Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 99: Beraninya tangan kotor itu....


Kinara menatap tripod yang berjarak sekitar tiga meter di sebelah kirinya dengan cemas. Tiga orang pengawal yang memakai topeng hitam masih berada dalam ruangan. Satu orang mengoperasikan handycam, satu orang berada di dekat pintu, sedangkan satu lagi berada di belakang Jericho.


Psikopat gila itu tidak mungkin berniat melakukan hal itu padaku di depan para pengawalnya, kan? Atau jangan-jangan .... Tidak! Tidak mungkin!


Gadis itu memejamkan mata dan berusaha menghalau kemungkinan terburuk yang bisa dilakukan oleh sepupu suaminya itu. Ia tidak mau memikirkannya. Tidak mau menduga-duga, juga tidak mau diam dan pasrah. Ia kembali membuka mata dan memerhatikan pengawal di belakang Jericho. Ada sepucuk Colt M45A1 terselip di pinggang pria itu. Oh, terima kasih sekali lagi pada Lorie yang telah mengajari berbagai jenis senjata semi otomatis dan cara menggunakannya. Sekarang, ia hanya harus mencari kesempatan yang tepat. Meski peluangnya hanya 0,1 persen, ia akan tetap mencoba ketika kesempatannya datang.


“Tenanglah ... aku akan melakukannya dengan sangat perlahan,” ujar Jericho dengan ekspresi penuh arti, “sangat lembut sampai kau yang akan memohon agar aku jangan berhenti,” lanjutnya lagi seraya menjil*t bibir.


Kinara merasa muak sekaligus marah. “Kau tidak mungkin bersungguh-sungguh,” kata Kinara ketika melihat Jericho kini hanya berjarak sekitar tiga langkah dari sisinya.


Ia sebenarnya tidak menduga Jericho akan senekat ini. Pria itu tampaknya benar-benar telah kehilangan akal sehat. Dendam apa yang bisa membuat seseorang sampai melakukan hal segila ini? Kinara sungguh tidak mengerti. Ia tercekat ketika melihat Jericho menanggalkan jas dan memberikannya pada salah satu pengawalnya. Dengan seringai licik, pria itu melonggarkan ikatan dasi dan kancing kemejanya. Kinara tahu, pria itu sengaja melakukannya dengan gerakan lambat agar ia merasa terintimidasi, dan hal itu memang cukup berhasil. Gadis itu mulai merasa gentar. Ia berada dalam posisi yang benar-benar terancam.


“Kenapa aku tidak mungkin bersungguh-sungguh? Mata diganti mata, nyawa diganti nyawa. Bukankah begitu?” balas Jericho seraya melepaskan kancing terakhir. Dadanya yang bidang dan liat terlihat jelas. Aroma parfum yang maskulin menguar di udara.


Kinara menolehkan kepalanya karena jengah. Ia tidak mau merusak matanya dengan menatap pemandangan tidak senonoh itu. Lagipula aroma parfum pria itu membuatnya merasa mual. Pelupuk matanya terasa panas. Ia merindukan Alex. Ingin bergelung dalam pelukan pria itu yang membuatnya merasa nyaman, merasa ... dicintai ....


Kenapa dia lama sekali? Apakah granny tidak berhasil menghubungi kediaman keluarga Smith? Kalau begitu ... apa yang akan terjadi padaku sekarang? Apa yang harus kulakukan?


Gadis itu menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia tidak siap dipermalukan dengan cara seperti ini. Lebih baik mati. Ya, ia lebih memilih untuk mati daripada harus menanggung beban ini seumur hidup.


“Aku tidak ada urusan sama sekali denganmu. Kenapa kau melakukan hal ini padaku? Apa salahku?” cecar Kinara, masih dengan kepala menoleh ke arah pintu.


“Salahmu?” Jericho menyeringai lebar. “Satu-satunya kesalahanmu adalah menjadi istri Alex!”


