
"Sungguh?"tanya komisaris Saga yang penasaran.
"Ya. Bukankah ini tidak masuk akal" Umur Bibi sudah lebih dari setengah abad sedangkan Radnor belum lagi 30 tahun! Tetapi itulah kenyataannya. Cinta Bibi kepada Radnor membabi-buta! Akhirnya, terpaksa saya katakan bahwa sayalah yang dikejar Radnor." jelas Freda yang berhenti sejenak untuk mengambil napasnya.
"Bibi tidak percaya dan menghina saya sehingga saya menjadi marah. Saya lalu mengadu kepada Radnor Kami sepakat bahwa jalan terbaik adalah saya harus meninggalkan rumah sementara sampai Bibi sadar kembali. Bibi yang malang saya kira Bibi berada dalam keadaan tidak normal." sambung Freda.
"Kelihatannya begitu. Terima kasih, nona Freda, Anda membuat permasalahan ini sedemikian jelasnya bagi saya." kata komisaris Saga.
Kemudian Rani dan komisaris Saga berpamitan dan mereka melangkahkan kaki menuruni tangga darurat, karena lift di apartemen itu sedang antri banyak orang.
Rani dan komisaris Saga agak terperanjat aku melihat Radnor menunggu mereka di bawah.
"Saya dapat menduga dengan tepat apa yang telah Freda ceritakan kepada kalian berdua," kata Radnor.
"Kejadian yang patut disayangkan. Dan seperti yang dapat Anda bayangkan, sangat tidak mengenakkan bagi saya. Mula-mula saya senang karena saya kira wanita tua itu membantu Freda. Semuanya serba tidak masuk akal - sekaligus sangat tidak menyenangkan." sambung Radnor
"Kapan Anda dan Nona Freda akan menikah?" tanya Rani.
"Segera tuang Ndan nyonya, saya harus berterus terang kepada kalian. Saya tahu sedikit lebih banyak daripada Freda. Freda percaya pamannya tidak bersalah; sedangkan saya tidak begitu yakin. Tapi, harus saya katakan satu hal: saya akan tetap tutup mulut mengenai apa yang sekarang saya lakukan. Tak perlu menimbulkan persoalan. Saya tidak ingin paman istri saya diadili dan digantung karena membunuh." kata Radnor.
"Mengapa Anda ceritakan semua ini kepada kami?" tanya komisaris Saga yang penasaran.
"Karena saya sudah mendengar tentang kalian dan saya tahu kalian hebat. Mungkin sekali kalian akan menemukan kasus yang memberatkannya. Tetapi, saya katakan kepada kalian - apa gunanya itu? Perempuan malang itu tidak lagi membutuhkan pertolongan dan dia sangat anti skandal, dia bisa mati hanya karena memikirkan hal itu." kata Radnor.
"Mungkin Anda benar. Kalau begitu Anda ingin saya - memetieskan (Editor: me+peti+es+kan) perkara ini?" tanya komisaris Saga yang penasaran.
"Begitulah. Terus terang saya akui, dalam hal ini saya egois. Saya sudah mempunyai pekerjaan dan tengah membangun bisnis kecil sebagai penjahit dan menjual pakaian pria." jawab Radnor.
"Kebanyakan dari kita mementingkan diri sendiri, Radnor. Tidak semua orang mengakuinya dengan terus terang. Akan saya turuti permintaan Anda - tetapi terus terang saya katakan Anda tidak akan berhasil membungkam perkara ini." Sambung Radnor.
"Kenapa tidak?" tanya komisaris Saga dengan menegakkan satu jari.
Hari itu hari pasar dan tengah melewati sebuah pasar - dengung kesibukan terdengar dari dalam pasar.
"Suara orang banyak - itulah sebabnya, Radnor. Ah, kami harus buru-buru atau ketinggalan kereta api." seru Komisaris Saga.
