
"Davidson ragu-ragu, ia memandang Lord Cronshaw sekilas, dan akhirnya menarik keduanya kembali ke kamar makan." lanjut cerita Inspektur Alex.
"Akan tetapi, semua usaha Davidson untuk merujukkan Lord Cronshaw dan Nona Courtenay sia-sia belaka. Karena itu ia lalu memanggil taksi dan menemani Nona Courtenay, yang sekarang menangis tersedu-sedu, kembali ke flatnya." kata Komisaris Saga yang menambahi.
"Perempuan itu jelas-jelas bingung sekali, tetapi ia tidak membeberkan rahasianya kepada Davidson. Hanya saja, ia berulang kali mengatakan bahwa ia akan 'membuat Cronch yang berpandangan kuno itu menyesali kejadian ini!'" kata Inspektur Alex.
"Inilah satu-satunya petunjuk bahwa kematian wanita itu mungkin bukan kecelakaan biasa dan mayatnya cukup berharga untuk digali lagi." kata Rani.
"Pada saat Davidson berhasil sedikit menenangkan Nona Courtenay, malam sudah terlalu larut untuk dia kembali ke Colossus Hall. Jadi, aktor itu langsung pulang ke flat-nya di Chelsea. Istrinya, yang sampai di rumah beberapa waktu kemudian, membawa kabar tentang tragedi mengerikan yang terjadi setelah suaminya meninggalkan Colossus Hall." cerita Inspektur Alex.
"Kelihatannya Lord Cronshaw semakin muram selama pesta dansa itu berlangsung. Dia menjauhkan diri dari kelompoknya dan mereka hampir tidak melihatnya lagi sepanjang sisa malam itu. Kira-kira pukul 01.30, tepat sebelum puncak acara dansa, yaitu saat setiap orang harus melepaskan topengnya, Kapten Digby, seorang perwira yang mengetahui penyamaran Cronshaw, melihat viscount itu berdiri di balkon sambil menatap ke bawah, ke arah pasangan-pasangan yang tengah berdansa." sambung Inspektur Alex.
FLASHBACK ON :
"Halo, Cronch," panggil Digby.
"Turunlah dan bergabung dengan kami. Apa yang membuat Anda bermuram durja seperti burung hantu di atas sana? Ayolah, akan segera ada permainan lama yang mengasyikkan." sambung Digby
"Baik," Cronshaw yang menyahut.
"Tunggu saya, kalau tidak saya tidak akan bisa menemukan Anda dalam kerumunan orang-orang itu!" seru Cronshaw yang sambil berbicara, Cronshaw berbalik dan beranjak dari balkon.
Kapten Digby, yang pada waktu itu bersama Nyonya Davidson, menunggu di bawah. Menit demi menit berlalu, tetapi Lord Cronshaw tidak muncul-muncul. Akhirnya Digby tidak sabar lagi.
"Apakah dia mengira kita akan menunggunya sepanjang malam?" seru Digby.
"Tepat pada detik itu Nyonya Mallaby menghampiri keduanya dan ia diberitahu apa yang telah terjadi." sambung Digby.
"Nah!" seru janda cantik itu penuh semangat.
"Malam ini Cronshaw seperti beruang yang sakit kepala. Ayo, kita cari dan tarik dia ke luar." lanjut nyonya Mallaby.
Pencarian dimulai, tetapi sia-sia hingga terpikir oleh Nyonya Mallaby mungkin Cronshaw dapat ditemukan di ruang tempat mereka makan malam satu jam yang lalu.
FLASHBACK OFF :
"Ketiganya mengayun langkah ke sana. Dan betapa mengejutkannya pemandangan yang mereka lihat. Tidak salah lagi, Harlequin ada di ruangan itu, tetapi ia terkapar di lantai dengan pisau makan tertancap di jantungnya!" kata Inspektur Alex yang kemudian berhenti, dan komisaris Saga menganggukkan kepalanya,
"Kasus bagus! Dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan siapa pelaku pembunuhan itu!" seru Komisaris Saga.
"Bagaimana petunjuk itu harus ada?" tanya Rani yang penasaran.
"Yah," Inspektur Alex yang berkata lagi.
