Anak Kembar Tuan Muda

Anak Kembar Tuan Muda
Maafkan, Papi


"Mami, susu!"


Lea menghampiri Nara yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Meminum susu di pagi hari adalah kebiasaan yang selalu Lea lakukan sejak ia masih tinggal di luar negeri.


Dan Nara sudah hafal betul susu apa yang disukai oleh putrinya tersebut.


"Oke, princess. Tunggu sebentar, akan segera Mami siapkan." dengan gemas Nara mencubit pipi gembil Putri kecilnya itu.


Berbeda dengan Lea yang menyukai segala macam makanan dan minuman manis, Leon justru sebaliknya. Dia lebih menyukai makanan dan minuman yang cenderung pahit, seperti rasa green tea contohnya.


"Oya, Mi. Bagaimana semalam Mami dengan Papi? Apa seru, kakek bilang kalian berdua sedang bekerja keras membuatkanku dan Leon seorang adik kecil dan mungil. Bagaimana jika aku membantu kalian membuat adiknya?" Lea menatap ibunya dengan polos, tanpa mengerti apa arti dari kata yang diucapkannya itu.


Byurr...


Nara menyemburkan minuman yang ada di dalam mulutnya setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Putri kecilnya.


Tidak salah lagi, pasti itu adalah ajaran kakeknya. Yang tak lain dan tak bukan adalah Tuan Li.


"Lea, siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu?!" sahut seseorang dari belakang. Terlihat Zian menghampiri mereka berdua.


Melihat tatapan dingin dan tajam ayahnya membuat Lea ketakutan. Buru-buru dia bersembunyi di belakang ibunya. "Mi, Papi menyeramkan," ucap Lea dengan mata berkaca-kaca.


Zian menghela napas. Kemudian dia berlutut di depan Lea yang masih bersembunyi dibelakang ibunya. Kemudian Zian menarik tangan mungil Lea dengan lembut untuk menghampirinya.


"Maafkan, Papi, Nak. Sudah membuatmu ketakutan," ucap Zian penuh Sesal. Penyesalan terlihat jelas dari mata hitamnya yang dingin.


"Lea, tidak melakukan kesalahan. Papi, jangan memarahi Lea." Gadis kecil itu menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap Zian secara langsung.


Melihat wajah ketakutan Putri kecilnya membuat Zian sangat menyesal. Dia sendiri bingung bagaimana harus bersikap, apalagi ia belum terbiasa dengan kehadiran Lea maupun Leon dalam hidupnya. Tapi bukan berarti Zian tak menerima kehadiran mereka. Dia hanya belum terbiasa.


Zian menggeleng. Tidak, Nak. Papi tidak memarahimu. Papi sungguh-sungguh minta maaf," kemudian Zian membawa Lea kepelukannya.


Nara menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis melihat pemandangan mengharukan di depannya.


Dia tidak bisa menyalakan sikap Zian, apalagi dia belum terbiasa dengan keberadaan Leon dan Lea. Dan butuh waktu bagi mereka bertiga untuk bisa saling mengenal lebih dekat.


Nara menghampiri mereka berdua lalu membungkuk di samping putrinya. "Sarapan sudah siap, sebaiknya Lea sekarang panggil Leon. Kita sarapan sama-sama," pinta Nara. Lea mengangguk kemudian meninggalkan mereka berdua.


Selepas kepergian Lea, di dapur hanya menyisakan Nara dan Zian. Nara menoleh dan menatap Zian. Sudut bibirnya tertarik keatas, membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya. Nara meraih tangan Zian dan menggenggamnya.


"Tidak perlu terlalu dipikirkan, aku mengenal putra-putri kita dengan baik. Lea memang sangat cengeng tetapi dia pemaaf dan penyabar. Sedangkan Leon itu cuek, tetapi sebenarnya dia hangat dan penyayang. Hanya butuh sedikit waktu bagimu untuk mengenal dan memahami mereka berdua." Ujar Nara.


"Ini semua memang salahku, jika saja aku hadir di antara kalian lebih awal. Pasti tidak akan secanggung ini," ucap Zian penuh sesal.


Tidak perlu disesali apa yang sudah terjadi, semua itu sudah menjadi rencana Tuhan. Dan Tuhan memiliki cara yang indah untuk mempertemukan dan menyatukan kita berempat, bukankah begitu?" Zian mengangguk.


Dan obrolan mereka berdua diinterupsi oleh kedatangan Lea dan Leon. Si kembar menghampiri kedua orang tuanya kemudian mereka berempat duduk benang di meja makan untuk menyantap sarapan paginya dengan tenang. Tuan Li mengantarkan mereka berdua pada Zian dan Nara pagi-pagi sekali karena dia harus pergi ke luar negeri selama satu minggu.


.


.


Kemudian salah satu pelayan menghampiri Giselle. "Kemana perginya semua orang, kenapa sepi sekali?" tanya Giselle pada pelayan tersebut.


"Tuan Besar sedang pergi ke luar negeri. Sedangkan Tuan Muda sejak menikah, beliau tidak lagi tinggal di rumah ini lagi. Tuan Zian tinggal di rumah miliknya sendiri bersama keluarga kecilnya."


Giselle terkejut setelah mendengar apa yang dikatakan oleh pelayan itu, bahwa Zian telah menikah. Dan Giselle yakin, jika perempuan yang dinikahi oleh Zian adalah wanita yang dia jemput dari luar negeri.


Gyutt..


Giselle mengepalkan tangannya. Dia benar-benar tidak terima jika Zian menikahi wanita lain. Dan Giselle tak akan tinggal diam. Dia pasti akan menghalalkan segala cara untuk memisahkan mereka berdua.


Tanpa mengatakan apapun, Giselle meninggalkan kediaman keluarga Li.


Ia akan meminta bantuan pada ayahnya untuk menghancurkan pernikahan Zian dan Nara.


.


.


Zian menghentikan mobilnya di halaman luas sebuah sekolah elit bertaraf internasional yang berada di kota Seoul.


Dia tidak bisa memasukkan putra-putrinya ke sekolah lokal, Zian ingin memberikan yang terbaik kepada mereka berdua. Bukan karena dia merasa malu pada rekan-rekan bisnisnya bila mereka sampai tahu jika putra-putrinya bersekolah di sekolah lokal.


Tetapi Zian ingin agar Leon dan Lea mendapatkan pendidikan yang layak.


"Apa kau yakin akan memasukkan mereka berdua di sekolah ini?" Nara menolak dan menatap Zian dengan pandangan bertanya. Zian mengangguk. "Kenapa? Apa ini tidak terlalu berlebihan?"


Zian menggeleng. "Tentu saja tidak. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk mereka berdua, karena Leon dan Lea memang layak mendapatkannya. Dan kau sebaiknya tidak perlu protes, sudah ayo turun. Kepala sekolah sudah menunggu kita."


"Tapi~"


"Tapi apalagi? Apa kau tidak melihat wajah mereka berdua. Mereka begitu bersemangat karena akan masuk di sekolah baru, dan bisa jadi ini merupakan salah satu impian mereka." ucap Zian dan membuat Nara terdiam.


Dan memang benar apa yang Zian katakan. Memang sudah sejak lama Leon dan leak ingin masuk di sekolah unggulan, tetapi Nara tidak pernah mengizinkan mereka berdua untuk masuk dan bersekolah di sekolah bertaraf internasional.


Dan akan sangat egois, jika dia masih tetap melarang keinginan kedua buah hatinya. Nara tidak ingin membuat mereka berdua sampai kecewa.


"Baiklah, Aku tidak akan melarang mereka lagi untuk sekolah di sini. Karena bisa masuk ke sekolah elit, sudah menjadi impian mereka berdua sejak lama dan aku tidak bisa mewujudkannya!!"


Bukan karena Nara kekurangan uang, tetapi dia memiliki banyak pertimbangan untuk memasukkan mereka berdua di sekolah elit yang menjadi impiannya. Karena pada saat itu, mereka masih berada di luar negeri.


Nara hanya tidak ingin jika kedua buah hatinya sampai mendapatkan perlakuan buruk dan perundungan dari semua orang karena dia berasal dari Asia, terlebih-lebih lagi mereka tumbuh tanpa seorang ayah.


.


.


Bersambung.