
Setelah mengakhiri pertemuannya dengan Dewa Agung Song Bei, Zhou Tian membawa ketiga istrinya dan Song Qian berkeliling kota Dewa mencari tempat baru, yang ada di Kota Dewa.
Para saudara Zhou Tian juga ikut jalan-jalan. Zhou Tian tidak ingin membiarkan mereka pergi tanpa dirinya, dikarenakan bisa saja mereka bertemu dengan kedua Dewa ras manusia yang kemungkinan saat ini keduanya sudah ada di Kota Dewa.
Saat melewati sebuah jalanan yang sedikit sepi dibandingkan jalanan lainnya, Zhou Tian dan yang lainnya mendengar suara orang meminta tolong. Para wanita segera saja ingin menolong orang itu, tapi Zhou Tian tegas mencegah mereka pergi. Dia sudah menggunakan teknik mata emas, dan dia tahu jika suara teriakan itu adalah jebakan.
Mereka adalah para perampok, yang sengaja menyiapkan jebakan untuk orang-orang yang baru saja tinggal di Kota Dewa. Meski Song Qian lama tinggal di Kota Dewa, dia yang jarang pergi ke tempat sepi, jelas saja dia tidak tahu tentang jebakan perampok, bahkan dia tidak tahu jika ada keberadaan perampok di Kota Dewa. Selama ini dia hanya tahu jika keadaan Kota Dewa sangat aman, tanpa adanya hal buruk yang terjadi di Kota Dewa.
Zhou Tian memberitahukan apa yang dia lihat pada ketiga istrinya, Song Qian, dan pada ke-empat saudaranya. Setelah mendengar apa yang diberitahukan pada mereka, kini semua tahu alasan kenapa Zhou Tian melarang mereka pergi ke tempat orang yang sampai saat ini terus saja berteriak meminta tolong, seolah-olah dia memang membutuhkan pertolongan.
Zhou Tian segera saja membawa semuacorang pergi melanjutkan perjalanan, tapi belum lama melanjutkan perjalanan, Zhou Tian dengan jelas melihat keberadaan banyak prajurit suci yang sedang menyamar sebagai kuktivstor manusia, yang bukan bagian dari prajurit suci. Mereka dengan baik bisa menyamarkan auranya, dan membohongi banyak orang, tapi mereka sama sekali tidak bisa membohongi Zhou Tian.
Dari dalam kedai makan, muncul dua orang yang auranya sangst mendominasi, tapi tidak sembarangan orang bisa merasakan aura mereka. Zhou Tian yang melihat keduanya, segera saja dia membawa semua orang yang datang bersamanya pergi menjauhi orang-orang itu.
“Gege, kenapa kita justru kembali? Apa ada sesuatu di depan sana?” tanya Zhu Ying bintun, karena Zhou Tian buru-buru membawa mereka kembali ke tempat yang sebelumnya sudah mereka lewati.
Mendengar itu, Zhou Tian terlebih dahulu memastikan keadaan aman, baru dia menceritakan pada mereka kenapa dirinya tiba-tiba membawa mereka kembali ke tempat yang sebelumnya sudah mereka lewati, “Di depan tadi banyak prajurit suci ras manusia yang sedang menyamar, bahkan ada dua sosok yang aku yakini keduanya adalah sosok Dewa ras manusia.”
Zhou Tian sangat yakin jika dua sosok adalah sosok kedua Dewa ras manusia. Keduanya memiliki aura Dewa, selayaknya aura Dewa Iblis yang dimilikinya. Mereka terlihat tidak begitu baik menyembunyikan auranya, sedangkan dirinya bisa menyembunyikan aura Dewa Iblis, dan bisa dipastikan tidak akan ada orang yang bisa melihat aura Dewa Iblis miliknya.
Sementara kenapa waktu itu Dewa Agung Song Bei tahu jika dirinya adalah sosok penerus kekuatan Dewa Iblis, itu karena Zhou Tian secara terang-terangan menunjukkan aura Dewa Iblis, saat dia berada di hadapan Dewa Agung Song Bei.
“Apa dua orang yang memiliki aura sangat kuat, mereka adalah kedua sosok Dewa ras manusia?” tanya Zhu Meili pada Zhou Tian, setelah sebelumnya dia merasakan aura kuat dari dua pria yang keluar dari kesai makan.
