
"Belum-belum sudah ada yang cemburu!" seru Raditya sambil memukul lengan sebelah kiri tunangan adiknya itu dengan pelan.
"Wajarlah cemburu, cemburu kan tanda cinta! He...he...he...!" goda Arya yang menghampiri mereka.
"Wah, betul juga! Adik tua terlalu bucin sama pendekar cengeng! Ha...ha...ha..!" balas Raditya yang tertawa terbahak-bahak.
"Kalian ini malah meledek kak Saga!" gerutu Rani yang kesal.
"Sudah, tidak apa-apa! Jangan hiraukan mereka!" bisik Sersan Saga dan Rani menganggukkan kepalanya.
"Selamat ya Ran! walaupun aku tak bisa memilikimu, aku senang melihatmu bahagia." kata Arya yang mengulurkan tangannya dengan suara sedikit parau menahan tangisnya. Karena rupanya gadis pujaannya telah tertaut ke lain hati.
"Arya semoga kamu lekas bertemu gadis yang lebih mencintaimu apa adanya sebagai seorang kekasih." kata Rani saat membalas menjabat tangan Arya.
"Jabat tangannya jangan lama-lama juga...!" seru Sersan Saga yang melirik ke arah Arya.
"Ha ..ha...ha....!"
Semua pun tertawa atas sikap bucin yang ditunjukan Sersan Saga.
"Rani, sekarang kak Saga sudah jadi tunangan kamu, kakek dan semuanya merestui kita. Nah, apakah sekarang ini kak Saga boleh tahu rahasia kamu?" tanya Sersan Saga yang memang sedari kemarin penasaran dengan kemampuan yang dimiliki oleh Rani.
"Glekk..!"
Rani menelan salivanya, dia tak menyangka kalau akan kembali ditodong untuk bercerita tentang kemampuan yang dia miliki.
"Huft! Pada akhirnya aku akan mengatakannya juga!" kata dalam hati Rani yang sebenarnya sedikit ragu.
"Bagaimana? kamu sudah siap mengatakannya?" tanya Sersan Saga sekali lagi yang menatap Rani dengan intens.
Rani menarik napasnya pelan-pelan dan menghembuskannya secara perlahan-lahan, kemudian gadis itu melepaskan kalung pusakanya dan memperlihatkan pada semua keluarganya itu.
"Paman Sidiq, terima kasih telah memberi Rani kalung. pusaka ini" kata Rani sambil menatap ke arah paman Sidiq.
"Kalung pusaka berliontin bambu!" seru Paman Sidiq yang penasaran.
"Apa yang aneh dengan kalung itu? aku dan Adik tua kan sudah pernah melihatnya?" tanya Raditya yang merasa heran.
"Memang benar kak Radit, itu sebelum Rani menghilang kemarin." kata Rani yang kemudian berdiri dan melangkah ke tempat yang menjauh dari semua orang yang duduk di ruang tamu.
Kemudian Rani yang menggenggam liontin bambu kalung pusaka langit itu, berseru..
"Tongkat..!"
Dan dalam sekejap saja liontin bambu itu berubah menjadi tongkat.
"A...apa!" semuanya pun terkejut dan tak percaya, melihat Rani memainkan tongkat itu dengan memutar di depan, kedua samping dan dibelakangnya.
"Belati..!"
Rani berseru dan seketika tongkat itu berubah menjadi sebuah belati yang nampak kecil tapi tajam.
"Weeet ...! Weeeet....!" Rani memainkan belati itu.
"Hah ..!" semuanya berseru dan terkejut sekali.
"Tombak..!" kembali Rani berseru dan jadilah sebuah tombak.
"Weeet ...! Weeeet....!" Rani memainkan tombak itu dengan memutar di depan, kedua samping dan dibelakangnya.
"Pedang...!" lanjut seru Rani, dan ajaib tombak itu seketika berubah menjadi sebuah pedang yang mengkilap dan tampak sangat tajam.
"Satu lagi!" seru Rani.
"Apa, masih ada lagi?" tanya Raditya yang penasaran.
