Anak Kembar Tuan Muda

Anak Kembar Tuan Muda
Membangun Mall


"Kakek kita mau ke mana?" tanya seorang gadis kecil pada sosok paruh baya yang duduk di sebelahnya.


Paruh baya itu diapit oleh dua anak kembar yang sangat menggemaskan. Siapa lagi mereka berdua jika bukan Leon dan Lea.


Tuan Li mengajak kedua cucunya itu untuk pergi jalan-jalan dan berbelanja ke mall. Dia berencana membelikan apapun yang diinginkan oleh kedua cucunya, termasuk mallnya jika mereka berdua memang menginginkannya.


"Kita akan pergi berbelanja dan main sepuasnya," jawab Tuan Li.


"Itu artinya kita bertiga akan pergi ke mall?" mata Lea tampak berbinar-binar. Gadis kecil itu selalu bersemangat jika sudah berhubungan dengan berbelanja dan bermain.


Tuan Li mengangguk. "Ya, Sayang, kita akan pergi ke mall. Kalian berdua boleh membeli apapun yang kalian inginkan, entah itu baju, sepatu, tas, aksesoris, dan lain sebagainya. Bahkan mallnya juga boleh jika kalian memang menginginkannya." Ucap Tuan Li.


Tiba-tiba sebuah ide tercetus di kepala Lea. Sontak gadis kecil itu menoleh dan menatap kakeknya. "Kakek, rumah kita kan sangat besar. Lalu kenapa kau tidak membuat Mall di rumah saja? Ketika kita ingin jalan-jalan atau berbelanja ke mall, kita tidak perlu pergi jauh-jauh." ujar gadis kecil itu.


"Wah, ide yang bagus itu princess, baiklah kakak akan membangun sebuah mall di rumah kita. Tapi bukan di rumah yang kita tempati sekarang, melainkan rumah baru kita. Kita tidak bisa tinggal bersama nenek lampir dibawah satu atap yang sama." Tutur Tuan Li panjang lebar.


"Nenek Lampir, memangnya siapa dia kakek?" lea memiringkan kepalanya dan menatap Tuan Li penuh tanya.


"Siapa lagi jika bukan penyihir tua itu!!" sahut Leon menimpali.


Lea kembali berpikir. "Penyihir tua?" dia mengulangi ucapan Leon. Sepertinya Lea masih belum sadar jika yang dimaksud oleh kakek dan kakaknya adalah Anna, yang tak lain dan tak bukan adalah neneknya sendiri.


"Dia nenek, Anna!! Dasar Lola!!" cibir Leon menimpali.


Lea mempoutkan bibirnya dan menatap kakak kembarnya itu dengan keras. Enak saja dia menyebutnya Lola, hanya karena dia lambat berpikir. Siapa suruh mereka memakai nama julukan yang menggelikan.


Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh lima menit lebih. Akhirnya mereka tiba Lotte world, dan di tempat inilah mereka bertiga akan bersenang-senang.


.


.


Mobil Zian berhenti di sebuah boutique yang namanya cukup terkenal di kota Seoul. Hari ini ia dan Nara akan melakukan fitting gaun pengantin.


Seperti yang telah Zian katakan, mereka akan menikah akhir pekan ini. Dia tidak bisa menundanya lagi, apalagi membiarkan orang ketiga masuk dan merusak rencana pernikahan mereka.


Kedatangan mereka berdua disambut oleh seorang wanita yang merupakan pemilik boutique. "Kalian berdua sudah datang, ayo masuk." wanita itu pun mempersilakan mereka berdua untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Apakah sudah menyiapkan rancangan yang aku minta, Karin?" tanya Zian pada wanita itu yang ternyata bernama Karin.


Bukannya sebuah jawaban, yang Zian dapatkan dari wanita bernama Karin itu adalah pukulan di lengannya. "Dasar kau ini, begini-begini aku ini adalah kakak sepupumu, untuk itu bersikaplah lebih sopan padaku!!"


Ternyata pemilik butik itu bukanlah orang lain, dia masih berkerabat dengan Zian. Dan ternyata Karin adalah kakak sepupunya. "Ck, jangan sikap berlebihan!! Kita berdua hanya beda satu tahun saja!!" balas Zian menimpali.


