
"Ku menangis.... membayangkan
Betapa kejam nya dirimu..pada diriku...di tolak mentah-mentah di depan mama nya..."
"Paman Leo,"ucap mereka semua serempak, melihat Leo yang datang merangkul pinggang Ara, di ikuti oleh kemal di samping nya.
"Siapa yang nangis, Brayen tidak nangis,"elaknya dengan suara yang bergetar ingin menangis.
"Uhhh kamu kuat sekali Bray, kalau paman jadi kamu paman bakal nangis apalagi di tolak mentah-mentah di depan banyak orang ditambah dia mengungkapkan perasaannya kepada saudara kita sendiri, ibarat kata sakit tak berdarah,"sindir Leo membuat air mata Brayen jatuh begitu saja mengalir deras di pipinya, karena yang dikatakan oleh Leo benar adanya.
"Hiks hiks mama,"tangis Brayen pecah untuk pertama kalinya, bila dulu ia selalu bisa menahan tangisnya, namun tidak sekarang.
"Cup cup cup, anak mama gak boleh cengeng kalau di tolak ya coba lagi, sama seperti kita membeli lotre 'maaf anda tidak beruntung mohon coba lagi' begitulah kehidupan sayang, kamu harus coba lagi sampai kamu berhasil,"bisik Bilqis di telinga Brayen membuat si empunya langsung berubah ceria.
"Oke ma, Brayen akan coba lagi."
"Eh ada mantan bujang lapuk disini ternyata,"sindir Bilqis membuat Leo langsung mencebikkan bibir nya.
"Ck, tak ada siang tak ada malam, kau selalu suka membuat orang kesal,"ketus Leo membuat Kemal kesal.
"Jangan nada bicara mu pada istri ku Le,"tegas Kemal seraya mencium pucuk kepala Bilqis.
"Sorry, oh iya aku datang kesini mau bertanya tentang Dito kepada mu Mal,"ucap Leo yang baru ingat tujuan nya datang kemari, karena setelah kejadian malam itu di bar, sampai sekarang Leo tidak bertemu dengan nya lagi, entah dimana Dito sekarang karena Ara pun tidak tahu.
"Emang Dito kenapa!"tanya Kemal bingung.
"Sayang, kamu mengobrol sama Bilqis dan--" Leo menyipitkan matanya ketika melihat ke arah Sofi yang terlihat tak asing di matanya.
"Hai uncle, kita bertemu lagi!"ujar Sofi membuat Leo sadar bahwa gadis yang di depannya ini adalah gadis yang sama ia temui di Prancis dulu.
"Oh hai, kamu gadis yang menabrak ku dulu kan?"
"Benar uncle, nama ku Sofi sahabat nya Bilqis!"jawabnya tersenyum manis.
"Eum baiklah sayang, kamu duduk disini dulu bareng Bilqis, Sofi dan para bocah oke, ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan Kemal."
"Baik kak."
Kemal dan Leo pun langsung menuju ke halaman belakang, mereka duduk di kursi taman menghadap ke arah air mancur.
"Kau tahu dimana Dito sekarang?"tanya Kemal.
"Kalau aku tahu ya mana mungkin aku bertanya pada mu Mal,"ketus Leo membuat Kemal terkekeh.
"Aku juga kurang tahu, tapi Arka pernah bilang kalau Dito sedang punya masalah!"
"Masalah apa Mal?"
"Percintaan, kau tahu kan kalau keluarga besar Dito itu memiliki pemikiran yang kolot, dimana harta dan tahta mereka junjung tinggi, gadis yang di sukai Dito adalah gadis yang berkasta rendah, hubungan mereka berjalan lancar 3 bulan berpacaran, namun saat hubungan mereka beranjak menuju bulan 4 masalah datang, karena hubungan mereka tercium oleh orang tua Dito, dan kau tahu sendiri apa yang terjadi setelah nya kan!"terang Kemal membuat Leo menggepalkan tangannya.
"Mereka itu tidak ada kapok kapok nya yah, dulu Ara yang mereka kekang dan sekarang Dito, bener bener keluarga kuno, entah cuma Dito dan Ara saja yang waras dalam keluarga Sanjaya,"geram Leo mengingat perilaku keluarga Sanjaya yang keterlaluan.
"Ya begitulah, aku juga ingin membantu Dito dengan mengangkat gadis itu menjadi adik angkat ku agar keluarga Sanjaya mau menerimanya, namun Dito menolak bantuan ku, dia bilang dia sanggup menghadapi keluarga nya." Leo terdiam mendengar ucapan Kemal, ia tak menyangka bahwa dunia percintaan sahabat nya itu tak semulus perjalanan cinta nya.
***
Di sebuah diskotik yang lumayan besar, seorang gadis memakai baju sexy, namun bukan membuat nya terlihat sexy melainkan membuat nya semakin imut, karena tubuh nya yang kecil dan berisi, apa lagi wajah nya yang terlihat seperti gadis yang berusia 13 tahun, tapi sebenarnya dia berusia 17 tahun.
"Sena, tolong antarkan minuman ini ke ruangan nomor 17,"pinta senior nya.
"Baik kak."
Om Dito batinnya terkejut.
Namun ia langsung kembali tersenyum palsu, dan berjalan santai sambil meletakkan minuman di atas meja, kemudian ia langsung beranjak pergi namun...
"Kenapa kamu bekerja disini Sena,"sentak Dito dengan nafas naik turun, ia bangkit dari duduk nya menghampiri Sena dan langsung membenturkan tubuh Sena ke arah dinding.
Brukk.
"Awww,"Sena meringis kesakitan.
"Jawab Se, kenapa kamu kerja disini hah, sudah berapa kali aku bilang kamu jangan bekerja lagi disini,"bentak Dito marah membuat air mata Sena luruh begitu saja di pipinya.
"Lalu aku harus makan apa kalau aku tidak bekerja hah, ini pekerjaan ku, disini aku bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan ku,"teriak Sena mendorong tubuh Dito.
"Sudah berapa kali aku bilang kalau aku akan memenuhi kebutuhan mu Se, tapi kenapa kau tidak pernah mendengar perintah ku,"sentak Dito mencengkeram kasar pundak Sena.
"Aku tidak butuh uang oom, lebih baik oom pulang dan jangan menemui aku lagi, karena hubungan kita sudah berakhir,"sarkas Sena keluar dari ruangan tersebut.
Deggg.
Nafas Dito tercekat mendengar ucapan Sena, ia tak tahu harus bagaimana lagi membuat Sena kembali padanya, karena sudah berbagai cara Dito lakukan namun tak membuahkan hasil, bagaikan ada sebuah tembok besar yang dibangun oleh Sena sehingga membuat nya tak bisa lagi masuk kedalam hati Sena.
Dito keluar dari ruangan tersebut dan melihat Sena yang sedang berjalan tak jauh dari arahnya, ia segera berlari dan memeluk erat tubuh Sena.
"Lepasin om,"sentak Sena memberontak namun tak dapat di pungkiri bahwa dirinya sangat merindukan pelukan hangat yang di berikan oleh Dito.
"Aku mohon kembalilah seperti Sena yang dulu, apapun yang di lakukan oleh keluarga ku pada mu aku minta maaf, aku sangat mencintaimu Se,"lirih Dito dengan berlinang air mata, ia menyembunyikan wajahnya di bahu Sena.
"Maaf om, Sena gak bisa melanjutkan hubungan kita ini,"balas Sena dengan dada yang sesak menahan sakit di hatinya.
"Apakah ini semua karena restu?"
"Benar om, cinta tanpa restu bagaikan kapal yang terombang-ambing di tengah lautan tanpa arah dan tujuan,"jawab Sena mengepalkan tangannya.
"Jangan jadikan restu sebagai alasan berakhir nya hubungan."
"Tetapi tanpa adanya restu sebuah hubungan tidak akan berjalan,"balas Sena memberontak ingin lepas dari pelukan Dito, karena ia takut tembok besar yang dibangun nya runtuh begitu saja setelah mendengar ucapan Dito.
"Jangan jadi pengecut yang menyerah tanpa usaha, bila tidak ada restu yang membuat hubungan kita berhenti, maka mari berjuang untuk mendapatkan restu,"sarkas Dito mengeratkan pelukannya.
**Bersambung.
hai kakak...
yang bingung cerita Dito..
nanti author akan cerita masa lalu mereka..
mau lagi nggak???
jangan lupa like coment vote dan beri rating 5..
yang kangen twins tenang aja,, karena nanti mereka akan hadir lagi...🥰🤗💐💐💐
salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏🥰**