
Malam yang sejuk ditemani oleh cahaya bulan dan bintang tak membuat seorang wanita yang tengah hamil tua itu nyaman, dia bangkit dengan perlahan-lahan dari ranjangnya agar tak membangunkan sang suami yang tampak terlelap.
"Kenapa perut Ara mules dan pinggang Ara sakit ya," gumamnya beranjak ke kamar mandi ingin membuang air kecil. Setelah itu Ara memilih berjalan berkeliling di dalam kamarnya guna untuk meredakan rasa sakit yang di deritanya karena ia tak berniat membangunkan Leo yang terlihat kelelahan karena telat tidur asik berbicara dengan twins didalam perutnya.
"Apa kalian mau keluar sekarang sayang," ujar Ara menggigit bibirnya karena menahan rasa sakit.
Tak sanggup lagi Ara menahan rasa mulas dan sakit di perutnya membuat Ara memberanikan diri untuk membangunkan Leo.
"Kak .."
"Heumm."
"Kakak .."
"Heumm .."
"Kakak .. ahh dedeknya mau lahir," jerit Ara membuat Leo langsung membuka matanya lebar, ia terkejut ketika melihat Ara yang tampak pucat dengan keringat yang membasahi keningnya.
"Sayang kamu kenapa," pekik Leo terkejut menahan tubuh Ara yang hampir jatuh ke bawah kasur.
"Dedeknya mau keluar sekarang kak .. ahh hiks .. sakit," jerit Ara menangis membuat Leo semakin kalang kabut.
"Kita ke rumah sakit sekarang," ujar Leo memakai baju kaos oblong nya lalu segera menggendong Ara berlari keluar dari kamarnya, Leo berteriak membangunkan seluruh penghuni mension.
"Mom .. mom, Papa .. Ara mau lahiran," teriak Leo menggema membuat semua orang keluar dari kamarnya.
"Sayang, itu air ketuban Ara sudah pecah .. cepetan bawa dia ke rumah sakit," pekik Mom Nana yang baru keluar kamar menunjuk ke arah lantai yang sudah basah karet air ketuban Ara.
"Baik, Ma." James yang melihat Leo panik pun menyuruh sopir mereka untuk mengemudi, James dan Nana berlari kecil menuju garasi mobil. Dua bulan sudah terlewati begitu cepat semenjak perkumpulan di hari itu.
"Pak Lee, cepat pak .. istri saya sudah kesakitan ini,", sentak Leo panik dikala melihat Ara yang menangis.
"Sayang ikuti aku," pinta Leo menggenggam tangan Ara.
"Hiks .. hiks."
"Tarik nafas dalam-dalam lalu tahan sebentar setelah itu keluarkan dari bawah biar dedeknya cepat keluar," pinta Leo membuat Ara ingin tertawa namun tak bisa karena sakitnya kian mendera.
James yang mendengar instruksi Leo pun kesal, bisa-bisanya itu anak bercanda disaat panik seperti ini.
Plak.
"Aduh .. kenapa kepala Leo di pukul, Pa." Leo mengusap kepalanya karena merasa sakit akibat pukulan James.
"Kalau nafas di buang dari bawah itu emas batangan yang keluar bukan anak-anak mu," ketus James membuat Nana kesal melihat pertengkaran ayah dan anak itu.
"Sayang, dengarkan perintah Mom .. tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan, jangan panik cukup rileks saja karena sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena kami akan selalu bersamamu," ujar Nana lembut membuat Ara yang berada dalam dekapan Leo pun tenang.
"Baik, Mom."
"Mom juga jangan melahirkan sekarang ya .. karena Leo gak bisa temani Mom nantinya," seloroh Leo membuat Nana terkekeh geli.
"Mungkin Mom akan lahiran Minggu depan, Le. Jadi kamu tenang saja karena nanti kamu bisa temani Mom," balas Nana tersenyum manis.
Hingga tak setengah jam lamanya mereka berkendara akhirnya tiba di rumah sakit Dicaprio, semua Dokter spesialis kandungan telah menunggu kehadiran mereka atas perintah James.
Ara langsung dilarikan ke dalam ruang persalinan, di ikuti oleh Leo yang selalu setia menggenggam tangan Ara bahkan ia tak merasa sakit atau mengeluh ketika Ara mencakar tangannya. Tiba-tiba nasihat Jimmy dulu terlintas di kepalanya tentang bagaiman susah nya seorang istri saat berjuang melahirkan buah hati mereka.
