
Setelah masuk kedalam kamar, Leo langsung membuka baju nya di depan Ara, ia seakan sudah terbiasa membuka baju di depan para wanita, bahkan ia seakan lupa bahwa dia sedang berada di kamar Ara sekarang.
Wajah Ara merah padam layak nya tomat rebus, ia malu malu kucing melihat tubuh kekar Leo, ia menutup wajah nya dengan tangan, namun sesekali ia mengintip nya.
Kenapa tubuh nya sangat kokoh, perut nya juga seperti kotak amal, belum lagi bibir nya merah seperti sambal mercon batin Ara terpesona.
Leo masuk kedalam kamar mandi dengan menggunakan celana boxer, ia segera menuju ke arah shower.
"Kita benar benar sudah tamat phoniex, kau sudah tidak bisa terbang bebas lagi, karena kalau kita melanggar nya bisa bisa kau di pisahkan dari tubuh ku, dan itu sangat mengerikan,"gumam Leo berbicara pada si phoniex yang nampak lesu.
Ia segera menyudahi ritual mandi nya, dan segera keluar dengan handuk yang terlilit di pinggangnya.
Ara membuka mulutnya lebar dikala melihat pesona Leo di depannya, benar benar menggugah selera, badan yang nampak masih basah, rambut yang belum kering dan acak acakan terkesan lebih seksi, membuat otak nya langsung menghayal yang tidak tidak.
"Kamu tidak mandi,"tanya Leo menaikkan alisnya, namun bukannya menjawab Ara langsung lari masuk ke kamar mandi, ia tak sanggup melihat Leo lagi, karena ia takut harga dirinya jatuh, apalagi bunda nya tadi berpesan agar Ara tidak terlalu bar bar dan agresif.
"Dasar aneh,"gumam Leo segera menelepon seseorang untuk membawakan baju gantinya untuk besok, karena malam sudah larut Leo hanya menggunakan boxer saja untuk tidur, tak lama kemudian orang yang membawa kan baju nya datang.
"Terimakasih."
"Sama sama tuan."
Leo langsung naik ke atas kasur king size nya Ara, ia membolak balikkan tubuh nya mencari posisi aman untuk tidur.
"Apakah malam ini aku harus mengobrak-abrik sangkarnya, seperti yang papa katakan, apakah nantinya si phoniex akan nyaman dengan satu sangkar...akkkk apa yang harus aku lakukan, aku benci dikekang,"teriak Leo frustasi menjambak rambut nya.
Sedangkan didalam kamar mandi, Ara dilanda kebingungan melihat baju yang diberikan oleh bundanya yang ternyata adalah lingerie seksi berwarna merah cerah.
"Kenapa bunda suruh pakai baju jaring ini sih, tidak nyaman di lihat, apalagi bajunya transparan begini, tapi kata bunda ini wajib,"gumam Ara bermonolog sendiri.
Hingga akhirnya ia pun memakai lingerie tersebut karena takut bundanya akan marah, Ara keluar dari kamar mandi dengan jantung yang berdegup kencang.
cklek
Leo yang sedang bermain hp nya langsung menatap ke arah pintu kamar mandi, matanya melotot begitu juga dengan air liur nya yang ingin keluar, ia melihat Ara memakai baju lingerie dengan rambut yang masih agak basah, mata elang Leo langsung menatap jelas tubuh Ara yang nampak transparan, begitu juga dengan si phoniex yang seakan ingin segera terbang.
"slurpp...oh my God,"ucap Leo tanpa sadar menghirup ludahnya kembali, tangannya menggenggam erat seprei mencoba menahan gejolak cassanova dalam tubuh nya.
Ara berjalan perlahan ke arah kasur, ia naik dengan malu malu ke atas ranjang, hidung Leo langsung menghirup harumnya shampoo dari rambut Ara.
"Siapa yang menyuruh mu memakai baju ini,"tanya Leo dengan suara beratnya.
"Bunda."
"Lalu kenapa kamu memakainya."
"Agar kakak senang,"jawab Ara polos membuat Leo menghela nafas panjang nya, ia tahu pasti Ara tidak tahu apa maksud dari memakai lingerie tersebut.
"Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini,"tanya Leo tiba tiba membuat Ara langsung melengos kesamping, wajahnya berdekatan dengan wajah Leo.
"Ara tidak tahu,"lirihnya.
