Anak Kembar Tuan Muda

Anak Kembar Tuan Muda
Baik-baik Saja


Ini adalah malam pertama Zian dan Nara semenjak melepas status lajang mereka dan tinggal bersama. Sesampainya mereka berdua di rumah, kedua manusia berbeda jenis kelami* tersebut masuk ke kamar pengantin.


Rumah yang mereka tempati saat ini adalah rumah milik Zian pribadi, yang dia beli dengan uang miliknya sendiri. Rumah itu tak bisa dikatakan sederhana apalagi biasa-biasa saja.


Rumah itu memiliki dua lantai. Ada lima kamar tidur. Satu kamar utama yang terletak di lantai atas. Kamar milik si kembar. Dan dua lainnya dijadikan sebagai kamar tamu.


Ada satu ruang tamu, ada ruang keluarga, ruang makan, dapur serta halamannya yang dipenuhi dengan bunga-bunga cantik. Jika dilihat dari luar, rumah mereka berdua terlihat sangat hijau.


"Zian, apa kau bisa membantuku melepas gaun ini?" Nara menoleh pada Zian. Pria itu mengangguk kemudian dia bangkit dari kursinya lalu menghampiri Nara.


Dari pantulan cermin. Nara bisa melihat dengan jelas wajah tampan pria yang sekarang telah resmi menjadi suaminya tersebut. Nara memperhatikan wajah Zian dengan seksama.


Wajah yang tampan, rahang yang tegas, hidung mancung , bibir tipis kiss-able. Dan jika dilihat dengan seksama, ada kesan cantiknya juga. Benar-benar perpaduan yang sempurna. Tidak salah jika anak-anak yang Nara lahirkan memiliki wajah yang tampan dan cantik. Semua itu diturunkan oleh ayahnya.


"Kau pasti lelah, aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Ucap Zian setelah membantu Nara melepas gaun pengantinnya.


Nara menggeleng. "Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri." Jawabnya.


Zian menyentil kening Nara dan membuat wanita itu meringis kesakitan. "Tinggal jawab iya saja apa susahnya?! Biarkan aku melakukan yang terbaik untukmu." Ucapnya seraya beranjak dari hadapan Nara.


Nara menatap kepergian suaminya dan tersenyum tipis. Ternyata Zian adalah orangnya sangat perhatian. Dan Nara tidak bisa menyembunyikan rasa harunya.


Wanita itu pun segera mengikuti Zian ke kamar mandi. Dan air hangat untuknya pun sudah siap. "Zian, apa airnya sudah siap?" tanya Nara, Zian mengangguk.


"Ya sudah, aku keluar dulu." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Nara.


Selepas kepergian Zian, Nara melepas satu persatu helaian kain yang membungkus tubuhnya. Kemudian dia masuk ke dalam bathtub untuk berendam. Berendam di Air hangat bisa menghilangkan lelah di sekujur tubuhnya.


Diluar, Zian terlihat sibuk membersihkan bunga-bunga yang ada diatas tempat tidur. Dia tidak tau ayahnya memiliki ide gila dari mana sampai-sampai harus tempat tidurnya dengan kelopak-kelopak bunga mawar merah dan putih. Padahal sangat cantik, kelopak bunga itu membentuk hati.


"Zian, apa yang kau lakukan?" Nara yang selesai mandi menghampiri Zian yang tampak sibuk itu.


"Papa memberiku pekerjaan lebih, entah dia mendapatkan ide darimana sampai-sampai harus mengotori tempat tidur dengan ribuan kelopak bunga seperti ini!!" jawabnya dingin.


Nara terkekeh. "Kenapa kau ini sensitif sekali. Biarkan saja, aku tidak terganggu dengan kelopak- kelopak bunga itu. Bukankah malah memberikan kesan cantik dan romantis jadinya?"


Sontak Zian menoleh dan menatap perempuan yang berdiri disampingnya. "Kau tidak terganggu?" Nara menggeleng. Kemudian dia menjatuhkan diri diatas tempat tidur yang masih penuh dengan kelopak-kelopak mawar tersebut.


