Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 80: Kunjungan Jericho


Udara terasa semakin dingin. Kinara menarik selimut untuk menutupi lengannya. Alam bawah sadar membuatnya bergeser untuk mencari kehangatan dari tubuh suaminya. Ia menggeliat pelan ketika apa yang dicarinya tak ditemukan. Ia meraba-raba di sisi kiri dan kanan, berusaha menemukan sosok yang dicarinya. Namun, hanya udara kosong yang berhasil digapai oleh jemarinya.


"Alex?"


Kinara membuka mata dan melihat ke sekeliling. Sepi. Tak ada tanda-tanda kehadiran suaminya. Ponsel pria itu di atas nakas pun tidak ada lagi. Gadis itu bertumpu pada siku dan menyeret tubuhnya untuk bersandar di dipan. Ia menguap dan memejamkan mata sebentar.


Ke mana lagi dia pergi?


Tubuh Kinara merosot ke atas kasur. Ia mencoba untuk kembali tidur, matanya masih terasa berat. Namun, setelah beberapa kali berguling dan membalikkan tubuh, ia masih belum juga menemukan posisi yang nyaman. Kehadiran Alex di sisinya sekarang seolah menjadi candu. Ia tidak bisa tidur dengan tenang ketika pria itu tidak ada di sampingnya.


"Menyebalkan sekali! Kenapa tidak membangunkanku? Selalu saja bertindak seenaknya!"


Desisan pelan bergema dalam udara. Kinara menyibak selimutnya, lalu meraih remot AC dan menekan tombol off. Dengan kesal ia turun dari atas tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Ini hari Minggu, seharusnya Alex tidak ada urusan pekerjaan atau pergi terapi.


"Apa dia ada urusan yang sangat mendesak? Tapi paling tidak, seharusnya dia membangunkanku untuk pamit," gumam Kinara seraya menatap cermin di atas wastafel.


Ia mengambil sikat gigi dan pasta gigi, kemudian berkumur. Setelah selesai menyikat gigi dan membersihkan wajah, gadis itu mengisi bathtub dan menuangkan sabun aroma lavender.


"Kapan dia kembali?" gumamnya seraya masuk ke dalam bathtub.


Ia mengembuskan napas perlahan. Hari ini pasti akan sangat membosankan. Tidak ada acara apa pun. Tidak ada Alex. Tidak ada jadwal latihan.


Aku akan mengajak Lorie pergi ke perpustakaan umum. Menghabiskan waktu di sana tampaknya lebih menarik daripada harus terkurung seharian di dalam rumah. Ide bagus.


Gadis itu menyeringai puas. Ia mencari posisi yang nyaman dan berbaring dengan tenang.


***


"Tuan, kediaman ahli terapi itu telah kosong. Tidak ada apa pun saat kami tiba di sana."


Seorang pria yang memakai topeng anonymous berlutut dengan wajah menunduk di depan tuannya. Satu kompi pasukannya berlutut di belakangnya membentuk tiga barisan. Masing-masing ada sepuluh orang dalam satu barisan. Tak satu pun dari mereka berani mengangkat wajah dan menatap pria berjubah hitam yang duduk di singgasananya.


Pria dengan highlight rambut keperakan itu terlihat sangat tenang. Senyuman di wajahnya tampak menawan dan manis. Perlahan ia bangun dari kursi, lalu memasukkan tangan ke balik jubah. Raut wajahnya tidak berubah ketika ia kembali mengulurkan tangan ke depan.


Dor!


Sebuah peluru melesat bersamaan dengan suara letusan yang menggema dalam ruangan. Bulatan logam itu meluncur sepersekian detik, kemudian bersarang dalam tempurung kepala sang pria yang baru saja memberikan laporan. Tubuh itu luruh ke atas lantai tanpa sempat menyadari apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Genangan merah dan pekat melebar dengan cepat di bawah kepala yang berlubang. Tiga baris pasukan yang berlutut di belakang atasan mereka terkesiap, lalu menunduk semakin dalam. Tak ada seorang pun yang berani membuka mulut untuk mengucapkan pembelaan.


Kepulan asap tipis membubung dari pistol semi otomatis di tangan pria berjubah hitam. Hanya satu detik, senyuman lebar dan bersahaja itu menghilang. Raut wajah itu berubah dingin dan datar.


"Dasar tidak berguna," ucapnya dengan sorot penuh kebencian.


Pria itu berjalan menuruni tangga perlahan-lahan membawa aura kematian dalam tiap ayunan langkahnya. Ia berhenti di depan barisan pasukan yang gemetar itu, memerhatikan mereka satu per satu.


