
"Terimakasih karena sudah menjaga cucu cucu saya dengan baik,"ujar Chen pada Leo, James Nana dan juga Ara.
"Sama sama tuan Chen,"balas James tersenyum ramah.
Chen melihat ke arah Leo yang terlihat mengenaskan, dengan rambut yang acak acak, leher yang lecet akibat bekas gigitan, begitu juga dengan pipi nya yang nampak jelas bekas cakaran, kemudian ia beralih menatap ssjah cucunya satu persatu.
Ia melihat twins A &B tersenyum mengejek ke arah Leo, bahkan Aaron meniup ujung pistolnya, begitu juga dengan Aarin yang memeragakan tangannya seperti ingin mencekik leher seseorang, Chen mulai mengerti tentang apa yang baru terjadi.
"Tuan James, perusahaan saya baru saja mengeluarkan jet pribadi terbaru, yang di desain khusus oleh para bawahan saya yang profesional, saya yakin tuan James pasti menyukainya,"ujar Chen membuat James menaikkan alisnya bingung.
"Maksudnya tuan? saya kurang mengerti."
"Saya ingin menghadiahkan jet tersebut sebagai hadiah pernikahan anak anda Leo,"jelas Chen membuat senyuman indah terukir di wajah Leo.
"Terimakasih paman, Leo sangat senang mendengarnya, lain kali kalau paman butuh baby sister untuk cucu cucu paman, saya siap menjaga nya,"tegas Leo tersenyum cerah.
Tidak apa jadi penjilat sesekali, mumpung yang di jilat nya raja sultan, malah hadiah nya jet pribadi lagi....asikkk batin Leo bahagia.
"Baguslah kalau kamu senang, kalau begitu kami langsung pamit yah,"ujar Chen tersenyum hangat.
"Baik paman."
"Tante tantik...tami pulang dulu yah...nanti waktu tami libull shekolah pashti kecini ladi yah cup,"ujar Aaron mengecup punggung tangan Ara tanpa permisi.
"Kami pulang ya Tan, ingat tawaran Brayen tadi masih berlaku sampai kapan pun oke,"seloroh Brayen membuat Leo menaikkan alisnya.
"Tawaran apa Bray?"tanya Leo penasaran.
"Rahasia,"balas Brayen menyeringai membuat Leo semakin penasaran, ia akan menanyakan nya nanti pada Ara.
"Iya sayang, jaga diri baik baik yah, sering sering mampir ke sini oke,"ujar Ara tersenyum manis mengelus kepala mereka satu persatu.
"Oke/otte Tan,"jawab mereka serempak.
Chen langsung menggendong Aarin, sedangkan ketiga bocah laki laki tersebut langsung mengekor di belakang Chen, twins AB langsung menaikkan alis, mereka bingung karena tidak melihat helikopter, namun hanya ada mobil Alphard.
"Opa heli na temana,"tanya Aaron bingung.
"Kita pulang pakai mobil aja okey,"ujar Chen tersenyum lembut.
"Emang kenapa tidak pakai heli aja opa?"tanya Brayen menatap lekat wajah tua Chen.
"Ban heli nya kempes, jadi harus di bawa ke bengkel dulu,"jawab Chen asal membuat keempat bocah tersebut mengangguk kepalanya cepat.
Sedangkan di dalam kamar Leo sedang menunggu Ara masuk, ia penasaran tawaran apa yang di katakan oleh Brayen tadi, hingga yang di tunggu-tunggu juga datang, Ara masuk ke dalam kamar dengan raut wajah yang bahagia.
"Sini,"titah Leo menepuk kasur di sampingnya, Ara langsung berlari kecil dan duduk di samping Leo seraya merebahkan kepalanya di dada bidang Leo.
"Dia bilang nanti kalau Ara jadi janda, dia mau daftar buat jadi calon suaminya Ara,"jawab Ara santai, membuat Leo terbelalak ia mengepalkan tangannya erat, saking kesalnya dengan anak sahabat nya itu.
"Lalu kamu jawab apa,"tanya Leo berusaha menahan kekesalannya.
"Ara menolaknya, karena Ara kan sudah menikah sama kakak, apalagi kakak tampan dan kaya,"jawab Ara polos membuat Leo tersenyum masam.
Andai kamu tahu para kurcaci itu bahkan lebih kaya dari ku, pasti kamu langsung menerima tawaran Brayen tadi batin Leo tersenyum masam.
