
Tappp...
Nara menghentikan langkahnya saat ia merasa seseorang tengah mengikutinya. Wanita itu menoleh ke belakang untuk memastikan jika itu hanya perasaannya saja, dan benar saja dugaannya. Benar-benar ada orang yang mengikutinya
Dua orang pria terlihat seperti sedang berpura-pura melihat ke arah lain, sambil sesekali melihat kearah Nara.
Dan Nara tidak tahu siapa kedua orang itu, tapi satu hal yang pasti, jika mereka berdua memiliki niat buruk.
"Baiklah, kalian ingin bermain-main rupanya. Akan aku layani," ucapan wanita itu sambil menyeringai lebar.
Dan kedua pria itu tampak kebingungan karena orang yang mereka ikuti diam-diam tiba-tiba menghilang, dan mereka berdua kehilangan jejaknya. "Sial!! Kemana perginya wanita itu?! Kenapa cepat sekali?" ucap salah seorang dari kedua pria itu.
Pria di sampingnya menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu, tapi kita harus menemukannya. Jika tidak Bos akan marah!!"
"Bodoh!! Tapi bukan wanita itu tujuan kita, melainkan anak-anaknya. Bos meminta kita untuk menculik mereka lalu menyekapnya di tempat yang telah ditentukan." pria Jangkung itu menoyor temannya yang lebih pendek darinya.
Pria pendek itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehehe, maafkan Aku. Aku lupa!! Tapi untuk apa kita mengikutinya, sedangkan target kita adalah anak-anaknya." dia menatap temannya itu dengan bingung.
"Bodoh!! Sebenarnya otakmu itu terbuat dari apa?! Kenapa kau bodoh sekali?! Kita mengikuti dia untuk mengetahui di mana kedua anak itu bersekolah. Karena Bos tidak memberitahu kita, di mana kedua anak itu bersekolah!" Ujarnya.
Si pendek menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk kedua kalinya. "Ahh, betul juga. Kenapa aku tidak berpikir sampai ke sana?! Ya sudah sebaiknya kita temukan wanita itu!!"
Baru saja mereka berdua hendak melenggang pergi tiba-tiba sebuah belati menempel pada leher di salah satu dari kedua pria itu. Membuat dia memakai keras.
"Aaahhh, jangan Membunuhku!!"
"Katakan padaku, siapa yang sudah menyuruh kalian untuk menculik anak-anakku?! Katakan sejujurnya, pisau ini akan menggorok leher kalian berdua!!" sebuah nada ancaman terlontar dari bibir wanita itu pastinya adalah Nara.
Rupanya wanita itu bersembunyi untuk mengelabuhi mereka berdua. Dia ingin tahu Apa rencana kedua pria itu, ternyata tujuan mereka adalah Leon dan Lea. Dan yang perlu Nara lakukan sekarang adalah mengetahui siapa orang yang memerintah kedua pria itu untuk menculik putra-putrinya.
"Jangan macam-macam!!! Cepat lepaskan temanku, atau kau akan tau akibatnya!!" ucap si jangkung memberi ancaman.
Alih-alih merasa takut, Nara malam melebarkan smrik-nya. "Kau mengancamku?! Kalian telah mencari masalah dengan orang yang salah, Bung. Dan aku tidak akan membiarkan rencana kalian berhasil!! Sebelum menyentuh putra putriku, sebaiknya langkahi dulu mayatku!!"
Ekspresi Nara berubah serius. Tatapannya menjadi dingin dan tajam membuat bolu kutu kedua pria itu berdiri seketika. Seekor kupu-kupu cantik yang berada di hadapan mereka tadi telah bertransformasi transformasi menjadi seekor singa betina yang kelaparan.
Kedua pria itu saling bertukar pandang, entah kenapa mereka menjadi takut sendiri untuk menghadapi nara Nara. Dan mereka pun sepakat untuk melarikan diri daripada harus berakhir mengenaskan di tangan wanita itu.
"Ini belum berakhir, kembali lagi!!" ucap salah seorang dari kedua pria itu sebelum meninggalkan Nara.
