Anak Kembar Tuan Muda

Anak Kembar Tuan Muda
Akhir Yang Bahagia


"Nara, untuk apa pakaian-pakaian itu kau kemas ke dalam koper?!"


Zian menatap bingung istrinya yang sedang berkemas di kamar mereka. Nara memasukkan semua pakaian miliknya dan juga miliknya sendiri ke dalam koper yang berbeda.


Sontak wanita itu menoleh dan menatap suaminya dengan senyum tipis.


"Aku sudah memutuskan!! Lebih baik kita tinggal bersama Papa saja, dia sudah tua dan membutuhkan tempat untuk berkeluh kesah. Sementara putranya hanya kau saja, kau adalah anak satu-satunya Zian. Jadi sebaiknya kita menemaninya," tutur Nara.


Zian terdiam selama beberapa saat. Dia menatap Nara dengan tatapan tak terbaca. "Apa kau yakin dengan keputusanmu itu?" tanya Zian memastikan.


Nara mengganggu. "Ya, aku yakin dan sangat-sangat yakin. Dengan begitu kita juga tidak perlu terpisah dari anak-anak,"


Zian menarik sudut bibirnya dan mengangguk. "Kau benar, kenapa aku tidak pernah berpikir sampai sana. Aku akan menjual rumah ini, dan seterusnya kita tinggal bersama Papa."


Nara kembali menoleh dan menatap Zian dengan kesal. "Tapi jangan tiba-tiba juga, barang-barangku di sini sangat banyak Bagaimana aku memindahkannya satu persatu!!" keluh Nara.


Zian mendengus geli melihat ekspresi terkejut marah. Dengan gemas Zian menyentil kening wanitanya. "Dasar kau ini, bukankah kita bisa meminta bantuan orang lain!! Aku akan meminta anak buahku untuk melakukannya, kau tidak perlu melakukannya sendiri." Ucap Zian menimpali.


Nara memanyunkan bibirnya. Dia menatap Zian dengan kesal. "Dasar menyebalkan!! Berhenti menyentil keningku sesuka hatimu!!" keluh gadis wanita itu, dia tak terima karena Zian menyentil keningnya.


Bukannya merasa bersalah dan segera minta maaf, Zian malah tertawa. Kemudian ia meminta maaf pada Nara. "Baiklah aku salah, aku minta maaf. Apakah sudah selesai? Perlu aku bantu?" tanya Zian memberi tawaran.


Nara menggeleng. "Tidak, tidak!! Aku bisa melakukannya sendiri. Bukannya cepat selesai, malah berantakan jika kau sampai turun tangan!!"


Lagi-lagi Zian tertawa mendengar ucapan istrinya. Zian mengusap kepala Nara dengan lembut. "Ya sudah, terserah kau saja. Kalau begitu aku keluar dulu," ucapnya dan dibalas anggukan oleh wanita itu. Kemudian Zian meninggalkan Nara begitu saja.


.


.


Deru suara mobil yang memasuki halaman mengalihkan perhatian Tuan Li yang sedang bermain dengan kedua cucunya.


Tanpa melihat terlebih dulu siapa yang datang, tentu saja mereka sudah tahu mobil siapa itu.


Tanpa menghiraukan kakek dan kakaknya. Lea berlari menuju teras depan menyambut kedatangan kedua orang tuanya, dan gadis kecil itu berteriak ketika melihat ibu dan ayahnya keluar dari mobil.


"Mami, Papi!!" serunya lalu berhambur ke pelukan Nara. "Kalian mau datang Kenapa tidak bilang-bilang?" ucap lea sambil menatap keduanya bergantian.


"Karena kami ingin memberikan kejutan padamu." Jawab Zian sambil mengusap kepala putrinya.


Terlihat Leon dan Kakek Li keluar dari dalam rumah. Pria paruh baya itu kebingungan melihat beberapa koper yang sedang di keluarkan oleh pelayan dari mobil Zian.


