Anak Kembar Tuan Muda

Anak Kembar Tuan Muda
Dia Yang Layak


"Nyonya besar, Tuan telah kembali tetapi dia tidak sendirian. Tuan, datang bersama dua perempuan cantik dan dua anak kecil,"


Seorang seorang pelayan menghampiri Anna dan memberitahukan kepulangan Zian pada majikannya tersebut. Kepulangan Zian bersama dua perempuan dan dua anak kecil memunculkan sebuah tanda tanya besar.


Anna dan Giselle saling bertukar pandang. Keduanya kemudian keluar karena penasaran siapa dua perempuan dan dua anak kecil yang datang bersama Zian. Anna meninggalkan Giselle dan menghampiri Zian.


"Zian, Siapa mereka? Kenapa kau membawa orang asing datang ke rumah ini?" tanya Anna meminta penjelasan.


"Ini adalah rumahku, jadi terserah aku mau membawa pulang siapapun ke rumah ini!! Tidak perlu mengaturku, dan ingat posisimu disini!! Kau itu bukan siapa-siapa lagi di rumah ini!!"


"Zian, apa-apaan kau? kenapa kau berkata seperti itu pada ibumu?" Giselle menghampiri Anna lalu memeluk lengannya. "Dia ibumu, orang yang telah melahirkanmu!!"


"Aku tahu dan aku tidak pikun, jadi kau tidak perlu mengingatkanku lagi. Lagipula mana ada seorang ibu yang tega meninggalkan suami dan anaknya hanya demi bisa bersama selingkuhannya!! Dan di mataku, dia tak lebih dari seorang jalan* yang tak punya harga diri!!"


Buru-buru Nara dan Sunny menutup telinga si kembar agar tidak mendengar pertengkaran antara Zian dengan ibunya. kata-kata yang Zian katakan terlalu pedas dan tak layak untuk didengar oleh anak-anak..


Zian menoleh ke belakang. "Kai, bawa anak-anak masuk ke dalam. Kau juga sebaiknya ikut bersama mereka, dan kau tetap disini." Zian menggenggam pergelangan tangan Nara dan menahannya agar tidak pergi kemana-mana.


"Zian, Apa maksudnya ini? Jelaskan pada Mama, dan Mama minta usir mereka dari rumah ini!!" pinta Anna menuntut.


"Tidak ada yang bisa mengusir mereka keluar dari rumah ini!! Mulai detik ini, kau bukan siapa-siapa lagi di rumah ini. Rumah ini hanya memiliki satu Nyonya, yakni dia. Wanita yang sudah memberiku anak!!"


Giselle pun membulatkan matanya karena terkejut. "What?! Zian, apa-apaan kau ini? Kau bercanda ya? Tidak bisa!! Aku tidak bisa menerimanya, tidak boleh ada perempuan lain di rumah ini selain aku dan Bibi Anna. Karena hanya aku satu-satunya wanita yang layak bersanding denganmu!!"


"Memangnya siapa yang memberimu kelayakan untuk menjadi nyonya dan menantu di rumah ini!!" sahut seseorang dari arah pintu.


Sontak semua orang yang berada di ruangan itu menoleh pada asal suara, dengan langkah penuh wibawa, seorang paruh baya menghampiri mereka semua.


"Paman Li!!" Giselle berseru kencang. Melihat tatapan tajam paruh baya itu membuat Giselle ketakutan setengah mati. Buru-buru dia bersembunyi dibelakang Anna. "Bibi, Paman membuatku takut,"


"Li, apa-apaan kau ini?! Kau membuat calon menantuku ketakutan!!" bentak Anna.


"Memangnya siapa yang mengizinkan wanita seperti dia masuk ke dalam keluarga ini?! Sampai kapanpun aku tidak akan setuju jika putraku sampai menikahi piala bergilir seperti dia!!" ucap Tuan Li sambil menunjuk Giselle.


"Li, kenapa kau semakin keterlaluan saja?! Giselle yang akan menjadi menantu di keluarga ini, dan hanya dia satu-satunya wanita yang layak untuk bersanding dengan Zian!! Kau tidak memiliki hak untuk menentang hubungan mereka, karena aku adalah Ibunya. Orang yang telah mengandung dan melahirkan, Zian!! Jadi aku yang berhak atas masa depannya!!" wanita itu berbicara dengan nada meninggi.


