
Zian telah menempati ucapannya untuk menghancurkan sekolah yang telah mengintimidasi putra-putrinya. Sebagai seorang ayah, tentu saja Zian tidak terima ada orang lain yang menyakiti putra-putrinya. Dan jika mereka berani, maka harus berhadapan langsung dengan dirinya.
Pria itu menutup matanya mendengar teriakan seseorang yang memohon untuk bertemu dengannya, siapa lagi jika pegang kepala sekolah tempat Lea dan Leon bersekolah.
Bukannya menemui orang itu, Zian malah mengabaikannya dan berpura-pura tuli seolah-olah tak mendengarnya.
Membuat Nara yang kebetulan berada di kantor Zian kesel sendiri. Dia benar-benar terganggu oleh teriakan pria itu.
"Sampai kapan kau akan membiarkan dia berteriak seperti orang gila?! Kenapa kau tidak keluar saja untuk menemuinya atau mengizinkannya masuk, teriakannya benar-benar membuatku terganggu!!"
Zian membuka kembali matanya dan menatap Nara. "Aku terlalu malas untuk bertemu dengan orang seperti itu, sudah biarkan saja. Bahkan dia berteriak sampai pita suaranya putus sekalipun aku tidak akan keluar untuk menemuinya ataupun mengizinkannya untuk masuk kemari!!" jawab Zian dengan santainya.
Nara bangkit dari kursinya. "Jika kau tidak mau, biar aku saja yang keluar menemuinya!! Kepala sekolah tidak beres itu sekali-kali perlu diberi pelajaran!!" ucap Nara dan melenggang pergi.
"Nara, tunggu!!" seru Zian namun tak dihiraukan oleh Nara. Zian pun segera menyusulnya sebelum istrinya itu membuat keributan.
Pria itu mengangkat kepalanya mendengar suara pintu di depannya dibuka. Bukan Zian yang keluar melainkan Nara. Tetapi itu tidaklah penting, mau Zian ataupun Nara itu sama saja karena mereka berdua adalah pasangan suami istri.
Pria itu pun berdiri dan menghampiri Nara. Ia akan memohon supaya Zian mau berinvestasi kembali di sekolah yang dipimpinnya. Karena jika dia tidak bisa membujuk Zian, maka dia harus siap-siap untuk kehilangan pekerjaan dan posisinya sebagai kepala sekolah.
"Nyonya, akhirnya ada keluar juga. Nyonya, Saya mohon pada Anda. Tolong bicara pada suami Anda supaya dia tidak mencabut semua investasinya. Karir saya sedang dipertaruhkan sekarang, saya bisa kehilangan pekerjaan. Nyonya, Saya~!!"
"KAU TERLALU BERISIK!!"
Tubuh pria itu tersungkur setelah mendapatkan pukulan telak pada perutnya. Nara menyela ucapannya dengan melayangkan bogem mentah ke arah pria tersebut.
Orang-orang yang ada di sana terbengong melihatnya. Meskipun seorang wanita tetapi tenaga Nara tidak main-main, dia mampu membuat seorang pria tersungkur dengan satu pukulan saja.
"Kau itu terlalu berisik, sudah tahu ini kantor malah berteriak seperti orang gila. Baru kali ini aku bertemu dengan kepala sekolah yang tidak memiliki etika sepertimu, enyah dari sini dan jangan batang hidungmu lagi disini!!"
"Dasar wanita gila!! Berani sekali kau!!" kepala sekolah itu berteriak karena tak terima dipukul oleh Nara.
"Security, cepat seret pria gila ini keluar dari sini dan jangan ijinkan dia untuk masuk lagi kemari!!" seru Nara.
Dua security menghampiri mereka berdua lalu menarik pria itu keluar. Dia dilempar keluar begitu saja oleh kedua security tersebut.
Tak jauh dari ekspresi orang-orang yang ada di sana, Zian menunjukkan keterkejutan melihat tenaga istrinya. Zian sungguh tidak menyangka jika Nara memiliki tenaga sekuat itu untuk ukuran seorang wanita. Benar-benar tidak bisa diremehkan, pikirnya. Kemudian Zian menghampiri Nara.
"Kau mengerikan, tenagamu benar-benar seperti monster." ucap Zian.
.
.
Giselle menatap puas kotak makan siang yang ada di tangannya. Rencananya dia akan pergi ke kantor Zian untuk mengantarkan makan siang untuknya.
Dia sudah memasukkan sesuatu ke dalam makanan itu, dan Giselle yakin, Zian akan jatuh kepelukannya setelah ini. Giselle pergi menggunakan taksi, dia terlalu malas untuk mengendarai mobilnya sendiri.
"Nona, kita sudah sampai." Ucap sopir taksi itu menyadarkan Giselle. Wanita itu turun setelah memberikan beberapa lembar won pada sopir taksi tersebut.
Ini bukan pertama kalinya dia datang ke kantor Zian. Tidak heran jika beberapa karyawan telah mengenalnya.
Giselle pergi ke ruangan Zian yang berada di lantai paling atas. Dia sudah tidak sabar untuk memberikan makan siang buatannya pada pria itu.
"Zian, aku datang!!" ucap Giselle dengan ceria. Namun senyum di bibirnya pudar seketika saat ia melihat keberadaan Nara di sana. "Kau, sedang apa disini?!" tanya Giselle sambil menunjuk Nara.
"Apa tidak terbalik, seharusnya aku yang bertanya padamu!! Sedang apa kau di sini?! Ini adalah kantor suamiku dan wajar dong jika aku ada disini!!" ucap Nara menyahuti.
"Kau~?!"
"Kau, apanya kau?! Sebaiknya segera pergi dari sini sebelum aku hilang kesabaran!!"
"Jika aku tidak mau bagaimana?! Zian, saja tidak keberatan, kenapa malah kau keberatan?! Lagi pula Zian juga tidak mungkin mengusirku, karena sebenarnya dia menyukaiku!! Tapi kau tiba-tiba muncul dan menjadi orang ketiga dalam hubungan kami!!" Tutur Giselle.
Nara menyeringai sinis mendengar ucapan wanita itu. Sementara itu, diam bukan berarti Zian membenarkan apa yang Giselle dikatakan, dia tahu jika Nara bisa menghadapi wanita itu sendirian tanpa bantuan darinya. Dan Zian memilih menjadi pendengar setia mereka.
"Kau benar-benar ya, dan wanita sepertimu memang perlu diberi pelajaran!!" ucap Nara yang mulai terpancing emosi.
Nara mengambil gunting di meja kerja suaminya lalu menarik kepala Giselle dan memotong rambutnya secara acak. Membuat wanita itu berteriak dan meminta Nara Untuk menghentikan aksi brutalnya, tetapi hal tersebut tak dihiraukan oleh Nara. Menurutnya wanita seperti Giselle memang perlu diberi pelajaran. Dengan tragis, Nara membotaki kepala Giselle.
"Garcia Nara, kau benar-benar brengsek!!"
.
.
Bersambung.