Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 90


Aroma alkohol dan obat-obatan yang menyengat menyeruak di ruangan yang serba putih. Tubuh Lorie yang terbaring lemah di atas ranjang perlahan bergerak. Gumaman samar terdengar dari bibirnya yang kering. Kelopak matanya bergerak dengan tidak teratur. Alis matanya yang bertaut seolah menunjukkan bahwa wanita itu sedang mengalami mimpi buruk.


Dokter Ana yang berjaga di sampingnya langsung menekan tombol untuk memanggil perawat. Ia lalu mendekat dan memanggil sahabatnya itu, “Lorie, kamu bisa mendengarku?”


Ia mengusap lengan Lorie yang tidak diinfus dengan gerakan yang sangat hati-hati. Lorie memberi respon dengan menggerakkan jari-jarinya pelan.


“Lorie, mana yang tidak nyaman?”


Lorie mengerang dan membuka matanya, tapi karena cahaya lampu yang silau, ia kembali menutup mata dan memiringkan kepalanya.


Sakit sekali.


Kerutan di kening Lorie semakin dalam. Aroma obat-obatan membuatnya mual dan rasa sakit yang terkira datang dari bagian bawah perutnya dan menggerus kesadarannya. Samar-samar ingatannya terkumpul satu demi satu, lapisan kabut yang menyelimuti otaknya perlahan memudar. Semuanya tampak jernih dan jelas. Namun, semakin jelas gambaran itu, semakin keras pula tubuh Lorie gemetar.


“Dia sudah sadar, tolong periksa kondisinya,” pinta Ana pada dokter yang bertugas menangani Lorie. Ia lalu menyingkir dan memberi jalan kepada dokter dan perawat yang baru saja tiba.


Sang dokter mengangguk sekilas dan mulai melaksanakan tugasnya dengan sigap, memeriksa kondisi fisik Lorie secara keseluruhan.


“Kondisi pasien sudah stabil. Pendarahan sudah berhenti. Jika beberapa jam ke depan Nona Lorie demam, langsung panggil saya saja,” ucap sang dokter.


“Baik, terima kasih,” balas Ana.


Setelah dokter itu pergi, tatapan Lorie perlahan meredup. Dokter itu sama sekali tidak menyinggung perihal bayinya. Meski sudah bisa menebaknya dalam hati, tapi ia ingin memastikan sendiri apakah bayinya ...


Tidak ada.


Tangan Lorie yang menyentuh permukaan perutnya mendadak gemetar. Perutnya tidak lagi membusur. Tak ada lagi gerakan-gerakan kecil yang akhir-akhir ini menemaninya saat malam. Bayinya ... tidak ada lagi.


Dua tetes air mata bergulir turun dari pipinya. Awalnya memang sudah lemah, ditambah benturan keras itu ... ia pun tidak yakin bayinya akan selamat. Namun, kini saat mengetahui anak itu sudah tidak ada, rasa dingin menjalar di seluruh tubuhnya dan membuat tubuhnya berguncang dengan keras.


“Jangan banyak bergerak. Kamu harus beristirahat,” bujuk Ana seraya meraih jemari Lorie dan menggenggamnya dengan erat.


Lorie hanya menatap lurus ke langit-langit kamar dan tidak melakukan gerakan apa-apa lagi. Tidak bersuara. Tidak merespon, bahkan hampir-hampir tidak berkedip. Kalau bukan monitor yang mengeluarkan suara detak jantung yang stabil, mungkin Ana akan mengira bahwa sahabatnya itu sudah berubah menjadi patung.


“Lorie ... aku tahu ini sangat berat untukmu, tapi ada kami di sini ... kamu tidak sendiri,” bisik Dokter. Ekspresi wajahnya dipenuhi dengan kepahitan. Ia tahu apa arti bayi itu untuk Lorie. Sangat kejam ketika seseorang harus kehilangan satu-satunya harapan.


Saat Dokter Ana masih bingung harus mengatakan apa lagi, pintu tiba-tiba terbuka lalu Alex dan Billy melangkah masuk. Kedua pria itu tertegun sejenak di depan pintu, menatap dengan sorot bertanya ke arah Dokter Ana.


Dokter Ana hanya memberi isyarat dengan tatapan matanya dan menggeleng pelan. Melihat hal itu, Alex tidak mengatakan apa pun, hanya pergi ke sofa dan duduk dengan tenang di sana. Billy menyusul pria itu dan berdiri seperti orang linglung. Ada pergolakan dalam batinnya dan ia tidak tahu mana yang harus ia lakukan.


Saat keempat orang itu masih berada dalam suasana yang dingin dan canggung, pintu kembali terbuka. Tak lama kemudian Raymond melangkah masuk dengan sangat hati-hati.


Billy langsung melotot dan ingin menghampirinya, tapi Alex mencekal pergelangan tangannya dan memberi tanda agar dia tidak melakukan apa pun. Billy hanya bisa mendengkus dan menatap Raymond dengan sinis.


Lorie yang berbaring di atas ranjang terus melamun dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia tidak peduli dengan kehadiran orang lain dalam ruangan itu. Jiwanya seolah terhisap ke dalam lubang hitam dan tersesat. Semakin kuat ia berusaha untuk keluar dari sana, semakin jauh ia terjatuh ke dalam lubang tak berdasar. Suara-suara yang berdengung dalam kepalanya semakin jelas ... semakin mendekat ... semakin kencang bergema di gendang telinganya.


Dalam sekejap pupil mata Lorie menyusut.


Itu ... itu adalah suara tangisan bayi. Suara tangisan yang sangat menyayat hati. Bayi yang menangis tanpa henti ... terdengar sangat kasihan dan menderita.


“Lorie!” teriak Dokter Ana saat melihat tubuh Lorie mulai kejang.


“Panggil dokter! Cepat panggil dokter!” teriaknya dengan panik.


Dalam sekejap suhu ruangan yang hening dan dingin itu meningkat drastis. Raymond yang lebih dulu bereaksi dan menekan tombol darurat. Ia lalu berdiri seperti orang linglung di sisi ranjang.


Rasa sakit menghantam dadanya dengan keras.


Ia lebih rela mati daripada melihat Lorie seperti ini.


***