"Anda tahu kisah selanjutnya. Tragedi ganda. Keesokan harinya pembunuhan ini menjadi berita utama di semua surat kabar, dan ada juga berita singkat bahwa Nona Courtenay, aktris ternama itu, ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di tempat tidurnya dan kematiannya disebabkan oleh kokain yang melebihi dosis. Nah, apakah kematiannya disebabkan oleh kecelakaan atau bunuh diri? Pelayan wanitanya, yang datang untuk memberikan kesaksian, mengakui bahwa Nona Courtenay adalah pecandu obat bius itu. Kami kembali menyimpulkan bahwa kematian itu hanyalah kecelakaan biasa. Meskipun begitu, tidak dapat tidak kami tetap mempertimbangkan kemungkinan bunuh diri. Secara khusus, kematian aktris itu tidak menguntungkan karena menutup kesempatan untuk mendapatkan petunjuk tentang penyebab pertengkaran almarhumah dengan Lord Cronshaw yang terjadi malam sebelumnya. O, ya, satu kotak kecil yang terbuat dari email ditemukan pada jenazah Lord Cronshaw. Di bagian atas kotak itu tertulis nama Coco dalam tatahan berlian. Separuh kotak itu berisi kokain. Pelayan Nona Courtenay mengenali benda itu sebagai milik majikannya, yang hampir selalu membawa kotak itu ke mana-mana karena berisi persediaan obat bius yang telah memperbudaknya." sambung Inspektur Alex yang menjelaskan.
"Apakah Lord Cronshaw sendiri pecandu obat bius?" tanya Rani.
"Tak mungkin. Dia menentang keras penggunaan obat penenang." jawab komisaris Saga dengan mengangguk sambil berpikir.
"Tetapi, karena kotak itu berada di tangan Cronshaw, berarti dia tahu bahwa Nona Courtenay menggunakan obat bius itu. Masuk akal kan Inspektur?" tanya Rani.
"Nah, beginilah kasusnya. Bagaimana pendapat kalian?" jawab sekaligus tanya Inspektur Alex.
"Oh, ini." jawab Inspektur Alex seraya mengambil sebuah benda kecil dari sakunya dan menyerahkannya kepada komisaris Saga.
Sebuah rumbai yang terbuat dari sutra berwarna hijau jamrud dengan beberapa helai benang terjuntai, seakan-akan telah ditarik dengan kasar dari tempatnya.
"Ini kami temukan tergenggam erat dalam tangan Cronshaw," kata Inspektur Alex yang menjelaskan.
Komisaris Saga mengembalikan rumbai itu tanpa memberikan komentar apa pun.
"Apakah Lord Cronshaw mempunyai musuh?" tanya Komisaris Saga.
"Tidak, sepanjang yang diketahui orang-orang. Kelihatannya dia disukai banyak orang." jawab Inspektur Alex.
"Siapa yang mendapat keuntungan dari kematiannya?" tanya Rani.
"Pamannya, Yang Mulia Beltane, akan mewarisi gelar dan tanah. Ada sedikit informasi yang mencurigakan tentang paman almarhum ini. Beberapa orang mengatakan mereka mendengar pertengkaran sengit di kamar makan yang kecil itu, dan Beltane adalah salah seorang di antaranya. Anda tahu, pisau makan yang diambil dari meja cocok untuk melakukan pembunuhan pada puncak pertengkaran." jelas Inspektur Alex.
"Apa kata Beltane tentang hal ini?" tanya Rani.
"Dia menjelaskan bahwa saat itu seorang pelayan sedang mabuk dan dia tengah menghardiknya. Lagi pula waktu itu menjelang pukul satu pagi, bukan setengah dua. Kesaksian Kapten Digby benar-benar tepat waktunya. Percakapannya dengan Cronshaw dan penemuan mayat itu hanya berbeda waktu kira-kira sepuluh menit." jelas Inspektur Alex.
"Sebagai Punchinello, saya kira Beltane mengenakan punuk dan pakaian yang berkerut-kerut, iya kan?" tanya komisaris Saga.
"Saya tidak tahu detil kostum-kostum itu secara pasti," sahut inspektur Alex sambil menatap komisaris Saga dengan sorot mata ingin tahu.
"Bagaimanapun juga, saya tidak tahu apa hubungannya dengan kostum-kostum itu." lanjut 8nspektur Alex.
"Tidak tahu?" tanya komisaris Saga.
Ada ejekan dalam senyum komisaris Saga, dan dengan tenang Inspektur Alex melanjutkan pembicaraan.
"Ada tirai di kamar makan yang kecil itu, iya kan?" tanya Rani.
"Memang, tetapi...." jawab Inspektur Alex yang berhenti seraya berpikir.
"Dengan ruangan di balik tirai yang cukup luas untuk menyembunyikan seseorang." kata Rani.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...¹...
...Terima kasih...
...Bersambung...