Sistem Dewa Iblis

Sistem Dewa Iblis
Kompetisi Istana Dewa Agung (1)


Salah satu wakil Dewa ras Dewa masih berada di atas arena kompetisi dikarenakan ia akan menjadi wasit dari seluruh pertandingan, yang akan terjadi selama berlangsungnya kompetisi Istana Dewa Agung.


Ia saat ini sudah berhadap-hadapan dengan dua peserta, yang mana pertarungan mereka akan menjadi pembuka dari kompetisi Istana Dewa Agung.


Perwakilan ras manusia terlihat percaya diri dapat memenangkan pertandingan, sedangkan putra penguasa ras peri yang menjadi lawannya, ia terlihat biasa-biasa saja, bahkan cenderung terlihat tidak bersemangat mengikuti jalannya kompetisi.


Kedua perwakilan sudah bersiap di tempat masing-masing, dan mereka terlihat saling menatap satu sama lain. Namun, mereka belum melakukan pergerakan sebelum wasit mengatakan pertandingan bisa dimulai.


Sementara itu, para penonton yang sudah melihat kedua peserta sudah berada di atas arena, mereka mulai bersorak, dan memberi dukungan pada peserta yang mereka yakinin bakal keluar sebagai pemenang di pertandingan pertama.


Di atas arena kompetisi.


“Putra penguasa ras peri, sebaiknya kamu menyerah dan pulang ke rumah daripada wajah cantikmu babak belur di tanganku!” ucap pemuda yang merupakan perwakilan ras manusia, dan ia adalah bagian dari prajurit suci ras manusia.


Mendengar perkataan pemuda yang akan menjadi lawannya, putra penguasa ras peri masih saja menunjukkan sikap malasnya, seolah ia tidak pernah mendengar perkataan pemuda yang jelas-jelas ditujukan untuk menghinanya.


“Diammu menunjukkan jika kau lemah dan takut padaku! Kalau kamu tidak menyerah saat ini juga, akan aku tunjukkan bagaimana satu pukulanku cukup untuk membuatmu menyerah!” ucap pemuda perwakilan ras manusia.


“Tunjukkan jika kau memang mampu melakukannya!” ucap putra penguasa ras peri dengan ekspresi wajah datarnya.


Di tengah pembicaraan mereka, wasit muncul diantara mereka, dan berkata, “Apa kalian berdua sudah siap melakukan pertarungan?”


“Sangat siap!” jawab keduanya bersamaan.


Bergerak mundur sampai ke tepian arena kompetisi, wasit mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. “Kedua peserta telah siap memulai prtandingan, secara resmi pertandingan di mulai!” teriak wasit, dan cepat ia menurunkan tangannya yang terangkat.


Turunnya tangan wasit menandakan jika kedua peserta boleh langsung saling serang, dan tanpa membuang-buang waktu, peserta yang merupakan perwakilan ras manusia, ia langsung saja maju menyerang lawannya.


Melihat datangnya serangan musuh, putra penguasa ras peri yang yakin dengan keunggulan kecepatan serta kelincahannya, dengan begitu mudah ia berhasil menghindari serangan lawannya.


Perwakilan ras manusia yang melihat lawannya memiliki keunggulan dalam kecepatan dan kelincahan, ia menambah kecepatan geraknya, dan semakin gencar menyerang lawannya.


Swush... Swush...


Tinju terus saja dilayangkan perwakilan ras manusia pada lawannya, tapi sejauh ini belum satupun tinjunya berhasil mengenai lawan. Sementara itu, putra penguasa ras peri, ia masih terlihat sangat mudah menghindari serangan lawan, bahkan sesaat ia sempat menunjukkan senyuman yang sangat tipis.


Senyumannya sangatlah tipis, bahkan hampir tidak ada yang menyadari senyumannya, kecuali satu orang yang begitu jelas melihatnya saat tersenyum.


“Tinju Guntur!”


Menggunakan kekuatan elemen perir miliknya, perwakilan ras manusia menggunakan teknik yang memperluas jangkauan serangannya, dan juga menambah daya hancur serangannya.


Swush... Swush... Swush...


Putra penguasa ras peri yang melihat kuatnya serangan lawan, tentu saja ia tidak tinggal diam. Ia pun bergerak cepat dan bersiap beradu kekuatan tinju dengan lawannya.


“Kekuatan elemen api, Tinju Api kematian!”


Boom... Boom... Boom...


Arena kompetisi bergetar saat kedua tinju saling bertubrukan. Belum terlihat teknik dan kekuatan elemen siapa yang lebih unggul, dikarenakan mereka masih saling beradu tinju, dan membuat sedikit kerusakan pada arena kompetisi.


Bang... Bang... Bang...


Tinju petir dan tinju api terus saja saling berbenturan, membuat penonton yang melihat pertarungan mereka bersorak semakin heboh.


“Pertandingan awal yang cukup menghibur, tapi kekuatan mereka sama sekali tidak sebanding dengannya yang sudah ditakdirkan menjadi pemenang dalam kompetisi ini!” gumam Dewa Agung.


......................


Kedua peserta yang sedang bertarung, keduanya sama-sama tidak ada yang ingin mengalah, tapi terlihat jelas jika putra penguasa ras peri belum mengeluarkan seluruh kemampuannya, berbeda dengan lawannya yang saat ini sudah mulai keteteran.


“Hah, sepertinya cuma sampai di titik ini kamu bisa bertahan, dan ternyata kamu tidak bisa membuktikan, apa yang sebelumnya kamu katakan padaku!” ucap putra penguasa ras peri.


Putra penguasa ras peri yang merasa telah berhasil memancing emosi lawannya, ia terkekeh sangat pelan, dan setelahnya ia menunjukkan senyuman sinis di wajahnya.


Dengan santai ia menghancurkan gelang yang melingkar di tangannya, dan begitu gelang itu hancur aura kuat langsung saja meluap keluar dari tubuhnya.


Gelang yang hancur adalah sebuah artefak, yang kegunaannya adalah untuk menyegel kekuatannya. Begitu gelang itu hancur, sekarang semua orang bisa melihat kekuatan sejatinya yang sudah berada di tanah Raja Dewa Surgawi tingkat Menengah, sebuah kekuatan yang setara dengan kekuatan kedua putra Dewa ras manusia, dan kekuatan itu juga setara dengan kekuatan milik Zhou Tian.


Perwakilan ras manusia yang menyadari kekuatan lawannya, ia menunjukkan senyuman kecut di wajahnya. “Ternyata kekuatannya berada dua tingkat di atasku, dan sepertinya aku benar-benar akan mati di tangannya!” ucapnya sadar akan kekuatannya.


Meski tahu lawannya lebih kuat, ia sama sekali tidak berkeinginan menyerah. Ia justru maju menyerang lawan, setelah mengeluarkan pedang dari cincin penyimpanannya.


Putra penguasa ras peri yang melihat serangan musuh, tanpa kesulitan ia berhasil menghindar dari serangan musuhnya.


Sementara itu di tempat duduk para penonton.


Semua penonton semakin antusias melihat jalannya pertandingan, setelah mereka tahu sekuat apa kekuatan sejati putra penguasa ras peri. Dengan kekuatan putra penguasa ras peri, penonton yakin jika ia akan keluar sebagai pemenang pertandingan pembuka.


“Pemenangnya sudah jelas putea penguasa ras peri, tapi aku penasaran apa ia akan membunuh lawannya!” ucap salah satu penonton yang penasaran dengan keputusan akhir, yang akan diambil oleh putra penguasa ras peri.


“Semoga saja ia membunuh lawannya karena aku benar-benar tidak menyukai sikap sombong dan angkuh yang dimiliki oleh para manusia!” ucap penonton lainnya, dan sangat banyak penonton yang terang-terangan setuju dengan ucapannya.


......................


Di atas arena kompetisi, putra penguasa ras peri yang terus-terusan diserang oleh lawannya, ia masih saja terus menghindari serangan lawannya. Dengan kecepatan dan kelincahannya, tidak sulit baginya menghindari serangan lawan.


“Hahahaha... apa yang kau serang? Apa sedari tadi kau hanya ingin menyerang keberadaan angin di sekitarku?” ucap putra penguasa ras peri meremehkan kekuatan lawannya.


Perwakilan ras manusia yang mana seluruh serangannya berhasil dihindari oleh lawannya, ia hanya bisa menggertakkan giginya menahan amarah. Ia sedari awal tahu jika lawannya kuat, lincak, dan juga cepat, tapi ia benar-benar tidak menyangkal jika kecepatan lawan jauh lebih cepat darinya.


”Aku harus bisa mengalahkannya!” teriak perwakilan ras manusia.


Ia mengeluarkan sepuluh pedang dari cincin penyimpanannya, lalu begitu saja melemparkan pedang pedang itu ke arah lawannya. Menggunakan benang spiritual, ia menggerakkan kesepuluh pedang menyerang lawannya.


“Teknik Tarian Pedang Benang Spiritual!”


Sepuluh benang spiritual yang keluar dari jari pemuda ras manusia, mengikat sepuluh pedang yang sebelumnya ia lemparkan, kemudian padang-padang itu bergerak menyerang putra penguasa ras peri.


Swush... Swush... Swush...


Sepuluh pedang bergerak cepat menyerang dari berbagai arah, mengincar putra dari penguasa ras peri, dan membuat beber penonton merasa hal buruk akan terjadi pada pemuda itu.


Putra penguasa ras peri yang merasa jika serangan lawannya bisa membahayakan kehidupannya, tanpa membuang waktu berharga miliknya, ia langsung saja mengeluarkan pedang dari cincin penyimpanan, dan sekali ia mengayunkan pedang itu, seluruh pedang yang bergerak ke arahnya musnah tidak bersisa.


“Teknik pedang yang kau miliki memang kuat, tapi sayangnya teknik itu dikuasai oleh orang yang lemah, yang membuat teknik itu menjadi teknik sampah. Sekarang karena aku sudah mengeluarkan pedang, tidak ada salahnya jika aku langsung membunuhmu!”


Sosok putra penguasa ras peri tiba-tiba menghilang usai bicara, dan sosoknya muncul secara mengejutkan tepat dibelakang lawannya.


Slash...


Aaaarrgh...


Suara teriakan kesakitan sesaat terdengar, saat pedang di tangan putra penguasa ras peri berhasil menebas leher lawannya.


Kepala pemuda ras manusia menggelinding di atas arena kompetisi, bersama dengan tidak pagi terdengar suara teriakan dari mulutnya.


“Aku pemenangnya!” ucap putra penguasa ras peri.


......................


Bersambung.