Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Mengantar Dito Pulang


"I....iya karena kita kan satu kelas di Sekolah." jawab Dito yang agak gugup.


"Oh, benar juga." gumam Raditya dan menghela napasnya.


Tak berapa lama Rani sudah kembali dari memesan mie ayam, dan kemudian masuk ke dalam mobil, yang kali ini dia duduk bersejajar dengan kakaknya di kursi depan.


"Sudah pesan mie ayamnya Ran?" tanya Raditya seraya menoleh ke arah Rani.


"Sudah, Rani pesan tiga mangkok." jawab Rani sembari mengulas senyumnya.


"Minumnya juga? He...he...!" tanya Dito yang mengulas senyumnya.


"Iya, es teh tiga gelas. Kalau mau nambah bisa pesan lagi! He...he...!" balas Rani yang terkekeh.


Sambil menunggu mie ayamnya diantarkan, Rani memutar lagu pada Radio mobil yang ada dihadapannya.


Mereka bertiga mendengarkan lagu dan sesekali bernyanyi bersama dan sedikit menggerakkan badannya.


Dan beberapa menit kemudian terlihat penjual mie ayam dan seorang karyawannya, yang membawa pesanan Rani datang menghampiri ketiga anak muda itu.


"Permisi kak, ini mie ayam dan es teh-nya." kata penjual mie ayam yang membawa tiga mangkok mie ayam beserta saos dan kawan-kawannya sambil menunduk ke jendela mobil.


Sementara dibelakangnya ada karyawannya yang membawa nampan yang diatasnya ada tiga gelas es teh.


"Oh iya pak." sahut Rani sambil mengambil satu persatu mangkok yang berisi mie ayam dan memberikannya untuk Radit, Dito dan untuk dirinya. Setelah itu es teh yang dibawakan oleh karyawan penjual mie ayam itu.


"Yuk, mari makan!" seru Rani dan mereka segera menyantap mie ayam dan sesekali meminum es teh-nya.


Selesai makan mie ayam dan menghabiskan ea teh-nya, Radit pun memanggil pendagang mie ayam.


"Pak! ini mangkoknya dan ini uangnya, kembaliannya buat bapak saja. Mie ayamnya enak dan mantap pak" kata Radit sambil mengulurkan uang seratus ribuan dan kemudian mengacungkan dua jempolnya


"Terima kasih, terima kasih banyak." kata pedagang sambil menundukkan kepalanya beberapa kali.


"Sama-sama pak! Ma'af kami mau melanjutkan perjalanan kami!" seru Rani sembari mengulas senyumnya.


Penjual mie Ayam itu mundur beberapa langkah dan sempat melambaikan tangannya.


Raditya menyalakan mobilnya dan kemudian melanjutkan perjalanan mereka yaitu mengantar Dito pulang.


"Dito kalau sudah sampai dirumah nanti istirahat dulu, kalau bisa kamu kompres lagi" pesan Rani sambil melihat ke arah Dito.


"I..ya, Ran." kata Dito gugup saat tahu Rani menatapnya.


"Kamu kenapa Dit? jangan gugup gitu, kita kan teman!" seru Rani yang bingung melihat perubahan sikap Dito.


Raditya sempat melirik Dito dari kaca spion depannya.


"Ma'af baru kali ini saya punya teman sedekat ini. Karena aku di larang orang tuaku untuk punya teman." kata Dito lirih yang tak enak hati.


"Kok ada ya, orang tua yang melarang anaknya punya teman? jangan-jangan nanti kalau kami mengantarkanmu, nanti kamu kena marah?" tanya Rani yang menoleh ke belakang.


"Ayahku tak ada dirumah, dan ibu tiriku juga demikian. Mereka sibuk urusan masing-masing." jawab Dito.


"Wah, kasihan sekali!" gumam Rani yang tak mengira kalau Dito yang punya orang tua, masih ada rasa tak bahagianya juga.


"Oiya! Nanti aku turun di jalan saja ya!" pinta Dito.


"Ya terserah kamu saja, yang penting kamu bisa sampai ke rumah kamu." jawab Raditya yang masih melihat wajah dan mimik Dito dari kaca Spion mobilnya.


"Terima kasih kak Radit!" seru Dito, yang kemudian mereka masih menikmati perjalanan mereka, dengan sesekali Dito mengarahkan Raditya agar melaju di jalan yang menuju ke rumahnya.


