
Zhou Tian yang sudah mengakhiri hidup Shang Zang dan menyerap jiwanya untuk memperkuat kekuatannya, ia mengalihkan pandangannya ke arah wasit, lalu berkata, “Bukannya sudah saatnya mengumumkan kemenanganku dan lanjut ke pertandingan selanjutnya?”
Mendengar itu, wasit yang sebelumnya tertegun oleh apa yang ia lihat, seketika ia terkejut mendengar apa yang dikatakan Zhou Tian. “Apa kamu tidak takut setelah ini ras manusia akan semakin memusuhi ras iblis?” tanyanya.
Mendapati pertanyaan dari wasit Zhou Tian tertawa pelan, “Hehehe... untuk apa aku takut sedangkan selama ini ras manusia senantiasa memusuhi ras iblis, dan sudah tidak terhitung berapa banyaknya iblis yang mati di tangan para manusia. Nyawa salah satu putra Dewa ras manusia, hanya dengan satu nyawa itu tidak sebanding dengan apa yang sudah dilakukan oleh ras manusia pada ras iblis, dan jika satu lagi putra Dewa ras manusia menjadi lawanku, hanya kematian yang akan didapatkannya!” ucap Zhou Tian, dengan sorot mata tajam menatap Shang Wuzhi.
Apa yang baru diucapkan tentu saja di dengan semua orang, dan mereka semua meyakini jika nasib Shang Wuzhi tidak akan lebih baik dari Shang Zang jika ia tetap ikut dalam kompetisi. Apalagi, bukan sebuah rahasia jika Shang Zang masih sedikit lebih kuat dibandingkan Shang Wuzhi.
Shang Wuzhi sendiri, ia sekarang dalam keadaan bimbingan, memikirkan apa yang akan dilakukannya.
Jika ia memaksakan lanjut mengikuti kompetisi, bisa dipastikan nasibnya akan sama dengan Shang Zang, tapi jika ia mundur, itu adalah hal yang sangat memalukan untuk dirinya sendiri dan juga ia akan mempermalukan ras manusia di hadapan banyak orang.
Wasit yang melihat jika saat ini Zhou Tian mengarahkan sorot maya tajam ke arah Shang Wuzhi, ia sangat yakin jika Zhou Tian benar-benar akan mengakhiri hidup Shang Wuzhi jika nantinya dipertemukan di atas arena kompetisi. “Semoga saja putra Dewa itu tidak bodoh, dan memilih menyerah sebelum ras manusia kehilangan seluruh keturunan Dewa mereka!” gumamnya pelan lalu ia mengumumkan kemenangan Zhou Tian, dan pertandingan selanjutnya segera dilakukan begitu arena kompetisi dibersihkan.
Pertandingan selanjutnya ditunda selama beberapa waktu karena selain harus dibersihkan, banyak penonton dari ras manusia yang datang ke atas arena kompetisi untuk memberi penghormatan pada Shang Zang, dan jelas terasa aura permusuhan yang mereka tujukan pada sosok Zhou Tian, yang menatap remeh keberadaan mereka.
......................
Pihak pelaksana kompetisi tidak memberi perlakuan khusus pada mayat Shang Zang. Mereka, bahkan memasukkan mayat Shang Zang ke dalam peti biasa. Meski mendapatkan protes, mereka mengabaikannya, dan tetap memasukkan mayat Shang Zang ke dalam peti biasa, sebelum akhirnya mereka membersihkan arena kompetisi.
Setelah beberapa waktu berlalu, wasit kembali menaiki arena kompetisi, dan ia memanggil peserta selanjutnya untuk naik ke atas arena dikarenakan pertandingan selanjutnya akan segera dimulai.
Kedua peserta sudah berada di atas arena kompetisi, yang mana kedua peserta merupakan peserta yang berasal dari ras manusia, dan satunya peserta dari ras peri. Kali ini keunggulan kekuatan dimiliki oleh perwakilan ras peri, dan begitu pertandingan dimulai, ia langsung memukul lawannya keluar dari arena.
Pertandingan singkat dan kemenangan mudah. Dari hasil pertandingan, semua orang bisa melihat jika kekuatan ras manusia telah mengalami banyak penurunan, dan mereka yakin semua itu terjadi karena para manusia semakin termakan oleh sikap sombong, yang dimilikinya.
Pertandingan terus berlanjut, dan sampailah di pertandingan terakhir yang mempertemukan Shang Wuzhi, melawan Jiang Shilin, putra Dewa ras siluman.
Keduanya menaiki tangga dari dua sisi yang berbeda, dan tidak lama keduanya sampai di atas arena, yang telah siap dijadikan arena pertandingan mereka. Berhenti di dekat wasit, keduanya menunggu instruksi selanjutnya dari wasit.
“Apa kalian susah siap?” tanya wasit, sambil melihat secara bergantian dua peserta yang berada di sisi kanan dan kirinya.
Jiang Shilin yang mendengar pertanyaan wasit ia hanya menganggukkan kepalanya pelan, sedangkan Shang Wuzhi, ia masih belum memberi jawaban, tapi sorot matanya begitu tajam menatap Jiang Shilin, yang nyatanya sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan tajam kedua matanya.
“Aku tentu saja siap bertanding, dan akan kupastikan putra pengkhianat sepertimu mati di tanganku!” ucap Shang Wuzhi dengan suara keras.
Shang Wuzhi yang telah melihat tanda dari wasit jika pertandingannya telah dimulai, ia tidak membuang-buang waktu, dan langsung saja menyeranh Jiang Shilin dengan salah satu teknik terkuat yang dikuasainya. Tekniknya membutuhkan sarana sebuah pedang, oleh karena itu ia mengeluarkan sebuah pedang dari ruang penyimpanannya.
“Teknik Pedang, Tebasan Penghancur Jiwa!”
“Teknik Pedang, Hujan Pedang!”
Bukan satu teknik, tapi ia langsung saja menggunakan dua teknik terkuatnya, dan ia yakin dengan semua itu, ia bakalan dapat mengalahkan Jiang Shilin, yang saat mana saat ini pemuda itu masih tenang berdiri di tempatnya, meski terlihat jelas adanya bahaya datang mendekatinya.
Tebasan berbentuk bulan sabit transparan melesat dari arah depan, sedangkan dari atas, ratusan pedang mulai terbentuk, dan sewaktu-waktu pedang itu akan jatuh, lalu memburu kemanapun Jiang Shilin pergi.
Seluruh penonton di tempat berlangsungnya kompetisi sejenak menahan napas, saat mereka melihat bagaimana Shang Wuzhi begitu ingin membunuh lawannya, sampai-sampai di awal pertandingan ia langsung mengeluarkan dua teknik kuat, yang bisa berakibat fatal bagi Jiang Shilin. Gagal menghindar atau manahan serangan itu, bisa dipastikan nasib Jiang Shilin akan sama seperti Shang Zang.
Saat banyak penonton yang menganggap Jiang Shilin akan mati oleh serangan Shang Wuzhi, Jiang Shilin sendiri, ia benar-benar masih terlihat sangat tenang, bahkan ia tidak mempersiapkan teknik perlindungan untuk menahan datangnya serangan Shang Wuzhi.
Namun, saat serangan Shang Wuzhi semakin mendekat ke arahnya, Jiang Shilin mengangkat tangannya lalu ia membuat gerakan kecil yang sangat sederhana.
Gerakan kecil itu adalah ia hanya melambaikan tangannya, dan setelahnya semua orang, termask Shang Wuzhi dapat melihat bagaimana dia serangan yang mengarah pada Jiang Shilin tiba-tiba saja menghilang.
Shang Wuzhi yang sebelumnya yakin jika serangannya cukup untuk membunuh lawannya, ia ternganga dengan mulut terbuka sangat lebar setelah melihat bagaimana Jiang Shilin menghentikan serangannya. “I-itu bu-ukan menghentikan, ta-tapi dia melenyapkan seranganku!” gumamnya terbata-bata.
Jika para penonton dan Shang Wuzhi terkejut, tidak dengan Zhou Tian, yang melihat jelas kejadian sesungguhnya. “Ia memiliki energi spiritual yang melimpah, dan ia menggunakan sedikit energi spiritualnya untuk melenyapkan serangan Shang Wuzhi!” ucap pelan Zhou Tian yang mana ia telah kembali di tempat duduknya, tempat duduk khusus peserta kompetisi.
Di atas arena, Jiang Shilin terkekeh pelan saat melihat ekspresi keterkejutan yang diperlihatkan oleh Shang Wuzhi. Ia tidak menyangka jika tekniknya yang begitu sederhana ternyata berhasil membuat lawannya terkejut.
“Jika barusan adalah giliranmu menyerangku, setelah seranganmu berhasil aku hentikan, sekarang tiba giliranku menyerangmu, dan jangan harap kau bisa lari dari seranganku!” Sebelum menyerang, Jiang Shilin membuat sebuah formasi array, yang membuat Shang Wuzhi tidak bisa pergi meninggalkan arena kompetisi.
Jiang Shilin menyeringai, dan ia mulai mengumpulkan banyak energi spiritual untuk menyerang lawannya. “Jangan mati dengan mudah, karena aku ingin sedikit bermain-main denganmu!”
......................
Bersambung.