Anak Kembar Tuan Muda

Anak Kembar Tuan Muda
Siapa Kakak-Siapa Adik?


"Anak-anak, Kakek datang."


Seruan keras itu menyita perhatian dua anak kembar yang sedang berdebat memperebutkan siapa Kakak dan siapa adik.


Lea mengatakan pada Leon Jika dia adalah kakak karena lahir lebih dulu, tetapi Leon tidak terima dan menegaskan pada Lea jika dialah yang kakak karena lahir setelah Lea.


Kemudian Lea meninggalkan Leon begitu saja dan menghampiri kakeknya. Lea ingin bertanya pada Tuan Li dan memastikan apakah benar Ia adalah kakak atau bukan.


"Kakek," seru Lea.


Tuan Li menatap cucu perempuannya itu dengan bingung. Wajahnya terlihat murung dan tak cerah sedikitpun. "Lea, Sayang. Kenapa wajahmu muram sekali? Apa seseorang membuatmu kesal?" tanya tuan Li memastikan.


Lea mengangguk. "Ya, dan orang itu adalah Leon. Masa iya dia mengatakan padaku jika dia adalah kakak, padahal yang lahir lebih dulu adalah aku. Jelas-jelas aku yang kakak, benar kan itu kakek?"


"Em... Bagaimana ya mengatakannya, siapa yang kakak dan siapa yang adik sebenarnya tidaklah penting. Kalian berdua itu bersaudara, dan anak kembar sama saja. Tidak ada yang kakak dan tidak ada yang adik," ucap Tuan Li.


Jika dia mengatakan pada Lea memang Leon yang kakak karena dia lahir setelah Lea, pasti Lea akan sedih dan kecewa. Dan kakek Li tidak ingin membuat cucu perempuannya itu sampai sedih dan kecewa. Makanya dia mengatakan tidak ada kakak ataupun adik pada anak kembar.


Mendengar jawaban kakeknya membuat wajah Lea kembali cerah. Dia tidak sedih lagi seperti tadi pikirkan jika ia adalah adik bukan kakak


"Apakah itu benar?" Leon menghampiri mereka berdua dan memastikan apa yang kakeknya katakan. "Tapi Mami mengatakan padaku, jika aku harus menjaga Lea karena dia adalah adik dan aku kakak."


Dan ucapan Leon membuat wajah Lea kembali murung. Lalu dia menatap kembali pada kakeknya. "Kakek, tadi kau bilang tidak ada kakak ataupun adik pada anak kembar. Lalu kenapa Leon mengatakan Jika dia adalah kakak, dan yang memberitahu Leon adalah mami. Kakek, berbohong pada Lea ya?" gadis kecil itu menekuk wajahnya.


Kakek Li menjadi bingung sendiri, bagaimana dia harus mengatakan pada Lea. Jika yang dikatakan Leon itu benar, sepertinya dia harus memberi pengertian pada gadis kecil itu.


"Begini ya sayang, sebenarnya Leon memang Kakak dan Lea adalah adik. Tapi Lea perlu tahu, menjadi adik juga enak loh, anak bungsu. Lea bisa lebih bermanja-manja pada Mami dan Papi, sementara Leon harus dipaksa dewasa sebelum waktunya." kakek Li berharap jika ucapannya bisa membuat Lea tidak Murung lagi.


"Benarkah?" kakek Li mengangguk. "Jika itu alasannya, aku lebih memilih menjadi adik daripada kakak. Ternyata menjadi adik sangat menyenangkan," ujar Lea sambil tersenyum lebar.


Kakek Li bisa menghela nafas lega setelah mendengar ucapan Lea. Ternyata dia bisa menerimanya sebagai adik.


"Bagaimana jika sekarang kita pergi jalan-jalan? Kakak sudah memberitahu Mami dan Papi kalian untuk membawa Kalian pergi bersama kakek. Dan mereka mengizinkannya,"


"Kebetulan sekali Lea juga ingin pergi jalan-jalan, ayo kita pergi sekarang." gadis kecil itu begitu bersemangat mendengar jika ia akan diajak jalan-jalan oleh kakeknya.


Berbeda dengan Lea yang begitu bersemangat setelah tahu akan diajak jalan-jalan oleh kakeknya, Leon justru acuh-acuh saja.


.


.