"Dasar manusia kutub menyebalkan!!" gerutu wanita itu kesal. Lalu pandangan Karin bergulir pada Nara yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan perdebatan mereka berdua.


Ekspresi wajahnya berubah ketika menatap wanita cantik itu. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya. Karin menggenggam tangan Nara.


"Aku harap kau bisa bertahan dengan manusia seperti dia!! Zian adalah manusia paling menyebalkan yang pernah lahir dan hidup di dunia ini, jadi kau jangan sampai terkejut ketika berhadapan dengan sifat menyebalkannya."


"Ck, berhenti bicara yang tidak-tidak tentang diriku di depan calon istriku, Karin Hong!!" Geram Zian kesal.


"Kenapa kau harus kesal?! Lagi pula yang aku katakan adalah fakta!! Jadi terima saja jangan banyak protes!!" Ucap Karin menimpali. Pandangan karin bergulir pada Nara. "Ayo ikut aku, akan ku tunjukkan beberapa koleksi terbaik boutique ini." Karin mengajak Nara untuk melihat beberapa gaun pengantin koleksi terbaik Boutique-nya. Meninggalkan Zian begitu saja.


Karin membuka pintu kaca di depannya. Dan begitu pintunya terbuka, mata Nara langsung dimanjakan berbagai jenis gaun pengantin yang cantik dan elegan. Semua tampak begitu mewah.


"Ini adalah koleksi terbaik yang Boutique ini miliki. Kau pilih saja ingin memakai gaun yang mana dihari pernikahanmu nanti. Jika harus membuat rancangan baru seperti permintaan Zian, aku rasa tidak akan terburu mengingat hari H-nya sudah semakin dekat,"


Nara menggeleng. "Tidak apa-apa, lagipula koleksi-koleksi di sini juga sangat luar biasa. Dan aku menyukai semua koleksi-koleksi Boutique ini." ujar Nara.


"Baguslah jika kau menyukainya, sekarang kau pilih dulu gaun mana yang ingin kau pakai dihari pernikahan kalian. Aku akan menyiapkan yang lain," ucapkan yang kemudian dibalas anggukan oleh Nara.


Tak lama setelah kepergian Karin, Zian datang menghampirinya. Dan kedatangannya yang tiba-tiba membuat marah terkejut. "Apakah kau sudah mendapatkan gaun mana yang menurutmu bagus?" tanya Zian yang entah Sejak kapan sudah berdiri di belakang Nara.


"Omo!! Wanita itu terlonjak kaget. Kemudian Nara menggeleng. "Belum, aku belum memilihnya sama sekali." Jawabnya.


"Mau aku bantu?" tawar Zian.


Nara mengangguk. Kemudian mereka berdua berkeliling bersama, dan setelah cukup lama berkeliling. Akhirnya Nara menemukan sebuah gaun yang tepat.


"Kau yakin ingin memakai gaun yang ini?" tanya Zian memastikan.


Nara mengangguk. Menurut Zian, gaun itu terlalu sederhana meskipun memiliki taburan batu berlian hampir di seluruh bagiannya. "Ya, memangnya kenapa? Apa menurutmu gaun ini kurang bagus?"


"Bukan begitu. Bukankah setiap wanita ingin terlihat luar biasa dihari spesialnya, apalagi ini adalah sekali seumur hidup. Aku pikir kau juga begitu,"


Nara menggeleng. "Tidak semua wanita itu sama. Aku dan mereka berbeda, bukanlah tentang gaun pengantin yang cantik maupun pesta yang meriah. Tetapi tentang dua hati yang saling terikat. Gaun, cincin, hidangan mewah dan tamu undangan menurutku hanyalah simbol. Bahkan pernikahan masih tetap bisa berlanjut meskipun tanpa itu semua." ujar Nara panjang lebar.


Zian terkesan dengan yang Nara katakan. Dia memang berbeda dari kebanyakan wanita di luaran sana, disaat wanita lain ingin terlihat luar biasa dihari penikahannya, tetapi Nara justru menunjukkan sikap sebaliknya. Ya, dia lebih menyukai kesederhanaan daripada kemewahan.


-


-


Bersambung.