
Setelah berhasil menghindari serangan empat orang yang menginginkan kematiannya, kini giliran Zhou Tian yang menyerang mereka, dan hanya melambaikan tangan kirinya, ia merubah seluruh lawannya menjadi abu.
Ke-empat lawannya benar-benar berubah menjadi abu, dan itu mengejutkan semua orang yang melihat ke arahnya. Sekarang kereka tahu jika sosok yang sebelumnya mereka lihat di atas arena kompetisi hanyalah sosok yang sedang bermain-main, dan tidak akan sulit baginya membunuh semua orang yang ikut kompetisi jika dia bertarung dengan serius.
Empat orang yang baru saja mati di tangan Zhou Tian bukanlah sosok lemah. Mereka memiliki kekuatan di ranah Raja Dewa Surgawi tingkat Puncak, satu tingkat lebih kuat dari kekuatan sejati yang dimiliki Zhou Tian.
Namun semua orang bisa melihat jika Zhou Tian tanpa kesulitan berhasil mengalahkan mereka, bahkan mereka kalah hanya dengan lambaian tangan.
Sebenarnya Zhou Tian bukan sekedar melambaikan tangan, tapi dia menggunakan teknik Tangan Dewa Kematian, dan dengan itu tidak sulit baginya membunuh mereka berempat.
“Adik Tian, kenapa tidak main-main lebih dulu dengan mereka?” tanya Zhou Lin.
“Kalau aku bermain-main lebih dulu dengan mereka, itu hanya akan membuatku terkena masalah dari mereka yang sedang bersemangat menikmati keindahan Kota Dewa,” ucap Zhou Tian, dan Zhou Lin tahu siapa mereka yang dimaksud oleh Zhou Tian.
Zhou Lin yang tahu maksud Zhou Tian, dia hanya menganggukkan kepala, lalu kembali melangkahkan kaki menyusul Zhou Tian dan Zhou Gang yang sudah berjalan mengikuti para wanita, yang sudah lebih dulu melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan.
Mereka pergi ke tempat menarik yang ada di Kota Dewa. Beruntung ada Song Qian yang merupakan penduduk asli Kota Dewa, jadi mereka tidak perlu mencari keberadaan tempat-tempat terbaik yang ada di Kota Dewa. Song Qian dengan senang hati mengarahkan mereka semua ke tempat terbaik yang ada di Kota Dewa, dan di manapun mereka berada, keberadaan mereka senantiasa menjadi pusat perhatian.
......................
Malam harinya setelah sepanjang hari menghabiskan waktu menikmati keindahan Kota Dewa, sekarang Zhou Tian tertinggal bersama Zhu Ying di kamarnya.
Masih teringat kejadian tadi pagi dimana mereka belum menyelesaikan apa yang sudah dimulai, malam ini mereka akan menyelesaikannya, dan tidak akan ada yang bisa mengganggu, apa yang mereka lakukan.
Zhou Tian dan Zhu Ying begitu bersemangat memburu kenikmatan. Keringat yang membasahi tubuh tidak mengganggu apa yang mereka lakukan, sampai akhirnya mereka puas tidak lama sebelum terbitnya matahari.
......................
Pagi harinya di ruang makan kediaman Dewa Agung Song Bei.
“Ayahanda, aku ingin ikut pergi bersama ketiga saudariku berkeliling Alam Dewa, sambil berusaha meningkatkan kekuatan!” ucap Song Qian begitu dia menyelesaikan makan pagi bersama ayahnya.
“Ayah lebih senang kamu bepergian dengan mereka, dibandingkan bepergian seorang diri seperti yang selama ini selalu kamu lakukan,” balas Dewa Agung Song Bei sambil menunjukkan senyuman di wajahnya.
Song Qian yang mendengar balasan dari ayahnya tersenyum senang karena setelah ini dia bisa pergi bersama ketiga saudaranya. Dia selama ini sangat menyukai bepergian, tapi karena senantiasa bepergian seorang diri, dia merasa kesepian. Namun, dengan keberadaan Zhou Tian, ketiga saudarinya, serta empat orang lainnya, dia yakin tidak akan lagi kesepian saat melakukan perjalanan.
Song Qian segera bangkit, lalu dia membawa ayahnya keluar dari kediaman karena sejak beberapa saat yang lalu dia bisa merasakan keberadaan Zhou Tian dan yang lainnya di luar kediaman, dan sepertinya keberadaan mereka adalah untuk menunggunya, yang akan ikut bepergian bersama mereka. Benar saja, Zhou Tian dan yang lainnya sudah berada di luar, dan Song Qian dapat melihat semua itu begitu dia keluar dari kediaman ayahnya.
Melihat keberadaan Zhou Tian, Dewa Agung Song Bei berpesan padanya untuk menjaga putrinya, dan dia mengingatkan Zhou Tian untuk tidak dulu menyentuh putrinya karena hubungan mereka belum diresmikan. Masih ada syarat yang harus dipenuhi jika dia ingin menyentuh putrinya.
“Dewa Agung tenang saja, aku pasti menjaga Song Qian, dan aku tidak akan menyentuhnya sebelum memenuhi persyaratan yang Dewa Agung berikan,” ucap Zhou Tian membuat Dewa Agung Song Bei menganggukkan kepala puas dengan ucapannya.
