
“Uhm!”
Kedua mata Zhu Ying perlahan terbuka setelah dua hari lamanya dia duduk melakukan meditasi mendalam.
Zhu Ying merasa kekuatannya telah jauh meningkat dibandingkan sebelumnya dan itu benar-benar kekuatan yang sangat luar biasa.
Begitu kedua matanya terbuka sempurna, Zhu Ying di kejutkan dengan pemandangan Zhou Tian yang sedang bermain dengan dua anak kecil, yang dia perkirakan usianya kurang dari lima tahun.
Zhu Ying bangkit dari tempat duduknya lalu buru-buru menghampiri Zhou Tian yang tersenyum melihat dirinya.
“Gege, siapa mereka?” tanya Zhu Ying pada Zhou Tian.
Dia sangat penasaran dengan dua anak, yang saat ini sedang bermain dengan Zhou Tian, dan entah kenapa dia merasa ada ikatan dengan anak wanita yang sedang memperhatikan wajahnya.
“Ying’er, mereka adalah dua telur yang kita temukan di reruntuhan istana Kaisar Naga. Sebelumnya aku mengira mereka akan terlahir dalam wujud bayi Naga atau bayi Phoenix, tapi mereka justru terlahir sebagai anak-anak.” Zhou Tian menjawab keingintahuan Zhu Ying.
Dia tahu Zhu Ying terkejut setelah mendengar jawabannya, dan reaksi terkejut itu sama seperti dengan yang sebelumnya dia alami.
Itu adalah reaksi yang wajar, bagaimanapun juga sangat aneh rasanya dari sebuah telur justru terlahir dua anak yang sangat lucu.
“Gege, apa benar mereka terlihat dari telur yang kita temukan di reruntuhan istana Kaisar Naga?” Zhu Ying bertanya ingin memastikan.
Zhou Tian menganggukkan kepalanya pela. “Awalnya aku juga sulit percaya kalau mereka berasal dari sebuah telur, tapi nyatanya mereka memang terlahir dari sebuah telur, dan luar biasanya kekuatan mereka saat ini sudah berada di ranah Alam Kaisar tingkat Puncak,” ucapnya.
“Mereka sangat luar biasa,” ucap Zhu Ying lalu dia menghampiri dua anak kecil yang menyambut hangat kedatangannya, terutama si anak wanita yang langsung lompat ke pelukan Zhu Ying.
Dia menyukai keberadaan mereka, begitu juga mereka yang sangat menyukai keberadaan Zhu Ying.
Dengan kekuatan berada di tanah Alam Kaisar tingkat Puncak, keberadaan dua anak yang saat ini berada dalam pelukan Zhu Ying bisa menggemparkan Alam Fana.
Jika banyak orang yang tahu keberadaan mereka, pasti banyak kekuatan di Alam Fan yang mengincar mereka.
Bukan hanya kekuatan dari Alam Fan, kemungkinan mereka yang tinggal di Alam lebih tinggi, mereka akan memperebutkan dua anak yang bahkan saat ini belum memiliki nama.
Namun, dibawah perlindungan Zhou Tian dan Zhu Ying, siapa yang bisa merebut kedua anak itu dari mereka? Bukannya merebut, yang ada orang-orang itu akan mati di tangan Zhou Tian dan Zhu Ying.
Kekuatan keduanya bukan sesuatu yang dapat dilawan oleh seluruh kekuatan, yang berada di Alam Fana. Bahkan kekuatan mereka dapat disetarakan dengan kekuatan utama Alam yang lebih tinggi.
“Apa Gege sudah menentukan nama untuk mereka?” Zhu Ying kembali bertanya pada Zhou Tian.
“Zhou Long dan Zhu Hua, aku rasa kedua nama itu cocok untuk mereka. Akan terapi, kalau kamu tidak menyukainya, kamu bisa menggantinya,” ucap Zhou Tian menjawab pertanyaan Zhu Ying.
“Nama yang bagus, aku menyukainya,” ungkap Zhu Ying sambil menunjukkan senyuman di bibirnya.
Sekarang dia bisa memanggil dua anak kecil itu dengan nama mereka.
