
"Nggak apa-apa ma, tadi sebetulnya Rani sedikit shock, tapi Sersan Saga mengubah suasana hati Rani" Jawab Rani sambil tersenyum simpul.
."Cie...! mengubah suasana hati Ma katanya. Ha...ha..ha..!" seru Raditya yang menggoda adiknya, dan Rani pun melempar bantal ke arah Raditya.
"Wuut...!"
"Happ...!" Raditya berhasil menangkap bantal itu.
"Ha...ha...! Payah kau Ran!" seru Raditya yang sepertinya hobby menggoda adiknya.
"Kak Radit, Rani baru serius ini..!" seru Rani.
"Iya...iya deh anak Mama Lani yang paling cantik dan suka cengeng!" seru Raditya yang menggoda adiknya lagi.
Karena kesal, kali ini Rani nekat mencubit bagian pinggang kakaknya.
"Auw...! ampun deh...!" rintih Raditya yang pura-pura kesakitan dan menyerah.
"Sudah....! sudah...! kita makan malam dulu yuk! Papa kamu masih di tempat Om Jordy. Dan kita disuruh makan duluan!" ajak Mama Lani.
"Oh, begitu ya ma? Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita makan!" seru Rani dengan semangatnya.
"Radit, ayo!" ajak nyonya Lani.
"Baik Ma." jawab Raditya yang kemudian bangkit dari duduknya, dan kemudian mereka melangkahkan kaki menuju ke ruang makan, dan kali ini mereka malam tanpa Tuan Wibowo.
Pada saat makan malam itu, mereka bertiga saling cerita satu sama yang lainnya.
"Ma, menurut mama apa Sersan Saga tahu jati diri Rani ma?" tanya Rani yang terbesit rasa ketidak nyamanannya.
"Bisa iya bisa tidak sih menurut mama!" jawab Nyonya Lani.
"Sudahlah Rani, kita lihat saja apa yang akan terjadi besok. Sekarang lebih baik kita selesaikan makan malam inidan lekas istirahat, bukannya kamu ada janji sama Sersan Saga jam sembilan malam nanti?" tanya Raditya yang mengingatkan.
"Oiya kak! Makasih sudah diingatkan." kata Rani yang kemudian mereka bertiga menyelesaikan makan malam mereka.
Selesai makan malam semuanya kembali ke kamar masing-masing, demikian pula dengan Rani yang melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Setelah membuka dan menutup pintu kamarnya, Rani mengunci pintu kamar dan bergegas mencari ponselnya yang dia letakkan di meja riasnya.
Beberapa kali gadis itu menggerakkan layar ponselnya dan dia melihat ada beberapa kali Sersan Saga mengirim chat dan sepuluh kali panggilan tak terjawab.
Chat yang berusia permintaan pertemuan dengan Ran.
"Aist..! Sersan Saga, hati ini mau saja bertemu denganmu.Tapi karena kamu menipuku tadi, mohon maaf ya Sersan Saga." kata dalam hati Rani. Kemudian Rani mengirim chat balik pada Sersan Saga.
"Maaf Sersan Saga, Ran tidak bisa menemuimu. Dia baru dapat misi penting! Sekian dan terima kasih!" Chat balasan dari Rani. Setelah itu Rani mematikan ponselnya dan mengisi ulang batu ponselnya.
Gadis itu menarik napasnya panjang dan .wnghw.buakan ya pelan-pelan.
"Rani lebih baik tidur, ingat Sersan Saga! jangan mengganggu Rani. Apalagi dalam mimpi. Rani letih sama kejadian sehari ini!" gumam dalam hati Rani yang kemudian memejamkan kedua matanya dan kini dia larut dalam mimpinya.
***
Pada keesokan harinya di rumah besar dan mewah milik keluarga Wibowo, saat sarapan bersama di ruang makan.
"Kak sarapannya agak cepetan ya.Takutnya sebentar lagi Sersan Saga menjemput Rani. Soalnya kemarin janji mau jemput." pinta Rani.
"Oh, baiklah!" jawab Raditya yang bergegas menghabiskan makanannya.
Rani dan Raditya segera pamit sama kedua orang tua angkatnya. Mereka melangkahkan kaki menuju mobil dan keduanya segera masuk ke mobil sesuai posisi masing-masing.
