
"Kalian pergi dengan siapa kesini,"tanya Leo langsung menggendong Aarin dan mencium pipi gembul nya.
"Kami kesini bareng opa pakai heli,"jawab Brayen tanpa menoleh ke arah Leo, ia senyam senyum melihat Ara, membuat Leo yang melihatnya kesal.
"Hey Bray, ngapain kamu lihatin istri paman seperti itu hah,"sungut Leo kesal merangkul pinggang Ara seolah ingin mengatakan Ara miliknya.
"Oh ini istri Om, kasian yah,"ujar Brayen dengan ekspresi sedih.
"Kenapa kasian,"tanya Leo menaikkan alisnya.
"Kasian aja, lihat wanita secantik kakak ini dapat suami seperti om, mending Ama Brayen aja,"jawab Brayen santai membuat Leo ingin menyentil kening Brayen namun..
"Ekhmmm ekhmmm."Leo langsung mati kutu, ia menarik tangannya kembali dan langsung tersenyum kaku ke arah Chen yang baru datang.
"Eh tuan Chen,"ujar nya tersenyum paksa.
"Panggil saja paman karena kamu adalah sahabat menantu saya,"balas tuan Chen tersenyum ramah.
"Baik pa--man,"ujar Leo terbata bata.
"Saya kesini cuma mau antar cucu cucu saya aja, saya langsung balik ke perusahaan karena ada hal yang harus saya urus, jadi apa boleh saya menitipkan mereka disini sebentar, nanti malam barulah saya jemput mereka,"ucap Chen lembut namun penuh wibawa.
"Oh tentu saja tuan Chen, karena mereka juga sudah kami anggap cucu kami sendiri jadi tidak masalah,"balas James ramah.
"Baiklah kalau begitu saya langsung pamit karena saya lagi buru buru."
"Baik tuan,"balas James mengantarkan Chen keluar mension.
"Halo Tante tantik,"sapa Aaron tersenyum manis menyisir rambut nya kebelakang dengan jari nya membuat Ara tersenyum gemas.
"Halo juga, nama kamu siapa dek,"tanya Ara tersenyum manis berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Aaron.
"Nama aku Aaron Tan, tentala hebat pembasmi alien di bumi."
"Nama aku Bryan, asisten nya kapten Aaron"
"Nama ku Brayen, bibit pria tertampan di dunia,"ujar nya tersenyum sombong membusungkan dadanya.
"Nama ku Aalin Tan, calon doktell shunat Dali bibit undul Lemos,"timpal Aarin tersenyum polos menunjukkan gigi tengahnya yang baru tumbuh.
"Kalian berempat kembar,"tanya Ara menatap wajah mereka satu persatu.
"Iya mereka kembar, Brayen dan Bryan, sedangkan Aaron dan Aarin,"balas Leo datar karena Aaron dan Brayen sedari tadi tak henti-hentinya memandang genit ke arah Ara.
"Apa tidak ada yang rindu sama nenek,"ucap Nana pura pura cemberut membuat mereka semua langsung memeluknya.
"Tentu dong, kami kesini juga karena rindu sama nenek,"balas Brayen membuat Nana tersenyum senang, karena Brayen benar benar manis berbicara.
"Kau sangat pandai merayu,"ujar Nana menarik hidung Brayen membuat si empunya tertawa cengengesan.
"Jadi kalian ngapain kesini hmm, enggak biasanya,"tanya Leo membawa Aarin duduk di pangkuan nya.
"Tadi tami na ladi jalan jalan pakai heli...
"Butan jalan Aalin but telbang, mana ada heli jalan,"ralat Aaron memotong ucapan aarin.
"Ck, iya iya telbang maksud na, tadi tami ladi telbang pake heli, telusshh blayen Sulluh opa untuk pelgi ke lumah na paman, sebab blayen mahu jumpa Shama isteli na paman Leo,"jelas Aarin dengan nada imut nya, tangan kecil nya tidak bisa diam, ia asik melukis di dada bidang Leo.
"Emang untuk apa kamu ketemu sama istri paman Bray,"tanya Leo menaikkan alisnya.
"Entah kenapa istri orang sangat enak di pandang paman, itulah sebabnya Brayen mau ketemu dengan istri paman,"jawab Brayen mencium punggung tangan Ara membuat Leo menggertak gigi nya, karena Brayen benar benar membuat nya darah tinggi.
"Kau...akkkkk andai kau bukan anak sahabat ku, udah ku jual kau ke pasar gelap,"ujar Leo menahan amarahnya.
"Oh Ndak boyeh paman, because blayen tepompong na Aalin, awas talo paman macam macam shama blayen, Aalin botakin shepelti si beo,"ancam Aarin mencekik Leo membuat si empunya melotot tak percaya ke arah Aarin.
"Hahahaha jangan macam macam sama Brayen paman, bisa bisa rambut paman yang mirip mister Bean itu langsung botak seperti lampu bohlam di buat Aarin,"ejek Brayen tertawa senang karena Aarin membela nya.
"Akkk uhuk uhuk, paman mati yah,"ujar Leo pura pura tak bisa bernafas.
"Alhamdulillah,"ujar mereka semua serempak membuat Leo langsung berekspresi datar, mencoba menahan kekesalannya.
"Apa kalian tidak sekolah hemm,"tanya Ara mengelus kepala Aaron dan Brayen yang duduk di sampingnya, sedangkan Bryan duduk di pangku oleh Nana.
"Kami sengaja libur sekolah hanya untuk bertemu dengan bidadari secantik Tante,"ujar Brayen menatap kagum ke arah Ara.
"Benell Tan, because you so beautiful,"timpal Aaron membuat Ara bingung.
"You...so bisul, apa itu artinya,"tanya Ara polos membuat Aaron tersenyum lembut ke arahnya.
"Tante shangat tantik,"ujar Aaron tersenyum manis, ia tidak menertawakan Ara yang seperti nya tidak pandai bahasa Inggris.
Leo dan Nana yang melihat Ara tersenyum getir pun menggigit bibir bawahnya, karena merasa iba terhadap Ara yang minim pendidikan.
"Terimakasih Aaron,"ujar Ara mengelus kepala Aaron.
"Brayen juga mau di elus Tan,"sungut Brayen membuat Ara terkekeh geli, ia langsung menghadiahi ciuman untuk Aaron dan Brayen.
"Ara kamu jangan asal nyosor ke pipi laki laki selain aku, mengerti,"sentak Leo kesal membuat Ara cemberut.
"heum, maaf."
"dan kalian para kurcaci licik jangan merayu istri paman, kalau kalian sudah kebelet nikah tunggu 18 tahun lagi,"tegas Leo menatap tajam ke arah 2 bocah genit itu, namun Aaron dan Brayen tak merasa gentar terhadap tatapan Leo.
"Setelah 18 tahun langsung nikah,"tanya Bryan polos yang sedari diam.
"Cari uang dulu baru nikah,"balas Leo membuat mereka semua kesal.
plakk
"Haduh sakit mom,"ujar Leo meringis sakit karena mom Nana memukul kepala nya.
"Kamu ini yah, bicara sama anak kecil seperti bicara sama orang dewasa,"sentak Nana kesal.
"Apa nya yang kecil ma, mereka itu badan nya aja yang cebol tapi pikiran nya semua dewasa,"balas Leo membuat ke 4 bocah itu langsung menatap tajam ke arah Leo.
"Cebol,"gumam Aaron dingin.
"kuaci,"gumam Aarin.
"Kulcaci Aalin,"ralat Aaron.
Perasaan Leo langsung tak enak ketika sadar akan tatapan ke 4 bocah yang di sebut nya kurcaci itu, apalagi Aarin yang tersenyum dingin ke arah nya, di tambah Aaron yang mengeluarkan pistol nya yang di simpan di pinggangnya.
glekk
"Shelang......"teriak Aaron menembak Leo dengan pistol air nya, begitu juga Aarin yang langsung menggigit leher Leo, tak lupa dengan Brayen yang menggelitik perut Leo, di ikuti oleh Bryan yang menjambak rambut nya, lengkap sudah penderitaan Leo, inilah yang ia takuti dari dulu bila salah berbicara dengan ke 4 bocah psikopat itu.
"Akkkkkk ampun ampun,,,,sakit Aarin jangan di gigit,"teriak Leo meringis kesakitan, namun ada rasa geli karena gigi Aarin yang tidak rata tumbuh.
"Lashakan hutuman kalna shudah belani Shama bibit undul telualga Lemos and telualga Lubis,"ujar Aarin mencubit pipi Leo, sedangkan Ara dan Nana langsung ketawa lepas melihat Leo yang di keroyok.
James yang baru datang pun ikut tertawa senang, ia mengambil hp nya memvideokan nya, sungguh perangai James sama seperti jimmy yang sangat suka melihat anaknya teraniaya.
"Terus sayang, hajar lagi, iya benar Jambak rambutnya, Aaron tembak nya di wajah paman Leo biar kena dia,"seloroh James membuat Leo mengumpat dalam hati.
Shitt punya papa yang somplak, istri yang polos, mom yang tulalit sungguh lengkap hidup ku, di tambah 4 kurcaci ini batin Leo menjerit kesal.
**bersambung
hai kakak author balik lagi ini..
sebelumnya author minta maaf karena tidak bisa up 3 bab sekaligus per hari nya, karena kesibukan author yang dagang, jadi author cuma bisa up satu satu 🥰❤️🙏🤗
terimakasih buat yang udah baca, like coment,vote dan rate 5, sungguh author bukan apa apa tanpa kakak semuanya 🤗🥰❤️ semoga rezeki kakak semua berkah yah..
jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah..
salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏🥰**