Anak Kembar Tuan Muda

Anak Kembar Tuan Muda
kemarahan Brayen


Kemal berlari kecil menuju kamar twins b namun dia tak melihat Brayen, di carinya ke dapur, taman belakang juga tidak ada dan itu membuat kemal semakin khawatir.


dor


dor


dor


tiba tiba kemal terkejut mendengar bunyi tembakan itu, ia segeralah berlari ke samping mension Lemos, untuk mencari asal suara tersebut, dan di lihatnya twins A dan twins B sedang bermain tembak tembakan sedangkan Aarin yang menjadi dokter nya.


"boy"panggil kemal langsung berlari memeluk Brayen erat.


"kamu kenapa bermain pistol, itu sangat berbahaya boy"ucap kemal melepaskan pelukannya dan segera mengambil pistol R45A1 dari tangan Brayen, Bryan dan Aaron



"paman duda Janan ambil pistol na aalon, shini balikin"protes Aaron berusaha menggapai pistol nya yang di ambil oleh kemal.


"ini bukan mainan kalian boy, ini mainannya orang dewasa"balas kemal yang ingin marah pada Arka, bagaimana bisa ia memberikan pistol beneran untuk anak anak pikir nya.


"itu mainan Aaron pa, replika dari R45A1 bukan pistol beneran, makanya suaranya nyaring begitu karena harga nya mahal"ujar Brayen membuat kemal menghela nafas lega.


"emang berapa harga nya"


"kata Daddy halga na satu mobil lamboljini paman, but Janan biyang Biyang Shama mommy"ucap Aaron polos, ia tak tahu berapa mobil Lamborghini, yang jelas itu hadiah dari Arka karena sudah mau memijit kepala Arka, dan Arka bilang jangan sampai putri tahu karena kalau sampai putri tahu, siap siap Arka harus mendengarkan ceramah putri yang seperti mama Dedeh.


kemal yang mendengar nya pun hanya bisa tersenyum menggelengkan kepalanya, Arka benar benar sosok yang loyal, bila dia sudah sayang pada seseorang maka apapun yang di minta akan di kasih nya, termasuk sebuah apartemen fantastis untuk Karin dulu.


"kamu memang anak sultan yah"ucap kemal mengembalikan pistol tersebut.


"butan paman, aalon anak na Daddy alka butan anak sultan"balas Aaron seraya memeriksa pelatuknya.


"papa kenapa pulang"tanya Brayen.


"tadi papa khawatir sama kamu karena tiba tiba kamu mematikan telepon nya"jawab kemal jujur.


"dan oh ya sejak kapan kamu suka main pistol boy, bukannya kamu lebih suka main hp atau bola"tanya kemal bingung, karena Brayen tak pernah suka bermain pistol berbeda dengan bryan.


"mulai hari ini pa, Brayen sama Bryan harus bersiap siap untuk melawan nenek sihir yang akan datang"ucap Brayen sungguh sungguh di ikuti oleh Bryan.


"nenek sihir??siapa boy?"tanya kemal penasaran.


"siapa lagi kalau bukan wanita miskin itu"ketus Brayen membuat kemal tersentak.


"Bray, dia itu mama kalian, jadi tidak boleh berkata seperti itu oke"tegas kemal lembut.


"tidak ada seorang mama yang mau meninggalkan anak nya yang masih kecil"geram Brayen marah.


"tapi dia itu tetap mama kamu..


"tidak, sampai kapan pun Brayen tidak akan menganggap nya mama"teriak Brayen marah kemudian berlari meninggalkan kemal.


"Bryan juga tidak mau punya mama seperti dia"timpal Bryan dengan mata berkaca-kaca berlari mengikuti Bryan.


"boy, jagoan.."panggil kemal berlari mengikuti anak anaknya meninggalkan twins A yang berdiri bingung.


"blayen tenapa teliak teliak,,, shepelti Olang malah aja"tanya Aarin polos pada Aaron yang juga bingung.


"Ndak tau...Ita pandil mommy Shama glandma yukk,,"ajak Aaron menggandeng tangan Aarin berlari kecil menuju putri dan Lisa yang sedang duduk di taman belakang.


kemal berlari mengetuk pintu kamar twins B namun tak ada jawaban dari dalam.


"boy, jagoan buka pintu nya,,papa mau bicara dengan kalian"ucap kemal mengetok pintu kamar.


"jika kalian menyayangi papa buka pintunya sekarang"tegas kemal yang memakai jurus jitu nya.


cklek


pintu kamar pun terbuka memperlihatkan sosok Bryan yang matanya memerah, seperti ingin menangis.


"mana Brayen jagoan"tanya kemal menggendong Bryan.


"itu"ucap Bryan menunjukkan Brayen yang sedang membungkus dirinya dengan selimut.