"Kau ini, apa tidak bisa berbohong sedikit, masa kamu nikah sama aku karena kaya dan tampan,"kesal Leo membuat Ara cemberut.
"Kan Ara dari kecil di didik untuk Jujur kak, mana boleh berbohong kan dosa,"sungut Ara membuat Leo menghela nafas panjang.
Aku benar benar menikahi anak kecil batin Leo.
"Apa kamu mau sekolah?"tanya Leo tiba tiba membuat Ara tersentak.
"Se--kolah?"tanya Ara mencoba memastikan apa yang di dengarnya.
"Iya."
Ara langsung menggeleng kepalanya cepat, dia tak ingin sekolah lagi, sungguh kenangan buruk itu kembali menghantui dirinya, yang dimana para sahabat nya menghina dan mengucilkan dirinya, ia di bully melalui mental dan fisik, bahkan ia mengingat jelas disaat dirinya di suruh meminum air kloset WC, sungguh Ara ketakutan, tidak ada siapapun yang menolong nya, ia tak bisa berharap banyak pada Dito karena Dito tak selalu ada untuk dirinya, ia pulang dalam keadaan mengenaskan membuat orang tuanya terkejut, dan tepat hari itu Ara berhenti sekolah, bahkan homeschooling pun dirinya tidak mau.
"Enggak Ara gak mau sekolah,"sentak Ara dengan mata yang berkaca-kaca menatap Leo.
"Tapi kamu harus bangkit, kamu harus pintar Ara, kamu harus melanjutkan pendidikan mu,"tegas Leo membuat Ara langsung menangis.
"Kenapa memang kalau Ara tidak berpendidikan tinggi hah, apa kakak malu punya istri seperti Ara, kenapa semua orang menyuruh Ara bangkit dari keterpurukan Ara, kenapa baru sekarang mereka mendukung Ara, dimana mereka disaat Ara masih mau belajar dulu, dimana mereka hiks hiks, Ara tidak butuh di hormati karena berpendidikan tinggi, Ara tidak butuh huwaaaa,"tangis Ara pecah melampiaskan kemarahannya pada Leo, ia mengambil guling dan memukul tubuh Leo.
Ia begitu sedih dikala mengingat disaat dirinya kecil dulu, tidak ada siapapun yang berdiri di sampingnya kecuali Dito, bahkan orang tuanya sekalipun sibuk dengan dunia nya masing masing, lalu disaat dirinya terpuruk barulah mereka hadir dan dengan gampangnya menyuruh Ara bangkit, apakah mereka tidak tahu luka yang tergores di dalam hati Ara sangat lebar.
"Ra..Ara tenang okey tenang,"ujar Leo langsung merengkuh tubuh Ara, namun Ara tetap memberontak membuat Leo langsung menindih tubuh kecilnya, Leo langsung mencengkram erat tangan Ara.
"Kamu dengarkan baik baik apa yang aku katakan, persetan dengan pendidikan itu, mau kamu sekolah nya tinggi atau pendek, aku tidak peduli karena aku adalah suami mu, aku menerima mu apa adanya, bahkan kamu tidak perawan pun aku tidak peduli, tapi yang aku pedulikan adalah tentang mereka yang menghina mu karena kamu tidak berpendidikan tinggi, mereka yang mengejek mu karena bodoh, aku peduli tentang mereka, aku ingin mereka semua bungkam disaat mereka melihat kamu bangkit dari keterpurukan mu, aku ingin mereka darah tinggi karena melihat kamu yang sudah bangkit Ara, aku ingin itu!! apa kamu mengerti Ara, aku tidak ingin ada lagi yang menghina mu setelah menikah dengan ku Ara, kau dengar itu,"teriak Leo para Ara yang menangis sesenggukan, ia sangat kesal karena Ara keras kepala.
"Tapi hiks hiks Ara takut...huwaa Ara takut di bully lagi,"ucap Ara di sela sela tangisnya, membuat Leo langsung merengkuh nya, ia melihat tangan Ara yang memerah akibat cengkraman nya.
"Kau tidak usah takut, karena kalau mereka berani membully atau mengejek mu lagi, akan ku giling mereka semua jadi peyek,"ujar Leo mengelus punggung Ara yang bergetar.
**bersambung.
hai kakak author up lagi nih..
jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kak, biar author semangat nulis nya🤗🥰😘💐love you all 🥰🥰
salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️ 🥰❤️**