Nara menghampiri Zian yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Wanita itu sengaja tidak pulang karena Zian melarangnya. Apalagi anak-anak sekarang sedang bersama kakeknya.


"Ingin aku buatkan kopi?" tawar Nara. Zian mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Nara.


Dia mengangguk. "Boleh juga, kebetulan kepalaku agak sedikit pening." Jawabnya.


Nara tersenyum lalu mengangguk. Kemudian ia meninggalkan ruangan suaminya dan pergi untuk membuat kopi. Bisa saja Nara memanggil OB agar menyiapkan kopi untuk Zian, tetapi Nara lebih suka melakukannya sendiri.


"Nyonya, biar saya saja." ucap seorang wanita saat melihat Nara yang sedang menyeduh kopi untuk Zian.


"Baiklah, Nyonya. Kalau begitu saya kembali bekerja." Nara mengangguk. Selepas kepergian wanita itu, hanya menyisakan Nara sendiri di sana.


Lagi pula Nara bukanlah wanita yang manja, dan membuat kopi adalah salah satu keahliannya. Dan melayani suaminya merupakan tugasnya.


"Apa kau melihat kejadian tadi pagi? Aku sangat kasihan pada mereka berdua, Presdir memecatnya begitu saja karena seorang wanita yang mengaku-ngaku sebagai istri CEO kita."


"Bukankah hari itu sudah dikonfirmasi langsung oleh, Presdir? Dan Presdir memecat mereka karena keduanya bersikap kurang sopan pada isterinya."


"Bisa jadi wanita itu yang melebih-lebihkan supaya mendapatkan simpati dari Presdir,"


"Kenapa kau sinis sekali pada wanita yang katanya istri Presdir kita? Itu adalah permasalahan mereka, kenapa kau harus ikut campur? Bukannya bagus ya mereka berdua dipecat, karena Setahuku dari dulu kau dan mereka selalu bersitegang. Atau jangan-jangan kau iri, karena wanita itu bisa menikah dengan Presdir Li?"


Obrolan dua wanita yang sedang berada di toilet itu menyita perhatian Nara yang sedang mengaduk kopinya. Sepertinya yang mereka bicarakan adalah dirinya.


Nara tak langsung menegur mereka berdua, tetapi dia menunggu mereka keluar dari toilet dengan sendirinya. Mereka yang mencari ribut, dan Nara akan melayaninya.


"Jaga bicaramu, memangnya siapa yang iri? Sudahlah Ayo kita kembali bekerja,"


"Baiklah."


Ketika keluar dari toilet, mereka berdua terkejut mendapati Nara berdiri di samping pintu melipat kedua tangannya. Wanita itu menyeringai dan menatap keduanya dengan sinis.


Nara tersenyum meremehkan. "Kenapa kalian terkejut melihatku berdiri disini?" wanita itu menatap keduanya bergantian.


"Nyonya, saya tidak ikut-ikutan. Tetapi teman saya ini yang sedari tadi membicarakan Anda, saya permisi dulu." Wanita berkacamata itu buru-buru pergi karena ia tak mau mendapatkan masalah.


Setelah berhadapan langsung dengan Nara. Nyali wanita itu tiba-tiba mencium padahal di dalam sana, iya terus membicarakannya. Dia juga segera berpamitan pergi. Nara mendengus, ternyata nyari wanita itu hanya setebal tisu.


Sudah terlalu banyak waktunya yang terbuang, nara pun segera kembali ke ruangan Zian. Mungkin saja dia sudah menunggunya.


.


.


"Kenapa lama sekali?" tanya Zian setibanya Nara di ruangannya.


Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya. Wanita itu malah mengelas nafas. Akhirnya dia pun menceritakan apa yang terjadi di belakang tadi. "Dan kau ribut dengan mereka berdua?" ucap Zian memastikan.


Nara menggeleng. "Mereka kabur duluan, ternyata nyalinya hanya tebal tisu ketika berhadapan langsung denganku. Benar-benar tidak sebanding dengan apa yang dia katakan sebelumnya." jelas Nara.


"Ya sudah, tidak perlu dipikirkan. Terima kasih untuk kopinya, Sayang. Aku lanjut kerja dulu," ucap Zian dan dibalas anggukan oleh Nara.


Baiklah."


.


.


Bersambung.