"jagoan pergi main sama mama dulu yah, biar papa berbicara dengan Brayen dulu"ucap kemal lembut mengecup pipi Bryan.


"baik pa"jawab Bryan mengangguk dan segera pergi dari kamar tersebut.


kemal berjalan ke arah kasur, dan ia duduk di tepi.


"boy"panggil kemal lembut membuka selimut dan menampilkan Brayen yang seperti sedang menangis karena tubuh nya bergetar.


"kamu nangis"


"enggak hiks"ucap Brayen menangis membuat kemal terkekeh.


"terus kalau tidak nangis kenapa suaranya parau begitu hemm"


"hidung Brayen sumbat karena jarang ngupil makanya bisa begini"jawab Brayen yang masih tidur tengkurap, membuat kemal tertawa geli melihat Brayen yang pandai beralasan.


"yaudah sini biar papa yang bersihkan hidung mu"ucap kemal tersenyum mengangkat tubuh Brayen ke pangkuannya, hatinya sakit ketika melihat mata Brayen yang bengkak karena menangis, kemal langsung mengambil tisu basah, dan membersihkan ingus Brayen setelah itu dia juga mengelap lembut penuh kasih sayang wajah Brayen.


"nah sekarang ceritakan bagaimana perasaan mu pada papa"tanya kemal serius membelai pipi Brayen.


"wanita itu kembali pa, Brayen tidak suka bila nanti dia datang ke papa lagi"ucap Brayen jujur mengeluarkan isi hatinya pada kemal, ia benar benar takut bila kemal menerima Rosa kembali.


"apa kamu benar benar membencinya"tanya kemal menatap lekat wajah Brayen.


"iya Brayen membencinya, Brayen tahu kenapa dia meninggalkan papa dulu, karena Brayen sering mendengar para pelayan di Mension kita dulu berbicara tentang wanita itu, Brayen tidak suka pa, Brayen benci sama dia meskipun dia adalah mama Brayen, dan Brayen juga benci kenapa wajah Brayen mirip dengan dia, kenapa tidak mirip seperti wajah papa dan Bryan"terang Brayen panjang lebar dengan mata berkaca-kaca.


"ssstt, tidak boleh begitu, mungkin kita bisa membenci orang lain tapi kita tidak boleh membenci diri kita sendiri sayang"ucap kemal langsung memeluk erat tubuh Brayen.


"hiks hiks kenapa dia jahat sama kita pa, dan kenapa dia tidak pernah datang menemui Brayen sama Bryan pa, kenapa kami punya mama yang buruk seperti dia, padahal kami anak baik hiks kami selalu sholat dan juga kami tidak jahat seperti anak lain pa, walaupun Brayen suka merayu wanita pa"tangis Brayen pecah memeluk erat tubuh kemal dengan tangan mungilnya.


ya Allah bagaimana bisa anak ku bisa dewasa seperti ini batin kemal


"sayang, hidup ini penuh dengan ujian, terkadang ada orang yang di uji dengan harta nya, ada orang yang di uji dengan anak nya yang durhaka dan juga terkadang ada orang yang di uji dengan orang tua mereka, jadi kita tidak bisa memilih dan mengeluh karena ujian itu, tugas kita sebagai manusia yaitu menjalani saja dengan sabar dan ikhlas, mungkin kebahagiaan Brayen bukan terletak pada mama tapi pada yang lain, lihatlah bukan kah Brayen punya papa yang sangat menyayangi Brayen,


bukankah Brayen selalu bisa mendapatkan apa yang Brayen mau karena punya uang, dan sekarang Brayen punya sahabat seperti Aarin dan Aaron, ditambah lagi grandpa, grandma dan mama putri, apakah itu semua tidak cukup, lihatlah di luaran sana sayang, ada yang bahkan lebih susah dan menderita dari kita, jadi Brayen tidak boleh mengukur segala sesuatu dengan otak kecil Brayen, kita tidak boleh tamak sayang, masa kita ingin hidup kita berjalan mulus tanpa adanya air mata dan keringat kan itu tidak mungkin sayang"terang kemal bijak mencoba memberikan pengertian pada Brayen.


"hiks maaf pa, maafin Brayen"ucap Brayen menatap kemal, ia merasa bersalah karena telah meninggikan suaranya pada papa sekaligus ibunya, ia seakan mengerti apa maksud dari perkataan kemal, namun Brayen tetaplah Brayen, dalam hatinya tetap terbersit sebuah rencana untuk Rosa, karena sifat Brayen bila tidak suka maka jangan mencoba coba mendekat padanya.


**bersambung


hai kakak bagaimana


kira kira kelanjutan nya??


mau next?? jangan lupa vote,


like coment dan beri rating yah.


bantu author buat dapat rangking karya baru yah kakak..


salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏🥰**