
Sekolah unggulan tak menjamin jika semua muridnya memiliki adab yang baik.
Perundungan, pemb*llyan, masih kerap terjadi di sana. Bahkan perbedaan kasta jelas sekali terlihat pada murid-muridnya. Siapa yang kaya dan ber-uang, maka dialah yang berkuasa.
Datang sebagai murid baru, membuat Leon dan Lea mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari para murid yang bersekolah di sekolah unggulan tersebut. Mereka dikucilkan karena dianggap sebagai anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu.
BYURRR...
Sekujur tubuh Lea basah kuyup setelah tersiram oleh satu ember air. Dia dikerjai habis-habisan oleh teman satu kelasnya, mereka benar-benar membuat rencana yang sangat matang. Yang nantinya akan mengantarkan mereka pada masalah besar.
"Hahaha!!" seisi kelas menertawakan melihat dia basah kuyup.
Sontak Lea menoleh dan menata tajam seluruh teman satu kelasnya. "Yakk!! Apa kalian semua sudah bosan hidup?!" bentak erosi. Dia benar-benar telah habis kesabaran karena ulah mereka semua.
"Jangan berteriak!! Suaramu membuat telinga kami terasa sakit," ucap salah seorang anak ada di kelas tersebut.
"Hai, anak baru. Sebaiknya kalian berdua jangan banyak bertingkah disini!! Anak-anak miskin seperti kalian tidak layak dan tidak pantas berada di sekolah ini!!" ucap yang lainnya.
"Benar, cepat pergi dari sini!! Kalian tidak pantas apa di sini!!" seru anak yang lain lagi.
Kemudian mereka melempari leon dan Leon dengan tomat dan telur busuk.
Namun di saat bersamaan, seseorang tiba-tiba datang dan melindungi mereka berdua. Siapa lagi orang itu jika bukan Nara. Nara menahan sebutir telor yang mengarah pada wajah putrinya. Emosi terlihat di wajah cantiknya.
Suasana di kelas itu pun seketika menjadi hening. Tak ada lagi yang bersuara, apalagi berteriak menyoraki leon dan Leon.
Melihat tatapan Nara yang begitu tajam membuat mereka ketakutan.
"KALIAN BENAR-BENAR BERANDALAN!!" Teriak ibu dua anak itu penuh emosi. Beraninya kalian semua menindas putra dan putriku?! Apa kalian tidak pernah dididik oleh orang tua kalian, hah?! Sehingga tidak memiliki adab yang baik!!" bentak Nara penuh emosi.
Tak satupun ada yang berani bersuara apalagi membalas tatapan Nara yang begitu mengerikan. Mereka benar-benar ketakutan, dan tanpa mengatakan apapun Nara membawa kedua anaknya untuk meninggalkan sekolah.
"Ayo kita pergi dari sini, tempat ini tidak layak untuk kalian berdua!! Mami akan memasukkan kalian ke sekolah yang lebih baik lagi!!"
.
.
Sebagai seorang ayah, tentu saja Zian tidak terima melihat putra-putrinya di bully seperti tadi.
Dan kedatangan Zian tentu saja mengejutkan kepala sekolah serta beberapa guru yang berada di dalam satu ruangan tersebut.
Terlihat pria dengan setelan jas hitamnya berdiri lalu menghampiri Zian.
"Tu..Tuan Li, ada angin apa sampai-sampai Anda datang kemari?" tanya pria itu merupakan kepala sekolah disekolah bertaraf internasional tersebut.
"Aku tidak akan banyak basa-basi!! Semua saham yang telah aku tanam di sekolah ini akan aku cabut detik ini juga. Aku tak ingin berinvestasi lagi di sekolah yang tidak sehat seperti ini!!" ucap Zian dan membuat kepala sekolah itu kebingungan Setengah Mati.
Dia menatap Zian penuh tanya. "Tuan Li, Apa maksud anda?" tanya pria itu.
"Aku yakin kau tidak buta dan tuli. Kau past sudah tahu tentang pembullyan dan perundungan yang menimpa putra-putriku.
Ternyata sekolah bagus tak menjamin kelakuan anak didiknya, aku benar-benar menyesal telah memasukkan mereka ke sekolah ini dan berinvestasi besar disini!!"
"Aku pikir sekolah ini adalah satu-satunya yang paling tepat untuk mereka berdua. Tapi aku salah, ternyata mereka malah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari semua teman-temannya. Dan aku tidak bisa menerimanya!!"
Kepala sekolah itu menggeleng. "Tuan Li, semua itu tak seperti yang Anda bayangkan. Mungkin mereka hanya bermain-main saja, karena anak-anak yang bersekolah di sini adalah anak-anak dengan etika dan adab yang baik."
Kepala sekolah itu mencoba meyakinkan Zian, tapi sepertinya itu tidak akan berhasil. Karena Zian sudah melihatnya dengan mata kepalanya sendiri tentang apa yang menimpa Leon dan Lea.
"Bersiap-siaplah untuk hancur, Karena setelah ini kupastikan tidak akan ada satu orang pun yang berinvestasi lagi di sekolah ini!! Dan semua itu terjadi karena kebodohanmu!!" Ucap Zian dan pergi begitu saja.
.
.
Bersambung.