Anak Kembar Tuan Muda

Anak Kembar Tuan Muda
Kurang Ajar


Hiruk pikuk suasana perkantoran sudah mulai terasa. Jam masih menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit, tetapi sudah banyak karyawan yang datang. Padahal jam kerja baru dimulai pukul setengah delapan.


Bilik demi bilik telah terisi, hampir semua karyawan sudah datang dan menempati bilik masing-masing. Bukan karena mereka sok rajin, tetapi mereka disiplin. Mereka tau betul jika CEO perusahaan tempat mereka bekerja paling benci keterlambatan, dan selalu ada hukuman untuk mereka yang dan terlambat dan tidak disiplin.


Suara kaki berbalut sepatu hitam mengkilap itu menginterupsi orang-orang untuk berdiri.


Semua orang membungkuk ketika seorang pria dalam balutan jas hitamnya berjalan dengan angkuh melewati mereka.


Wajah tampannya tak menunjukkan ekspresi apapun, datar.


Bukan lagi rahasia jika CEO dari Li Empire adalah pria yang dingin dan kurang ramah. Tapi anehnya dia justru menjadi incaran banyak wanita di kantornya, karena sikap dinginnya justru menjadi daya tarik tersendiri bagi seorang Zian Li.


Dia sangat dingin dan irit bicara. Zian hanya berbicara seperlunya saja, itu pun jika ada yang penting untuk disampaikan. Terkadang dia menyampaikan pesan penting itu melalui asisten pribadinya, yakni Kai.


Tokk... Tokk.. Tokk..


Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Zian dari laptopnya, Zian menoleh dan mendapati seorang wanita berjalan menghampirinya sambil membawa beberapa dokumen di pelukannya yang kemudian dia berikan pada Zian.


"Presdir, ini adalah beberapa dokumen penting yang harus segera Anda tandatangani." Ucap perempuan itu seraya meletakkan dokumen-dokumen tersebut di atas meja.


"Hn,"


"Kalau begitu saya permisi dulu." Perempuan itu membungkuk kemudian meninggalkan ruangan Zian.


Kai masuk tak lama setelah perempuan itu keluar. Kai menghampiri Zian lalu menyerahkan sebuah berkas penting padanya. "Semua informasi yang Anda butuhkan ada disini, Tuan. Dan menurut kabar yang beredar, saat ini laki-laki itu sedang berada di Macau."


Zian mengangkat kepalanya dan menatap Kai. "Gali terus informasi tentang orang itu. Aku ingin informasi tentangnya dia ada di tanganku secepatnya. Mungkin saja dia tau tentang insiden berdarah yang terjadi empat tahun yang lalu."


Kai mengangguk. "Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."


Zian sedang menyelidiki tentang insiden berdarah yang merenggut nyawa teman baiknya empat tahun yang lalu. Kecelakaan lalu lintas yang menewaskannya membuat Zian sangat yakin jika ada konspirasi di dalamnya. Apalagi polisi mengatakan jika kecelakaan itu terjadi akibat si pengemudi dalam pengaruh alkohol. Karena seingat Zian temannya itu bukanlah tipe orang yang suka minum, minuman beralkohol. Jadi itu sangat mustahil.


Ponsel milik Zian tiba-tiba bergetar menandakan ada panggilan masuk. Dia sengaja tidak menghidupkan nada deringnya. Karena bisa mengganggu pekerjaannya. Wajah dinginnya mencair dan senyum tipis tersinggung di sudut bibirnya melihat siapa yang menghubunginya.


"Ada apa, Sayang? Merindukanku, eh?" goda Zian dengan senyum jahil yang pastinya tak bisa di lihat oleh orang yang menelponnya.


"Aku ada di lobby dan tidak diijinkan masuk oleh salah satu karyawanmu!! Aku sudah bilang jika istrimu tapi dia malah mengataiku tukang halu dan stress. Zian, turun sebentar dan jemput aku. Beri tahu karyawanmu siapa aku!!"