“Kalau begitu, apa hari ini juga kalian ingin pergi meninggalkan tempat ini?” tanya Dewa Agung Song Bei.
Mendengar pertanyaan Dewa Agung Song Bei, Zhou Tian hanya mengangguk pelan dan menunjukkan senyuman di wajahnya, sebagai jawaban dari apa yang ditanyakan padanya.
“Berhati-hatilah di jalan, dan sebisa mungkin hindari pertemuan dengan prajurit suci ras manusia!” pesan terakhir Dewa Agung Song Bei, sebelum Zhou Tian dan yang lainnya pergi.
Song Qian yang sudah tahu tentang Dunia Jiwa dari cerita ketiga saudarinya, dia tidak keberatan memasuki dunia jiwa bersama para wanita.
Begitu para wanita sudah berada di dunia jiwa, Zhou Tian menutup gerbang menuju dunia jiwa, lalu dia melanjutkan perjalanan bersama Zhou Lin dan Zhou Gang.
Bergerak cepat bersama kedua saudaranya, Zhou Tian ingin pergi ke pusat Benua Tengah Alam Dwwa, yang konon katanya di tempat itu ada istana Dewa Iblis.
Zhou Tian mengetahui semua itu dari cerita Dewa Agung Song Bei, dan untuk membuktikan kebenaran dari cerita itu, dia memutuskan pergi ke tempat itu dan melihat keberadaan istana Dewa Iblis secara langsung.
Jika istana itu benar adanya, dia akan memulai membangun kekuatan ras iblis di tempat itu.
Seluruh ras memiliki istana Dewa di Benua Tengah Alam Dewa, dan tempat berdirinya istana Dewa Iblis merupakan tempat terbaik yang ada di seluruh Alam Dewa, bahkan di seluruh Alam Semesta. Oleh karena itu banyak kekuatan yang menginginkan tempat itu beserta istananya, tapi selama ini tidak ada yang bisa memasuki istana Dewa Iblis, dikarenakan ada formasi penghalang, yang hanya bisa ditiadakan oleh penerus kuasa Dewa Iblis.
Di tempat itu juga konon ada warisan Dewa Iblis, dan siapapun yang mendapatkan warisan itu akan memiliki kekuatan besar seorang Dewa Iblis.
Banyak alasan yang membuat Zhou Tian ingin pergi ke tempat itu, tapi tempat yang begitu baik tentu tidak akan mudah dijangkau. Jika hanya bertemu prajurit suci ras siluman, mudah bagi Zhou Tian meminta izin pada mereka untuk pergi ke istana Dewa Iblis, tapi jika yang bertemu dengannya adalah prajurit suci ras manusia, bisa dipastikan pertarungan bakal terjadi, dan Zhou Tian harus mengalahkan prajurit suci ras manusia jika masih ingin melanjutkan perjalanan ke istana Dewa Iblis.
Swosh... Swosh... Swosh...
Zhou Tian dengan kedua saudaranya bergerak cepat meninggalkan Kota Dewa, dan tujuan mereka adalah lokasi berdirinya istana Dewa Iblis.
......................
Zhou Tian yang bergerak di depan kedua saudaranya, dia menggunakan teknik mata emas untuk melihat jauh ke depan. Tujuannya melihat jauh ke depan adalah mencari keberadaan prajurit suci ras manusia, dan sebisa mungkin dia akan berusaha menghindari mereka.
Namun meski terus mencoba menghindari mereka, dikarenakan banyaknya prajurit suci ras manusia yang berjaga di perbatasan wilayah ras Dewa dan ras manusia, pada akhirnya ada sekelompok prajurit suci ras manusia yang berhasil menemukan keberadaan mereka.
“Adik, apa kita akan pergi menghindari mereka?” tanya Zhou Gang.
“Kalau bisa menghindar, lebih baik kita menghindar, tapi jika tidak bisa menghindar, kita akan melawan mereka!” jawab Zhou Tian.
Baru juga Zhou Tian selesai memberi jawaban, muncul puluhan prajurit suci ras manusia dari arah depan dan samping mereka. Melihat itu, tidak ada pilihan lain bagi mereka, selain melawan dan memusnahkan keberadaan prajurit suci ras manusia.
“Kak Lin dan Kakak Gang, langsung bunuh mereka secepat yang bisa kalian lakukan!” ucap Zhou Tian.
Zhou Lin dan Zhou Gang hanya mengangguk sebagai balasan, lalu keduanya langsung saja menyerang puluhan prajurit suci ras manusia, yang mana kekuatan mereka berada di ranah Dewa Surgawi, jauh lebih lemah dari keduanya yang sudah berada di ranah Jenderal Dewa Surgawi. Perbedaan kekuatan yang begitu mencolok, meski dihadapkan pada puluhan orang, keduanya cepat membunuh puluhan lawan mereka.
“Sepertinya membiarkan mereka melawan sebanyak mungkin prajurit suci ras manusia dapat melatih kesiapa mereka dalam menghadapi pertarungan yang sesungguhnya!” gumam Zhou Tian, dan dia langsung fokus pada ratusan prajurit suci ras manusia yang akan menjadi lawannya.
Meski ada ratusan prajurit suci yang menjadi lawannya, dia sama sekali tidak gentar berhadapan dengan mereka.
......................
Bersambung.