Sistem Dewa Iblis

Sistem Dewa Iblis
Pelayanan Pagi


Keesokan harinya di kediaman Song Qian.


Zhou Tian yang malam ini tidur sorang diri karena ketiga istrinya memilih tidur bersama Song Qian, pagi ini dia bangun saat sinar matahari mengenai wajahnya, melalui celah sempit jendela kamarnya.


Dia bangkit berdiri lalu berjalan menuju kolam pemandian yang menyatu dengan kamarnya, dengan hanya dibatasi sebuah dinding.


“Rasanya sangat nyaman saat merendam seluruh bagian tubuh ke dalam air yang dingin,” gumamnya yang sudah merendam seluruh bagian tubuhnya di dalam air.


Air yang dingin justru membuat Zhou Tian betah berlama-lama di dalam kolam pemandian. Menyandarkan tubuh ke tepian kolam, dengan mata terpejam Luo Feng benar-benar menikmati waktu bergantinya, dan untuk sesaat dia tidak perlu memikirkan permasalahan yang ke depannya harus segera dia selesaikan.


Cukup lama berendam, Zhou Tian bisa merasakan seseorang datang dan langsung saja ikut berendam di dalam kolam pemandian yang sama dengannya, bahkan kini dia bisa merasakan seseorang yang baru datang sedang menyatukan sesuatu di bawah sana dengan miliknya.


Zhou Tian tahu siapa yang melakukannya, dia adalah seorang wanita dan salah satu istrinya. Zhu Ying, orang itu adalah dia, dan saat ini dia sedang bersemangat memberikan pelayanan pagi pada suaminya. Beruntung Zhou Tian sempat membuat formasi array yang membuat suara mereka tidak terdengar dari luar, jadi Zhu Ying bebas mengeluarkan suaranya saat dia bergerak liar di atas pangkuan Zhou Tian.


Zhou Tian dan Zhu Ying terus melakukannya, sampai akhirnya mereka sama-sama puas, dan setelahnya mereka mandi bersama dengan bergantian menggosok punggung satu sama lain.


......................


Setelah samasa bersih keduanya bersama-sama keluar dari kolam pemandian, dan bersama-sama mereka berjalan ke kamar untuk berganti pakaian. Zhou Tian mengeluarkan pakaian berwarna putih dari cincin penyimpanannya, begitu juga dengan Zhu Ying yang mengeluarkan pakaian dengan warna senada seperti yang saat ini dipakai Zhou Tian.


Selesai memakai pakaian, Zhou Tian masih sempat mendaratkan ciuman lebut di bibir Zhu Ying, dan mungkin naluri setiap pria, tangan Zhou Tian tidak bisa diam saat bibirnya sedang mencium bibir mungil Zhu Ying.


Tangan kanan Zhou Tian menyusup ke dalam pakaian Zhu Ying, dan dengan mudah ia menggapai bukit kenyal milik Zhu Ying dan sedikit meremas nya. Remasan yang dilakukan Zhou Tian tidak kasar, dan itu justru terasa nikmat bagi Zhu Ying.


Namun mereka tidak bisa melanjutkannya sampai adegan penyatuan, dikarenakan mereka sama-sama bisa merasakan tiga wanita bergerak bersama-sama mendekat tempat mereka. Keduanya segera merapikan penampilan masing-masing, dan bersiap menyambut mereka yang tidak lama lagi bakalan datang.


Tidak lama setelah mereka bersiap, Zhu Meili, Shen Yiren, dan Sing Qian datang. Mereka mengetuj pintu kamar Zhou Tian, dan setelah mendapat izin masuk dari Zhou Tian, mereka segera masuk dan tidak ada keterkejutan saat mereka melihat Zhu Ying yang sudah berada di kamar Zhou Tian. Zhu Meili dan Shen Yiren tahu jika Zhu Ying paling tidak bisa dijauhkan dari Zhou Tian, dan pagi-pagi dia sudah pergi ke kamar Zhou Tian.


Ditambah melihat wajah Zhu Ying yang memerah dan terlihat gelisah, Zhu Meili dan Shen Yiren hanya bisa menahan senyum mereka, dikare keduanya yakin, jika mereka datang di waktu kurang tepat, dan meski mereka ingin tersenyum, tapi dalam hati mereka sedikit merasa bersalah karena datang di waktu tidak tepat.


Untuk menebus kesalahan mereka, malam ini mereka akan membiarkan Zhu Ying bermalam dengan Zhou Tian, sedangkan mereka akan kembali bermalam dengan Song Qian. Keduanya merasa itu cukup untuk menebus rasa bersalah yang saat ini mereka rasakan, dan mereka berharap malam ini Zhu Ying bisa menuntaskan apa yang sebelumnya belum dia tuntaskan bersama Zhou Tian.


Mereka sudah memiliki cara untuk menebus kesalahan pada Zhu Ying, tapi untuk sekarang mereka ingin menghibur Zhu Ying dengan membawanya pergi jalan-jalan, tentu mereka akan mengajak Zhou Tian pergi jalan-jalan bersama mereka.


Setelah Zhu Ying dan Zhou Tian setuju jalan-jalan di Kota Dewa bersama mereka bertiga, sebelum pergi mereka terlebih dahulu menyempatkan diri sarapan bersama, meski sebenarnya sebagai seorang kuktivator mereka tidak membutuhkan asupan makanan, dikarenakan mereka bisa membuat perut kenyang dengan energi spiritual.


