
"Kak, kak Saga...!" panggil Rani secara pelan-pelan pada laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.
"Hem...!" Komisaris saga hanya bergumam tanpa membuka kedua matanya.
"Kak! Makanan sudah matang dan sudah Ranibsipakan di meja makan. Ayo kita makan! Rani sudah lapar nih!" seru Rani yang duduk disamping suaminya yang kedua matanya masih terpejam itu.
Tiba-tiba tangan Komisaris saga melingkar diperut istrinya dan menariknya dalam pelukannya.
"Ih, kak Saga...!" seru Rani yang berusaha melepaskan dirinya, namun tangan komisaris Saga itu semakin erat melingkar di pinggangnya.
"Aku mau makan yang satu ini dulu!" bisik komisaris Saga yang kemudian membuka kedua matanya dan mulai bermain dibibir istrinya.
Rani pun melayani kemauan suaminya dan lima belas menit kemudian mereka telah selesai bermainnya.
Keduanya melangkahkan kaki menuju ke ruang makan dan mulailah mereka makan yang sesungguhnya secara bersama.
"Masakan kamu tambah enak saja Ran! Wah kalau begini bisa irit anggaran belanjanya! He...he...!" goda komisaris Saga pada istrinya.
"Ah, kak Saya bisa saja!" seru Rani yang mengulas senyumnya.
Tapi 9 i beneran lho! Enak sekali!" seru Komisaris Saga dengan bersungguh-sungguh.
"Iya, iya Rani tahu kok kak! Makasih ya kak atas pujiannya." ucap Rani dengan mengulas senyumnya.
"Hanya terima kasih saja?' tanya Komisaris Saga yang menggoda istrinya.
"Hum..um...! Lantas apa lagi kak?" jawab Sekaligus tanya Ranibya g penasaran.
"Kasih kecupan ya!" pinta komisaris saga seraya mengulas senyumnya.
"Kak Saga ini ya!" seru Rani yang menggelengkan kepalanya seraya tersenyum dan kemudian dia bangkit dari duduknya dan menghampiri suaminya itu.
Rani kemudian duduk diatas pangkuan suaminya dan merangkulnya, kedua mata mereka saling tatap secara intens dan lanjut bibir mereka yang saling beradu.
"Kak Saga janji ya, tak akan ada wanita lain selain Rani dihati kakak!" bisik Rani pada saat melepaskan ciumannya.
"Kakak janji, karena kamu ini sudah paket komplit bagi kakak! Kamu cantik, pintar, jagoan dan pintar memasak!" bisik Komisaris Saga dan kembali keduanya saling beradu bibir dan pwrlahan-lahan komisaris saga membopong Rani seperti bridal style menuju ke tempat tidur.
Komisaris Saga menurunkan Rani diatas tempat tidur dan Rani memposisikan dirinya diatas tempat tidur.
Komisaris Saga membaringkan tubuhnya disamping Rani dan disap ya kepala istrinya dan kemudian turun ke dahi, hidung dan bibir istrinya.
"Kamu tak marahkan kalau aku mau lagi?" tanya komisaris Saga yang menatap istrinya dengan penuh kasih.
"Rani tidak akan marah kak, kita kan sudah jadi suami istri!" bisik Rani dan kedua bibir mereka pun saling bertaut, permainan mereka dimulai.
Tangan kanan suami Rani itu menelisik membuka kancing pakaian istrinya dan dia memainkan kedua gunung kembar yang ada di hadapannya.
Ciuman Suami Rani itu lama kelamaan turun ke leher dan membuat stempel ke pemilikan di sana dengan tangan terus memainkan dua gundukan kembar istrinya.
Laki-laki Yanga sudah sah menjadi suami Rani itu kemudian melepaskan satu persatu pakaiannya dan pakaian istrinya, dan mereka pun "bermain" di bawah selimut tebal kesayangan komisaris Saga.
"Kak Saga!" panggil Rani dalam pelukan suaminya saat selesai bermain.
"Ada apa sayang?" bisik Komisaris saga dengan tetap melakukan aksinya.
"Ouh...!" terdengar erangan kenikmatan Rani dan hal itu membuat suaminya semakin beringas.
Dipandanginya wajah rupawan laki-laki yang berhasil menaklukkan hatinya itu dalam-dalam.
"Kak Saga, suamiku, I love you!" racau Rani lirih saat dia mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya.