Wanita itu menghela nafas panjang. Ada saja masalah yang tidak pantas, dan Nara ingin tahu siapa yang menyuruh mereka berdua untuk menculik putra-putrinya. Nara akan memberitahu Zian mengenai masalah ini, dan mungkin suaminya itu memiliki solusi untuk mengatasinya. Dan untuk sekarang, Nara tak bisa membiarkan Leon dan Lea sendiri tanpa pengawasan.
.
.
"Mami, apa yang sedang kau lakukan di sini?"
Lea tampak begitu terkejut melihat kedatangan ibunya di sekolahnya. Karena tak biasanya Nara datang sendiri seperti ini. Ibu dua anak itu menggeleng. "Tidak ada, mami hanya datang untuk memastikan jika kalian berdua baik-baik saja. Lalu dimana Leon?"
"Dia sedang pergi ke toilet. Oya, Mi. Tadi saat kami berdua berangkat, ada mobil yang mengikuti mobil kami. Beruntung Paman Chen bisa mengatasinya. Sepertinya orang-orang itu memiliki niat buruk pada kami," ujar Lea.
Benar-benar tidak bisa dibiarkan. Hidup dan keselamatan kedua buah hatinya sedang di pertaruhkan. Dan tentu saja nara tidak akan membiarkannya.
Dia akan mengambil tindakan tegas untuk mengatasi masalah tersebut. Dan hanya Zian yang bisa membantunya. Menempatkan beberapa bodyguard bayangan untuk melindungi mereka berdua adalah pilihan yang tepat.
Dan Nara akan meminta Zian untuk menyiapkan bodyguard untuk melindungi mereka berdua. Tentu tidak secara langsung, karena hal itu bisa membuat mereka merasa tak nyaman.
"Iya, Mi. Sepertinya mereka mengincar kami. Leon bilang mereka bukan orang baik-baik."
"Kalian berdua tenang saja, Mami dan papi akan melakukan sesuatu untuk mengatasi hal itu. Yang perlu kalian lakukan hanyalah bersikap setenang mungkin, Mami tak akan membiarkan hal buruk sampai menimpa kalian berdua." ucap Nara seraya berlutut di depan Lea.
Nara tak akan membiarkan putrinya ketakutan karena orang-orang itu. Mereka harus berhadapan dengan dirinya terlebih dulu sebelum menyentuh anak-anaknya.
"Ya sudah, sebaiknya Lea kembali ke kelas dan tetap disana. Jangan kemana-mana sampai Paman Chen datang. Katakan juga pada Leon, apapun alasannya jangan sampai berinteraksi dengan orang asing. Lea paham?" gadis kecil itu mengangguk. Nara tersenyum lebar. "Ya sudah, Mami pulang dulu."
"Mami hati-hati dijalan." ucap Lea dan dibalas angkutan oleh Nara.
.
.
Dan sekarang juga dia harus pergi ke kantor Zian. Dia harus tahu jika keselamatan putra-putri mereka sedang dalam bahaya.
Ada orang yang mengincar mereka berdua.
.
.
"Apa, gagal?!"
Wanita itu tak bisa menahan kemarahannya setelah mendengar kegagalan orang-orang bayaran yang Iya sewa. Padahal dia sudah mengeluarkan banyak uang, agar rencananya itu berhasil. Tetapi mereka malah gagal.
"A..Ampun, Nona. Bukan salah kami, sebenarnya kami hampir saja berhasil tetapi ternyata perempuan itu bukan wanita sembarangan. Dia sangat mengerikan, tatapannya membuat kami serasa uji nyali." Ucap salah satu dari kedua pria itu
"Itu karena kalian bodoh dan tidak berguna!! Sia-sia aku keluar banyak uang untuk orang-orang seperti kalian. Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya. Kalian berdua harus berhasil mendapatkan anak itu!! Kalian paham?!"
Mereka mengangguk. "Ba.. Baiklah. Kami paham, kalau begitu kami permisi dulu." ucap pria itu dan pergi begitu saja.
Wanita itu mengeram marah. Kali ini mereka tidak boleh gagal lagi, dia harus berhasil mendapatkan kedua anak itu sebagai senjata supaya Nara mau mengembalikan semua kekayaan keluarga Garcia padanya.
.
.
Bersambung.
.
.