Mendengar Nara dipersulit oleh salah satu karyawannya tak membuat Zian tinggal diam, Ia buru-buru turun untuk menjemput wanita itu di lobby kantornya. Zian tak akan menjadikan hal itu sebagai masalah karena memang karyawannya belum tau siapa Nara. Tetapi yang tidak bisa Zian terima ketika dia mengatai Nara dengan kata-kata yang tidak pantas.


Dan sesampainya di Lobby, Zian melihat Nara yang di keroyok oleh dua perempuan yang semuanya adalah karyawan kantornya. Mereka melemparkan beberapa kata yang tak pantas di dengar oleh orang lain. Dan mereka bertiga sekarang menjadi pusat perhatian.


"Jika mimpi jangan terlalu tinggi!! Kau pikir kami akan percaya dengan apa yang kau katakan?! Jika kau adalah istri Presdir Li, maka kami adalah ibunya!!"


Nara mendengus. Dia sudah capek berdebat dengan mereka berdua. "Kita lihat dan buktikan saja. Aku hanya mengatakan omong kosong saja atau tidak?! Dan jangan menangis apalagi memohon-mohon supaya aku memaafkan kalian jika Zian sampai memecatmu karena sudah tidak sopan padaku!!"


"Mimpi, dasar tukang halu!! Jika tidak waras pergi saja ke rumah sakit jiwa, jangan pergi ke kantor ini kau salah tempat!!"


"Kalian berdua dipecat!!" seru seseorang sambil berjalan menghampiri mereka bertiga.


Dan kedua karyawan itu pun langsung membelalakkan matanya. Mereka benar-benar terkejut melihat kedatangan Zian, sedangkan Nara langsung tersenyum lebar. Dia benar-benar puas melihat ekspresi kedua perempuan itu. Tadi mereka berdua berlagak, tapi setelah Zian datang nyali mereka langsung menciut.


"Presdir, maafkan kami. Kami benar-benar minta maaf karena tidak tahu jika Nona ini adalah istri Anda. Kami pikir dia adalah salah satu penggemar fanatik Anda yang mengaku-ngaku sebagai istri, Presdir." Salah seorang dari kedua karyawan itu meminta maaf memberikan penjelasan.


Nara mendecih dan menatap mereka berdua dengan sinis. "Cih, gaya lama!! Tadi aja sok-sokan dan mengataiku dengan berbagai kata kasar, sekarang malah menciut. Makanya kalau ada orang bicara di dengarkan jangan asal nyerocos saja!! Cari tau dulu, jangan asal menyimpulkan!!" Sahut Nara menimpali. dia benar-benar kesal pada kedua karyawan Zian yang suka semena-mena tersebut.


Berkali-kali mereka berdua meminta maaf kepada Nara, tapi sayangnya Nara tak mau memaafkannya. Bukan karena ia kejam dan sombong. Tetapi karena Nara ingin memberikan efek Jera pada mereka berdua. Jika tidak hal semacam ini pasti akan terulang lagi pada orang lain.


"Presdir, kami tahu kami bersalah. Tapi tolong jangan pecat kami, kami berdua masih membutuhkan pekerjaan ini." Mohon kedua karyawan tersebut.


"Aku benar-benar sudah tidak bisa memberikan toleransi pada orang seperti kalian lagi. Bukan karena aku membela istriku, tetapi orang seperti kalian jika tidak diberi pelajaran pasti akan terus melakukan kesalahan yang sama!!"


"Hari ini istriku yang menjadi korban sikap kurang ajar kalian berdua, mungkin selanjutnya adalah para kolegaku. Sebaiknya segera kemasi barang-barang kalian dan cepat pergi ke bagian keuangan untuk mengambil gaji terakhir kalian!!"


Dan keduanya pun tak bisa melakukan apapun lagi untuk tetap bertahan di kantor ini. Keputusan Zian sudah final dan tidak bisa diganggu gugat. Mereka berdua telah melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal.


Dan kejadian hari ini tentu saja bisa menjadi pelajaran hidup bagi mereka berdua, jika mereka tidak bisa merubah sikap kurang ajarnya. Pasti akan sulit bagi mereka berdua untuk mendapatkan kembali pekerjaan yang layak di tempat lain.


.


.


Bersambung.