Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 107


“Raymond?” panggil Lorie saat merasakan embusan napas yang menerpa tengkuknya semakin panas dengan tempo cepat.


“Uh?”


Raymond mengerjap dengan linglung, lalu memaki dirinya sendiri dalam hati. Dokter macam apa yang terbengong saat melihat pasiennya membuka baju?


Setelah mengumpulkan semua kewarasannya, Raymond segera mengusap permukaan kulit Lorie dengan sangat hati-hati.


Awalnya semua baik-baik saja saat ia membasuh area leher dan bahu. Akan tetapi, saat gerakannya turun sampai ke punggung, tangannya mulai tidak stabil. Ada beberapa bekas luka di sana. Dari bentuk keloid yang muncul, setidaknya ada dua luka bekas yang disebabkan oleh peluru, juga garis memanjang dan melintang yang disebabkan oleh benda tajam. Namun, bukan itu fokus Raymond saat ini.


Dua pengait bra di depannya seakan menusuk matanya hingga terasa perih dan berair. Ia menelan ludah dengan susah payah dan mencoba untuk melepaskannya.


Tubuh Lorie menegang, tapi juga tidak mengatakan apa-apa. Wanita itu hanya diam dan menunggu. Sementara Raymond, pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Yang dibuka adalah kait bagian belakang, tapi ia seolah bisa melihat apa yang ada di bagian depan.


Berhenti berpikiran me*sum kamu dokter keparat,


Raymond memaki dalam hati. Wajahnya memerah dengan tidak jelas karena pemikiran itu. Beberapa kali ia berdeham dan terbatuk kecil untuk menutupi getaran tangannya yang tidak konstan, lalu diam-diam berdoa agar Lorie tidak menyadari kejanggalan tingkah lakunya itu.


Di sisi yang lain, Lorie duduk seperti sebuah papan kayu yang baru saja dikeringkan: kaku dan tegak. Ia terlalu sibuk mengatur deru napasnya agar tetap stabil sehingga tidak menyadari bahwa pria di balik tubuhnya sudah hampir mimisan.


Sialan Raymond, apa yang sedang kamu pikirkan saat menawarkan diri untuk membantunya tadi? Bukankah ini sama saja dengan menjerumuskan dirimu ke dalam lubang api?


Sambil menggosok tubuh Lorie, Raymond terus memaki dan memarahi dirinya. Di saat yang bersamaan ingatannya pun berkelana ke masa tiga bulan lalu ... kembali ke malam bersejarah itu ....


Semakin ia menggosok, semakin teringat jelas semua yang terjadi waktu itu, semakin memerah pula kulit wajahnya. Hingga akhirnya saat merasakan cairan hangat menetes keluar dari hidungnya, Raymond tercengang.


Secara refleks ia mengulurkan tangan untuk menutupi hidungnya. Sekejap kemudian, ia menatap warna merah yang menusuk mata itu seperti sedang melihat hantu.


Raymond melompat bangun dan berlari ke kamar mandi secepat kilat, lalu menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Tangannya yang gemetar memijit pangkal hidungnya untuk menghentikan aliran darah yang mengalir keluar. Ia menatap dengan ekspresi tak percaya pada pantulan wajahnya di depan cermin.


Demi Zeus yang memerintah di puncak Olimpus, ia benar-benar mimisan karena melihat punggung Lorie!


“Raymond? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Lorie dari balik pintu. Ia terlalu terkejut saat Raymond tiba-tiba melarikan diri ke dalam kamar mandi barusan.


“Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya ... aku ... tiba-tiba ... aku ....”


“Sakit perut?”


“Ya! Ya ... itu dia ... aku sakit perut.”


Terdengar suara tawa yang merdu dari luar, membuat Raymond harus menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangan wajah yang sedang tertawa itu.


“Kenapa harus gugup? Lanjutkan saja, aku akan melanjutkan ... um, memakai handuk kecil ini ....”


“Oke.”


Baik Lorie maupun Raymond sama-sama menghela napas lega. Bagi Raymond sendiri, lebih baik Lorie mengira dirinya malu karena sakit perut daripada wanita itu mengetahui kebenaran bahwa ia mimisan hanya dengan menatap punggungnya yang terbuka. Sungguh memalukan.


Raymond menyumpal hidungnya dengan kapas, lalu terus menengadah hingga pendarahannya berhenti. Setelah menghabiskan dua gumpal kapas, darahnya sudah tidak keluar lagi. Raymond menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Ini adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan seumur hidupnya.


Pria itu membuka tong sampah, lalu memasukkan bongkahan kapas berdarah itu di tumpukan yang paling bawah. Setelah yakin benda itu tidak akan terlihat lagi, ia mencuci tangan dan membersihkan wajahnya di wastafel. Ia menepuk-nepuk pipinya beberapa kali sebelum membuka kunci pintu kamar mandi.


Untunglah saat tiba di luar, ada dokter dan dua orang perawat yang sedang memeriksa kondisi tubuh Lorie sehingga ia tidak merasa terlalu canggung. Ia melirik Lorie dan menyadari bahwa wanita itu sudah berganti pakaian. Wadah berisi air dan handuk kecil yang tadi digunakan untuk membasuh tubuhnya pun sudah dibereskan oleh perawat.


Syukurlah ....


“Anda sudah bisa pulang siang ini, Nona,” ucap sang Dokter. “Tapi ingat untuk menjaga pola makan dan waktu istirahat Anda.”


“Baik, terima kasih, Dokter,” jawab Lorie dengan sangat antusias.


“Jaga kesehatan Anda,” ucap sang dokter sebelum berjalan keluar dari ruangan bersama kedua orang perawat yang tadi datang bersamanya.


“Kamu ingin makan apa?” tawar Raymond sebelum Lorie mengungkit masalah sakit perut yang sangat mendadak tadi.


“Tidak perlu. Perawat baru saja membawakan sarapan. Cukup untuk kita berdua ... kalau kamu mau ....”


“Oh. Oke,” jawab Raymond dengan cepat.


Tentu saja ia mau. Apa pun yang Lorie tawarkan, ia pasti akan menerimanya dengan senang hati.


“Kamu duduklah di sofa. Aku akan menyiapkannya,” ucapnya lagi seraya membuka tudung saji.


“Um.”


Dengan gerakan yang luwes dan gesit, Raymond memindahkan piring makanan dari atas troli ke meja. Lorie memperhatikan semua itu sambil mengulum senyum.


Raymond Dawson ... pria itu memang sangat imut dan menarik ....


***


jangan lupa like dan vote yaaa, makasiiih 😘