Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Rani Terluka, Sersan Saga Ikut Merasakannya


Mereka berjalan menuju mobil mewah yang semua penumpangnya menanti mereka dengan rasa cemas.


"Rani....! Rani, kamu tidak apa-apa kan?" tanya nyonya Lani yang langsung menghampiri Rani.


"Rani tidak apa-apa ma! Mama jangan khawatir!" jawab Rani yang mencoba menenangkan mama angkatnya.


"Mama, anak gadis mama ini kan jagoan, jadi mama jangan khawatirkan luka Rani." kata Raditya yang juga mencoba menenangkan hati mama angkatnya itu.


"Ah, pokoknya mama tetap saja khawatir! mana yang luka? mama obatin ya?" tanya nyonya Lani yang masih saja panik.


"Cuma ke gores sedikit kok ma..!" jawab Rani sambil tersenyum tipis berharap meredakan kecemasan mamanya.


"Sebaiknya cepat diobati, biar tidak infeksi!" seru Sersan Saga pada saat mereka sudah berhenti tepat di depan keluarga Wibowo yang sudah berkumpul disamping Mobil dan mengerumuni Rani.


"Mana mama lihat? Ya ampun, ini parah! kamu harus ganti baju!" seru nyonya Lani pada saat membuka sapu tangan Sersan Saga yang membungkus luka Rani.


"Tante, lebih baik di robek aja baju bagian lengannya. Soalnya nanti kalau ganti baju, malah baju itu akan menutupi luka, jadi tidak bisa kita mengobatinya." jelas Sersan Saga.


"Oh iya ya...! Maaf mama panik, jadi ngeblang!" seru nyonya Lani yang menghampiri si bibi asisten rumah tangga yang masih ada didalam mobil.


"Bibi tolong ambilkan kotak obatnya di belakang kursi itu!" perintah nyonya Lani seraya menunjuk ke arah kursi yang dia maksud.


"Rani, sebaiknya kamu masuk ke mobil!" seru Sersan Saga yang melihat keadaan skitarnya, banyak orang yang nanti akan tahu identitas gadis bertopeng.


"Iya." jawab Rani yang kemudian dia masuk ke mobil bersama nyonya Lani dan si bibi asisten rumah tangga keluarga Wibowo itu keluar dari mobil.


Rani membuka helmnya dan nyonya Lani mulai menggunting lengan baju Rani dan membersihkan luka-luka tersebut.


"Aauw....! sakit ma!" terdengar rintihan Rani sampai ke luar mobil.


Sersan Saga mondar-mandir memegang lengannya, seakan merasakan apa yang dirasakan Rani.


"Tenang saja Nak Saga, itu kan hanya luka ringan. Rani pasti kuat kok, pasti sebentar lagi dia ceria kembali." kata tuan Wibowo mencoba menenangkan Pacar putri angkatnya itu.


"Iya, tapi saya jadi ikut ngilu Om!" balas Sersan Saga.


"Kau ini, kau seorang polisi! kenapa begitu lemah?" tanya tuan Wibowo seraya menepuk pundak Sersan Saga beberapa kali.


"Ini masalah lain tuan!" jawab Sersan Saga yang berkali-kali menghela napasnya.


"Kalau boleh tahu, tawuran tadi masalahnya apa ya?" tanya Raditya yang tangannya masih di perban dengan bersandar di bagasi mobil mereka.


"Itu tadi geng Kobra dan Musang hitam. Geng Kobra berencana merekrut geng-geng kecil seperti geng Musang hitam, Srigala dan Harimau putih." jelas Sersan Saga.


"Sepertinya Geng Kobra mau melebarkan sayapnya?" tebak Raditya sambil menghela nafasnya.


"Iya, memang seperti itu." jawab Sersan Saga.


"Rasanya aku ingin cepat menemui guru, kenapa tega melepaskan Rani dalam bahaya besar, sementara kemampuan Rani ternyata belum seberapa!" lanjut gumam Sersan Saga dalam hati sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanannya.


Nyonya Lani sudah keluar dari mobil dan diikuti oleh Rani.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita..!" seru Rani sambil memasang helmnya.


