
Kai menghampiri Zian di ruang rapat dan menyampaikan tentang kedatangan Nara. Kai terpaksa menganggu jalannya rapat karena informasi yang dia sampaikan sangatlah penting. Zian harus segera tau tentang ancaman yang mengincar putra-putrinya.
"Kau keluarlah dulu. Katakan pada Nara untuk menungguku sebentar."
"Baik, Tuan."
.
.
Meeting kali ini lebih cepat dari biasanya. Zian segera mengakhirinya setelah Kai datang menemuinya. Dia tidak bisa menunda dan mengulur waktu lebih lama lagi.
Zian tiba di ruangannya. Nara pun segera berdiri dan menghampiri suaminya, wajah cantiknya menunjukkan kecemasan yang berlebihan.
"Nara, sebenarnya ada apa?" tanya Zian penasaran.
"Kau harus segera mencarikan Bodyguard untuk anak-anak. Keselamatan mereka sedang dalam bahaya, ada seseorang yang ingin menculik leon dan Lea. Dan pagi ini sampai dua kali mereka diintai bahaya," jelas Nara.
"Kau berhadapan langsung dengan orang itu?" tanya Zian memastikan.
Nara mengangguk. "Aku dan orang-orang itu nyaris saja terlibat perkelahian, tetapi mereka berhasil lolos dan melarikan diri." jawab Nara.
"Kira-kira Siapa mereka? Apa kau tahu siapa orang-orang itu?"
Nara menggeleng. "Aku tidak tahu!! Untuk itu kau harus membantuku mencari tahunya," ucap Nara.
Mendengar apa yang Nara katakan membuat Zian merasa tidak tenang. Sepertinya orang-orang itu sudah bergerak lebih cepat dari yang Zian bayangkan.
Dan tentu saja Zian tak akan tinggal diam, dia tak akan memaafkan siapapun yang berani mengganggu keamanan keluarga kecilnya. Mereka benar-benar sudah mencari masalah dengan orang yang salah.
Sama halnya dengan Nara, Zian pun tak ingin membuat kedua buah hatinya merasa tak nyaman dengan kehadiran bodyguard yang melindungi mereka secara terang-terangan. Jadi Zian akan meminta mereka untuk melindungi Leon dan Lea secara diam-diam.
"Bukan hanya mereka berdua yang butuh perlindungan, tapi kau juga. Dan aku akan meminta salah seorang anak buahku untuk menjadi bodyguard pribadimu, jika kau merasa tak nyaman dengan kehadirannya secara langsung. Aku bisa memintanya untuk melindungimu dari kejauhan!!"
"Memangnya itu perlu ya?" Nara menatap Zian dengan polos.
Zian menyentil kening Nara dengan gemas dan mengangguk. "Tentu saja penting!! Bukan hanya keselamatan mereka saja yang perlu dilindungi, tetapi kau juga. Dan aku tidak mungkin bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu yang buruk sampai terjadi padamu!!"
Nara tersenyum lebar mendengar apa yang suaminya katakan. Kemudian wanita itu berhambur ke pelukan Zian dan memeluknya dengan erat. "Terima kasih sudah melindungiku,"
Zian tersenyum. Kemudian dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Nara. "Tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena melindungimu dan anak-anak menjadi tugasku sebagai ayah mereka sekaligus suamimu."
Mendengar ucapan Zian membuat hati Nara menghangat. Zian memang pria yang luar biasa, dan Nara bahagia memiliki suami seperti dia.
Zian adalah pria yang bertanggung jawab, meskipun Nara pernah mengutuk pria yang telah menidurinya itu karena telah membuatnya hamil di luar nikah sampai terusir dari rumahnya. Tetapi akhirnya kutukan itu ia cabut karena tak ada gunanya menyesali apa yang terjadi. Dan yang terpenting sekarang Zian telah menyadari kesalahannya dan memperbaiki semuanya.
"Aku lapar, bisakah sekarang kau membawaku untuk makan siang? Aku lapar, cacing-cacing di perutku minta untuk segera diisi."
Zian mendengus geli. Rasanya dia ingin sekali menjitak kepala Nara saking gemasnya. Kemudian keduanya meninggalkan ruangan Zian dan pergi untuk makan siang.
.
.
Bersambung.