Mendengar pertanyaan Zhu Meili, Zhou Tian menganggukkan kepalanya. “Benar, mereka adalah sosok Dewa ras manusia, dan mereka datang untuk melakukan aa yang sudah mereka rencanakan!”
Tentang rencana yang dimaksud Zhou Tian, mereka semua telah mengetahuinya, dikarenakan sebelum pergi jalan-jalan, Zhou Tian telah menceritakan semua rencana kesua Dewa ras manusia pada mereka.
Setelah mengetahui keberadaan kedua Dewa ras manusia dan banyaknya prajurit suci ras manusia yang menyamar, mereka semua memutuskan kembali ke Istana Dewa Agung, tepatnya ke kediaman Song Qian.
Rasanya tidak aman jika berkeliling di Kota Dewa, selama di Kota Dewa ada kedua Dewa ras manusia dan prajurit suci ras manusia yang sedang menyamar. Selama ada Zhou Tian, keamanan mereka senantiasa terjamin, tapi jika mereka pergi tanpa Zhou Tian, bisa dipastikan bahaya senantiasa mengintai mereka.
Memperketat penjagaan di kediaman Song Qian, Zhou Tian tidak ingin ada prajurit suci ras manusia yang berhasil memasuki kediaman Song Qian. ‘Jika mereka bersikeras masuk ke kediaman ini, aku tidak akan sungkan langsung melenyapkan mereka!’ batin Zhou Tian, dan untuk membuat kediaman Song Qian semakin aman, dia memutuskan membuat formasi array pelindung, yang mencegah orang dengan niatan buruk memasuki kediaman Song Qian.
Selesai membuat formasi array, Zhou Tian memutuskan pergi meninggalkan kediaman Song Qian. Dia sudah pamit pada semua orang jika dirinya akan pergi mengintai pergerakan kedua Dewa ras manusia dan prajurit suci ras manusia. Dia tidak akan menyerang mereka, karena keberadaannya hanya untuk mengintai pergerakan mereka.
Pergi ke Kota Dewa, Zhou Tian mencari-cari keberadaan Shang Boqin dan Shang Bolin. Tidak sulit baginya menemukan keberadaan mereka, dikarenakan saat ini keduanya sedang melakukan perjalanan mendekati Istana Dewa Agung.
Zhou Tian terus saja mengawasi pergerakan mereka dari ketinggian langit. Dia menyembunyikan aura kekuatan serta hawa keberadaannya, sehingga orang-orang akan sangat kesulitan menemukan keberadaannya. Sebenarnya orang-orang bisa dengan mudah melihat keberadaan Zhou Tian secara langsung, tapi mereka jarang melihat sesuatu secara langsung, dikarenakan mereka lebih tertarik melihat sesuatu yang memancarkan aura kuat, serta memiliki hawa keberadaan yang kental.
Mengikuti dan mengawasi pergerakan musuh dari kejauhan, Zhou Tian sama sekali tidak melepaskan perhatiannya pada kedua Dewa ras manusia. Namun, kedua Dewa itu pergi memisahkan diri saat hampir sampai di Istana Dewa Agung. “Satu orang akan pergi membuat kekacauan, sedangkan satunya pergi melakukan penculikan, sungguh mereka telah merencanakan semuanya dengan sangat baik!” ucap pelan Zhou Tian.
Menggunakan teknik membelah diri yang belum lama ini dikuasainya, Luo Feng membelah dirinya menjadi dua.
Dikarenakan membelah diri menjadi dua, kekuatan Zhou Tian turun satu tingkat, yang mana kini dia hanya memiliki kekuatan di ranah Dewa Agung tingkat Puncak. Meski mengalami penurunan kekuatan, saat menggunakan kekuatan penuh, masing-masing bagian tubuh Zhou Tian bisa mengimbangi kekuatan salah satu Dewa ras manusia.
Kedua tubuh Zhou Tian segera pergi ke dua arah yang berbeda, mengikuti kedua Dewa ras manusia yang memiliki tujuan masing-masing. Satu dari mereka pergi menuju gerbang Istana Dewa Iblis bersama lima ribu prajurit suci ras manusia yang menyamar. Sedangkan satu dari mereka langsung saja pergi ke sisi benteng Istana Dewa Agung yang dekat dengan kediaman Dewa Agung Song Bei.