"Mohon maaf Pak, apakah anda bisa menunggu di luar," tanya seorang Dokter wanita pada Leo ramah.
"Lakukan pekerjaan kalian dengan baik, jangan hiraukan aku disini karena aku tidak akan menganggu kalian. Aku cuka ingin menemani istri ku saja," tegas Leo membuat 3 Dokter wanita tersebut langsung mengangguk kepalanya cepat.
"Kakak .. hiks .. sakit," lirih Ara dengan air mata yang mengalir membuat Leo juga ingin menangis namun sekuat mungkin di tahannya agar tak keluar, karena posisi Leo sekarang adalah menjadi penyemangat Ara.
"Sayang .. kamu adalah wanita terhebat yang pernah aku temui, bila dulu rasa sakit yang diberikan oleh orang sekitar mu saja sanggup kamu hadapi, pasti rasa sakit yang kamu rasakan sekarang juga bisa kamu hadapi .. ingat bahwa istri dari Leonardo Dicaprio itu merupakan wanita yang kuat dan tangguh, bila nanti kamu kesakitan, kamu bisa meluapkannya dengan mencakar atau menggigit ku sayang .. aku siap asalkan kamu mau bertahan, ingat semua kenangan manis yang sudah kita lalui bersama, jadikan kenangan itu sebagai motivasi kamu sayang .. i love you .. i love you so much," balas Leo dengan suara serak bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Ara yang mendengarnya pun tersenyum manis ia mengangguk kepalanya cepat.
"Ara akan berjuang demi anak-anak kita," balas Ara tersenyum manis dengan air mata yang mengalir.
"Pembukaannya sudah pembukaan terakhir, Dok."
"Kita lakukan sekarang," balas Dokter tersebut.
"Nyonya muda, di saat saya bilang mengejan makan Anda mengejan ya," ujar Dokter tersebut di angguki oleh Ara.
"Mengejan."
"Akkkkk … ahhhhhh."
"Sedikit lagi nyonya, mengejan."
"Ahkkkkk .."
"Oek oek oek," tangis bayi perempuan kian melengking dalam ruangan tersebut membuat Leo dan Ara sama-sama menitikkan air matanya.
"Selamat tuan muda, bayi pertama Anda perempuan," ujar Dokter tersebut tersenyum senang seraya memberikan bayi mungil itu kepada perawat untuk di bersihkan.
"Sayang .. kamu lihat kan, bayi kita yang pertama sudah lahir," bisik Leo menghujani ciuman di wajah Ara.
"Ara sudah jadi .. ahhhh perut saya sakit lagi, Dok." Jerit Ara mencengkram erat tangan Leo bahkan kukunya menancap di kulit Leo.
"Mengejan nyonya muda."
"Ahhhhhhh …"
"Oek oek oek."
"Selamat tuan muda, bayi kedua Anda laki-laki," ujar Dokter tersebut tersenyum membuat Leo dan Ara langsung berpelukan.
"Terima kasih sayang … hiks aku akan berusaha menjadi suami sekaligus Abi yang baik untuk anak kita, aku janji akan selalu mengutamakan kebahagiaan kalian dari apapun .. terima kasih karena sudah mau menjadi istri ku dan menjadi ibu dari anak-anakku .. hiks .. hiks i love you, Ra." Tangis Leo langsung sesegukan memeluk erat tubuh Ara, dengan tenaga lemah Ara mengelus punggung Leo yang bergetar karena menangis.
"Ara bahagia hidup bersama kakak, mempunyai suami baik dan perhatian serta penuh wibawa dalam menjaga pandangannya seperti kakak adalah idaman semua wanita, dan betapa beruntungnya Ara memiliki suami seperti kakak," balas Ara lemah membuat Leo langsung melepaskan pelukannya.
"Oh tentu kamu beruntung sayang .. di dunia ini suami seperti aku dan Arka cs itu limited edition sayang, jadi kamu harus bangga apalagi bibit ku langsung ada 2 sekali menembak," seloroh Leo yang kembali somplak membuat Ara tertawa pelan sebelum menutup mata karena sudah di suntik obat tidur.
"Istirahatlah sayang," bisik Leo mengecup bibir Ara.
"Silahkan mengazankan bayinya tuan muda," ujar Dokter tersebut menggendong bayi cantik mungil yang mirip dengan Ara sedangkan Dokter satu lagi menggendong bayi tampan yang sangat mirip dengannya.
**Bersambung.
Halo-halo kakak ada yang rindu author kah??🤭💃💃💃💃💃
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah.
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏🥰**