
Zhou Tian yang tidak ingin terlalu lama menghabiskan waktu bersama para orang tua yang datang untuk menuntut kematian Guan Juzi, ia sesegera mungkin ingin melenyapkan nyawa mereka.
“Beraninya membunuh istriku, kau harus mati!” Menelan sebuah pil yang membuat kekuatannya meningkatkat, pria tua yang istrinya mati di tangan Zhou Tian, menggunakan aura kekuatannya ia mencari keberadaan Zhou Tian.
Menemukan keberadaan Zhou Tian, ia yang sekarang memiliki kekuatan di ranah Raja Dewa tingkat Awal, dengan secepat kilat ia menyerang Zhou Tian menggunakan pedang besar di tangannya.
Sadar keberadaannya telah diketahui dan merasakan kekuatan orang yang menyerangnya, kembali ia menggunakan kekuatan Tubuh Dewa miliknya, dan dengan mudahnya ia menghalau serangan lawan menggunakan pedang Naga Kegelapan yang setelah sekian lama disimpan, akhirnya kembali ia gunakan.
Zhou Tian melihat ekspresi terkejut dari lawannya saat serangannya berhasil di tahan, bahkan sekarang terlihat ia mulai tertekan oleh aura kekuatan yang dikeluarkan Zhou Tian. “Pil yang kamu telan hanya bisa membuatmu kuat dalam beberapa waktu, sedangkan aku, aku bebas menggunakan kekuatanku tanpa ada batas waktu penggunaan. Sungguh sekumpulan orang tua lemah yang menginginkan kekuatan, tapi tidak lagi ingin bekerja keras!” ucap Zhou Tian menyindir lawannya.
Berhasil menahan serangan lawannya, kini giliran ia yang menyerang. Membunuh lawan yang menyerangnya tidak sulit untuk dilakukan, tapi saat ia ingin menyerang, ia sadar serangan dari arah belakang, dan dengan gerakan sangat cepat ia berhasil menghindari serangan bertubi-tubi dari tiga orang yang menyerang bersamaan.
Ketiganya terus menyerang Zhou Tian meski serangan awal mereka berhasil dihindari dengan mudahnya. Mereka menggunakan tombak dan pedang untuk menyerang, membuat Zhou Tian harus pintar menjaga jarak karena jangkauan serangan tombak tentu jauh lebih jauh dibandingkan jangkauan serangan pedang di tangannya.
“Hahahaha... kau memang bisa membunuh cucu kami dan salah satu saudari kami, tapi kau pada akhirnya akan mati di tangan kami!” ucap kakek Guan Juzi, satu dari tiga orang yang saat ini menyerang Zhou Tian.
Zhou Tian yang mendengarnya hanya diam tidak ingin membalas, dan ia masih saja terlihat tenang meski dihadapkan pada lawan yang tidak mudah dikalahkan.
Tidak mendapatkan tanggapan dari Zhou Tian, kakek Guan Juzi merasa pembunuh cucunya sudah pasrah menerima kematian, dikarenakan ia tidak mungkin melawan banyak lawan yang kekuatannya setara dengan Guan Juzi.
“Sebaiknya kamu bunuh diri kamu sendiri, daripada mati di tangan kami, tapi tentunya setelah menerima siksaan beberapa hari dari kami!” ucap kakek Guan Juzi dan ia tertawa meremehkan Zhou Tian.
“Oh, jika aku tidak ingin mati bunuh diri atau mati di tangan kalian, apa kalian tetap ingin memberi kematian padaku?” tanya Zhou Tian yang masih begitu tenang.
Seketika aura kuat yang berasal dari sembilan orang menekan Zhou Tian, bersamaan dengan niat membunuh yang begitu kuat, bahkan aura itu bisa langsung membunuh kultivator di bawah ranah Dewa Bumi.
Zhou Tian menatap bergantian sembilan orang tua, lalu ia menunjukkan senyuman tipis memberitahu mereka, jika aura mereka sama sekali tidak berpengaruh padanya. “Kalian semua telah mengkonsumsi pil yang sama, dan sekarang kalian sama-sama berada di ranah Raja Dewa tingkat Awal. Akan tetapi, apa kalian pikir kekuatan itu cukup untuk membunuhku? Aku rasa itu belum cukup!”
