
Melihat lawannya kesakitan akibat niat membunuh yang dimilikinya, Zhou Tian hanya tersenyum, menikmati pemandangan indah saat Shang Zang merintih kesakitan, dan terus saja terbatuk sambil sesekali memuntahkan darah segar.
Para penonton yang melihat jalannya pertandingan, banyak diantara mereka yang menyukai keadaan di atas arena kompetisi. Pasalnya, rata-rata penonton sedari awal sudah tidak menyukai sosok Shang Zang dan Shang Wudzhi yang terlalu sombong, dan senantiasa meremehkan orang lain.
“Aku kira putra Dewa ras siluman yang nantinya akan menutup mulut sombong mereka, tapi justru sosok iblis muda yang lebih dulu menutup mulut sombongnya,” ucap salah satu penonton dan ia tersenyum puas melihat pemandangan indah di atas arena kompetisi.
“Melihat keadaan di atas arena kompetisi, sudah bisa disimpulkan siapa sosok yang akan keluar sebagai pemenang, dan aku yakin hasil pertandingan kali ini akan menjadi aib besar bagi ras manusia!”
“Lihat! Belum juga pertandingan berakhir, tapi sudah banyak manusia yang pergi meninggalkan tempat duduknya. Sepertinya mereka tidak sanggup menahan malu karena putra Dewa ras mereka dikalahkan perwakilan ras iblis, yang selama ini mereka anggap sebagai ras terlemah!”
Sebagian besar penonton kompetisi yang sedari awal tidak menyukai keberadaan manusia-manusia sombong diantara mereka, melihat banyaknya manusia yang pergi meninggalkan tempat duduknya, mereka bersorak senang, dan rata-rata mereka yang bersorak adalah penonton, yang berasal dari ras siluman dan ras Dewa.
Sedangkan penonton yang berasal dari ras peri dan sisa-sisa penonton dari ras manusia, mereka hanya diam di tempat masing-masing.
......................
Di atas arena kompetisi.
Zhou Tian yang berdiri tenang di atas arena kompetisi, sambil berjalan mendekati Shang Zang, ia senantiasa menunjukkan senyuman di wajahnya. “Aku menginginkan nyawamu, jadi jangan harap kamu bisa menyerah atau pergi meninggalkan arena ini dalam keadaan hidup-hidup!” ucap Zhou Tian begitu ia hanya berjarak kurang dari tiga langkah dari Shang Zang.
Mendengar apa yang dikatakan Zhou Tian, Shang Zang merasa jika apa yang ia dengar tidak lama lagi pasti akan menjadi kenyataan. Namun, jelas saja ia tidak ingin apa yang dikatakan Zhou Tian menjadi kenyataan. Ia tidak ingin mati, dan ia akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melawan Zhou Tian. Mengalahkan Zhou Tian, tentu saja ia tahu hal itu mustahil dilakukan, jadi pilihan terakhirnya hanya menyerah, tapi ia yakin Zhou Tian tidak akan begitu saja membiarkannya menyerah.
“Shang Zang, kamu tidak perlu memikirkan banyak hal, apalagi berpikir dari kematian yang susah aku tetapkan untukmu! Hari ini kau pasti mati di tanganku, dan itu sudah ditakdirkan terjadi padamu! Tidak ada yang bisa merubah takdir itu, sekalipun ayahmu yang seorang Dewa datang ke tempat ini!” ucap Zhou Tian penuh dengan ancaman.
Shang Zang yang mendengar semuanya, ia menggertakkan giginya marah, dan dengan menyerahkan seluruh kekuatannya ia mencoba bangkit berdiri.
Begitu sudah bangkit berdiri, dengan suara lantang ia berkata, “Kau hanya mengatakan omong kosong! Nyatanya aku tidak akan mati di tempat ini karena aku memutuskan menye...”
Booomm...
Sebelum Shang Zang menyelesaikan apa yang ingin ia katakan, Zhou Tian lebih dulu mendaratkan tinju tepat menghantam mulutnya, membuat Shang Zang kesulitan bicara.
Shang Zang memang kesulitan bicara, tapi tubuhnya masih bisa bergerak, dan ia mencoba keluar dari arena kompetisi supaya dinyatakan kalah.
Siluet muncul di hadapan Shang Zang saat ia ingin melompat dari atas arena, dan siluet yang muncul merupakan sosok Zhou Tian, yang mana kemunculannya adalah untuk mencegah Shang Zang meninggalkan arena kompetisi.
Semua orang yang melihat bagaimana Zhou Tian mencegah Shang Zang menyerah, mereka sangat yakin jika hari ini akan menjadi akhir dari kehidupan salah satu putra Dewa ras manusia. Sekalipun ayah Shang Zang datang, jika ia ikut campur dalam jalannya kompetisi, bisa dipastikan ras manusia akan menjadi musuh seluruh ras di Alam Semesta.
Namun, ayah Shang Zang tentu saja tidak akan muncul secara tiba-tiba, dikarenakan semua orang tahu jika kedua Dewa ras manusia saat ini sedang menjalani kultivasi tertutup, dan kemungkinan mereka baru akan menyelesaikan kultivasi nya dalam kurun waktu beberapa bulan ke depan.
Di atas arena kompetisi, Zhou Tian kembali mengarahkan tinjunya ke arah Shang Zang, dan kali ini tinjunya mengarah ke dada lawannya.
Booomm...
