
"Mami!!"
Nara membuka kedua tangannya saat melihat putri kecilnya berlari menghampirinya.
Gadis kecil itu berhambur ke dalam pelukan ibunya, Lea sangat merindukannya setelah beberapa hari tidak bertemu.
"Huaaa!!! Lea, rindu, Mami." Ucap Lea dengan mata berkaca-kaca.
Nara tersenyum lembut. "Mami juga merindukanmu, Sayang," ucapnya sambil memeluk Lea dengan erat.
Di belakang Lea terlihat Leon berjalan menghampiri keduanya. Anak laki-laki itu terlihat begitu santai, sangat berbeda dengan Lea yang langsung berlari menghampiri ibunya.
Bukan berarti Leon tak ingin di peluk oleh Nara. Dia juga ingin memeluk ibunya. Hanya saja dengan gaya yang Cool, tidak bar-bar seperti Lea. "Dimana, Papi? Apa Mami datang sendirian?" tanya Leon saat tak melihat keberadaan ayahnya.
Nara mengangguk. "Ya, Papimu masih ada di kantor, dia menyusul sebelum makan malam tiba." jawabnya tersenyum. Kemudian Leon dan Lea membawa Nara untuk masuk ke dalam.
Wanita itu sangat merindukan mereka berdua karena beberapa hari ini menjadi tawanan ayah mertuanya. Tuan Li yang selalu sendirian memutuskan untuk membawa Leon dan Lea untuk tinggal bersamanya. Dan kehadiran mereka berdua, bisa menjadi pelipur lara untuknya.
"Nara, kau sudah datang." Seru Tuan Li seraya menghampiri menantunya tersebut. "Dimana suamimu, kenapa kau hanya datang sendirian?" tanya Tuan Li melihat Nara yang hanya datang sendirian.
"Zian, masih ada di kantor. Dia bilang akan menyusul sebelum jam makan malam," ibu dua anak itu menimpali. "Hari ini Papa free? Tumben jam segini sudah ada di rumah?" tanya Nara pada ayah mertua.
"Papa sudah tua, Nara. Jadi Papa memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu di rumah bersama anak-anak daripada pergi bekerja." Jawab Tuan Li.
Nara mengangguk. Dia setuju dengan ayah mertuanya. Pria seusia Tuan Li memang sudah seharusnya beristirahat, dia tidak perlu lagi memikirkan tentang pekerjaan dan hal-hal yang melelahkan.
Dan sepertinya kehadiran Leon dan Lea, memang hal terbaik dalam hidupnya.
"Sambil menunggu makan malam, sebaiknya kau pergi istirahat saja." Pinta Tuan Li.
Nara menggeleng. "Aku tidak lelah, Pa. Aku akan pergi ke dapur membantu menyiapkan makan malam saja. Sudah lama aku tidak memasak untuk anak-anak," ucapnya menimpali.
Kedua mata Lea berbinar seketika mendengar apa yang ibunya katakan. Kebetulan dia memang ingin sekali memakan masakan ibunya, dan hari ini dia datang. Bukan hanya Lea, tetapi Leon juga.
"Mami, masak yang banyak ya. Aku rindu masakan, Mami." ucap Lea dengan semangat.
"Leon, juga." Ucapnya
Nara tersenyum. "Baiklah, Sayang." Ucapnya sambil mengusap kepala sikembar lalu melenggang menuju dapur untuk membantu para pelayan menyiapkan makan malam.
.
.
Keheningan menyelimuti kebersamaan Zian dan seorang pria di sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari kantornya.
Kegugupan terlihat jelas di wajahnya. Bahkan dia sampai Berkeringat dingin. "Tidak perlu tegang, aku mengajakmu bertemu bukan untuk melakukan sesuatu padamu. Tapi aku hanya ingin tahu, tentang kecelakaan yang menimpa temanku beberapa tahun yang lalu."
Sontak pria itu mengangkat kepalanya dan membalas tatapan dingin Zian. "Apa ini tentang kecelakaan diarena balap liar yang melibatkan Daren dan Leo?"
Zian mengangguk. "Ya, apa yang kau tahu tentang kecelakaan malam itu?! Apakah itu benar-benar murni kecelakaan, atau sabotase orang lain?" tanya Zian memastikan.
"Yang terjadi malam itu benar-benar mumpuni kecelakaan. Mereka berdua dalam keadaan mabuk, itulah yang membuat mereka mengalami kecelakaan dan polisi telah mengkonfirmasinya. Jika kejadian malam itu benar-benar murni kecelakaan," ujarnya panjang lebar.
Zian mengambil nafas panjang dan menggelarnya. Jadi semua itu benar-benar murni kecelakaan, lalu apa yang ia curigai selama ini?! Seharusnya Zian mempercayai ucapan dan penjelasan polisi pada malam itu.
"Baiklah kalau begitu. Karena urusan kita sudah selesai, aku pergi dulu." Zian bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.
Iya tak lagi merasa penasaran setelah mengetahui kebenarannya. Dan yang perlu ia lakukan sekarang adalah fokus pada keluarga kecilnya, hidup tenang dengan penuh kedamaian bersama mereka bertiga.
Karena itu adalah tujuan hidupnya sekarang. Menjadi orang yang lebih baik dan sosok ayah yang menjadi panutan bagi anak-anaknya.
.
.
Tiga puluh menit berkendara, Zian tiba di kediaman utama keluarga Li. Dan tentu saja kedatangannya disambut oleh Lea yang ternyata sudah menunggunya dari tadi.
"Papi, kenapa kok lama sekali? Apa Papi tahu, Lea sudah menunggu Papi dari tadi di sini." Ucap bocah perempuan itu sambil menekuk mukanya.
Zian tersenyum tipis. "Papi tadi ada pekerjaan, makanya datang terlambat. Lalu di mana, mamimu?"
"Mami, berada di dapur, membantu pelayan Menyiapkan makan malam. Mami, sangat memahami dan dia tahu jika aku dan Leon merindukan masakannya, jadi dia berinisiatif memasak untuk kita semua. Tapi tentu saja makanan kesukaan kami berdua," ujarnya menuturkan.
Tiba-tiba Leon menghampiri mereka berdua lalu mengulurkan tangannya pada Zian. Membuat pria itu kebingungan dan bertanya-tanya. "Papi, pasti lelah setelah seharian bekerja. Kemarikan tasmu, biar aku yang membantumu membawanya." Ucapnya.
Sudut bibir Zian tertarik ke atas. Kemudian dia menyerahkan tasnya pada Leon. "Maaf harus merepotkanmu,"
Bocah laki-laki itu mengangkat bahunya. "Bukan masalah," ucapnya lalu meninggalkan ayah dan adik kembarnya.
Zian berdiri dan menatap kepergian Leon dengan senyum tipis. Hatinya begitu menghangat, Leon dan Lea adalah obat paling mujarab ketika ia merasa lelah.
.
.
Bersambung.