"Tampan sekali jika tidur seperti ini!" batin Rani yang kemudian mengusap rambut dan mencium kening laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.
Dari kening, ciuman Rani turun ke kedua pipi Komisaris saga dan akhirnya ke bibir suaminya.
Saat Rani sedang menikmati mencium bibir suaminya, tanpa sadar Komisaris Saga ikut menikmatinya.
Di kaitnya tubuh istrinya yang berada diatas tubuhnya untuk lebih dekat lagi, dan Komisaris Saga membalas setiap Rani mengecup bibirnya dan perlahan-lahan dia membuka matanya.
Saat ini posisi Rani di bawah dan komisaris Saga diatas Rani.
"Suamiku.." panggil Rani dengan lembut.
"Apa sayang, apa kamu mau lagi?" goda suami Rani itu.
Rani mengulas senyumnya dan hal itu berarti Rani mengiyakan.
Dengan lembut Komisaris Saga menciumi leher jenjang istrinya dan perlahan turun ke bawah dan tepat di dua gundukan kembar milik istrinya.
Dan kembali mereka bermain seperti yang sebelumnya telah mereka lakukan.
Beberapa menit kemudian setelah puas bermain, keduanya masih berada diatas tempat tidur dan saling berpelukan.
...****...
Seminggu lamanya Komisaris Saga dan Rani bulan madu hanya di apartemennya saja. Dan setelah itu keduanya menjalani rutinitas mereka sehari-hari.
Komisaris Saga tetap bekerja di kepolisian dan Rani membantu kakaknya dalam membuka gym dan Rani juga melanjutkan usaha papanya menjalankan toko alat-alt olah raga.
Walaupun tak mempunyai toko secara real, tapi Rani mempunyai beberapa toko online yang hasilnya juga kadang melebihi penghasilan di toko nyata.
Keduanya selalu berangkat bekerja secara bersama-sama.Dan berpisah dipersimpangan.
"Ran, hati-hati ya!" seru Komisaris Saga yang memperingatkan istrinya.
"Iya kak!" balas Rani seraya menunjukkan jari jempol sebelah kanannya.
Komisaris Saga yang menggunakan sepeda motor sportnya menganggukkan kepalanya dan melajukan sepeda motornya melaju membelok ke kiri meninggalkan Rani yang menggunakan sepeda motor maticnya, melaju ke arah yang lurus.
Dalam perjalanan itu tak ada hambatan yang berarti, dan tiba-tiba saja Rani menghentikan laju kendaraannya ketika ada seorang ibu-ibu yang sedang dihadang oleh dua orang laki-laki yang berpenampilan gagah, berjaket hitam.
"Hei, siapa dua orang itu? Kenapa dia menghadap ibu-ibu itu?" gumam dalam hati Rani yang penasaran.
Melihat situasi yang tak menguntungkan dipihak si ibu, Rani segera menepikan sepeda motornya.
Setelah menepikan kendaraannya, Rani segera turun dan dengan setengah berlari menuju ke arah tiga orang tersebut.
"Hayo lekas serahkan sepeda motornya!" seru salah satu laki-laki itu.
"Apa? Tidak...tidak! Aku tidak percaya kalian depkolektor dealer sepedaku!" seru si ibu itu yang berusaha berani diatas rasa ketakutannya.
"Kau sudah telat bayar! Jadi, serahkan saja sepeda motor kamu ini! Kalau sudah bisa bayar, barulah bisa kau ambil ke dealer!" bentak laki-laki yang satunya.
"Tidak! Aku baru telat sebulan, kenapa sudah mau diambil?" tanya si Ibu itu dengan suara tinggi.
"Oh, dengan terpaksa kami harus mengambil paksa sepeda motor ibu!" seru laki-laki yang pertama yang meraih stang dan memaksa si ibu itu turun dari sepeda motornya.
"Hei, berhenti!" seru suara seorang wanita, dan ketiga orang itu mencari sumber suara yang ada tak jauh dari dihadapan mereka.
"Gadis bertopeng...!" seru kedua laki-laki itu yang bersama'an dan mereka saling bertatapan, tiba-tiba keduanya lari begitu saja meninggalkan tempat itu.
"Hei jangan kabur...!" seru wanita yang mereka sebut gadis bertopeng yang tak lain adalah Rani.
Ran yang sangati yakin kalau kedua laki-laki itu memang orang jahat, terus mengejar mereka dengan sekuat tenaganya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...