Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Dipanggil Gadis Culun


Pemuda itu melangkahkan kaki meninggalkan Rani yang bersama ibu Mariana.


"Ayo Rani, kita pergi ke kelas kita. Kamu bisa berkenalan dengan teman-teman sekelas kamu nantinya.'' kata Bu guru Mariana dengan ramah menatap Rani.


"I...iya Bu." balas Rani seraya membenarkan kacamatanya.


Kemudian mereka berdua berjalan beriringan menyusuri lorong sekolah, dan setelah melewati beberapa ruangan kelas, akhirnya mereka sampai di kelas tujuan mereka.


Hiruk pikuk suara para siswa yang biasa jadi hiburan tersendiri para siswa jika belum ada guru yang masuk untuk mengajar mereka.


"Hm....hm....!"


Bu guru Mariana berdehem untuk memberi kode pada para siswanya, namun ternyata usahanya tak mendapatkan respon dari para siswanya.


Kemudian Bu guru itu mengetuk pintu dengan sedikit keras.


"Tokk....tokk....tokk....!"


Dan akhirnya usaha itu membuahkan hasil, para siswa yang berada dalam ruangan itu terdiam dan menatap kearah sumber suara ketukan pintu.


"Selamat pagi Bu guru Mariana...!" sapa para siswa secara kompak pada saat melihat ibu guru Mariana melangkahkan kaki menuju ke mejanya dan diikuti oleh Rani.


"Selamat pagi murid-muridku semuanya...!" balas Bu guru Mariana yang menebarkan pandangannya ke para muridnya.


Tatapan penasaran mereka tertuju pada Rani, yang saat ini berdandan seperti gadis desa dengan kacamata yang tebal seperti seorang kutu buku.


"Hari ini ada satu teman kalian dari jauh, ibu harap kalian bisa saling kenal dan belajar bersama dalam proses belajar dan mengajar di dalam lingkup sekolah ini." kata Bu guru Mariana.


"Hai gadis Cupu! Siapa nama kamu!"


seru salah satu murid laki-laki dengan nada sedikit mengejek.


"Rani, coba kamu perkenalkan diri kamu pada teman-teman kamu!" pinta Bu Guru Mariana yang berbisik pada Rani.


Rani yang mengerti maksud ibu guru Mariana itu, menganggukkan kepalanya dan menarik napasnya panjang. Setelah itu Rani menebarkan pandangannya ke teman-temannya.


"Selamat pagi semuanya!" sapa Rani dengan sesekali memberatkan kacamatanya.


"Selamat pagi!" balas murid-murid lainnya, ada yang seenaknya sendiri dan ada yang penasaran.


"Perkenalkan nama saya Rani Wibowo, panggil saja Rani. Saya sebenarnya dari jauh, tapi disini saya tinggal bersama orang tua angkat sayang yang bernama Wibowo.!" jawab Rani seraya menebarkan pandangannya ke teman-temamya yang ada dihadapannya.


Semuanya yang semula diam saja dan ada yang semula acuh tak acuh, tiba-tiba terkejut pada saat ada nama Wibowo.


Semua orang dikota itu akan mengenal nama Wibowo, pengusaha sukses yang banyak menyokong program pemerintah, dan selalu menjadi sponsor di setiap even olah raga.


Mau tak mau mereka memperhatikan dan saling berbisik, ada yang percaya dan ada yang tidak percaya, apa yang dikatakan oleh Rani.


"Ah mana mungkin dia anak tuan Wibowo?''


"Iya, setahuku anak tuan Wibowo itu laki-laki!"


"Benar laki-laki, namanya bukannya Raditya?"


"Lantas siapa dia? Kok ngaku-aki seenaknya saja?"


Itulah sebagian bisik-bisik para murid-murid yang tak yakin kalau Rani anak pengusaha alat-alat olah raga.


"Rani, saya rasa sudah cukup. Sebaiknya kamu lekas duduk dan ambil duduk di bangku yang masih kosong ya!" seru Bu guru Mariana , seraya menunjuk ke arah belakang.


"Iya Bu." jawab Rani yang bergegas melangkahkan kakinya menuju ke bangku kosong yang ditunjukkan oleh Bu guru Mariana.


Rani mengambil tempat duduk paling belakang dimana mepet dengan tembok, dan semua mata teman-temannya memperhatikannya dengan penasaran.


