Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Kekhawatiran Rani


"Sebaiknya kita konsentrasi pada turnamen saja! Karena urusan perguruan sudah ada Kakek dan papa!" seru Raditya yang mencoba menenangkan Rani dan yang lainnya.


"Saya rasa apa yang Kakak muda katakan itu ada benarnya juga! Kita pikirkan Turnamen bela diri saja!" timpal Sersan Saga.


"Iya, Rani akan berusaha sebaik-sebaiknya!" seru Rani.


"Kita lihat keadaan stadion ini, yuk!" seru Arya yang sedari tadi diam saja.


"Ayo!' seru Rani, dan Raditya yang bersamaan.


Kemudian Rani, Raditya dan Arya berjalan-jalan di sekitar halaman dan taman Arena Turnamen yang luas.


"Rani...!"


Tiba-tiba dari kejauhan ada dua pemuda yang memanggil Rani. Merasa namanya ada yang memanggil, Rani dan yang lainnya pun menoleh.


"Oh, hai! apa kabar....!" sapa Rani pada saat mengetahui dan mengenal dua pemuda itu dan kini sudah mendekat


"Aku kemarin mencari mu, kamu kemana saja?" tanya salah satu pemuda itu.


"Eh iya, baru ada urusan. Kalian kesini sama siapa?" tanya Rani.


"Sama Nenek dan kak Yuki..! mereka sedang berada di ruang pendaftaran." kata pemuda itu yang tak lain Yuda dan Nando.


"Yuki di ruang pendaftaran, eh..kak Saga kan juga ada di sana? Wah, gawat...!'' kata dalam hati Rani.


"Kamu bilang tadi kalau Yuki ada di ruang pendaftaran?" tanya Raditya yang memperjelas apa yang didengarannya.


"Iya!" jawab Yuda dan Nando yang bersamaan seraya menganggukkan kepalanya.


"Rani, Arya! Aku mau menyusul Yuki dulu ya!" ucap pamit Raditya pada adik dan teman seperguruan adiknya itu.


"Iya kak!" balas Rani dan Arya yang bersamaan.


Kemudian Raditya melangkahkan kaki meninggalkan mereka berempat, sementara itu Rani, Arya, Yuda dan Nando melangkahkan kaki menuju kursi yang tersedia di taman itu.


Setelah itu mereka berbincang- bincang di taman itu dan bercerita tentang masa kecil mereka.


Tiba-tiba Rani merasakan sesuatu yang tak biasa. Membuat dia gelisah.


"Kenapa kamu Ran? kayaknya gelisah sekali? kan kamu sering ikut acara-acara kayak begini?" tanya Yuda yang penasaran dengan kegelisahan Rani.


"Sebaiknya kita masuk ke dalam saja yuk..!" ajak Rani yang mengira ini perasaan gugupnya saja.


"Iya kau benar,, Ayo nampaknya sudah banyak yang datang!" seru Nando pada saat melihat banyak rombongan peserta turnamen yang lainnya.


"Baiklah...." jawab semuanya.


Dan mereka pun segera melangkahkan kaki masuk ke gedung arena Turnamen bela diri itu.


Setelah masuk ke gedung Arena Turnamen Bela diri, Rani dan Arya segera menebarkan pandangan untuk mencari keluarga mereka.


"Sepertinya kak Radit berhasil merayu si Yuki" gumam Rani dalam hati saat melihat Yuki duduk di samping Kakaknya Raditya.


"Itu kak Saga dengan Guru bersama nenek Lasmi." kata Arya yang menunjuk ke arah orang-orang yang disebutnya.


"Ayo kita kesana!" seru Nando dan


mereka berempat pun melangkah kaki menuju ke arah dimana Paman Sidiq, Sersan Saga dan Nenek Lasmi berada.


"Kak Saga....! Paman dan Nenek Lasmi!" sapa Rani pada saat sudah menghampiri ketiga orang itu.


"Rani, dan kalian!" seru Sersan Saga yang berdiri dan menyambut tunangannya.


"Kak Saga! Kenapa perasaanku tidak enak, ya!" bisik Rani saat menatap tunangannya itu.


