
"Maaf, bukan maksud saya--,"
"Tidak apa apa Pak, saya sudah terbiasa kok dengan pertanyaan seperti itu,"balas Sena bangkit dari tidur nya.
"Nak, kamu masih butuh istirahat,"ucap pak polisi tersebut khawatir.
"Saya harus segera pulang pak, saya gak sanggup bayar biaya rumah sakit nya kalau saya nginap,"balas Sena polos membuat hati polisi tersebut merasa terenyuh.
"Kamu sekolah dan juga kerja?"tanya polisi tersebut penasaran pada kehidupan Sena, apalagi setelah mendengar kalau Sena yatim piatu, dalam pikirannya apakah mungkin gadis yang di depannya ini juga bekerja.
"Iya pak saya juga bekerja."
"Kenapa kamu bekerja nak, kamu kan masih muda,"tanya polisi tersebut bodoh membuat Sena terkekeh.
"Kalau saya tidak kerja bagaimana saya sekolah dan menyambung hidup pak, ini dunia nyata bukan dunia dongeng, yang dimana saya jadi gadis miskin tanpa bekerja dan tiba tiba datang pangeran yang melamar dan membawa saya ke istana, hehe saya ini bukan Cinderella pak makanya saya harus kerja,"jelas Sena santai tanpa ada raut wajah sedih yang tersirat, namun polisi tersebut tahu kalau derita yang di alami Sena pasti sangat lah berat.
Entah penderitaan apa yang kau alami sehingga membuat mu menjadi gadis yang kuat seperti ini, bahkan kamu tidak menangis seperti anak anak lain yang pernah saya temui, bahkan kau baru saja di aniaya orang tapi kau tidak menunjukkan rasa takut mu, mungkin benar kata orang kalau seorang manusia sudah mengalami pahit nya kehidupan ia akan menjadi pribadi yang amat kuat batin polisi tersebut kagum.
"Bapak kok bengong,"tanya Sena melambaikan tangannya di depan wajah polisi tersebut.
"Hah tidak."
"Panggil saja saya pak Danang,"lanjut nya lagi tersenyum ramah.
"Baik pak Danang, panggil saya juga Sena,"balas Sena tersenyum manis menunjukkan deretan giginya.
"Oh ya, saya mau bertanya pada kamu nak, tapi kalau kamu tidak bisa menjawab nya sekarang juga tidak apa apa."
"Bapak mau bertanya tentang kejadian tadi,"tanya Sena yang tahu apa yang pak Danang pikirkan.
"Benar nak."
"Tidak apa apa pak, saya bisa menjawab nya,"jawab Sena tersenyum senang.
"Boleh kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?"tanya pak Danang hati hati.
Sena pun langsung menceritakan apa yang terjadi pada pak Danang dari awal mula Elsa melakukan tindak kekerasan pada nya, yaitu saat Sena pulang nonton bersama Dito, tepatnya disaat hubungannya dengan Dito tepat 3 bulan setengah, Elsa saat itu memukul nya habis habisan, mungkin bila Elsa seorang diri mungkin Sena bisa melawannya, karena Sena adalah tipikal gadis yang pemberani, galak, meskipun polos, tapi saat itu Elsa memukulnya di temani oleh para bodyguard nya, satu yang di tutupi oleh Sena yaitu tentang mama Dito, ia tak menceritakan bahwa Mila ikutan menyiksa nya.
Mendengar cerita dari Sena membuat pak Danang naik pitam, ia sangat marah atas perilaku Elsa yang amat kekanakan, hanya karena di tolak oleh pria yang sudah punya pacar, Elsa berani bermain kasar seperti ini.
"Dan saya memiliki rekaman suara nya pak, saya juga yakin bahwa dokter juga sudah menjelaskan tentang keadaan tubuh saya, itu juga bisa menjadi bukti nya pak,"lanjut Sena memberikan rekaman suara yang di simpan di hp nya, itulah kenapa Sena memilih diam saat di siksa, ia sudah menyiapkan segala bukti dari dulu, tanpa Elsa sadari bahwa Sena selalu tersenyum di akhir siksaan yang di berikan oleh Elsa.