"Kenapa kamu tidak menolak pernikahan ini, bukankah kamu masih terlalu muda untuk menikah, seharusnya wanita seumuran kamu itu masih kuliah bukan menikah,"cecar Leo membuat Ara semakin menundukkan kepalanya.
"Jika di suruh memilih antara menikah dan kuliah, maka Ara akan memilih menikah,"jawab Ara lemah membuat Leo bingung.
"Ara cuma tamatan SMP, jadi mustahil bisa kuliah,"ucap Ara tersenyum getir ke arah Leo.
"Kenapa cuma SMP?"tanya Leo lagi, itulah Leo ia tak suka berbasa-basi dalam berbicara, jika dia bertanya maka ia ingin jawaban yang memuaskan tanpa ada neko neko.
"Karena...Ara hiks hiks,"tangis Ara pecah tak sanggup lagi meneruskan perkataannya, ia tak sanggup mengingat kejadian menyakitkan yang dia alami dulu, sungguh Ara tak sanggup.
Leo yang melihat Ara menangis pun langsung membekap mulut Ara, ia sangat takut bila ada yang mendengar suara tangis Ara, apalagi bila yang mendengar para sahabatnya itu, bisa mati dia di libas pakai truk Fuso.
"Diam, jangan menangis nanti orang orang bisa salah paham bila mendengar nya,"sentak Leo membuat Ara semakin menangis, Leo kalang kabut ia berusaha menenangkan Ara namun tak membuat Ara berhenti juga.
"Kamu mau diam, atau aku cium hah,"tegas Leo melepaskan tangannya yang membekap mulut Ara.
"Cium..eh diam hiks hiks,"ucap Ara yang masih menangis.
"Kau yang meminta nya," ujar Leo langsung mencium rakus bibir mungil Ara membuat si empunya terkejut, niat Leo ingin menghukum Ara namun dia malah terpancing melakukan lebih karena bibir Ara sangat manis.
Ini benar benar sangat manis, bagaimana bisa ada bibir semanis ini, apa yang di bawah juga manis...oh shitt apa yang kupikirkan batin Leo mengumpat.
Leo segera melepaskan ciuman nya, ia tak ingin melakukan hal lebih dari ciuman, karena ia belum siap melakukan cocok tanam dalam ikatan pernikahan, Leo ingin membuat dirinya nyaman dulu barulah dia akan menunaikan hak nya, ia tak ingin menyakiti Ara yang masih polos dengan melakukan hal tersebut, maka otomatis Leo memberikan harapan untuk Ara, ia kembali mengingat nasihat Jimmy dulu membuat Leo berusaha menekan hasratnya.
Jangan sekarang phoniex batin Leo.
"Kenapa tidak di lanjutkan kak,"tanya Ara menatap sayu ke arah Leo.
shitt
Leo mengumpat dalam hati.
"Apa kamu mau melakukan nya tanpa di landasi cinta, kita berdua hanyalah dua orang yang baru saja kenal dan di ikat paksa dengan ikatan suci oleh orang orang terdekat kita, aku tidak ingin melakukannya sekarang karena aku belum mencintai mu, mungkin ia aku sangat menginginkan nya sekarang aku tidak munafik, melihat mu berpakaian seperti ini saja sudah membuat libido ku naik, tapi apakah kamu mau melakukannya dengan ku tanpa adanya perasaan cinta namun hanya dengan ***** semata-mata,"tanya Leo tegas menatap lekat wajah Ara yang berada dalam kukungan nya.
"Ara mau,"tegas Ara lantang dengan mata yang berkaca-kaca.
Akan Ara lakukan apapun demi punya anak, agar ayah memaafkan Ara batinnya sedih.
"Kau....
Belum sempat Leo berbicara, Ara langsung menarik tekuk Leo dan mencium lembut bibir Leo dengan kaku....
**bersambung.
hai hai kakak..
author up lagi nih..
dalam kisah nya kemal dan Ara, author akan mengajak kakak semua untuk ikut berpikir tentang misteri apa yang di alami oleh Ara..
dan juga untuk yang rindu twins AB tenang aja karena author bakal buat mereka hadir lagi dengan segala kelucuan mereka..
ohia apakah kakak semua setuju bila cadel nya Aarin dan Aaron di hilangkan??karena banyak yang komentar untuk menghilangkan nya...namun sejujurnya author membuat mereka cadel agar cerita semakin imut dan lucu...
jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kak...
salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏🥰👍**