"Untuk apa koper-koper itu? Jangan bilang jika kalian berencana pergi ke luar negeri dan menetap di sana?!" ucap Tuan Li menata Putra dan menantunya bergantian.


Keduanya menggeleng. "Bukan ke luar negeri, Pa. Tetapi kami berdua memutuskan untuk pulang ke rumah ini, kau sudah semakin tua dan aku rasa Papa membutuhkan seseorang untuk menemani disini." Ujar Zian.


"Sungguh?" Tuan Li menatap keduanya dengan pandangan tak percaya.


"Lalu bagaimana dengan rumahmu?" tanya Tuan Li.


"Aku berencana untuk menjualnya,"


Tuan Li menggeleng. "Papa, tidak setuju. Kau memiliki anak, bukankah seharusnya rumah itu untuk anak-anakmu. Selagi mereka masih kecil, jadi kau harus mempersiapkannya. Dan itu untuk masa depan mereka." tutur Tuan Li.


Kenapa Zian tak berpikir sampai sana. Benar apa yang ayahnya katakan. Dia memiliki anak, lalu kenapa rumah itu tidak untuk mereka saja?! Lea, dialah yang paling berhak atas rumah itu. Sedangkan Leon kemungkinan besar akan mewarisi rumah yang mereka tempati sekarang.


"Papa, benar. Kenapa aku tidak berpikir sampai sana. Rumah itu memang harus aku pertahankan. Bukannya malah ku jual."


"Nanti saja kita bahas itu lagi, sebaiknya sekarang kita masuk dulu." Ucap Tuan Li dan kemudian dibalas anggukan oleh Nara dan Zian.


"Baik, Pa."


.


.


Zian menghampiri Nara yang berdiri di balkon kamar mereka, senyum hangat Terukir di bibir wanita itu melihat kedatangan prianya. Kemudian mereka berdua berdiri bersama-sama memandang langit malam.


Nara menyandarkan kepalanya pada bahu lebar suaminya dengan pandangan lurus pada langit malam. Langit terlihat cukup bersahabat, dengan hiasan jutaan manik-manik langit ditambah keberadaan Sang Dewi Malam yang kian menyempurnakan keelokan malam ini.


Tak pernah Zian merasakan kebahagiaan seperti yang ia rasakan saat ini. Hidupnya benar-benar sempurna dengan kehadiran Nara dan kedua buah hati mereka. Mereka adalah harta paling berharga yang Tuhan berikan padanya.


Mereka berdua memang tak saling bicara. Tetapi sentuhan dan kontak fisik di antara mereka berdua menjadi bukti nyata kebahagiaan yang mereka rasakan ini.


Kemudian mereka saling melonggarkan pelukannya dan saling menatap satu sama lain. Dua pasang mutiara berbeda warna itu saling bertemu dan saling menatap. Perlahan tapi pasti Zian mendekatkan wajahnya pada Nara untuk mengecup singkat bibir ranumnya.


"Terima kasih sudah hadir dan melengkapi hidupku, tanpa dirimu aku bukan apa-apa. Kau dan anak-anak adalah harta paling berharga yang aku miliki dalam hidup ini. Nara, aku mencintaimu." Kembali Zian membenamkan bibirnya pada bibir Nara dan mellumatnya seperti tadi.


Dan melalui ciuman tersebut. Zian ingin mengatakan seberapa besar cinta yang dia miliki pada Nara. Meskipun terlambat, tetapi dia tak akan pernah bosan untuk mengatakan 'Aku mencintaimu' Dia akan mencintai Nara, sekarang dan selamanya. Dan hanya dia satu-satunya yang Zian inginkan dalam hidupnya!!


"Aku mencintaimu, Garcia Nara."


"Aku juga mencintaimu, Zian Li,"


Tak ada yang lebih berharga di dunia ini selain keluarga. Dan Zian akan menjaga supaya keluarganya tetap utuh. Mencintai mereka dengan sepenuh hati, memberikan cinta yang sangat besar. Kini ada nanti, hingga tubuhnya tak kuat lagi dan seluruh rambutnya memutih.


.


.


Tamat.