
Di salah satu kamar di sebuah rumah mewah, seorang wanita terlihat mondar-mandir sambil menggigit ujung kukunya. Otaknya sedang berpikir keras, dia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk bisa menyingkirkan Nara dari dunia ini. Usaha pertamanya gagal dan dia tidak boleh gagal lagi.
"Sial!! Bagaimana caranya supaya aku bisa menyingkirkan wanita itu?! Dia tidak boleh ada di dunia ini, karena jika wanita itu masih hidup keinginanku untuk memiliki Zian tak akan kesampaian. Berpikir Giselle, berpikir." ucap wanita itu yang ternyata adalah Giselle.
Suara deciten pada pintu mengalihkan perhatiannya. Giselle lantas menoleh dan mendapati seorang pria setengah baya berjalan menghampirinya.
"Giselle, kenapa dari pagi kau terus mengurung diri di kamar? Apa kau sedang kurang enak badan?" tanya pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah ayah dari Giselle.
Giselle menggeleng. "Aku tidak apa-apa, dan baik-baik saja. Aku hanya Sedang berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan hati Zian. Segala macam cara telah aku lakukan, tetapi tak satupun usahaku ada yang membuahkan hasil." Jawab Giselle.
"Jika Itu masalahnya, sebenarnya sangatlah mudah. Kau hanya perlu menjebaknya dengan membuat Zian tidur denganmu. Kemudian ciptakan drama seolah-olah kau adalah korbannya, beres kan!!"
Kedua mata Giselle berbinar mendengar saran dari ayahnya. Kenapa dia tidak berpikir sampai sana, jika saja hal itu dia lakukan sejak awal. Pasti sekarang ia dan Zian sudah bersatu. Kemudian Giselle berhambur ke pelukan ayahnya.
"Idemu sangat luar biasa, Pa. Dan keinginanmu untuk memiliki menantu kaya raya akan segera terwujud. Papa, tenang saja. Aku pasti bisa membuat Zian menjadi bagian dari keluarga kita!!" ucap Giselle penuh rasa percaya diri.
Paruh baya itu tersenyum lebar. "Kau memang Putri Papa yang paling bisa diandalkan. Papa, tunggu kabar baiknya!!" ucap Papa Giselle dan pergi begitu saja.
Gisella tersenyum lebar. Dia sudah sangat tidak sabar untuk keberhasilannya.
Dan tak lama lagi, ia akan menjadi nyonya besar di kediaman Li serta menyingkirkan Nara dari posisinya saat ini.
"Zian, kau hanya milikku. Dan kau hanya boleh menjadi milikku!!"
.
.
Mereka berdua baru saja selesai makan siang. Zian dan Nara meninggalkan Cafe dan berjalan ke arah parkiran.
Zian menatap Nara dan ikut menghentikan langkahnya. "Ada apa? Apa yang sedang kau lihat?" tanya Zian. Kemudian Nara menunjuk ke arah jalan.
Pria itu menaikkan alis kanannya. "Heh, bukankah itu ibu dan saudara tirimu. Mereka sekarang menjadi pengemis?" ucap Zian.
Nara mengangkat bahunya. Aku sendiri tidak tahu, tapi sepertinya begitu. Tapi baguslah, itu merupakan hukuman yang pantas dan layak untuk mereka berdua. Mereka memang pantas mendapatkannya." Jawab Nara.
Sebenarnya Nara belum puas sama sekali dengan nasib yang mereka berdua alami saat ini. Seharusnya mereka mendapatkan hukuman lebih dari itu setelah apa yang mereka perbuat pada dirinya. Tetapi hukuman itu juga lumayan, karena karma itu benar-benar ada dan nyata.
Nara tersenyum meremehkan. "Kau lihat mereka berdua? Setelah menjadi Ratu dan Tuan Putri, sekarang mereka berdua malah menjadi Upik Abu. Bukankah hukum ini Adil, dan Karma itu benar-benar nyata?" Nara menoleh dan menatap Zian yang juga menatap padanya.
"Tetapi bermain-main sebentar dengan mereka aku rasa tak ada salahnya."
Sontak Nara menoleh dan menatap Zian. Dia berkedip sendiri melihat seringai yang tercetak dibibir suaminya.
Auranya begitu berbeda dari sebelumnya, Zian terlihat sangat berbahaya. Tetapi ia juga merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya Zian rencanakan.
"Jangan aneh-aneh, sebaiknya sekarang antara aku ke sekolah anak-anak. Mereka sudah waktunya pulang," ucap Nara.
Dia tidak setuju dengan rencana Zian, meskipun Nara sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya direncanakan oleh Zian. Tapi Nara yakin jika suaminya itu sedang merencanakan sesuatu yang gila.
Dan dia tak mendukungnya meskipun itu akan memberikan efek jera pada mereka berdua.
.
.
Bersambung.