
Hati sang Sersan Saga sudah merasa tenang, karena sudah melihat ada senyum di bibir kekasihnya.
Sementara itu melangkahkan kaki menuju ke tangga dan terus melangkah menaiki tangga tersebut, dan betapa terkejutnya dia pada saat sudah sampai di lantai atas.
"Kan setannya ada di atas, jadi nggak apa-apa kan lama." balas Rani pada Raditya yang berdiri bersandar di dinding samping pintu kamarnya dengan melipat tangan di depan, Raditya melihat ke arah Rani yang baru saja dari lantai bawah.
"Selama kamu belum menikah, kamu itu masih tanggung jawab kakak. Mengerti! cepat masuk kamar, tidur!" perintah Raditya.
"I..iya kak, Rani mengerti." jawab Rani sambil menundukkan kepalanya berlagak jadi penurut.
"Lekas masuk!" seru Raditya.
"Iya-iya kak Raditya! Selamat malam dan selamat tidur kakakku yang cerewet wekk...!" goda Rani lalu masuk ke kamar dan menutup pintu.
"Malam juga adikku yang cengeng...!" balas Raditya sambil tersenyum, kemudian dia pun masuk dan menutup pintu kamarnya.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Rani merebahkan diri diatas ranjangnya.
Bayangan yang terlintas dalam lamunannya saat-saat Sersan Saga memeluk dan berusaha menciumnya, namun selalu diurungkan oleh kekasihnya itu.
Rani menenggelamkan diri dalam selimutnya, bayangan menakutkan dan menyebalkan Sersan Saga mulai terus menghantuinya.
Perlahan-lahan akhirnya Rani tertidur pulas di dalam selimutnya.
Keesokan harinya...
Rani menerjap-erjqpkqn kedua matanya, dan bangun dari posisi tidurnya.
"Oh, sudah pagi rupanya!" gumam Rani yang kemudian bangkit dari duduknya dan kemudian melangkahkan kaki menuju ke lemari pakaiannya, dan mengambil seragam dan handuknya.
Setelah itu dia melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.
Beberapa menit kemudian sehabis mandi dan berganti pakaian, Rani mengambil beberapa baju dan barang-barang lainnya yang kemudian dimasukkan dalam ranselnya.
Rani menghela nafas dan melihat sekeliling kamarnya.
"Selama beberapa hari aku tidak tidur di kamar ini. Jika aku sudah sampai di lereng gunung, mungkin aku akan merindukannya seperti hari-hariku kemarin yang merindukan kamarku di lereng gunung." kata dalam hati Rani.
Kemudian Rani keluar kamar dan menutupnya. Setelah menuruni tangga, Rani menaruh tas ranselnya diatas sofa ruang tamu.
Kedua matanya mencari sesosok pria tampan dan gagah yang umurnya lebih tua dari kakaknya, yang tak lain kekasihnya Sersan Saga.
Rani melihat si bibi yang menata piring buat sarapan,
"Bi....! Apa Sersan Saga sudah bangun?" tanya Rani.
"Oh tuan Polisi ada di luar Non, sedang mengobrol sama satpam di luar rumah." jawab Si bibi.
"Oh, terima kasih ya Bi." kata Rani yang kemudian meninggalkan si bibi menuju keluar rumah.
Rani melihat Sersan Saga yang sedang ngobrol dengan satpam di dekat pintu pagar rumah.
"Ingat jangan sampai orang yang tidak diinginkan masuk seenaknya ke rumah ini. Seperti kemarin Dito bisa masuk tanpa permisi, untung Dito bukan pimpinan perampok!" kata Sersan Saga.
"Dito masuk rumah?" tanya Rani saat mendengar apa yang di katakan Sersan Saga sama para satpam di dekat pintu pagar rumah.
"Non Rani!" panggil salah satu satpam sambil menundukkan kepalanya.
Sersan Saga kaget dan menoleh ke belakangnya, gadis itu sudah berdiri dibelakangnya.
"Apa benar Dito masuk rumah ini? kapan itu, kenapa aku nggak tahu?" tanya Rani yang sangat penasaran.
