Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 5


Raymond menarik tangan Lorie ke sebuah restoran yang tidak terlalu ramai, tapi juga tidak terlalu sepi. Seorang pelayan menyambut mereka di depan pintu dan mengantar mereka ke tempat duduk di sisi dalam restoran yang menghadap langsung ke sungai. Kebetulan tidak ada orang lain di dekat tempat duduk itu selain Lorie dan Raymond.


“Apakah Anda ingin memesan makanan sekarang, Tuan?” tanya pelayan itu dengan sopan.



Raymond menyodorkan buku menu ke hadapan Lorie sambil berkata, “Pilihlah lebih dulu. Makanan di sini sangat enak, aku sangat merekomendasikan *risotto* dan *polenta e schie* , ada juga tiramisu yang sangat enak untuk hidangan penutup,” ucap Raymond dengan antusias.



“*Baccala mantecato* dan *bigoli* juga merupakan menu andalan kami, Nona,” imbuh sang pelayan, masih sambil menyunggingkan senyum lebar yang tampak manis.



Untuk sesaat Lorie jadi ingin memesan dan mencoba semuanya. Raymond mengulum senyum melihat ekspresi Lorie yang sangat serius saat sedang memilih makanan.



“Kalau tidak, kamu pesan saja semua. Jangan takut, aku akan membantumu menghabiskannya,” cetus Raymond seolah mengetahui kebimbangan yang sedang dialami Lorie.



“Benarkah?” tanya Lorie tanpa sempat berpikir dua kali. Tawaran itu sangat menggiurkan, sama dengan foto hidangan yang ada di dalam menu.



Raymond mengangguk dengan yakin sambil menjawab, “Tentu saja. Pilihlah mana pun yang kamu suka.”



Loria menyeringai lebar. Matanya tampak lebih bercahaya ketika membalas, “Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi.”


Setelah mengucapkan kalimat itu, ia segera menunjuk delapan menu yang ada di dalam daftar. Raymond tertawa melihat seringai kepuasan yang menghiasi wajah wanita di hadapannya itu.


“Benar-benar sudah sangat lama tidak bertemu,” ujar pria itu seraya menatap Lorie lekat-lekat, “Bagaimana kabarmu?”



“Cukup baik,” jawab Lorie. “Bagaimana dengan dirimu?”



Raymond mengangkat bahu dan merentangkan kedua tangannya.



“Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja,” ucapnya.



“Bagus sekali ... oh, ngomong-ngomong ... terakhir yang aku tahu kamu pergi ke Timur Tengah. Bagaimana bisa bertemu denganku di sini?”



“Itu cerita yang panjang.” Raymond terkekeh pelan dan menopang dagunya dengan tangan kanan. “Aku sedang mengunjungi kekasihku yang mengikuti pameran busana di sini.”



Mata Lorie membola. “Kekasih?” tanyanya.



Bukankah terakhir kali pria di hadapannya itu pergi ke dengan patah hati karena tidak bisa mendapatkan Kinara Lee?


Namun, itu memang sudah lama lalu ... waktu sangat mampu mengubah seseorang, bukan? Ekspresi terkejut di wajah Lorie perlahan memudar ketika mengingat bahwa waktu adalah obat yang paling mujarab untuk mengobati patah hati.


Melihat reaksi Lorie itu, Raymond tidak tersinggung sama sekali. Tawanya justru semakin lebar, membuatnya terlihat semakin menarik karena gurat kedewasaan yang muncul di wajahnya.


Untuk sekejap Lorie terdiam dan merasakan satu entakan keras di dadanya karena melihat Raymond tertawa seperti itu. Ia mengambil air putih di atas meja dan meminumnya perlahan, berharap agar rasa tidak nyaman di dalam dadanya segera menghilang.


“Kamu pikir aku tidak bisa mendapatkan kekasih? Apakah wajahku sejelek itu?” tanya Raymond setelah tawanya mereda.


“Tadinya aku pikir kamu akan merana sampai tua,” jawab Lorie, dengan jujur mengutarakan isi hatinya.


Jawaban itu membuat Raymond kembali tertawa hingga matanya hanya terlihat segaris. Suara tawanya yang dalam dan lembut sungguh sangat enak didengar. Lorie pun tidak bisa menahan diri untuk ikut tertawa bersama pria itu.


“Benarkah? Bagus sekali kalau begitu ....” Lorie menyesap air mineral di gelasnya lagi. “Aku jadi ingin berkenalan dengannya.”


“Hum. Semoga Alice memiliki waktu luang di antara jadwal road show-nya.”


“Kuharap begitu.”