Mereka memang masih anak kecil, tapi hanya orang yang bosan hidup, yang berani mengganggu keduanya. Zhou Tian dan Zhu Ying, tentu mereka tidak akan membiarkan ada yang mengganggu mereka.
“Gege, menurutmu apa panggilan yang tepat untuk mereka pada kita? Apa kita akan menjadi orangtua untuk mereka? Untuk menjadi orangtua mereka, aku merasa masih terlalu muda untuk menjadi orangtua,” ucap Zhu Ying.
“Bagaimana kalau kita anggap mereka sebagai adik kita?” usul Zhou Tian yang dirinya juga merasa belum mampu menjadi orangtua di usianya yang lebih muda dua tahun dari Zhu Ying.
Zhu Ying mengangguk setuju dengan usul Zhou Tian.
“Zhou Long, Zhu Hua, mulai sekarang kalian panggil kami kakak!” ucap Zhu Ying sambil tersenyum, sedangkan yang dia panggil hanya menganggukkan kepala mengerti.
Melihat keduanya yang begitu patuh dan mudah mengerti akan suatu hal, Zhou Tian dan Zhu Ying tersenyum senang karena merasa tak akan pernah dibuat repot oleh keduanya.
Membiarkan keduanya bermain di dalam gua yang luas, Zhou Tian dan Zhu Ying hanya mengawasi mereka dari kejauhan sambil menikmati waktu bersantai.
“Ying’er, apa kamu tidak ingin pergi ke Kota Dewa, kota terbesar di Benua Tengah, yang konon katanya juga merupakan kota terbesar di seluruh Alam Fana?” Zhou Tian bertanya sambil menatap wajahnya Zhu Ying.
“Aku hanya akan pergi jika Gege ingin pergi, kalau Gege tidak ingin pergi, aku juga tidak pergi,” jawab Zhu Ying.
“Tempat itu cukup membuatku penasaran, jadi besok kita pergi ke tempat itu! Lagipula, tempat ini tidak terlampau jauh dari Kota Dewa. Cukup setengah hari perjalanan, kita pasti sampai di tempat itu!” ungkap Zhou Tian.
Setelahnya, mereka menghabiskan hari terakhir di gua dengan bermain semalaman bersama Zhou Long dan Zhu Hua, yang tak pernah lelah bermain meski hari sudah larut malam.
...----------------...
Pagi hari, setelah semua mengganti pakaian yang diam-diam Zhou Tian beli dari sistem, semua telah siap melakukan perjalanan ke Kota Dewa, yang mana di kota itu juga berdiri istana Lima Dewa yang merupakan istana tempat berkumpulnya lima pilar kekuatan Alam Fana.
“Melihat penampilan kita saat ini, semua orang pasti mengira kita adalah pasangan suami istri, dan mereka adalah anak-anak kita,” ucap Zhu Ying saat mereka siap melakukan perjalanan ke Kota Dewa.
Meski usia Zhou Tian baru menginjak usia 15 tahun sedangkan Zhu Ying berusia 17 tahun, penampilan mereka terlihat selayaknya pria dan gadis remaja, yang sudah layak menjadi pasangan suami istri.
Namun, paras mereka benar-benar masih terlalu muda untuk memiliki dua orang anak, yang terlihat seperti anak berusia tiga tahun, meski usia asli mereka belum genap tiga hari.
Memastikan semua sudah siap melakukan perjalanan ke Kota Dewa, Zhou Tian yang menggendong Zhou Long sedangkan Zhu Ying menggendong Zhu Hua, keduanya melesat bagaikan kilatan cahaya pergi ke tempat yang menjadi tujuan mereka.
Perjalanan menuju Kota Dewa berjalan lancar, dan tidak sampai setengah hari mereka akhirnya sampai di Kota Dewa, dan sebuah kebetulan mereka datang bersamaan dengan kedatangan rombongan tamu penting istana Lima Dewa.
Rombongan tamu penting istana Lima Dewa bisa langsung memasuki Kota Dewa melalui gerbang khusus, sedangkan rombongan Zhou Tian, mereka ikut mengantre bersama orang-orang yang ingin memasuki Kota Dewa.