Setelah duduk, Rani menebarkan pandangannya ke sekitar tempat duduknya, dan tidak disangka dia melihat anak lakil-laki yang tadi dilihatnya bersama beberapa anak buahnya satu kelas dengan Rani.


Pemuda itu lumayan tampan dan duduk di deretan bangku tengah urutan belakang. Semua bangku telah penuh, tinggal disebelah Rani dan laki-laki itu yang masih kosong.


Pada saat Ibu guru wali kelas mulai mengabsen, tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki yang berkacamata.


"Maaf Bu, saya terlambat" kata anak laki-laki itu.


"Oh tidak apa-apa, tapi besok-besok jangan terlambat lagi ya" pinta Ibu guru.


"Sekarang lekas duduk! Ibu mau mengabsen kalian!" seru Bu guru Mariana, sambil menunjukan dua kursi yang masih kosong.


"Iya Bu, terima kasih." balas anak laki-laki itu dengan sopan dan dia memilih duduk dengan Rani.


Kemudian semua mata memandang kearah bangku Rani.


"Sssssst...pasangan culun ha..ha.." bisik para siswa yang lainnya sambil tertawa, dan Rani mendengar celoteh teman-temannya itu.


"Sial.., bakal jadi bahan bullian nih! kalau tidak untuk menyamar, aku beri pelajaran kalian semua!" gerutu Rani dalam hati yang di atas kedua pahanya, tangan Rani mengepal menahan amarah.


"Saya Dito, nama kamu siapa?" tanya anak laki-laki yang baru saja duduk disamping Rani sambil mengulurkan tangannya


"Oh, nama saya Rani." jawab Rani seraya membalas uluran yang Dito.


Mereka saling senyum, kemudian mereka menghadap kedepan, memperhatikan ibu guru Mariana yang mulai mengabsen.


"Andi, Angga, Ayu, Amanda, Bagas, Budi, Bella, Citra,Dio..." Absen ibu guru. Dan saat di panggil Dio, anak laki-laki tampan yang bawa bodyguard itu, mengangkat tangannya.


"Oh Dio namanya" batin Rani.


"Dito, Kevin, Hana, Rita, dan Rani.." panggil guru dan Dito dan Rani mengacungkan tangannya.


"Hari ini Ibu akan membagikan jadwal dan seragam kalian. Kalian mulai aktif belajarnya besok. Kalau ada yang mau ikut pelajaran ekstra silahkan tulis di kolom formulir yang ibu bagikan ini." kata ibu wali kelas.


"Iya Bu!" jawab para siswa dengan serempak dan mereka menunggu dengan sabar, saat bi guru Mariana membagikan formulirnya.


Rani sudah mendapatkan formulir itu, dan menjawab sebagian pertanyaan dalam formulir itu. Dia juga mengosongkan sebagian pertanyaan pada lembaran itu.


Karena dia bertekad pulang sekolah bekerja dan mencari informasi tentang Baskoro.


Setelah selesai dia melangkahkan kaki menuju ke bangku ibu Guru Mariana untuk mengumpulkan lembaran formulir itu.


"Hai culun! dasar cewek culun... ha...ha....!"


Mulailah terdengar ejekan dari teman baru Rani, pada saat Rani berjalan melewati mereka. Tapi Rani tetap tak menghiraukannya. Dia terus berjalan menerobos teman-temannya yang antri menumpuk lembaran formulir itu.


"Setelah mengumpulkan formulir, kalian boleh istirahat!" seru Bu guru Mariana.


"Iya Bu!" balas para murid yang serempak.


"Rani...Rani..!"


Tiba-tiba ada yang memanggil Rani di belakang gadis itu.


"Eh, Dito! ada apa?" tanya Rani yang menyempatkan diri menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.


"Ke kantin yuk!:aku yang traktir" ajak Dito seraya menatap Rani.


"Maaf ya, aku harus cari kakakku. Permisi...!" balas Rani yang berbohong untuk menolak ajakan Dito.


"Oh, begitu ya!" gumam Dito.


Rani mengulas senyumnya dan dia melangkahkan kaki menyusuri lorong-lorong sekolah.


Dito terdiam, dia menatap Rani yang trus berjalan hingga hilang dari pandangannya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


.