"Cambuk...!" seru Rani, maka pedang itu seketika berubah menjadi sebuah cambuk yang lumayan panjang.
"Wah! Sebuah liontin berubah menjadi lima macam senjata!" seru kakek Darma yang nampak terkagum-kagum dan demikian pula dengan yang lainnya.
"Iya, memang benar!" jawab Rani.
Semua masih memandang dengan rasa takjub.
"Wauw...! kok bisa begitu?" tanya Arya yang penasaran.
"Ternyata ini kalung ini adalah kalung pusaka langit yang hilang." kata Rani.
"Kalung pusaka langi!" seru mereka serempak.
"Iya, dan hanya Rani saja yang bisa menggunakannya, karena Rani telah berhasil membebaskan roh penjaga kalung pusaka langit ini. Dan roh itu ada dalam liontinnya. Roh kalung ini adalah seekor kucing langit yang terusir dari langit karena kesalah pahaman." jelas Rani.
"Jadi seperti itu? trus waktu kamu menghilang bersama Saga kemarin apa karena kalung itu juga?" tanya Kakek Darma yang penasaran.
"Iya kek!" jawab Rani dengan menganggukkan kepalanya.
Kemudian Rani memegang liontin kalung pusaka itu dan kembali gadis itu berseru.
"Ke kamar Rani...!"
Maka Rani dalam sekejap saja menghilang dari pandangan mereka, dan dalam beberapa detik kemudian Rani keluar dari dalam kamarnya.
Semuanya tertegun melihatnya.
"Apakah paman bisa mencobanya?" tanya Paman Sidiq yang penasaran.
Rani pun menyerahkan kalung pusaka itu pada Paman Sidiq. Kemudian gadis itu menuntun paman Sidiq dengan cara seperti waktu dia yang menggunakan kalung pusaka itu.
Namun kalung pusaka itu hanya mau bereaksi bila Rani yang berseru.
"Kalung pusaka mau menurut hanya pada pemiliknya. Pemiliknya adalah orang yang memberi nyawa pada kalung pusaka ini dengan mustika yang kemarin tertanam dalam dahiku Nona...!" jelas si Kity yang suaranya hanya bisa di dengar oleh Rani.
"Hm, jadi begitu ya!" gumam dalam hati Rani.
"Kenapa Rani?" tanya Sersan Saga yang tak sengaja mendengar Rani berbicara dengan Si Kity.
"Saya sedang berbicara dengan roh kalung pusaka kak Saga!" jawab Rani yang apa adanya.
"Ohw....!" kata Sersan Saga sambil menganggukkan kepalanya tanda bahwa dirinya sudah mengerti dengan apa yang Rani ucapkan.
"Kalung ini hanya menurut sama pemiliknya. Karena itu paman Sidiq tadi tak bisa menggunakannya." jelas Rani.
"Sekarang kami sudah mengerti, Rani jaga dan gunakanlah kalung pusaka untuk kebaikan, membela yang lemah, menumpas kejahatan." nasehat kakek Darma pada Rani..
"Iya kek, Rani ingat dan menjaga kalung ini dengan baik." kata Rani sambil memakai kalung pusakanya kembali.
Setelah mendengar penjelasan dari Rani, menjadi lega dan tak penasaran lagi. Kemudian semuanya melangkahkan kaki menuju ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
"Rani, Saga!" panggil kakek Darma sebelum ke duanya beranjak meninggalkan ruang tamu itu.
"Iya kakek!" sahut Rani.
"Siap Guru!" seru Sersan Saga yang kemudian keduanya melangkahkan kaki menuju ke kamar masing-masing.
Mereka beristirahat untuk mempersiapkan tenaga, yang mana esok hari yang tak tahu apa yang akan terjadi nantinya, mereka berangkat menuju turnamen yang akan digelar esok hari.
Setelah masuk ke kamarnya, Rani melakukan semedi untuk mengatur tenaga dalamnya yang semakin bertambah itu.
Kurang lebih satu jam lamanya, dan pada akhirnya dia terlelap dalam tidurnya karena rasa kantuk dan capek yang tak tertahankan itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...