Namun, lidah mereka tetap saja ingin menikmati nikmatnya makanan dan minuman, oleh karena itu mereka bergegas ke ruang makan untuk menikmati makan pagi bersama.


Zhou Tian menatap ke-empat wanita dengan wajah yang sama persis saat mereka semua sudah duduk di ruang makan kediaman Song Qian. “Apa kalian sengaja menyembunyikan aura kekuatan, untuk membuat orang-orang bingung membedakan identitas kalian?” tanya Zhou Tian sebelum para pelayan datang menyajikan makanan dan minuman.


“Gege, apa kamu bisa membedakan siapa kami?” tanya Shen Yiren yang ingin memastikan jika Zhou Tian tetap mengetahui siapa-siapa mereka, sekalipun mereka berpenampilan sama dan menyembunyikan aura yang membedakan mereka.


Zhou Tian yang mendengar itu, dia menganggukkan kepala, lalu dia menunjukan mereka satu-persatu sambil menyebutkan nama yang ditunjuknya.


Tidak ada yang salah dari nama yang disebutkan oleh Zhou Tian, dan itu menunjukkan jika dia tetap bisa membedakan identitas mereka, sekalipun mereka berpenampilan sama dan menyembunyikan aura masing-masing. Zhou Tian tidak perlu menggunakan teknik mata emas untuk membedakan mereka.


Dia sudah memiliki ikatan dengan Zhu Ying, Zhu Meili, dan Shen Yiren. Ikatan itu membuatnya senantiasa bisa membedakan mereka. Sedangkan bagaimana dia bisa tahu yang mana sosok Song Qian, itu mudah saja. Dari mereka semua hanya satu orang yang tidak memiliki ikatan dengannya, dan bisa dipastikan sosok itu adalah Song Qian.


Setelah mendengar jawaban Zhou Tian, mereka mulai menikmati makan pagi bersama karena para pelayan telah selesai menyajikan makanan serta minuman di meja makan.


Para wanita bergantian melayani apa saja yang ingin dimakan Zhou Tian, termasuk Song Qian. Tidak lama kemudian seluruh makanan mereka telah habis, dan setelah sejenak istirahat di tempat duduk masing-masing setelah makan, sekarang mereka telah siap menikmati keindahan Kota Dewa.


Keluar dari kediaman Song Qian, Zhou Lin, Zhu Ning, Zhou Gang, serta Zhu Rong, mereka terlihat sudah menunggu kedatangan Zhou Tian dan yang lainnya, dan jadilah ketiga pria mengawal para wanita berjalan-jalan di Kota Dewa.


Keadaan Kota Dewa terlihat sedikit lebih sepi dibandingkan saat berlangsungnya kompetisi Istana Agung, yang mana kompetisi itu berhasil dimenangkan Zhou Tian, meski dia tidak mengikuti kompetisi sampai putaran akhir.


Bagaimana mungkin kompetisi bisa sampai putaran akhir, sementara para peserta tidak ada yang berani melawan Zhou Tian? Para peserta dan para penonton akhirnya memilih sepakat menunjuk Zhou Tian sebagai pemenang kompetisi, dan saat itu juga kompetisi berakhir.


Zhou Tian yang berjalan di belakang para wanita yang begitu menikmati kebersamaan mereka, dia bisa melihat keberadaan manusia yang menatap benci pada keberadaannya, tapi dia mengacuhkan mereka, dikarenakan mereka tidak akan berani berbuat macam-macam selama berasa di Kota Dewa.


Akan tetapi, sepertinya tidak seluruh manusia itu pintar, dan bisa menahan diri saat mereka berada di tempat yang terdapat larangan keras melakukan pertarungan.


Pasalnya, terlihat empat pria maju lebih dulu menyerang Zhou Tian. Peraturan Kota Dewa adalah melarang seseorang menyerang orang lain, sekalipun di luar sana orang yang diserang adalah musuhnya. Namun, mereka yang diserang terbebas dari hukum, dan dia bebas melakukan apapun pada mereka yang menyerangnya.


Mengingat semua itu, Zhou Tian tidak ragu melawan empat pria yang menyerangnya dari empat arah berbeda. Dia tidak dalam posisi salah, dan tidak ada hukum yang berlaku untuknya sekalipun dia membunuh ke-empat manusia yang menyerangnya.


Di sisi lain, para prajurit ras Dewa yang melihat empat sosok manusia menyerang Zhou Tian, mereka hanya menggelengkan kepala, dan tidak sabar kematian seperti apa yang akan menimpa empat manusia, yang menurut mereka keempatnya adalah sosok manusia yang sangat bodoh.


“Menyerang lawan yang mustahil mereka kalahkan, itu menunjukkan jika keberadaan manusia semakin hati semakin bodoh!” ucap salah satu prajurit ras Dewa yang berjaga di Kota Dewa.


Rekannya menganggukkan kepala setuju dengan ucapannya. “Manusia memang sekamin bodoh, tapi mereka tetaplah yang terkuat!” ucap prajurit lainnya, dan tidak ada yang salah dengan ucapannya.


Nyatanya manusia memang semakin hari semakin bodoh, tapi mereka tetap menjadi ras terkuat dengan adanya kedua Dewa ras manusia.


......................


Bersambung.