“Ngomong-ngomong, apa kamu menetap di Venice?”


Lorie menggeleng cepat mendengar pertanyaan itu. “Tidak. Tidak ... hari Sabtu aku akan kembali Broocklyn. Aku ke sini karena urusan pekerjaan.”


“Oh ....”


“Kamu sendiri, berapa lama di sini?”


“Kami akan—“


Ucapan Raymond terpotong ketika dua orang pelayan datang dan meletakkan hidangan yang mereka pesan ke atas meja.


“Terima kasih,” kata Lorie kepada kedua pelayan itu.


“Silakan dinikmati, Nona,” balas sang pelayan. Ia membungkuk dengan sopan sebelum berbalik dan pergi.


“Kami akan pergi ke Boston setelah dari sini.”


“Kamu mengikutinya berkeliling dunia?” tanya Lorie seraya mengangkat alisnya. Ia sudah bisa memperkirakan bahwa Raymond Dawson adalah seorang pria yang romantis, tapi ia sungguh tak mengira bahwa pria itu rela mengikuti kekasihnya ke mana-mana seperti sekarang ini.


“Yeah ... mau bagaimana lagi ... hanya ini kesempatan kami untuk bertemu. Dia sangat sibuk dan aku sulit mendapatkan cuti. Kebetulan kali ini aku bisa mengambil libur tahunan, jadi ... sekalian saja jalan-jalan ....”


Lorie terkekeh mendengar penjelasan pria di hadapannya yang lebih terdengar seperti keluhan itu.


“Setelah makan malam, aku membuka kesempatan untuk konseling dan curhat, anggap saja sebagai bayaran karena sudah ditraktir olehmu,” ucap Lorie. Ia mengambil satu sendok risotto dan mencicipinya.


Raymond mengambil sendok dan garpu, kemudian menyendok hidangan di atas piringnya dengan gerakan yang sangat elegan.


“Ini sangat enak,” puji Lorie sambil mengangguk-angguk dengan puas.


“Kau tahu, di Broocklyn ... hanya ada sandwich dan jus jeruk,” lanjutnya lagi,


Raymond mengulum senyum. “Memangnya tidak ada yang memasak untukmu? Atau pergi ke restoran?”


Kali ini Lorie menggeleng tak berdaya. “Terlalu sibuk. Aku tidak suka pelayan, dan tidak suka pergi ke restoran tanpa teman.”


“Sesibuk itu?” tanya Raymon sambil menatap Lorie dengan tatapan menelisik. “Memangnya apa kamu kerjakan sekarang?”


“Menjadi tangan kanan Alex. Dia lebih sibuk mengurus anak-anaknya sekarang, jadi ... kau tahu ....” Lorie mengedikkan bahunya dengan acuh tak acuh dan tidak menyelesaikan ucapannya.


“Itu keren,” puji Raymond dengan sungguh-sungguh. “Pantas saja penampilanmu jadi berbeda, membuatku tidak mengenalimu tadi ....”


Lorie tertawa mendengar pengakuan itu.


“Memangnya dulu penampilanku sejelek itu?” gerutunya sambil memelototi Raymond.


Alih-alih takut Lorie tersinggung, Raymond malah mengangguk dengan cepat sambil berkata, “Dulu kamu sangat jelek, gaya pakaianmu terlalu kaku, juga sangat galak ... sama sekali tidak terlihat seperti seorang perempuan.”


Lorie hampir tersedak. Ia tahu dulu ia tidak feminim sama sekali, tapi sama sekali tak menyangka jika Raymond akan mengutarakannya dengan blak-blakan seperti itu.


“Sesi konseling dan curhat dibatalkan,” gerutunya, pura-pura merajuk.


“Oke ... oke ... itu salahku.” Raymond mengangkat tangannya ke udara seperti bocah sekolah yang melakukan kesalahan kepada gurunya. “Aku ralat, sejak dulu penampilanmu sangat memukau. Apakah itu sudah oke?”


Lorie mendengkus. “Tidak tulus sama sekali.”


“Hey ... itu sangat tulus ... pokoknya sesi konseling dan curhat tidak bisa dibatalkan!” protes Raymond, membuat wajah Lorie kembali dipenuhi senyuman.


“Baiklah, kamu punya waktu 30 menit untuk menceritakan semua hal tentang kekasihmu. Bagaimana?”


Raymond berpura-pura sedang berpikir dengan serius sebelum menjawab, “Aku rasa itu cukup adil.”


Ditingkah gemericik air sungai yang mengalir tenang, kedua kenalan lama itu melanjutkan makan malam mereka sambil mengenang masa lalu ....


***