Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
53


Tara yang tidak mau berdebat memilih untuk mengabaikan sang kakak, wanita itu sekarang malah terlihat berjalan ke arah kamarnya. Meskipun ia mendengar sang ayah saat ini sedang memarahi Tika. Namun, wanita itu benar-benar memilih untuk bodo amat. Mengingat ia juga masih ada banyak masalah lain yang sedang menantinya di belakang sana.


"Masalahku sudah terlalu banyak, jadi aku rasa tidak perlu menambah-nambah masalah lagi dengan Kak Tika," gumam Tara membatin. Akan tetapi tiba-tiba saja Tara malah menghentikan langkah kakinya, gara-gara ia mendengar kalimat sang kakak.


"Papa dan Mama selalu saja sayang sama Tara, sedang aku, Mama dan Papa seolah-olah terlihat tidak pernah peduli kepadaku," kata Tika setelah Gio dan Gavin sudah pergi beberapa detik yang lalu. "Aku ini anak Papa dan Mama juga, tapi kenapa, aku ini selalu di beda-bedakan? Apa jangan-jangan sebenarnya aku ini adalah anak pu ngut?!" Suara Tika terdengar berintonasi sangat tinggi saat ia bertanya seperti itu pada kedua orang tuanya. "Jawab aku, karena jika benar aku ini anak pu ngut, maka aku akan langsung angkat kaki dari rumah ini!" ucap wanita itu penuh emosi.


"Apa yang kamu katakan Tika? Hentikan omong kosong ini!" bentak Arzan yang hampir saja melayangkan tam paran ke pipi mulus gadis yang sudah tidak pe rawan itu lagi. Jika saja sang istri tidak menahan tangannya. "Bisa-bisanya kamu mengatakan kalau Papa dan Mama ini pilih kasih dengan cara membeda-bedakan kamu dengan Tara, kamu dengar Tika itu semua tidak benar, dan juga bisa-bisanya kamu berpikiran kalau kamu ini anak pu ngut. Kamu taruh dimana otak kamu ini Tika, hah?"


"Pa, sudahlah, biar Mama yang bicara sama Tika sekarang lebih baik Papa berangkat ke kantor saja, biar Papa tidak tarlambat," kata Yana yang seperti biasa, wanita itu akan selalu menjadi penengah di saat ayah dan anak itu berdebat seperti sekarang ini.


"Ajari anak ini, supaya dia tahu bagaimana cara bersopan-santun kepada orang tua. Jangan malah begini terus, karena lama-lama Papa merasa kalau Tika ingin menjadikan Papa ini sebagai musuhnya." Jika saja Arzan hanya berdua dengan Tika, mungkin saja putri pertamanya itu sudah ia berikan hukuman. Mengingat mulut Tika sama sekali tidak memiliki rem, sehingga kalimat wanita itu asal ceplas-ceplos aja. Tanpa memikirkan sebab dan akibatnya nanti seperti apa.


"Seharusnya aku yang mengatakan kalau Papa dan Mama harus banyak-banyak belajar, supaya Mama dan Papa tidak terus-terusan membela Tara dan malah terus-terusan memarahiku serta menyalahkanku. Karena aku ini juga anak kalian bukan orang lain!" teriak Tika tanpa ada rasa takut sedikitpun pada sang ayah.


"Papa sama Mama benar-benar jahat!" Tika lalu terlihat berlari menuju ke arah anak tangga. Namun, wanita itu tadi sempat menyenggol sang adik, dan hampir saja membuat Tara tadi terjatuh. "Kalian semua di rumah ini sana saja!" sambung Tika dengan cara setengah berteriak.


"Semakin kurang ajar anak itu!" geram Arzan yang mau menyusul Tika. Namun, lagi-lagi Yana menghalanginya. "Ma, jangan halangi Papa lagi, untuk saat ini biarkan Papa memberikan anak itu pelajaran."


Yana menggeleng tanda tidak setuju. "Pa, Tika nanti malah semakin mengira kalau dia di beda-bedakan. Untuk sekarang biarkan anak itu menenangkan dirinya sendiri." Yana berharap supaya emosi sang suami menjadi sedikit mereda. "Kita harus sabar, menghadapi Tika Pa. Kalau tidak maka anak itu bisa saja kabur dari sini."


"Papa akan menjodohkan anak itu dengan anak teman Papa, karena dengan cara begitu dia pasti akan bisa berpikir dengan dewasa," ujar Arzan.


Sedangkan Tara yang mendengar semua itu hanya bisa mengelus da danya saja. Sambil membatin, "Kak Tika rupanya selama ini iri denganku, sehingga dia sampai mengira kalau dirinya di beda-bedakan."