“Dia saudaramu. Kenapa melakukan hal keji seperti ini?


Jericho mencibir sinis.


“Saudara? Huh! Hubungan darahku dengan keluarga Smith sudah putus sejak mereka membunuh ayahku!”


“Itu tidak mungkin!” seru Kinara. Refleks, ia melihat ke arah Jericho, membalas tatapan pria itu yang penuh amarah, kebencian ... juga rasa sakit.


“Tutup mulutmu!” geram Jericho, “Kau tidak tahu apa-apa mengenai baji*gan-baji*gan itu. Aku berani jamin, begitu kau tahu kebusukan macam apa yang pernah dilakukan oleh Jonathan Smith, kau tidak akan pernah mau menjadi bagian dari keluarga breng*k itu.”


“Tuan Jonathan katamu?” Kinara mengernyit. “Lalu kenapa kau bersikeras membalaskannya pada Alex?”


Jericho bersedekap, memindai tubuh Kinara dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia berdiri dengan posisi itu cukup lama, hingga akhirnya Kinara kembali memalingkan wajah. Ia merasa gerah. Seandainya saja Alex yang menatapnya seperti itu, situasinya pasti akan sangat berbeda.


“Kau terlalu banyak bicara, Nona. Betul begitu? Nona? Kau masih seorang gadis, kan? Saudaraku yang cacat itu tidak pernah menyentuhmu?”


Ucapan itu membuat Kinara merinding. Apalagi tak lama kemudian kasur di sebelah kanannya melesak, membuat ranjang sedikit berderit. Seluruh tubuh Kinara meremang. Ia tidak berani bergerak atau membalas perkataan Jericho.


“Tebakanku benar, bukan?”


Jericho menjumput rambut Kinara dan memainkan untaian berwarna hitam itu, menggulung dan menghidu aromanya.


“Selera Alex benar-benar berubah jauh,” ejek Jericho seraya terkekeh, “Dulu ia sangat menyukai wanita berkelas yang selalu wangi. Tapi lihatlah dirimu sekarang, gadis polos yang beraroma vanila?”


Tangan kanan pria itu menyusuri pipi dan leher Kinara. “Tapi gadis polos ini akan segera berubah menjadi wanita dewasa.”


“Singkirkan tangan kotormu itu!” sentak Kinara sambil menjauhkan wajahnya.


Perbuatan Kinara memancing emosi Jericho. Pria itu mencengkeram wajah Kinara dan memaksanya untuk mendongak. Satu tangannya yang lain memisahkan kedua kaki Kinara, lalu berlutut di antara celah itu.


“Ingat baik-baik, tangan kotor ini yang akan memuaskanmu berkali-kali,” geram Jericho lalu melum*t bibir Kinara.


Kinara meringis menahan sakit. Cekalan Jericho pada rahangnya terasa sangat kuat. Ia merasa sangat dipermalukan dengan posisi ini.


Aku pasti terlihat seperti wanita murahan. Sangat menjijikkan.


Kinara sungguh ingin menangis, tetapi ditahannya sekuat tenaga. Ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya, itu hanya akan membuat Jericho semakin merasa berada di atas angin.


“Umh!” erang gadis itu sambil meronta dan berusaha membebaskan diri dari kungkungan Jericho. Namun, kedua tangannya yang terikat kuat membuatnya sungguh tak berdaya. Alih-alih berhasil membebaskan diri, setiap gerakan gadis itu justru membuat dadanya bergesekan dengan dada milik Jericho.


Jericho menjauhkan wajahnya. Ia menatap Kinara dan mengusap bibir gadis itu dengan ibu jarinya.


“Manis,” gumamnya, kemudian menoleh pada pengawal yang berdiri di dekat tripod, “Pastikan ini semua terekam dengan baik.”


Benak Kinara berkecamuk. Dadanya bergerak naik turun tak beraturan. Apa yang terjadi jika Jericho benar-benar melakukan ucapannya dan mengirimkan rekaman ini pada keluarga Smith? Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana ia bisa menjalani kehidupan selanjutnya?


“Aku akan mengajarimu menjadi wanita dewasa yang memesona di atas ranjang, Sweetheart ....”


“Berani menyentuhku lagi, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri,” desis Kinara dengan mata melotot, “Aku akan menghancurkan tangan dan kakimu hingga kau akan merangkak seperti bayi. Akan kuhancurkan satu-satunya pusaka milikmu yang tidak berguna itu hingga tidak akan pernah bisa kembali berfungsi dengan baik. Berhentilah sebelum kau menyesalinya nanti.”


Perkataan Kinara membuat Jericho terbahak hingga matanya menyipit. Ia menarik lepas kemejanya dan membuat potongan kain itu ke sembarang arah. Dengan satu sentakan keras, gaun Kirana ia tarik hingga pundak mulus gadis itu terpampang jelas. Ia melebarkan lututnya hingga kedua tungkai Kinara terpisah semakin jauh. Pria itu menunduk, mengendus seluruh wajah Kinara dengan sangat perlahan.


“Kamu tidak sedang dalam posisi untuk mengancamku, Sweetheart...,” bisik Jericho. Ia berhenti di dekat daun telinga gadis itu, membuka mulut dan menjil*t dengan gerakan yang sensual. “Benar-benar manis dan lembut,” sambungnya


Rahang Kinara mengeras. Saat ini ia tidak berani memprovokasi Jericho dengan ucapan atau tindakan. Pria itu benar, ia tidak sedang dalam posisi untuk mengancam. Ia harus segera melakukan sesuatu agar ucapannya tadi tidak menjadi sebuah gertakan belaka.


Berpikirlah, Nara. Berpikir ....


Jericho kembali mendekatkan wajah ke leher Kinara, mengis*ap dan menggigit permukaan kulit itu hingga erangan tertahan lolos dari bibir gadis itu. Pria itu tertawa kecil. Ia merasa sangat puas mendapati tubuh Kinara menegang di bawahnya.


“Emh,” desah Jericho sambil menyusuri tulang selangka Kinara dengan lidahnya, terus bergerak turun hingga mendapati dua gundukan kenyal yang membusung kencang di depan wajahnya.


Pria itu menyusupkan jarinya ke dalam baju Kinara, melepaskan kait yang menahan gumpalan padat yang sangat menggoda itu. Perlahan jemarinya bergerak ke depan, mengusap dengan sangat hati-hati hingga menemukan bulatan cherry yang mulai mengeras.


“Lihatlah. Mulutmu meriakkan caci maki dan penolakan, tetapi tubuhmu memberi reaksi yang benar-benar jujur,” ejek Jericho seraya menyunggingkan senyumnya yang paling menyebalkan.


Pria itu tidak memberi kesempatan pada Kinara untuk menjawab. Ia langsung memag*t bibir gadis itu dengan rakus. Ia mencubit puncak dada Kinara hingga gadis itu memekik, lalu lidahnya menerobos masuk, menjajah dengan kuat dan tanpa ampun. Satu tangannya terus bergerilya dan merem*as dan menyebarkan bara api, sedangkan tangan yang lain menahan tengkuk Kinara agar gadis itu tidak bisa berpaling.


Napas Kinara mulai terdengar tidak beraturan. Tubuhnya tidak lagi memberi penolakan. Punggungnya melengkung ketika Jericho memindahkan wajahnya ke bagian dada. Kedua tangannya terkepal kuat ketika lidah Jericho mulai bermain di sana.


“Jer ... oh, Jericho,” rintih Kinara. Tubuhnya menggeliat di bawah tubuh Jericho dengan erot*is. Kepalanya tersentak-sentak ke belakang. “A-aku ... aku ....”


