Anak Kembar Tuan Muda

Anak Kembar Tuan Muda
Terimakasih


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komen setelah membaca. Karena satu like dan komen kalian sangat berarti dan penyemangat Author🙏🙏


.


.


Kehilangan segala-galanya dalam waktu singkat bagaikan mimpi di siang bolong, itulah nasib yang dialami oleh tuan Garcia, nyonya Agnes dan Amber.


Mereka tak bisa lagi menikmati seluruh harta kekayaan keluarga Garcia, apalagi menempati rumah mewahnya. Nara telah menjualnya secara sepihak tanpa persetujuan mereka berdua.


Tetapi Nara masih berbaik hati dengan memberi mereka tempat tinggal meskipun itu jauh dari kata layak.


Sebuah bangunan usang yang telah lama tak terpakai lagi.


"Sebenarnya ini rumah atau sarang setan. Aku tidak Sudi jika harus tinggal di sini!!" Amber menolak tegas untuk ditinggal di rumah yang Nara berikan, menurutnya rumah itu tidak layak sama sekali.


"Jika kau tidak ingin tinggal disini lalu kau mau tinggal dimana?! Jangankan untuk menyewa rumah, untuk makan saja kita kesulitan. Untuk sementara kita tinggal disini sambil memikirkan cara untuk mendapatkan kembali rumah kita!" Ucap Agnes.


Ambar menatap ibunya. "Apa mama bilang, mendapatkan kembali rumah itu?! Bagaimana caranya, bahkan rumah itu sudah dijual. Daripada kita sibuk memikirkan Bagaimana cara mendapatkan kembali rumah itu, sebaiknya pikirkan saja cara untuk keluar dari neraka sialan ini!! Aku tidak sudi jika harus tinggal di sini!!"


Ambar meninggalkan Ibunya dan pergi begitu saja. Di luar sana mungkin ia akan mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik, dan Ambar tidak judi jika harus hidup miskin tanpa memiliki apa-apa.


.


.


Zian mengendarai mobilnya dengan tenang. Disampingnya seorang wanita cantik tengah duduk dengan tenang, lalu di jok belakang sepasang anak kembar yang sedang tertidur pulas.


Saat ini sedang dalam perjalanan pulang menuju kediaman Zian. Si kembar mungkin saja kelelahan. Zian dan Nara membiarkan mereka tidur tanpa berniat untuk membangunkannya. Mereka terlihat kelelahan, jadi Zian dan Nara tidak tega untuk membangunkan mereka.


"Kenapa kau menatapku seperti itu," Nara merasa kurang nyaman karena tatapan Zian. Sedari tadi pria itu terus menatapnya.


Zian menggeleng. "Rasanya aku tidak percaya melihatmu bisa bersikap sekejam itu, ternyata wajah bisa menipu. Aku pikir kau adalah perempuan yang kalem, tapi ternyata kau itu sangat bar-bar."


Nara tertawa setelah mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. "Makanya!! Jangan menilai sesuatu hanya dari casing luarnya saja, karena apa yang terlihat baik belum tentu baik dan yang terlihat buruk belum tentu buruk. Kita perlu mengenal seseorang lebih dalam agar tahu seperti apa dia yang sebenarnya!!"


Zian mengangguk membenarkan apa yang Nara katakan. Dia memang belum mengenal Nara dengan sangat, baik begitupun sebaliknya. Mereka masih butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain.


Setelah menempuh perjalanan lebih dari 30 menit, mereka tiba di rumah. Ketika nara ingin membangunkan si kembar, Zian menahannya. "Tidak perlu dibangunkan, biar aku saja yang menggendong mereka."


"Dan kau tidak bisa jika hanya menggendongnya sendirian!! Kau gendong Lea, biar aku yang menggendong. Lea lebih berat dari Leon, karena tubuhnya lebih embul!!"


Zian tertawa mendengar apa yang Nara katakan.


Memang benar apa yang diucapkan oleh Nara, jika Leon badannya lebih kecil dari Lea, meskipun Leon yang pertama lahir.


Mereka berdua membaringkan Leon dan Lea di kamarnya, kemudian Nara dan Zian meninggalkan kamar putra-putrinya dan kembali ke kamar mereka sendiri untuk beristirahat. Mereka berdua sama-sama lelah dan kedua matanya sudah tidak bisa diajak untuk kompromi lagi.


