
"B-berh-e-ntii.. shhh… arghh…"
Des*han demi des*han menggelora terlontar dari bibir wanita cantik itu yang tak bisa menahan sensasi berbeda setiap malam bersama sang suami yang selalu meminta jatah.
"Jangan menolakku, Sayang…"
Perintah sang pria yang menindih Nara yang telah menanamkan miliknya ke milik wanita di bawah kekuasaannya. Tanpa aba-aba, pria itu menghilangkan des*han wanitanya dengan ciuman panas dan menuntut.
"Mmmh… grrr… Mmmh…"
Walaupun ini bukan yang pertama tetap menjadi pertama bagi Nara. Ia tak sanggup melayani serangan yang ganas err—namun menggoda itu. Nara sendiri menjambak rambut suaminya itu karena tidak tahan sensasi yang menyenangkan menghujaminya penuh kenikmatan. Entah sampai jam berapa mereka melakukan ini terus menerus.
"Diamlah, Sayang.. ak-aku…"
"Aku… sudah.. ti-tidak.. aah…"
Mereka berdua telah mencapai klim*ksnya masing-masing dan lagi sang pria menyemburkan benihnya ke rahim wanitanya bahkan seluruhnya sampai membasahi sprei kasur mereka berdua. pandangan mereka sayu dan keringat yang menempel di seluruh tubuh mereka menetes pula di kasur mereka berdua.
"Kau benar-benar nakal, Zian! Meminta jatah terus..." keluh Nara sambil mempoutkan bibirnya.
Zian menyeringai berbahaya, "itu tugasmu sebagai istriku, Nara Li."
"Grr… lepaskan milikmu itu dariku…" titah Nara melayangkan tatapan tajam ke suaminya.
"Tidak, Sayang. Biarkan seperti ini dulu. Ini pembalasanku dua hari yang lalu, saat itu kau menolakku!!" kilah Zian.
"Dua hari yang lalu kan ada anak-anak. Tidak mungkin kita bercocok tanam saat ada mereka, lagi pula Kenapa kau jadi mesu* sekali?! Dan bisakah kau pelan-pelan?" geram Nara.
"Maaf." lalu serangan dilancarkan yang membuat Nara mend*sah kembali.
Dan seketika malam ini menjadi malam yang panjang bagi pasangan muda Li itu menghabiskan waktunya bersama.
meskipun bibirnya terus menolak tetapi tidak dengan hati dan tubuhnya. Lagi pula mana bisa Nara menolak sesuatu yang menyenangkan semacam yang dia lakukan bersama Zian saat ini?!
Meskipun berkali-kali dia mengatakan 'Hentikan', 'Cukup' dan bla-bla-bla. Tetapi tetap saja dia tak bisa menahan rasa nikmatnya. Dan yang tak Nara mengerti dari suaminya itu. Kenapa sekarang Zian jadi sangat mesu* dan selalu ingin meminta jatah darinya?! Tetapi Nara sih oke-oke saja, meskipun ya sering kali dia berkata ini dan itu.
.
.
Kehadiran Leon dan Lea memberikan kebahagiaan sendiri kepada Tuan Li. Pria paruh baya itu menjadi lebih sering menghabiskan waktunya di rumah daripada harus pergi ke kantor. Kehadiran kedua cucu kembarnya menjadi pengobat lelah di usia senjanya.
Tak ingin sampai berjauhan dari kedua cucunya, sampai-sampai Dia meminta mereka berdua untuk tinggal bersamanya. Dengan iming-iming mengajak mereka jalan-jalan dan membelikan ini dan itu yang mereka mau.
Meskipun dengan berat hati, Zian tak melarang kedua buah hatinya untuk tinggal bersama kakeknya dia tahu jika ayahnya sangatlah kesepian. Dan mereka berdua bisa menjadi pelipur lara baginya.
"Kakek cepat bangun, kau harus mengantarkan kami ke sekolah." Lea mengguncang tubuh kakeknya dan memaksa Tuan Li untuk segera bangun.
"Sebentar lagi, Sayang. Kakek masih sangat mengantuk,"
"Tidak bisa!! Kakek, harus bangun sekarang juga. Kami nanti bisa terlambat jika kakek tidak bangun sekarang!!" ucap Lea dengan gemas.
"Iya, iya Kakek bangun." Meskipun rasa kantuk masih mendera, tetapi Tuan Li tetap memaksakan diri untuk segera bangun. Dia tidak ingin membuat cucunya sampai kesal dan marah. Meskipun dia sangat suka melihat ketika Lea sedang marah, bukannya mengerikan, marahnya justru membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Tuan Li menemani kedua cucunya untuk menyantap sarapan sebelum mereka berangkat sekolah.