Nara memperhatikan wanita di depannya ini dengan seksama. Dia merasa tak asing dengan wajah Anna. Nara mencoba mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu dengan Anna sebelumnya. Kedua matanya sontak membulat.


"Aku mengingatnya!!" dan semua mata kini tertuju padanya. Termasuk Zian dan Tuan Li. Mengabaikan tatapan bingung mereka, kemudian Nara mendekati Anna. "Sekarang aku mengingatnya. Kau adalah wanita itu, orang ketiga yang telah menghancurkan rumah tangga orang tuaku!! Kau juga orang yang menyebabkan ibuku akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya!!"


"Benar sekali, wanita ini adalah selingkuhan papa dan orang ketiga yang menyebabkan rumah tangga orang tuaku hancur. Dan karena dia pula ibuku mengakhiri hidupnya." Jelas Nara dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Nara membuat sudut bibir Anna tertarik keatas, membentuk seringai tipis dibibir merahnya. "Oh, jadi kau putri Ivanka rupanya? Si gila yang mengakhiri hidupnya karena patah hati?! Jangan salahkan aku, tapi salahkan saja Ibumu yang bodoh itu!!"


PLAKKK...


Sebuah tamparan keras mendarat mulus pada pipi kanan Anna. Nara menamparnya dengan sangat keras. Saking kerasnya tamparan itu, sampai-sampai membuat pipi Anna memerah. Anna memegangi pipinya yang baru saja ditampar oleh Nara dengan mata memerah menahan amarah.


Anna mengepalkan tangannya. Dia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Nara dengan marah. "Berani-beraninya kau menamparku wanita jalan*!!"


PLAKKK!!


"Li!!" bentak Anna sambil memegangi pipinya. Dua kali dia mendapatkan tamparan. Pertama dari Nara, dan kedua dari mantan suaminya.


Tuan Li mendekati Anna lalu mencengkram rahangnya. "Jangan melewati batasanmu, Anna!! Aku sudah berbaik hati dengan mengizinkanmu tinggal di sini dan membiarkanmu menjadi nyonya seperti yang kau inginkan!! Tapi ingat satu hal yang aku katakan ini!! Jangan pernah menyentuh menantu keluarga ini, atau kau akan menanggung akibatnya?!"


"Nara, dia adalah satu-satunya wanita yang paling layak bersanding dengan Zian!! Jadi jangan pernah bermimpi untuk memasukkan orang lain ke dalam keluarga ini, atau aku tidak akan menerima toleransi lagi!!"


Rasa cinta yang Tuan Li miliki pada Anna berubah menjadi rasa benci setelah Apa yang dia lakukan padanya. Anna telah mengkhianati janji suci mereka dengan kabur bersama sopir pribadinya. Kemudian dia juga menjadi benalu dalam keluarga orang lain. Dan kesalahan Anna tak akan pernah Tuan Li maafkan.


Pandangan Tuan Li kemudian bergulir pada Nara. Tatapannya melunak ketika menatap calon menantunya tersebut. "Nara, Zian telah menceritakan semuanya pada, Papa. Dan atas nama keluarga Li, Papa ingin meminta maaf padamu."


Nara menggeleng. "Anda tidak perlu meminta maaf, Paman. Semua sudah terjadi dan tak ada yang perlu disesali lagi." Nara tersenyum.


"Kau sungguh perempuan yang baik dan berhati besar, Nak. Selamat datang di keluarga ini, Nara. Mulai sekarang kita adalah keluarga dan kau tidak perlu sesungkan itu pada Papa. Dan mulai detik ini, kau harus memanggilku dengan sebutan, Papa!!"


Nara tersenyum. "Baiklah, Papa." Tuan Li tersenyum kemudian membawa Nara kepelukannya.


Impiannya untuk memiliki seorang putri akhirnya terwujud, meskipun marah bukan Putri kandungnya dan statusnya hanya sebagai menantu.Tetapi Tuan Li akan menyayanginya seperti Putri kandungnya sendiri. Apalagi dia telah memberinya dia cucu sekaligus.


Melihat hal mengharukan di depan matanya, membuat Zian tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Dia lega karen Nara dan kedua buah hati mereka bisa diterima dengan baik oleh ayahnya. Dan sementara itu, Anna dan Giselle jelas tidak suka melihat kedekatan mereka.


-


-


Bersambung.