"Berhenti di depan situ ya!" seru Dito yang tiba-tiba.


"Disini?" tanya Raditya seraya menepikan mobilnya, sementara Rani menebarkan pandangannya ke sekitarnya.


"Iya, ma'af nanti saya segera masuk, takut ketahuan" kata Dito.


"Iya!" jawab Rani dan Radit pun semakin penasaran.


Dito menuju sebuah pintu besi kecil dekat dengan tempat sampah. Kemudian Dito membuka pintu tersebut dan segeralah dia masuk.


"Kak Radit! bukannya itu pintu keluar untuk para pembantu yang mau buang sampah ya?" tanya Rani yang penasaran.


"Memang iya! Coba kita lihat bagian depannya, seperti apa rumah keluarga Dito ini!" kata Radit yang penasaran dan melajukan mobilnya kembali melaju secara perlahan-lahan menyusuri depan rumah dimana tadi Dito masuk.


Mobil itu berjalan menyelusuri pagar tembok yang tinggi dan bercat penuh dengan lukisan ular, terutama ular kobra.


"Rani perhatikan dengan seksama, kalau ada yang menarik perhatian.


Soalnya kakak mengemudi, jadi tidak bisa melihat dengan teliti." kata Raditya yang terus mengemudi.


"Iya kak." jawab Rani singkat sambil terus melihat sekelilingnya.


"Ah, kenapa tembok pagarnya berlukiskan ular, dan itu di pintu depannya juga ada patung ular kobra juga!" seru Rani yang tersentak seraya menutup mulutnya.


"Apa? Ular kobra?" tanya Raditya yang penasaran dan dia menyempatkan menghentikan laju mobilnya untuk melihat rumah yang dimaksudkan oleh Rani.


Raditya dan Rani melihat banyak penjaga di balik pintu gerbang rumah itu dan juga banyak Cctv di setiap sudut rumah itu.


"Kak Radit! apakah rumah itu markas geng Kobra?" tanya Rani yang penasaran.


"Kakak tak tahu untuk lebih jelasnya, tapi menurut kakak sepertinya memang begitu!" jawab Raditya yang juga menduga-duga.


"Kalau memang markas geng kobra, terus apa hubungannya dengan Dito? Berarti Dito dan Dio satu rumah begitu? Dito siapanya Dio?" pertanyaan beruntun di keluarkan oleh Rani dari kepalanya.


"Aku sudah curiga saat kita masih di sekolah tadi, makanya aku menawarkan diri mengantar Dito sampai rumah. Akhirnya kita sudah menemukan markas Baskoro. Masalahnya apa kita bisa masuk dengan penjagaan super ketat dan banyak Cctv nya." kata Raditya yang kemudian melanjutkan mengemudi.


"Minta bantuan kak Sania saja." kata Rani sambil tersenyum.


"Itu akan kita pikirkan nanti sama Mama. Sekarang kita kembali ke Gym dulu." kata Raditya.


"Kak waktu aku ngasih hukuman Dio tadi, buka baju itu lho..." kata Rani mencoba mengingatkan kakaknya.


"Idih adikku ternyata mesum ha..ha.." ejek Raditya yang terus mengemudi.


"Ah kak Radit! di ajak serius malah gitu!" seru Rani yang kesal, sambil memonyongkan mulutnya. Raditya hanya tersenyum dan tetap mengemudi.


"Begini lho kak Raditya ku sayang. Dio aku suruh buka baju, soalnya aku kan harus nyari kalung yang berliontin bambu. Makanya hukuman tadi aku buat kesempatan untuk mengetahui si Dio itu pakai kalung berliontin bambu apa tidak." jelas Rani.


"Kakak tahu kok maksud kamu, trus ada kalungnya apa tidak?" tanya Raditya yang penasaran dan menyempatkan menoleh ke arah Rani.


"Nggak ada kak, aneh bukan?" jawab Rani sambil menggelengkan kepalanya.


"Berarti di anak satunya? tapi siapa? apa kita tanya Dito?" pertanyaan dari Rani.


"Dito itu kalau bukan anak pembantunya Dio, bisa jadi saudaranya Dio!" tebak Raditya.


"Dari pengamatan kakak barusan, Dito sepertinya saudara atau bahkan kembarannya Dio" lanjut kata Raditya.


"Saudara? Kembaran?" ucap Rani yang mengerutkan kedua alisnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


.