“Gege, aura orang-orang di kereta kuda sangat tidak asing,” ucap Zhu Ying setelah kereta rombongan tamu penting istana Lima Dewa melintas di sampingnya, dan tak lama menghilang di balik gerbang yang telah tertutup rapat.
“Jelas itu tidak asing, Zhou Lin, Zhou Gang, Zhu Ning, serta Zhu Rong, mereka berada di dalam kereta kuda terdepan, sedangkan di kereta lain adalah para pelayan mereka.”
Dengan teknik Mata Emas, tak ada yang bisa lolos dari penglihatan Zhou Tian, sekalipun ada dinding tebal yang menghalangi penglihatannya.
“Mereka? Untuk apa mereka datang ke tempat ini, dan lagi bagaimana cara mereka menjadi tamu penting istana Lima Dewa?”
Zhu Ying bingung karena ke-empat saudaranya tiba-tiba muncul di Kota Dewa, dan lagi mereka menjadi tamu penting istana Lima Dewa.
“Aku belum tahu untuk apa mereka berada di tempat ini, tapi untuk mereka yang menjadi tamu penting istana Lima Dewa, sepertinya itu berhubungan dengan terobosan yang waktu itu aku lakukan saat masih di Benua Selatan.” Zhou Tian memberi jawaban yang terasa sangat masuk akal.
Saat Zhu Ying ingin kembali bertanya pada Zhou Tian, tak terasa kini giliran mereka diperiksa prajurit penjara, sebelum nantinya diizinkan masuk ke dalam Kota Dewa.
Kelompok Zhou Tian mudah melewati pemeriksaan, dan setelah membayar biaya masuk sebanyak empat ratus koin emas, mereka dapat memasuki Kota Dewa.
“Kota yang sangat ramai,” ucap Zhu Ying begitu berada di Kota Dewa.
Menurutnya Kota Dewa adalah tempat teramai yang pernah dia singgahi selama berada di Benua Tengah.
“Gege, bagaimana kalau kita lebih dulu menemui mereka sebelum melihat-lihat apa saja yang ada di kota ini?” ujar Zhu Ying.
“Baik, mari temui mereka!” Zhou Tian sudah menandai keberadaan mereka, jadi dia tak perlu repot mencari keberadaan mereka.
Pergi ke bagian utara Kota Dewa, tak lama keduanya sampai di kediaman megah yang dijaga ketat oleh ratusan prajurit.
Selain melihat prajurit berzirah putih, Zhou Tian dan Zhu Ying juga melihat prajurit berzirah merah yang merupakan prajurit Kerajaan Iblis.
Meski penjagaan kediaman sangat ketat, tak sulit bagi Zhou Tian maupun Zhu Ying melewati penjagaan tanpa ada yang mengetahui keberadaan mereka.
Terus berjalan setelah berhasil masuk ke dalam kediaman yang ditinggali rombongan dari Kerajaan Iblis, keduanya yang masih menggendong Zhou Long dan Zhu Hua, mereka langsung saja menuju bagian belakang kediaman.
Saat Zhu Ying ingin langsung menghampiri keempat saudaranya, Zhou Tian cepat mencegah Zhu Ying melakukan apa yang ingin dia lakukan.
“Jangan sekarang! Ada orang asing diantara mereka, dan tak seharusnya kita menunjukkan diri pada orang itu,” bisik Zhou Tian di dekat telinga Zhu Ying.
Zhu Ying menganggukkan kepala mengerti, sedangkan Zhou Tian yang baru selesai berbisik, dia terus saja mengarahkan pandangan pada sosok yang sedang berbicara santai, dengan ke-empat saudaranya.
‘Orang itu, untuk apa dia disini? Dari raut wajahnya, terlihat jelas dia sedang menyimpan kebohongan, aku yakin orang itu memiliki niatan tidak baik pada ke-empat saudaraku!’ ucapnya dalam hati, dan tak sedikitpun dia mengalihkan arah pandangan kedua matanya.
...----------------...
Bersambung.