Dia tidak ingin terkena amukan oleh Zian, jika Lea dan Leon tidak sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah.
Terus terang saja, Tuan Li paling tidak ingin berhadapan dengan Zian ketika dia sedang marah. Karena marahnya dia sangatlah mengerikan, dan dia trauma.
.
.
Aroma lezat makanan yang berasal dari dapur membuat Zian terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia sangat yakin jika istri tercintanya sedang menyiapkan sarapan mereka berdua.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Zian menghampiri Nara yang sedang sibuk di dapur. Sebuah pelukan yang tiba-tiba ia terima membuat Nara sedikit terlonjak kaget.
Hampir saja dia memukul Zian dengan spatula yang ada di tanganmu. "Zian, kau mengejutkanku," ucap Nara sambil mengusap dadanya.
"Maaf, Sayang." Bisik Zian sambil mengecup pertopangan leher Nara. Kembali Ia mengeratkan pelukannya. "Kenapa semakin hari, aroma tubuhmu semakin memabukkan saja. Membuatku ingin menyerangmu sekali lagi,"
Sontak kedua mata Nara membulat mendengar apa yang Zian katakan. Wanita itu berbalik lalu menodongkan spatula di tangannya ke arah suaminya. "Jangan macam-macam, atau spatula ini akan mengecap keningmu dengan manis," ancam Nara bersungguh-sungguh.
Zian tertawa mendengar apa yang Nara katakan, padahal dia hanya bercanda tapi kenapa istrinya itu menanggapinya dengan serius. Zian menarik pinggang Nara agar menempel padanya. Senyum tipis menghiasi bibir kiss able-nya.
"Aku hanya bercanda, tapi kenapa kau serius sekali?" ucap Zian dengan senyum yang sama.
Nara mempoutkan bibirnya. "Kau menyebalkan," Zian terkekeh mendengar apa yang Nara katakan. Kemudian menarik tengkuk Nara lalu mencium bibirnya dan mel*matnya dengan lembut.
Ketika dia ingin mengakhiri ciuman mereka. Tiba-tiba Nara menarik tengkuk Zian dan balik menyerangnya, kali ini ciuman berada dikuasai oleh Nara sepenuhnya.
Dan tentu saja apa yang Nara lakukan membuat Zian sedikit terkejut, pasalnya ini pertama kalinya Nara mencoba mendominasi dirinya. Pria itu menyeringai. "Mulai berani, eh?" ucap Zian dengan seringnya yang sama. Membuat Rona merah muncul di kedua pipi Nara. Dengan kesal dia memukul dada suaminya.
"Jangan mulai, kau menyebalkan." lagi-lagi Zian tertawa mendengar dumalan Nara.
Zian menangkup wajah Nara lalu mengecup singkat keningnya. "Kau lanjutkan pekerjaanmu. Aku akan membantumu mengupas buah," ucap Zian dan kemudian dibalas anggukan oleh Nara.
Wanita itu menarik sudut bibirnya dan tersenyum lebar. Hatinya menghangat karena perlakuan lembut Zian.
Nara sungguh tak menduga jika Zian yang dingin ternyata bisa hangat juga.
.
.
"Aku ingin kalian menculik anak-anak ini. Dan jika kalian berhasil, aku akan menambah bayaran kalian." Ucap Giselle pada ketiga pria di depannya.
Gisella merencanakan penculikan untuk Leon dan Lea. Dia ingin mengancam Zian dengan menggunakan kedua buah hatinya. Dia yakin, jika Zian tak mungkin menolaknya bila kedua buah hatinya berada di tangannya.
"Anda tenang saja, Nona. Hari ini juga kami akan membawa kedua anak ini ke hadapan Anda dalam keadaan hidup-hidup. Dan jangan lupa untuk memberikan sisa pembayarannya!!" ucap salah satu dari ketiga penculik itu.
"Masalah itu kalian tidak perlu khawatir, aku akan segera memberikan sisanya setelah kalian menyelesaikan tugas yang aku berikan. Sebaiknya kalian segera pergi dan jangan menundanya lagi!!"
Pria itu mencium amplop di tangannya sambil menyeringai. "Baiklah kalau begitu, kami pergi dulu," ucap pria itu dan pergi meninggalkan cafe tempat mereka bertemu dengan Giselle.
Giselle menyeringai lebar. Bukan Gisella namanya jika tidak bisa mendapatkan Zian, dia akan membuat pria itu bertekuk lutut di bawah kakinya dan meninggalkan wanita yang saat ini menjadi istrinya.
"Zian, kau hanya milikku!!"
.
.
Bersambung.