Sambil mengikuti mereka, Zhou Tian mengirim pesan jiwa pada Dewa Agung Song Bei. Dia memberitahu posisi salah satu Dewa raa manusia, yang berada di dekat kediamannya. Sedangkan untuk Dewa ras manusia yang akan membuat kekacauan di gerbang utama Istana Dewa Agung, dia sudah berada di tempatnya, dan saat ini sedang menunggu waktu yang tepat untuk membuat kekacauan.
Di kediaman Dewa Agung Song Bei, setelah menerima pesan jiwa dari Zhou Tian, Dewa Agung Song Bei segera mencoba merasakan keberadaan aura Dewa ras manusia di sekitar kediamannya. Dia fokus mencari keberadaan aura Dewa ras manusia, dan tidak lama mencari dia berhasil menemukan apa yang di cari. Benar saja, di dekat kediamannya dia menemukan aura salah satu Dewa ras manusia.
Merasa aura salah satu Dewa ras manusia membuat Dewa Agung Song Bei semakin yakindeng informasi yang diberikan Zhou Tian padanya. Kebenaran informasi itu sudah bisa dipastikan dan semua itu benar-benar membuatnya tidak menyangka jika kedua Dewa ras manusia akan memanfaatkan dirinya, demi tercapainya rencana mereka.
Mengetahui makan ini bahaya akan mendatanginya, Dewa Agung Song Bei mengikuti apa yang sudah direncanakan Zhou Tian. “Aku sungguh tidak sabar menanti datangnya malam, dan melihat pertunjukan yang akan tersaji di kamarku!” ucapnya, dan dia terkekeh pelan.
......................
Sore hari di Kota Dewa.
Zhou Tian masih mengikuti dan mengawasi setiap pergerakan yang dilakukan oleh kedua Dewa ras manusia. Keduanya sedari tadi tissk melakukan apa-apa, dan sepertinya mereka saat ini sedang menunggu tengah malam, yang di anggap sebagai waktu yang tepat memulai rencana mereka.
Cukup bosan rasanya mengawas mereka yang tidak melakukan apa-apa. Kalau tidak demi suksesnya rencana yang suda dia susum bersama Dewa Agung Song Bei, daripada menunggu seperti ini, Zhou Tian merasa lebih baik langsung menyerang musuh yang ada di depan kedua matanya.
Bosan berasa di ketinggian langit, Zhou Tian menyelinap kedalam rumah kosong, yang kebetulan mengarah ke tempat persembunyian Shang Boqin. Di tempat lain, Zhou Tian yang lainnya, dia mengawasi Shang Bolin dari balik rimbunnya pepohonan.
“Mereka belum mengira jika rencananya sudah diketahui, dan sebenarnya merekalah yang saat ini masuk dalam rencana yang sudah aku persiapkan bersama Dewa Agung Song Bei,” ucap pelan Zhou Tian yang masih menyembunyikan diri di balik rimbunnya daun pohon, berjarak ratusan meter dari tempat persembunyian Shang Bolin dan prajurit suci yang mendampinginya.
Sore pun berganti senjata, dan indahnya senjata segera berganti dengan malam yang gelap. Meski sudah malam, belum terlihat adanya pergerakan yang dilakukan oleh kedua Dewa ras manusia. Melihat mereka yang belum bergerak, Zhou Tian benar-benar yakin jika mereka menunggu datangnya tengah malam, berharap banyak penjaga Istana Dewa Agung tertidur saat malam.
Dengan menyabarkan diri menunggu pergerakan Shang Boqin dan Shang Bolin, kedua sosok Zhou Tian tetap berdiam diri di tempat persembunyian masing-masing. “Sbentar lagi tengah malam, dan pertunjukkan yang sebenarnya akan segera dimulai!” gumam Zhou Tian, dan dia tidak enggan menunjukkan senyuman lebar di wajahnya.
Sementara itu, di kediaman Dewa Agung, saat ini Dewa Agung Song Bei mulai mengawasi pergerakan salah satu Dewa ras manusia, yang auranya dapat dirasakan dari tempatnya saat ini. “Dia benar-benar tidak melakukan pergerakan sendiri tadi, dan sepertinya dia baru akan bergerak saat tiba waktu tengah malam, dan semua itu persis seperti informasi yang diberikan calon menantuku!” ucap pelan Dewa Agung Song Bei.