"Kamu hanya gugup saja!" kata Sersan Saga yang berusaha mencoba menenangkan tunangannya.


"Sebaiknya aku ke toilet sebentar ya kak!" pamit Rani.


"Iya tapi cepat kembali ya..!" pinta Sersan Saga yang sangat berharap jika Rani kembali bersamanya.


"Iya kak..!" jawab Rani yang mengulas senyumnya dan sambil berlalu.


Gadis itu melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi atau toilet yang tersedia di stadion olah raga itu.


"Benar, telah terjadi pertempuran besar di perguruan Darma Putih!" seru si Kity yang tiba-tiba.


"A...apa...!" seru Rani yang sangat terkejut, kegelisahannya terjawab sudah.


"Cepat kamu ke sana dengan menggunakan perantara Liontin kalung pusaka! dari terawangan ku, keluargamu yang ada disana sedang dalam keadaan bahaya!" seru si Kity yang tentu saja membuat Rani semakin cemas.


"Baik..!" seru Rani yang kemudian memakai topengnya dan segera memegang liontin dari kalung pusakanya dan berseru


"Ke perguruan Darma putih!"


"Cling...!"


Dalam sekejap Rani sudah sampai kembali di perguruan Darma putih.


Rani menebarkan pandangannya ke seluruh perguruan, dan banyak sekali orang-orang yang memakai jaket jins yang bergambar kepala ular kobra.


"Geng Kobra...!" seru Rani pada saat mengetahui yang menyerang perguruan Darma putih itu adalah gerombolan dari Geng Kobra.


Telah terjadi pertempuran besar antara murid-murid perguruan dan para anggota Geng Kobra.


Banyak anggota geng Kobra yang terkena jebakan, namun banyak juga murid -murid perguruan Darma putih yang terluka.


"Bedebah.....! geng Kobra sialan..! akan aku balas kalian!" seru Rani yang pada saat ini emosinya memuncak manakala melihat banyak ceceran darah di halaman perguruan.


"Nona....! Cepat bantu kakekmu..! Nampaknya yang menyerang kakekmu punya pusaka langit!" seru Si Kity yang seketika itu membuat Rani menebarkan pandangannya dan segera mencari keberadaan kakeknya.


"Ah..! Benar saja, kakek melawan orang yang bukan sembarangan...!" seru Rani yang sangat cemas.


Rani melihat Kakek Darma melawan laki-laki setengah baya yang bertubuh besar, berambut sebahu memakai ikat kepala berwarna merah dengan bergambar ular kobra tepat di dahinya.


Baru saja Rani hendak melangkah, tiba-tiba gadis itu telah dikepung oleh anggota geng Kobra.


"Melawan begitu banyak orang, dan aku tak bawa kerikil! ah..ini saja..!" seru Rani sambil melepas kalung pusaka nya. Dan kemudian dia berseru,


"Cambuk...!"


Dan kalung pusaka itu menjadi sebuah cambuk sakti yang lumayan panjangnya.


"Tarr....tarr..tarr...!"


Rani dengan menggunakan jurus tarian Dewi Cinta bergerak luwes menggerakkan cambuk itu.


Dengan sekali tebas, sepuluh anggota geng Kobra terkapar tak berdaya. Namun anggota geng Kobra itu seakan tak ada habis-habisnya.


Sekali tebas muncul lagi sepuluh anggota geng Kobra.


"Kity, bagaimana ini? mereka semakin banyak!" seru Rani yang cemas karena tenaga dalamnya telah terkuras setengahnya untuk perjalanan menghilang tadi,yang jarak tempuhnya sangat jauh.


Karena itu butuh banyak tenaga dalam.


"Teruslah menyerang, jangan mengeluh..!" si Kity mencoba memberi semangat pada Nona majikanya.


"Andai ada saja ada kak Saga!" gumam dalam hati Rani.


Namun sekarang dia berjuang sendirian, Dia berusaha sekuat tenaganya dan terus menggunakan cambuk sakti itu.


"Tarr...tarr...tarrr.....!"


Sepuluh, dua puluh dan tiga puluh anggota geng Kobra terkapar.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...