"Kamu sudah lebih baikan?" tanya Sersan Saga yang menatap Rani dan masih ada rasa khawatir.


"Sudah tidak apa-apa, kak Saga." kata Rani sambil tersenyum menandakan bahwa dia baik-baik saja.


"Putriku, kamu tidak ikut dalam mobil saja?" tanya Tuan Wibowo yang khawatir dengan keadaan putri angkatnya itu.


"Rani naik motor sama kak Saga saja Pa, jangan khawatir Rani baik-baik saja. Luka seperti ini sudah biasa bagi seorang pendekar. He...he...he...!" kata Rani yang sambil sedikit bercanda.


"Aih...dasar! memangnya siapa yang melawan geng Kobra selama ini ha...!" seru Rani sambil memegang dahinya yang sedikit panas karena jentikan jari kakaknya tadi.


"Ya deh, pendekar! Tapi Pendekar Cengeeeeeng.....ha....ha...!" goda Raditya sambil masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.


"Dasaaar kak Raditya cereweeeeet...!" seru Rani yang saat akan mengejar Raditya di peluk dari belakang oleh Sersan Saga.


"Lepas...! lepaskan kak Saga!" seru Rani.


"Sudah...sudah...! jadi ke lereng gunung tidak?" bisik Sersan Saga di telinga Rani yang masih terus meronta-ronta.


Setelah mendengar bisikan dari Rani pun berhenti dari merontanya.


"Awas! kalau ada kesempatan, Rani balas kak Radit!" gerutu Rani sambil menghentakkan kakinya.


Tanpa Rani sadari, hentakan kakinya menginjak kaki Sersan Saga yang ada di belakangnya.


"Auwww....! Raniiii......!" Teriak Sersan Saga sambil berjingkat-jingkat.


Rani terkejut mendengar teriakan Sersan Saga, diapun menoleh ke belakang.


"Eh, Maaf kak! Rani nggak sengaja. Maaf...!" kata Rani memegang lengan Sersan Saga.


"Wah...wah...wah...! marahin dia tuh adik tua!" kompor Raditya.


"Radit sudah! Berhenti menggoda adikmu. Kasihan tuh nak Saga!" seru tuan Wibowo yang sudah duduk di kursi depan kemudi mobil dan mencoba menengahi perseteruan adik dan kakak itu.


"Iya pa!" kata Raditya yang kemudian diam di tempatnya.


"Nak Saga! bagaimana keadaanmu?" tanya tuan Wibowo yang tadinya sudah duduk di depan kemudi, akhirnya keluar lagi karena tahu insiden kaki Sersan Saga yang di injak oleh Rani.


"Tidak apa-apa Om. Ayo kita jalan lagi, keburu siang!" jawab Sersan Saga sambil melihat langit, dan matahari hampir tepat diatas kepala mereka.


"Oh, baiklah kalau begitu!" seru tuan Wibowo yang kemudian masuk kembali ke dalam mobilnya dan menyalakan mobil yang membawa tiga anggota keluarganya itu.


Demikian pula dengan Sersan Saga dan Rani, mereka segera naik ke sepeda motornya. Dan mereka melanjutkan perjalanan ke lereng gunung.


Menyusuri jalan raya dengan kecepatan sedang, dan dalam beberapa menit saja mereka sudah beberapa kali melewati beberapa simpang lampu merah.


Selama dalam perjalanan mereka, Sersa Saga hanya diam saja. Walaupun Rani memanggilnya dan sekali-kali menggodanya.


Namun tak ada respon dari sang Sersan, pandangan Sersan Saga tetap lurus ke jalan raya yang menuju ke lereng gunung.


Hal itu rupanya di ketahui Raditya dari dalam mobil, yang rupanya sejak mobil menyala tadi dia selalu melihat ke belakang ke arah adik dan calon adik iparnya itu.


"Ha...ha....! kasian deh kamu Ran, di juteki sang kekasih!" celoteh Raditya yang nampak senang sekali.


Nyonya Lani dan tuan Wibowo saling pandang sehabis melirik tingkah anak laki-lakinya itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...