“Hum?” Jericho mendongak, mengusap wajah Kinara yang sudah dipenuhi keringat, “menikmatinya?”


Kinara menggigit bibir dan mengangguk pelan. Ia berpaling dengan malu-malu, tetapi Jericho menarik wajahnya dan melum*at bibirnya lagi.


“Katakan kau menyukainya,” desak Jericho. Ia tersenyum puas ketika melihat wajah Kinara yang dipenuhi kabut gairah.


“A-aku menyukainya,” jawab Kinara sambil menatap lurus pada manik kelam jericho, “Aku ingin ... aku ... aku ingin menyentuhmu juga,” bisik Kinara pelan.


Jericho terbahak, lalu berhenti tiba-tiba. Ia menekan pangkal tenggorokan Kinara dengan kuat hingga gadis itu terbatuk-batuk.


“Jangan coba-coba bermain-main denganku!” ujar pria itu tanpa melonggarkan cekalannya.


Wajah Kinara memerah. Kepalanya terasa sangat berat. Rasanya ia sudah hampir kehabisan napas ketika Jericho melepaskan tangannya.


“Uhuk!” Kinara tersedak dan terbatuk keras begitu udara kembali memasuki tenggorokannya. Paru-parunya sudah hampir meledak.


“Kau akan mati kalau mencoba untuk melawanku. Mengerti?”


“Cium aku!” perintah Jericho seraya mendekatkan wajahnya.


Kinara menganggak kepalanya dan menempelkan bibirnya pada bibir Jericho. Dengan sangat pelan, ia mengul*um bibir pria itu, membujuknya agar terbuka, persis seperti yang dilakukan oleh Jericho tadi.


Gerakan lidah Kinara yang kaku dan ragu-ragu membuat Jericho kembali memanas. Ia mengoyak baju Kinara dengan kasar, lalu melum*t apa pun yang ditemui oleh bibirnya. Lalu tanpa aba-aba ia mendongak, meraih simpul di pergelangan tangan Kinara dan melepaskannya. Ia menatap tajam pada gadis di bawahnya tanpa mengatakan satu patah kata pun.


Jemari Kinara mengusap permukaan dada Jericho, berputar pada dua titik kecil yang mengeras di sana. Kinara mengangkat kepalanya, menciumi pria itu persis seperti yang dilakukan pria itu padanya tadi.


“Oh.” Jericho mendongak dengan mata terpejam. “Gadis pintar. Kau sangat cepat belajar.”


“Hum ...,” gumam Kinara. Tangannya bergerak ke bawah, membuka ikat pinggang Jericho dan menariknya sampai lepas.


Gadis itu meloloskan tangannya dari sela di antara tubuhnya dan Jericho, seakan hendak melempar ikat pinggang ke lantai. Namun, dengan satu gerakan cepat ia menghantamkan kepalanya ke dagu Jericho sekuat tenaga. Pria itu meraung keras sambil mengangkat kedua tangannya untuk memegangi dagunya yang berdarah.


Kinara memanfaatkan momen itu untuk menendang pangkal paha Jericho, lalu berguling ke arah pengawal yang belum sempat memberikan respon. Semua itu terjadi tidak kurang dari sepuluh detik.


Bruk!


Kinara menubruk tubuh pengawal Jericho dan mendorongnya hingga menabrak tembok. Tangannya bergerak secepat kilat merampas Colt yang terselip di pinggang pria itu, lalu berguling sambil membuka kunci pengaman.


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Dua orang tumbang.


Dor!


“Sial!” maki Kinara seraya berlindung di balik lemari. Tembakannya meleset.


“Bunuh gadis sial*an itu!” teriak Jericho setelah berhasil menguasai rasa sakit yang mendera. Ia merangkak ke arah tripod untuk mengambil senjata milik pengawalnya yang sedang meregang nyawa.


Kinara muncul dari balik lemari dengan tangan teracung.


Dor!