Swush...
Booomm...
Ledakan aura Zhou Tian membuat kesembilan orang tua merasakan sedikit tekanan, dan tekanan itu menunjukkan kalau kekuatan lawan mereka lebih kuat, dibandingkan kekuatan yang mereka miliki.
Jika kekuatan mereka saat ini berada di tingkat Awal ranah Raja Dewa, setidaknya lawan mereka berada di tingkat Menengah atau tingkat Puncak ranah Raja Dewa.
Menghadapi lawan yang lebih kuat, mereka yakin dapat mengalahkannya dengan jumlah yang mereka miliki, tapi kalau saja mereka tahu kekuatan Zhou Tian jauh lebih kuat saat ia menggunakan pedang Naga Kegelapan, mereka pasti tidak akan memiliki keyakinan dapat mengalahkan Zhou Tian.
Menyatukan kekuatan, mereka berhasil membebaskan diri dari tekanan aura kekuatan Zhou Tian, dan setelahnya mereka segera melesat maju menyerang lawan yang sama. Lawan mereka adalah Zhou Tian, dan tujuan mereka adalah membunuhnya.
Bersama-sama menyerang, mereka yakin dapat melukai Zhou Tian, tapi keyakinan mereka tidak pernah terwujud saat dengan mudahnya Zhou Tian menghalau dan menghindari serangan mereka. Terlihat ia tidak mengalami kesulitan saat menghalau ataupun saat menghindari serangan mereka.
Tidak ada kata menyerah di kamus mereka. Saat serangan awal gagal, mereka melakukan serangan selanjutnya, dan terus saja menyerang Zhou Tian. Namun, berapa kalipun mereka menyerang, hasilnya sama saja, mereka gagal melukai Zhou Tuan, dan justru mereka yang sekarang mulai mengalami kelelahan.
Sedangkan Zhou Tian yang sejak tadi hanya menghindar dan menghalau serangan lawan-lawannya, ia masih terlihat segar bugar, tidak sedikitpun terlihat kelelahan sekalipun lawannya adalah sembilan orang kuat.
Mengetahui lawannya mulai kelelahan, Zhou Tian merasa sekarang saatnya membalas serangan mereka. Menggenggam erat pedang Naga Kegelapan di tangannya, ia bersiap melakukan serangan, dan lawannya sadar jika ia akan menyerang. “Semoga kalian masih punya kekuatan lebih untuk menahan kekuatanku!” ujarnya.
Kesembilan orang tua tidak peduli dengan ucapan Zhou Tian, mereka hanya saling lirik satu sama lain, dan bersiap menghadapi serangan Zhou Tian.
Zhou Tian menarik napas panjang, dan bersamaan dia menghembuskan napas keluar, sosoknya menghilang begitu saja, begitu juga dengan aura kekuatannya, tapi semua orang bisa merasakan bahaya menghantui mereka, dan itu adalah bahaya yang membahayakan nyawa mereka.
Seketika mereka melihat ke atas, dan ternyata sosok Zhou Tian ada di tempat itu, tapi tidak lama kemudian ia menghilang, dan tidak lama terdengar erangan kesakitan dari pria tua yang entah sejak kapan ia telah kehilangan kedua tangannya, membuat senjata di tangannya terlepas begitu saja.
Saat mereka kehilangan fokus akibat salah satu dari mereka terluka, semua harus dibayar mahal oleh mereka, karena dua orang di tempat terjauh mati dengan kepala menggelinding, dan sosok Zhou Tian sekarang berada di dekat dua orang yang telah menjadi mayat.
“Tiga orang tumbang, dan sebentar lagi kalian akan menyusul mereka!” Tanpa menunggu balasan dari lawannya, sosok Zhou Tian kembali menghilang mencari titik lemah musuh.
Selain titik lemah, ia juga mengincar lengannya musuh, dan sebenarnya ia bukan menghilang melainkan bergerak sangat cepat sehingga orang-orang melihatnya seolah ia menghilang, padahal nyatanya ia tidak pernah menghilang.
Enam orang yang masih siap melawan Zhou Tian, mereka kewalahan mencari keberadaan musuh yang keberadaannya tidak bisa mereka deteksi, dan tiap kali mereka sedikit saja lengah, ada saja diantara mereka yang secara tiba-tiba mendapatkan serangan.
Melihat ketujuh musuhnya yang masih hidup mengalami luka yang tidak ringan, Zhou Tian memutuskan menunjukkan keberadaannya pada mereka, dan ia sekarang menyerang tanpa menghilangkan keberadaannya.
“Lawan aku dengan seluruh kekuatan yang kalian miliki!” ucap Zhou Tian dan ia mengayunkan pedang di tangannya menyerang lawannya.
“Saat ini aku tidak menggunakan teknik pedang apapun, tapi nyatanya permainan pedangku masih lebih baik dibandingkan teknik pedang kalian!”
Kembali dihina oleh sosok pemuda yang menjadi lawan mereka, enam orang yang masih bisa bertarung, tanpa ampun mereka bersama-sama menyerang Zhou Tian.
Pedang bertemu pedang, dan tombak yang memiliki jangkauan lebih jauh dari pedang sama sekali tidak bisa menjangkau Zhou Tian. Banyak luka yang sudah menghiasi tubuh mereka, berbanding terbalik dengan Zhou Tian yang sedikitpun tidak terluka.
Aaaaaaargh...
Teriakan kesakitan terdengar saat dua wanita tua kehilangan tangan, setelah Zhou Tian memotong tangan mereka. Tidak berhenti sampai di situ, Zhou Tian yang terus menyerang akhirnya mengakhiri hidup dua wanita tua, yang ia ketahuilah semasa hidupnya, mereka adalah para wanita yang sering memakan daging anak-anak iblis, dan mereka memakannya hampir setiap hari.
Dengan kekuatan teknik mata emas yang bisa melihat masa lalu seseorang hanya dengan melihat kedua bola mata orang itu, tidak sulit bagi Zhou Tian melihat masa lalu mereka, dan ia menemukan masa lalu mereka yang ternyata sangatlah kejam.
“Kalian memang pantas mati!” Kembali berhasil membunuh dua lawannya, kini hanya tersisa empat orang yang benar-benar masih bisa memberi perlawanan padanya, sedangkan salah satu dari mereka masih mencoba menumbuhkan lengan tangannya yang patah.
Akan tetapi, belum juga sempat menumbuhkan lengan tangannya, Zhou Tian lebih dulu datang menyerangnya, dan ia akhirnya mati dengan tubuh terpotong-potong dengan ukuran kecil.
Empat orang yang tersisa, sekarang mereka benar-benar takut pada sosok Zhou Tian, dan bermaksud pergi melarikan diri, tapi sayangnya mereka tidak bisa pergi melarikan diri karena sudah ada formasi array yang mengubci pergerakan meraka.
Mereka yang berada di dalam formasi array, meraka sudah tidak memiliki harapan pergi melarikan diri. Jika ingin pergi, meraka harus lebih dulu mengalahkan Zhou Tian, tapi jelas itu tidak bisa mereka lakukan karena kekuatan Zhou Tian terlalu besar untuk mereka lawan.
Sekarang mereka tiba-tiba saja menyesal karena mencari pembunuh cucu mereka, bermaksud membalaskan dendam kematian cucu mereka. Namun, bukan hanya gagal membalaskan dendam kematian cucu mereka, tapi mereka terancam musnah di tangan pemuda yang sebelumnya sudah membunuh cucuk mereka.
Sebelumnya mereka yakin dapat mengalahkan pemuda yang membunuh cucu mereka, terlebih kekuatan mereka yang sangat kuat, ditambah mereka bersepuluh, sedangkan lawan mereka hanya seorang diri.
Swuuush...
Sosok Zhou Tian muncul di depan empat orang tua yang merupakan musuhnya, dan tanpa dosa ia menunjukkan senyuman di wajahnya pada mereka.
“Sekarat tentukan, siapa diantara kalian yang ingin mati lebih dulu, dan siapa yang ingin mati paling akhir! Aku beri waktu kalian berpikir sampai matahari terbenam, dan jika tidak ada jawaban, terpaksa aku menentukan sendiri siapa yang lebih dulu mati, atau sekalian saja kalian berempat mati bersamaan!” ujar Zhou Tian sambil menyeringai kejam.
...----------------...
Bersambung.