“Tuanku, apa tidak sebaiknya kita langs menangkapnya, dan menganggap keberadaannya adalah tantangan langsung perang terbuka yang diberikan ras manusia pada ras Dewa!” ucap Song Hiu, yang merupakan salah satu wakil Dewa ras Dewa.
Dewa Agung Song Bei cepat menggelengkan kepala mendengar apa yang dikatakan salah satu wakilnya, lalu dia bicara, “Jika kita melakukan itu, kita hanya akan menghancurkan rencana yang sudah aku buat dengan calon menantuku!”
“Kalau saya boleh tahu, sebenarnya apa yang telah Tuan rencanakan dengan Tuan Muda Zhou Tian?” tanya Song Hiu penasaran dengan rencana mereka.
“Aku dan Zhou Tian berencana membiarkan mereka menyelesaikan rencananya dengan mencekikku, tapi itu bukan diriku yang sebenarnya, melainkan hanya tubuh bayanganku. Zhou Tian telah memberikan sebuah cincin pada tubuh bayanganku, yang mana cincin itu dapat membuat tubuh bayangan terlihat selayaknya tubuh asli, sehingga mereka tidak akan curiga jika yang mereka culik adalah tubuh bayangan,” ucap Dewa Agung Song Bei menjelaskan rencana yang sudah dia susun bersama Zhou Tian.
“Lalu, setelahnya apa yang akan kita lakukan, setelah mereka masih dalam rencana penjebakan?” kembali Song Hui bertanya.
“Kita akan mengabaikan setiap ancaman dari kedua Dewa ras manusia, sampai pada akhirnya mereka membunuh tubuh bayangan yang mereka anggap sebagai tubuh asliku!” jawab Dewa Agung Song Bei.
“Sungguh rencana yang sangat katang, dan saya tidak bisa membayangkan seperti apa rasa malu mereka begitu tahu jika yang berhasil diculik hanyalah tubuh bayangan, yang tentunya tidak ada gunanya!” ucap Song Hui dan dia tersenyum senang.
Dewa Agung Song Bei menganggukkan pelan kepalanya setelah mendengar semua itu, “Sebentar lagi tengah malam, dan sepertinya kereka akan segera bergerak!” ucap Dewa Agung Song Bei.
Di tempat kedua sosok Zhou Tian yang sedang mengawasi pergerakan kedua Dewa ras manusia, dia kembali fokus pada apa yang sedang dia perhatikan. “Ini sudah mendekati waktu tengah malam, dan sepertinya mereka tidak lama lagi akan mulai bergerak!” ucap Zhou Tian yang menyembunyikan keberadaan di rumah kosong, yang masih cukup terawat, menunjukkan jika rumah itu sebenarnya bukan rumah yang sepenuhnya kosong, melainkan rumah yang sedang ditinggal penghuninya.
Sementara sosok Zhou Tian yang berada di balik rimbunnya daun pepohonan, dia mulai melakukan pergerakan, saat melihat Shang Bolin memanjat benteng Istana Dewa Agung, dan begitu berhati-hati memasuki Istana Dewa Agung.
“Berpura-pura menjadi pemangsa, ternyata mereka hanyalah sekumpulan orang bodoh, yang tidak sadar jika telah masuk dalam jebakan,” gumam Zhou Tian, lalu dia segera menyusu masuk kedalam Istana Dewa Agung, mencari keberadaan Shang Bolin.
Di depan gerbang Istana Dewa Agung, kekacauan terjadi di tempat itu saat Shang Boqin dan ribuan prajurit suci ras manusia mulai membuat kekacauan. Mereka tidak menyerang prajurit penjaga yang menjaga Istana Dewa Agung, melainkan mereka pura-pura berkelahi, seolah mereka berasa dalam pengaruh buruk minuman memabukkan.
“Cara yang sangat konyol, tapi jika aku tidak tahu sedari awal tentang rencana mereka, bisa dipastikan mereka bakalan berhasil dengan apa yang direncanakan!” gumam Zhou Tian, dan dia terus saja memperhatikan keributan di depan gerbang Istana Dewa Agung.
......................
Bersambung.