Setelah itu Raditya melajukan kendaraannya secara perlahan-lahan keluar dari halaman dan kemudian menyusuri jalan raya yang arahnya menuju ke sekolah Rani.
Benar saja, selang beberapa menit saja mereka keluar dari kediaman tuan Wibowo, Sersan Saga datang ke rumah tersebut. Setelah mengetahui Rani sudah berangkat, Sersan Saga segera pergi.
"Permisi, apakah Rani ada?" tanya Sersan Saga pada tuan Wibowo.
"Lantas apakah Rana juga ada?" tanya Sersan Saga yang menyelidik.
"Ma'af, Rana juga sudah pergi!" jawab nyonya Lani, yang sebelumnya tuan Wibowo melirik ke arah istrinya itu. Supaya yang menjawa pertanyaan Sersan Saga kali ini istrinya. Karena dia memang belum tahu betul rencana Istri dan kedua anak angkatnya itu.
"Oh, baiklah kalau begitu. Saya permisi!" seru Sersan Saga seraya menyalami tuan dan nyonya Wibowo.
Setelah itu Sersan Saga melangkahkan kakinya kembali ke sepeda motornya yang masih terparkir di depan teras rumah besar dan mewah itu.
"Rani, kenapa sejak semalam kamu seolah menghindariku?" gumam Sersan Saga dalam hati yang kemudian melajukan sepeda motornya menyusuri jalan raya.
Sementara itu Rani yang diantarkan oleh kakaknya Raditya, sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah.
"Sudah sampai Ran!" seru Raditya yang telah menepikan dan menghentikan sepeda motornya.
"Iya kak! Rani sekolah dulu ya kak!" pamit Rani seraya melepaskan sabuk pengamannya.
"Iya, ingat jangan bertingkah yang aneh-aneh. Apalagi membahayakan semua orang!" pesan Raditya yang menatap Adiknya saat keluar dari mobilnya.
"Iya, kak Raditya! Daaa kak...!" pamit Rani seraya melambaikan tangannya dan kemudian melangkahkan kaki meninggalkan Raditya.
Kakak Rani itu membalas lambaian tangan adiknya juga dengan melambaikan tangannya dan mengulas senyumnya, kemudian dia memutar balik mobilnya.
"Pagi ini masalah dengan Sersan Saga selesai. Dito, iya Dito! Bagaimana aku menghadapinya?" kata dalam hati Rani yang terus berpikir sambil berjalan menyusuri jalan menuju ke sekolahnya.
Tak berapa lama, Rani sampai di gedung tempatnya menimba ilmu, dan kemudian dia menyusuri lorong-lorong jalan penghubung antar kelas. Gadis itu telah sampai di depan kelasnya dan dengan segera dia masuk ke dalam kelasnya.
Rani melihat Dito yang belum masuk ke kelas. Rani tetap melangkahkan segera duduk ke bangkunya
Tak berapa lama, Dito masuk kelas dan melangkahkan kakinya menghampiri Rani. Pemuda berkacamata itu hendak duduk seperti biasannya.Tapi tiba-tiba Rani menahannya.
"Maaf untuk sementara kamu duduk di kursinya Dio, Aku butuh privasi" kata Rani tanpa menatap ke arah Dito.
Rani tak berani menatap pemuda berkacamata itu, rasa malu masih ada dihatinya. Sungguh rasanya ingin cepat bel pulang sekolah.
Dito tak berkomentar sama sekali dan dia membalikkan badannya dan dia duduk di kursi yang berad di sampingnya.
Pelajaran sekolah pun berlangsung seperti biasanya. Dan saat jam Istirahat, Rani tak selera untuk makan. Maka dia tetap di dalam ruang kelas.
"Drtt.... Drtt.... Drtt.....!"
Ponselnya berbunyi dan dilihatnya nama Sersan Saga.
"Ahh...ganggu aja!" seru Rani yang segera mematikan ponselnya.
Bel masuk sekolah pun berbunyi. Murid-murid yang ada di masuk dan menerima pelajaran lagi. Demikian pula Dito, sejak Rani bilang butuh privasi Dito sama sekali tidak berani mendekati Rani.
Tiba-tiba pintu kelas diketuk oleh seseorang, Guru yang mengajar pun keluar dan berbincang dengan seseorang yang mengetuk pintu kelas tadi. Kemudian Guru itu memanggil Rani.
"Rani! kemari dan sekalian bawa tas kamu..!" perintah Guru itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...