"Menarik sekali, tidakkah begitu, Rani?" sambung tanya komisaris Saga bersamaan dengan kereta api bergerak meninggalkan stasiun.
"Kelihatannya engkau menyimpulkan begitu," Rani yang menimpali.
"Bagiku perkara ini agak kotor dan tidak menyenangkan. Hampir tidak mengandung misteri sama sekali." kata komisaris Saga.
"Aku setuju. Tidak ada misteri sama sekali." ucap Rani.
"Dapatkah kita menerima cerita gadis yang agak luar biasa tentang ketergilagilaan bibinya kepada Radnor? Bagiku, itulah satu-satunya bagian yang kelihatannya mencurigakan. Nyonya Pengelley sangat baik dan terhormat." kata komisaris Saga.
"Dan kaupikir...." tanya Rani.
"Mungkin saja laki-laki yang cerdik memanfaatkan saat seperti itu." kata komisaris Saga.
"Menurutku Pengelley tidak begitu cerdik," ucap Rani seraya merenung.
"Dia menjadi bahan pembicaraan di seluruh kota. Meskipun begitu, kukira engkau benar. Radnor dan dokter itu. Dua orang inilah yang tahu segalanya dan mereka sama-sama menginginkan agar perkara ini dipetieskan. Bagaimanapun juga dia sudah berhasil. Kalau saja kita sudah bertemu dengan dokter itu sebelumnya...." sambung ucap Rani.
"Turutilah kata hatimu. Kembalilah dengan kereta berikut dan pura-pura sakit gigi." kata komisaris Saga yang memandang Rani tajam-tajam.
"Kalau saja aku tahu apa yang kauanggap begitu menarik dari kasus ini."
"Rasa tertarikku justru karena komentarmu, Hastings. Setelah mewawancarai pelayan tadi, engkau melihat bahwa dia bilang tidak ingin mengatakan apa-apa, tapi wanita itu nyatanya berbicara banyak." kata komisaris Saga.
"Oh," kata Rani penuh keraguan. Selanjutnya aku kembali pada kritikku semula,
"Aku jadi bertanya-tanya sendiri mengapa engkau tidak berusaha menemui Tuan Pengelley?" tanya komisaris Saga.
"Aku beri dia waktu tiga bulan, lalu aku akan menemuinya kalau aku mau - di tempat terdakwa di pengadilan." kata Rani.
Sejenak Rani mengira ramalan Poirot akan meleset. Waktu berjalan terus dan tak sesuatu pun terjadi sehubungan dengan kasus Cornish mereka.
Perkara-perkara lain menyibukkan mereka sehingga Rani hampir melupakan tragedi Pengelley ketika tulisan singkat di surat kabar tiba-tiba mengingatkanku. Paragraf itu menyatakan bahwa perintah untuk menggali jenasah Nyonya Pengelley telah diterima dari Sekretaris Urusan Rumah Tangga.
Beberapa hari kemudian, 'Misteri Cornish' menjadi topik berita di semua koran. Nampaknya gosip tidak pernah benar-benar hilang. Pada waktu pertunangan si duda Pengelley dengan Nona Marks, sekretarisnya, diumumkan, suara-suara di luaran meledak lagi lebih keras daripada yang sudah-sudah.
Akhirnya diajukan petisi ke Sekretaris Urusan Rumah Tangga; jenasah digali lagi; ditemukan arsenikum dalam dosis besar; dan Tuan Pengelley ditahan atas tuduhan membunuh istrinya.
Rani dan komisaris Saga menghadiri pengaduan-pengaduan pendahuluan. Seperti yang diharapkan, bukti-bukti yang terkumpul cukup banyak. Dr. Adams mengakui gejala keracunan arsenik gampang sekali disalah artikan sebagai gejala radang perut.
Para ahli kantor Urusan Rumah Tangga memberikan kesaksian mereka. Jessie, si pelayan, memberikan kesaksiannya, yang sebagian besar ditolak tapi jelas makin memberatkan terdakwa
...¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...