulai dari karyawan sampai panik dan takut.
"Ayo cepat masukan semua perhiasan dalam karung ini...!" perintah salah satu diantar tiga perampok.
Karyawan toko perhiasan emas yang ketakutan itu pun menuruti perintah perampok.
"Jangan coba-coba hubungi polisi, atau aku tembak kalian satu persatu...!" Bentak salah seorang perampok yang lain.
Satpam toko mas itu pun tak berkutik setelah sebuah pistol ditodongkan di kepalanya.
Sementara itu para pengunjung dan karyawan toko perhiasan emas itu hanya bisa berjongkok ketakutan.
Tiba-tiba saja terjadi sesuatu yang mengejutkan semuanya.
"Tokkk...!"
"Argh.....!"
Sesuatu telah menyerang tangan perampok yang menodongkan pistol ke satpam toko perhiasan emas dan tak ayal pistol itu terjatuh.
"Plekk...!"
Merasa ada kesempatan, satpam toko perhiasan emas itu bergerak dengan membekukan perampok yang tadi menodongnya.
"Hup...!"
"Bagh...bugh....bagh....bugh...!"
Dan kini situasi berganti perampok disandera Satpam.
Ketika dua perampok hendak membantu temannya, tiba-tiba ada yang menyerang tangan mereka dan mengakibatkan kembali pistol terlepas dari tangan pemiliknya.
"Tokkk....!"
"Agh....!"
"Plekk...!"
Para perampok itu menahan rasa sakitnya dan pada saat hendak mengambil pistol yang jatuh, tiba-tiba sebuah tendangan menghantam salah satu perampok.
"Dugh...!"
"Aaarrgh...!"
Dan dari sudut mulut salah seorang perampok itu mengeluarkan darah segar.
"Kurang ajar...! siapa kau...! tunjukan wajahmu atau aku akan kuliti tubuhmu...!" ancam salah satu perampok itu.
"Coba saja kalau bisa menangkapku! ha..ha..!" seru suara seorang gadis yang ternyata dia memakai topeng, gadis bertopeng itu yang tak lain adalah Rani.
Kemudian Rani memancing perampok untuk keluar dari toko perhiasan emas dengan berlari keluar dari toko perhiasan itu dan salah seorang perampok itu mengejarnya.
Setelah keluar dari toko perhiasan emas itu, Rani menari tempat yang lapang sehingga dia dapat melancarkan beberapa jurusnya.
Rani berhenti dan perampok itu ada di belakangnya.
"Ha ..ha...ha...! Mau kemana kau gadis bertopeng!" seru perampok itu yang yakin kalau lawannya mengalami jalan buntu.
Rani membalikkan badannya dan mengulas senyumnya menatap perampok itu.
"He...he...! Aku tidak mau kemana-mana perampok busuk!" seru Rani yang menatap perampok itu dengan tajam.
"Oh, cari mati saja kau bocah!" seru perampok itu yang kemudian melancarkan pukulan ke arah Rani.
"Bagh...bugh...bagh...bugh...!"
Rani melayani serangan tangan kosong perampok itu, dengan jurus-jurus yang dia pelajari di perguruan kakek Darma.
"Bagh...bugh...bagh...bugh...!"
"Bagh...bugh...bagh...bugh...!"
Setelah beberapa jurus saja, akhirnya Rani bisa melumpuhkan perampok itu, dan datang seorang perampok lagi yang hendak membantu rekannya.
"Kurang ajar...!" umpat perampok itu yang melayangkan pukulan-pukulannya. Dan kembali Rani mengeluarkan jurus tangan kosongnya.
"Bagh...bugh...bagh...bugh...!"
"Bagh...bugh...bagh...bugh...!"
"Aaargh...!" perampok itu seperti rekannya mengerang kesakitan.
Melihat kondisi tak menguntungkan, salah satu perampok berusaha lari. Rani memang sengaja membiarkan dia lari. Karena setelah menangkap dua Perampok, dan Rani segera mengambil dompet perampok yang tak berdaya itu. Baru kemudian dia mengejar perampok yang kabur itu.
Setelah kurang lebih jauh dari keramaian, dibukanya dompet yang dia ambil dari perampok yang kalah tadi dan Rani melihat identitas perampok itu bertambar kepala Serigala.
Kemudian gadis bertopeng itu memasukkan dompet itu ke dalam tas, dan bergegaslah dia menyusul perampok itu.
Dilihatnya si perampok yang kabur ada di depannya, Rani berhenti dan mengambil sebuah batu kecil yang ada dibawahnya. Kemudian dilemparkannya batu kecil itu tepat mengenai kaki sebelah kanan si perampok, dan tak pelak si perampok itu terjatuh.
"Aaargh...!"
"Brukk...!"
Si perampok itu mengerang kesakitan dan dengan sekuat tenaga berusaha bangkit untuk bangun, dan membalikkan badannya untuk melihat siapa penyerangnya.
Kemudian si perampok itu bersiul, seperti siulan kode.
"Suiiiit.....!"
Setelah itu dia menatap Rani dengan tajam dan berusaha untuk menyerang Rani.
"Kurang ajar! Cari mati saja kau...!" umpat perampok itu yang kesal.
"Untuk apa cari mati, kalau ada ada yang akan mati terlebih dahulu!" balas Rani.
"Bedebah....!" umpat perampok uang wajahnya mulai memerah, dan siap menyerang Rani. Dan Gadis itu melawannya dengan beberapa jurus.
"Hop hiaaat ...!"
"Bagh...bugh...bagh...bugh...!"
"Bagh...bugh...bagh...bugh...!"
"Aaargh...!" perampok itu mengerang kesakitan.
Pukulan tangan kosong Rani akhirnya kembali melumpuhkan perampok itu dengan cepat.
Saat Rani mendekati perampok yang terkapar tak berdaya itu, tiba-tiba ada yang menghentikannya.
"Berhenti...!" teriak seseorang yang keluar dari balik pohon besar dengan sebuah pistol mengarah padanya.
Gadis itu melihat situasi itu dan dia melihatnya ada sebuah tong dekat pohon dimana orang yang membawa pistol itu muncul.
Orang yang membawa pistol itu melirik si perampok yang terkapar. Kesempatan ini digunakan Rani untuk menjentikkan kerikil yang ada ditangannya ke arah tong, yang membuat suara seperti tembakan.
"Doorr...!"
Si pembawa pistol itu terkecoh, dia menoleh ke sumber suara. Rani tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ditendangnya pistol dari tangan pemiliknya, dan pistolnya pun terlepas.
"Dugh....!"
"Plekk...!"
Si pembawa pistol itu kaget, dia pun bersiul seperti si perampok tadi.
"Suiiiit......!"
Melihat hal itu, Rani yakin pasti lawannya itu sedang meminta bantuan pada kelompoknya.
Rani pun segera menyelesaikan perkelahian dengan tendangan berputar andalannya.
"Hopp hiaaat....!"
"Dugh....!"
"Aaaarghh....!"
Perampok itu terpelanting dan sudah tak berdaya lagi, kemudian Rani bergegas beranjak untuk meninggalkan tempat itu.
Namun sebelumnya dia menjatuhkan dompet milik pengawal Dio yang sudah dia persiapkan tadi di antara si perampok dan si pembawa pistol.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...