"Waktu pulang dari pesta ulang tahun Lilian, waktu itu kamu kan sedang tidur di mobil" jelas Sersan Saga.
"Lantas maksud tujuan dia apa kak Saga?" tanya Rani yang semakin menunjukkan rasa penasaran.
"Baiklah kak!" jawab Rani.
"Ingat ya, kalian harus lebih waspada. Karena saya akan pergi jauh dan lama, kalau ada apa-apa hubungi nomor partner saya Sersan Alex. Bilang saja dari keluarga Wibowo, dia pasti paham." jelas Sersan Saga, yang berusaha memberikan perlindungan buat keluarga Wibowo terutama Rani jika Sersan Saga nanti meninggalkan mereka.
"Baik Sersan!" jawab kedua satpam tanda mengerti, seraya mengangkat telapak tangan mereka menempel di dahi.
Sersan Saga menganggukkan kepalanya dan kemudian Sersan Saga dan Rani bergegas masuk ke rumah dan langsung menuju ruang makan.
Pada saat sampai diruang makan, nyonya Lani dan Raditya sudah berada di kursi meja makan.
"Papa apa sudah berangkat ma?" tanya Rani pada saat menghampiri mereka.
"Papa sudah berangkat pagi-pagi sekali, soalnya toko-toko yang akan dikunjungi papa itu lumayan jauh. Kalau Gym, Raditya sudah memantaunya lewat laptopnya. Sementara ini belum ada dokumen penting yang harus di tanda tangani. Jadi bisa di kerjakan setelah pulang dari lereng gunung." jawab nyonya Lani.
"Baguslah Ma, jadi selama liburan kerjaan tetap berjalan." kata Rani sambil mengambilkan nasi yang dia letakkan diatas piring untuk sarapan Sersan Saga.
"Weits...! yang melayani calon suaminya." goda Raditya pada Rani.
"Bilang aja kalau iri, cepat sana kak Sania dilamar. Keburu diambil orang nanti! He...he...he...!" balas Rani yang menggoda Raditya.
"Kakak kan belum mapan usahanya adikku sayang!" jelas Raditya setelah menelan makanannya.
"Makanya kalau usaha jangan ditunda-tunda melulu. Rani bayangin kakakku yang cerewet di cengengin istrinya. Pasti seru ya! He...he...he...!" goda Rani sambil terkekeh.
"Ngawur aja! Sania nggak kayak kamu yang super duper cengeng. Dia itu wanita mandiri punya prinsip. Nggak kayak kamu, dasar labil!" balas Raditya.
"Kakaaaakk...!" teriak Rani yang sebal.
"Sudah...sudah jadi makan nggak ini!" seru nyonya Lani.
"Ya ma!" kata Raditya dan Rani yang serempak.
Sementara itu Sersan Saga hanya tersenyum melihat keseruan keluarga dihadapannya.
"Ah! memang nasibku, punya kakak yang satu cerewet dan yang satu jutek." gumam Rani lirih saat sudah menelan makanannya.
"Apa kamu bilang....!" seru Sersan Saga saat mendengar gumaman Rani.
"Eh..piss! Rani kira nggak dengar! He....he....he....!" kata Rani yang terkekeh sambil menunjukan dua jari kanannya berbentuk huruf V.
"Kemarin menyebalkan sekarang jutek besok apa lagi? emang nggak ada julukan yang lebih baik gitu?" gumam Sersan Saga dalam hati yang menatap Rani dengan mengulas senyumnya.
Tak berapa lama mereka telah menyelesaikan sarapan, Rani dan Sersan Saga undur diri untuk berangkat ke apartemen Sersan Saga.
"Ma, kak Radit! Rani pergi dulu ya!" seru Rani yang berpamitan dengan keluarganya, pada saat mereka melangkahkan kaki menuju ke teras rumah.
"Iya, hati-hati di jalan." balas Nyonya Lani pada saat Rani mencium punggung tangannya.
"Baik ma!" balas Rani yang bergantian menyalami Raditya.
Demikian pula dengan Sersan Saga yang menyalami kedua keluarga kekasihnya itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...