Seperti benda yang begitu ringan, sosok Shang Zang terpental ke ujung lain arena kompetisi.
Terlihat ia terus mengerang kesakitan, dan sangat kesulitan kembali bangkit. Jangankan untuk kembali bangkit, rasa sakit yang dirasakan Shang Zang bahkan membuatnya kesulitan bergerak.
Belum juga sakit yang dirasakan Shang Zang mereda, Zhou Tian yang begitu cepat muncul di sebelahnya, kembali ia menyerang dan kali ini ia menendang tepat kepala Shang Zang.
Bugh...
Tubuh tinggi besar Shang Zang kembali terpental ke sisi lain arena kompetisi, begitu kepalanya terkena tendangan Zhou Tian. Kekuatan tendangan Zhou Tian tidak main-main, dan bisa terlihat jika Shang Zang hampir kehilangan kesadarannya akibat dari tendangan Zhou Tian.
Shang Wudzhi yang melihat nasib Shang Zang di atas arena kompetisi, ia benar-benar mengacuhkan keadaan Shang Zang. Bukannya ia tidak peduli, tapi saat ini ia benar-benar tidak bisa melakukan sesuatu yang bisa mencegah hal buruk terjadi pada Shang Zang.
Dikarenakan tidak bisa melakukan apa-apa, Shang Wudzhi hanya bisa diam seolah ia acuh pada keadaan Shang Zang, padahal dalam diambilnya ia merekam menggunakan giok perekam, setiap pukulan ataupun tendangan yang dilakukan Zhou Tian pada Shang Zang.
Nantinya rekaman itu akan ia berikan pada ayah Shang Zang, dan ia yakin setelah melihat rekaman itu ayah Shang Zang pasti akan memusnahkan keberadaan seluruh iblis menggunakan tangannya sendiri.
Sementara itu di atas arena kompetisi Zhou Tian melakukan serangan beruntun yang ia tujukan untuk memperburuk keadaan Shang Zang. Zhou Tian memang ingin membunuh Shang Zang, tapi ia tidak ingin begitu saja membunuhnya, melainkan ia ingin lebih dulu menyiksanya sampai puas.
“Bu... bunuh saja aku!” ucap Shang Zang yang sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang ia rasakan. Ia jauh lebih memilih mati, daripada terus-terusan mendapatkan siksaan dari Zhou Tian.
Zhou Tian yang mengetahui Shang Zang begitu menginginkan kematian, tentu saja ia mengabulkannya, dikarenakan ia masih belum puas memberi siksaan padanya. “Aku belum puas menyiksamu, jika nanti sudah puas, dengan senang hati aku akan langsung membunuhmu!” ucap Zhou Tian, dan kembali ia menyerang Shang Zang secara membabi-buta.
Aaargh...
Teriakan kesakitan bisa didengar dari atas arena kompetisi, saat Zhou Tian mematahkan kedua tangan Shang Zang, setelah sebelumnya ia terus memukul wajah Shang Zang, yang membuat wajah pemuda itu tidak lagi bisa dikenali.
Zhou Tian yang telah mematahkan kedua tangan Shang Zang, ia masih belum puas. Jika sebelumnya ia hanya mematahkannya, sekarang ia memisahkan tangan Shang Zang dengan tubuhnya.
Seketika semua penonton melotot lebar melihat apa yang dilakukan Zhou Tian. Sekarang mereka sadar jika Zhou Tian bukan hanya sekedar ingin membunuh lawannya, tapi ia ingin membalaskan dendam para iblis yang telah mati sia-sia di tangan para manusia. Mengingat kekejaman ras manusia pada ras iblis, mereka sangat-sangat memaklumi apa yang dilakukan Zhou Tian.
Namun, bagi orang-orang yang berasal dari ras manusi, dan mereka masih bertahan di tempat duduk melihat jalannya pertandingan, mereka menggertakkan gigi menahan amarah, melihat apa yang dilakukan Zhou Tian.
Zhou Tian sendiri sama sekali tidak mempedulikan mereka yang hanya menjadi penonton kompetisi. Ia masih saja melanjutkan siksaan yang diberikan pada Shang Zang.
Setelah mematahkan dan memisahkan kedua tangan Shang Zang dari tubuhnya, kini ia berpindah ke bagian kaki.
Ia melakukan hal yang sama pada kedua kaki Shang Zang, dan terakhir perhatiannya tertuju pada kepala Shang Zang. Begitu ia nanti memisahkan kepala Shang Zang dari tubuhnya, bisa dipastikan itu akan menjadi akhir dari hidup pria itu.
“Aku bosan menyiksa mayat hidup sepertimu, jadi alangkah baiknya jika kamu benar-benar menjadi mayat!” ucap Zhou Tian, dan ia mengeluarkan pedang naga kegelapan, lalu ia menggunakan pedang naga kegelapan untuk memenggal kepala Shang Zang.
Slash...
“Aaargh...” Suara terakhir yang keluar dari mulut Shang Zang, sebelum kematian mendatanginya.
Terlihat oleh mata emas Zhou Tian saat jiwa Shang Zang ingin pergi meninggalkan raganya. ‘Jiwamu akan menjadi tambahan poin pengalaman, yang berguna untuk peningkatan kekuatanku,’ Zhou Tian membatin, lalu ia menyerap jiwa Shang Zang, membuat Shang Zang tidak lagi bisa bereinkarnasi.
......................
Bersambung.