Inilah maksud dari senyuman itu, ia bisa menjebloskan Elsa dengan segala bukti yang ia dapatkan, terkadang seseorang memilih diam disaat dirinya di siksa dan di maki bukan berarti dia lemah karena tidak bisa membalas, boleh jadi ia diam karena sibuk memikirkan bagaimana cara membalas si pelaku tanpa harus mengotori tangan nya sendiri.
Seperti kata orang Arab, seekor unta tidak akan membalas si tuannya yang mencambuk dan menganiaya nya secara langsung, tetapi ia lebih memilih membalas nya disaat pemilik nya sedang lengah dan lalai terhadap sekitar, begitu juga Sena.
"Bagus nak, dengan ini kami bisa menjebloskan wanita itu kedalam penjara dengan hukuman yang berlapis, tapi alangkah baiknya kamu juga harus memiliki saksi mata atas penganiayaan tersebut,"jelas pak Danang membuat Sena berpikir keras.
"Hemm, sedikit rumit yah tapi tidak apa apa jika merujuk pada KUHAP, maka tidak dibatasi minimal usia anak untuk dapat menjadi saksi, hanya saja jika usianya kurang dari 15 tahun, maka boleh diperiksa untuk memberi keterangan tanpa sumpah dan keterangan mereka hanya dipakai sebagai petunjuk saja, anak anak tersebut nantinya akan menambah kemungkinan si pelaku masuk penjara,"jelas pak Danang membuat Sena tersenyum lega.
"Baik pak, saya akan mencari anak anak tersebut untuk menjadi saksi di pengadilan nanti,"balas Sena mantap.
"Emang kamu tahu dimana anak anak itu,"tanya pak Danang bingung.
"Saya tahu sekolah mereka pak."
Sedangkan di sisi lain, Dito sedang berlari terburu-buru dalam rumah sakit, ia segera menuju meja resepsionis untuk menanyakan tentang keberadaan Sena, hatinya sangat gundah ketika mendengar dari bawahan nya Sena pingsan dan di larikan ke rumah sakit.
Dasar bawahan tolol, udah tahu wanita ku jatuh pingsan, kenapa mereka tidak menolong nya batin Dito mengumpat kesal.
Ia mengingat kembali saat bertanya pada bawahannya kenapa mereka tidak menolong Sena, jawaban mereka membuat Dito tersedak ludah.
Karena bos membayar kami hanya untuk merekam saja, bukan untuk menolong gadis itu!
Sungguh Dito ingin memukul bawahan nya itu bila mereka ada di depan Dito sekarang.
Cklek.
"Sena." Pak Danang dan Sena langsung menatap ke arah pintu, Sena tersenyum kecil ketika melihat wajah Dito yang penuh dengan kecemasan, apalagi tampilan Dito yang terlihat berantakan, dengan baju yang basah akibat hujan yang sedang mengguyur kita Jakarta, namun tak dapat di pungkiri bahwa Dito terlihat sangat seksi di mata Sena.
Brukk.
"Kamu tidak apa apa kan Se, mana yang sakit, apakah wanita gila itu menyakitimu lagi,"tanya Dito bertubi-tubi memeluk erat tubuh Sena, setelah itu ia langsung membolak-balik tubu Sena.
"Aduh om tubuh Sena jangan di bolak balik seperti martabak, bikin pusing aja tahu, lagian apa oom tidak malu sama pak polisi yang di belakang om,"kesal Sena membuat Dito tersentak, ia segera melengos kebelakang melihat polisi tersebut.
"Ah, maaf pak karena saya bertindak tidak sopan di depan bapak, dan saya juga mau mengucapkan terimakasih karena sudah membawa pacar saya ke rumah sakit,"ucap Dito tersenyum sopan, membuat pak Danang tersentak.
"Ini pacar kamu nak Sena?"tanya pak Danang menaikkan alisnya.
"Iya pak."
"Saya pikir dia paman kamu,"ucap pak Danang polos membuat Sena tertawa lepas sedangkan Dito langsung berubah menjadi kesal.
**Bersambung.
hai kakak author balik lagi nih...
jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah.
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰❤️**