.


.


Malam sudah semakin larut namun Nara masih belum juga bisa menutup matanya, wanita itu tetap terjaga meskipun rasa kantuk sudah mulai mendera.


Menyibak selimutnya, kemudian Nara berjalan ke arah balkon kamar. Langit Malam Ini Tak secerah malam-malam sebelumnya, terlihat gelap dan pekat tanpa ada satupun bintang yang menghiasinya. Meskipun begitu, belum tentu hujan akan turun malam ini.


Cara langkah kaki seseorang mengalihkan perhatiannya dari sang malam. Nara menoleh dan mendapati Zian berjalan menghampirinya, aroma tembakau yang begitu menyengat menguap dari mulut pria itu.


"Kenapa kau belum tidur?" tanya Zian setibanya ia di depan Nara.


"Aku tidak bisa tidur,"


"Kenapa?"


Nara menggeleng. "Tidak apa-apa hanya tidak bisa tidur saja. Lalu kau sendiri dari mana?"


"Tidak dari mana-mana hanya berbincang sebentar dengan papa di bawah," jawab Zian."Masuklah kembali, sini sangat dingin. kau bisa membeku apalagi pakaianmu setipis itu."


"Lalu bagaimana dengan kau sendiri?" Nara menyela cepat. "Lihatlah pakaian yang kau pakai, apa menurutmu itu kontras dengan udara malam ini?"


Nara menunjuk vest hitam yang Zian pakai tanpa t-shir ataupun kemeja sebagai lapisan dalamnya. Dan memperlihatkan lengan berotot serta sebagian dada bidangnya.


"Kau tidak perlu memikirkan diriku, pikirkan saja dirimu sendiri. Lagi pula aku tidak akan mati kedinginan hanya karena pakaian ini, tapi kau nanti bisa sakit apalagi berdiri di tempat terbuka seperti ini terlalu lama." ujar Zian panjang lebar.


Nara tersenyum mendengar apa yang Zian katakan. Mendekati pria itu lalu memeluknya dengan erat. "Terima kasih sudah memberikan perhatian yang lebih untukku,"


"Sudah selayaknya, karena aku suamimu." ucap Zian sambil membalas pelukan Nara."Ayo masuk," Nara mengangguk. Dan keduanya kemudian berjalan beriringan masuk ke dalam.


.


.


Hampir mati kelaparan, nasib buruk benar-benar menimpa Anna setelah ia terusir dari kediaman Li.


Kini dia hidup hanya dengan mengandalkan alam, seperti buah-buahan dan tanaman liar hutan yang bisa dimakan. Karena jika tidak begitu, iya bisa mati kelaparan.


"Sial!! Ini semua karena anak durhaka itu!! Zian, benar-benar tega pada ibu kandungnya sendiri."


Bianca menyalakan Zian atas nasib buruk yang ia alami saat ini. Karena memang Zian-lah yang mengirimnya ke tempat terpencil ini.


Wanita itu sedang mencari ikan di sungai dan buah-buahan untuk mengganjal perutnya yang lapar. Hidup Anna berubah 180°, dia yang selalu bergelimbang harta dan penuh kemewahan kini malah hidup sengsara di hutan sendirian.


Anna pikir setelah kembali ke kediaman Li, hidupnya maka akan berubah untuk selamanya. Tetapi ternyata salah, meskipun dia telah merasakan hidup seperti seorang Ratu, tetapi itu tak berlangsung lama. Hanya beberapa tahun saja, kini ia malah sengsara.


"Aw, dasar Duri sialan. Kenapa malah menusuk kakiku?!" teriak Anna saat kakinya tidak sengaja tertusuk duri.


Bukannya ikan yang dia dapatkan malah kesialan. Anna benar-benar sangat lapar, karena sejak pagi perutnya belum terisi apapun sedangkan sekarang matahari sudah semakin tinggi.


Jangankan ikan segar, buah-buahan pun tak bisa ia dapatkan karena terlalu tinggi. Adapun pisang sudah lebih dulu diambil oleh monyet. Anna benar-benar merasa sengsara.


"Zian!! Mama tidak akan pernah memaafkanmu!!"


.


.


Bersambung.