"Mungkin Papa ingin malam pertama kita jadi romantis. Bukan pertama, tapi kedua!!" Nara bangkit dari berbaringnya kemudian menarik Zian hingga pria itu jatuh diatas tubuhnya. Dan apa yang Nara lakukan membuatnya sedikit terkejut. "Bukankah kita suami-istri sekarang, bagaimana jika kita lewati malam panjang ini untuk saling menghangatkan?"


"Kau tidak ingin menundanya? Aku pikir akan ada drama panjang seperti kau belum siap atau semacamnya,"


Zian mengecup lembut bibir Nara. "Karena kau sendiri yang mengatakannya. Maka aku tidak akan sungkan lagi!!" ucapnya dan kembali membenamkan bibirnya dibibir Nara. Kali ini lebih dalam dan lebih panjang dari ciuman mereka sebelumnya.


Tak mau kalah dari suaminya, Nara mengangkat kedua tangannya lalu mengalungkan pada leher Zian dan membalas ciuman suaminya itu.


Tak ada keraguan sedikit pun, bahkan Nara tak merasa malu-malu lagi seperti sebelumnya. Nara membalas ciuman Zian dan mencoba menginvasi bibirnya. Tapi sayangnya Zian bukanlah tipe pria yang suka didominasi, akhirnya ciuman kembali diambil alih oleh ya.


"Apa kau yakin ingin melakukannya malam ini juga?"


Zian melepaskan ciumannya dan menjauhkan wajahnya. Menatap wajah cantik itu dan memastikan. Nara menganggukkan kepala, dia benar-benar sudah siap untuk malam panjang ini. "Kalau begitu aku tak akan ragu lagi." Ucapnya dan kembali membenamkan bibirnya dibibir Nara.


Jelas ini bukan malam pertama mereka, melainkan malam kedua. Karena malam pertama mereka sudah terjadi tujuh tahun lalu.


Meskipun pada saat itu mereka belum saling mengenal apalagi memiliki hubungan special, tetapi mereka telah melakukan one night stand. Malam yang terasa dingin bagi orang lain, justru akan menjadi malam yang panas bagi mereka berdua.


.


.


"Lea, kenapa belum tidur, Sayang."


Tuan Li menghampiri cucu perempuannya yang masih terjaga padahal waktu telah menunjuk pukul 22.00 malam. Gadis kecil itu mengangkat wajahnya dan menatap kakeknya.


"Lea, tidak bisa tidur, Kakek. Lea, memikirkan Mami. Apakah Papi akan bersikap pada Mami atau tidak? Bagaimana jika Papi tidak bisa bersikap baik pada Mami dan memperlakukannya dengan kejam."


Tuan Li mendengus geli. Dia pikir cucunya itu tidak bisa tidur karena apa. Ternyata karena memikirkan ibunya. Tuan Li kemudian mendekati cucunya lalu berdiri di depan Lea. Tuan Li memegang bahu gadis kecil itu.


"Dengarkan, Kakek, Nak. Papimu adalah laki-laki berhati lembut. Meskipun di luar terlihat dingin, tetapi dia adalah orang yang hangat dan penyayang.Jadi buang jauh-jauh pikiranmu itu. Dan jika dia tidak bisa bersikap baik pada Mamimu. Mana mungkin Papimu menjemput kalian ke luar negeri. Dan alasan Papimu hari itu agar kalian berempat bisa berkumpul bersama." Ujar Tuan Li panjang lebar.


"Jadi aku telah berburuk sangka dengan, Papi? Aku hanya takut jika Mami sampai disakiti. Lea, tidak terima. Apalagi beban yang Mami tanggung selama ini sangat berat, dia membebaskan kami berdua seorang diri, menjadi bahan gunjingan orang lain karena memiliki anak tanpa suami. Lea, tau jika selama ini Mami tidak baik-baik saja."


Tuan Li menatap cucunya itu dengan sendu. Pasti hidup mereka selama ini tidaklah mudah, terutama Nara. Dia adalah ibu yang sangat hebat. Bisa membesarkan anak-anaknya sendirian tanpa sosok seorang suami. Kemudian Tuan Li membawa Lea ke pelukannya dan menyakinkan padanya jika semua akan baik-baik saja.


-


-


Bersambung.