Pengawal di dekat jendela ambruk dengan lubang di dada. Meski begitu, tangan kanannya tetap terarah pada Kinara. Satu tembakan terakhir.


Dsing!


“Ah!” pekik Kinara. Tubuhnya tersentak ke belakang dengan cukup keras. Sebuah peluru menyerempet lengannya, darah merembes membasahi tangan. Tidak ada waktu untuk merasa sakit, gadis itu segera bangkit dan mengarahkan pistolnya pada Jericho yang sedang mengincarnya.


Hanya tersisa satu peluru.


Kinara berlari ke arah pria itu seraya sambil membidik.


Dor!


Pistol milik Kinara dan Jericho menyalak hampir bersamaan, tapi hanya ada satu teriakan yang menggema dalam ruangan itu.


Jericho menggelepar di atas lantai, satu tempurung lututnya hancur. Pistolnya terlempar ke bawah ranjang. Pria itu meraung dan menatap Kinara dengan penuh kebencian. Ia mencoba untuk bangun dan ingin menyerang KInara. Namun gadis itu bergerak lebih cepat. Ia meraih bangku dan menghambur ke arah Jericho.


Bugh!


“Bangs*t! Aku akan membunuhmu, Gadis Busuk!” seru Jericho dengan suara lantang meski darah mengalir deras dari kepalanya.


Kinara berjalan tertatih dan mendekat. Tawa pelan yang mengerikan lolos dari mulutnya.


“Kau tidak sedang dalam posisi untuk mengancamku, Bajing*n!” desisnya dengan penuh amarah.


“Akh!”


Jericho terjungkal ketika tendangan Kinara mendarat di wajahnya. Genangan darah di lantai terseret, membentuk pola yang aneh. Mata pria itu lebam dan mengalirkan darah, tapi Kinara belum ingin berhenti.


“Tangan kotor itu ... berani-beraninya ....”


Brak!


Dugh!


Bugh!


"... menyentuhku!"


“Akh! Tidak! Hentikan!” teriak Jericho sambil mencoba melindungi tubuhnya. Ia meringkuk seperti bayi, tetapi Kinara benar-benar tidak ingin melepaskannya.


Gadis itu seperti kesetanan, menghantamkan kursi ke sekujur tubuh Jericho berkali-kali. Terus memukul dan menendang meski pangkal paha pria itu telah dipenuhi genangan darah. Raut wajah Kinara begitu dingin dan datar ketika menghajar Jericho tanpa ampun. Ia tidak berhenti meski suara teriakan Jericho sudah tidak terdengar lagi.


Gadis itu seakan tidak merasakan denyutan nyeri yang merambat di sekujur tubuhnya yang dipenuhi luka. Ia bahkan tidak sadar ketika pintu di belakangnya dibuka dengan paksa.


“Kinara!” seru Alex seraya menghambur ke arah istrinya, “Hentikan!” Ia memeluk tubuh Kinara dari belakang, tapi gadis itu berbalik dengan beringas dan menendangnya hingga tersungkur.


“Uhuk!”


Alex terbungkuk dan bangun sambil memegangi perutnya. “Nara, ini aku ... Alex.”


Tatapan Kinara yang kosong perlahan berubah. Ia berdiri mematung dan menatap suaminya dengan linglung.


“Alex?” ulangnya.


“Ya. ini aku. Maaf, aku terlambat.”


Alex benar-benar ingin menangis melihat tampilan istrinya. Ia merasa sangat menyesal tidak bisa tiba lebih awal. "Apa dia menyakitimu?" tanyanya dengan suara bergetar.


Kinara tidak menjawab pertanyaan suaminya. Ia hanya terus menatap pria itu tanpa berkedip.


"Alex, akhirnya kamu bisa berjalan lagi," gumamnya sebelum luruh ke lantai.


***



Haii, spesial 2000 kata lebih untuk kalian.


Kalau suka,jangan lupa like dan vote yaa..


makasiih...