"Satu tugas kecil ... hanya satu tugas kecil dan kalian luput. Benar-benar memalukan."


Pria itu menoleh pada satu kompi pasukan berjas merah yang berdiri tegak dengan membawa senapan laras panjang.


"Bawa tikus-tikus tidak berguna ini ke ruang bawah tanah!" perintahnya.


"Tuan!"


Salah seorang pria yang berlutut mengangkat wajahnya dan merangkak ke bawah kaki tuannya. Ia tahu dengan pasti apa yang dimaksud dengan ruang bawah tanah. Demi para iblis yang menguasai bumi, ia tidak mau pergi ke sana!


Dor!


Bongkahan timah panas kembali melesat keluar dari sarangnya, melaju dan menembus bola mata kiri yang tersembunyi di balik topeng anonymous. Percikan darah menyiprat ke mana-mana. Tubuh pria itu ambruk menimpa lantai. Cairan putih kental bercampur darah merembes keluar dari lubang di kepala pria itu.


"Sial!" maki pria berjubah hitam seraya menendang tubuh yang berkelonjotan meregang nyawa di dekat kakinya. Ia mengusap punggung tangan yang terkena percikan darah ke jubahnya.


"Bawa mereka pergi!" serunya dengan lantang.


Sang pria berjubah berjalan kembali menuju singgasananya. Ia meraih ponsel di atas meja hitam di samping tempat duduk, lalu menekan speed dial dan menunggu nada sambung terdengar dari seberang sana.


"Lakukan apa yang kau janjikan padaku. Buat sepupumu itu menderita, sangat menderita sehingga ia lebih memilih mati daripada hidup. Kalau tidak, aku jamin kau yang akan lebih memilih untuk mati daripada jatuh ke tanganku. Mengerti?"


Klik.


Pria itu mematikan panggilan telepon sebelum lawan bicaranya sempat membalas. Ia tidak ingin mendengar lebih banyak lagi omong kosong. Untuk saat ini, yang ia perlukan adalah bukti. Ia ingin melihat dan menikmati bagaimana Alex Smith hancur berkeping-keping. Ia sangat ingin menyaksikan satu-satunya penerus keluarga Smith itu remuk dan tidak akan pernah bisa pulih untuk selamanya.


***


"Nyonya, ada tamu yang mencari Anda," lapor seorang pelayan di depan ruang baca.


Kinara mengernyit. Ia sedang kesal karena Lorie melarangnya pergi ke mana pun selain kampus. Alex ke luar kota selama dua minggu. Ini baru setengah hari dan ia sudah bosan setengah mati. Sekarang pelayannya mengatakan ada tamu. Dari mana? Sepertinya ia tidak punya banyak teman atau kenalan. Alamat rumah ini pun hanya diketahui oleh Billy dan keluarga Smith. Lalu, siapa tamu yang dimaksud oleh pelayan ini?


Gadis itu memberi tanda pada buku yang sedang dibacanya, lalu berjalan keluar.


"Siapa?" tanyanya pada pelayan yang masih berdiri di depan pintu. Ia sengaja membiarkan pintu itu tetap terbuka agar tidak perlu menyalakan mesin pendingin ruangan.


"Seorang pria. Dia bilang masih merupakan anggota keluarga Smith."


"Keluarga Smith?"


Kerutan di kening Kinara semakin dalam. Anggota keluarga Smith yang ia kenal selain tuan dan nyonya Smith juga granny adalah Jericho.


Tidak mungkin 'kan pria tidak tahu diri itu datang ke sini? Lagipula, dari mana ia mendapat alamat rumah ini?


"Di mana Lorie?" tanya Kinara lagi. Untuk alasan yang sudah jelas, ia merasa harus berjaga-jaga.


"Nona Lorie sedang keluar. Tadi dia menerima telepon dan mengatakan akan segera kembali."


Perasaan Kinara semakin tidak enak. Ia mempercepat langkahnya menuju ruang tamu. Wajah gadis itu berubah dengan cepat dari curiga menjadi terkejut, lalu terpana sesaat sebelum kembali merasa waspada. Tumpukan buket bunga di ruang tamu membuatnya mengira telah salah masuk ruangan. Namun, ketika seorang pria yang postur tubuhnya sekilas mirip Alex muncul dari antara kumpulan bunga itu, gestur tubuh Kinara telah benar-benar menjadi waspada.


"Jericho, kamu tidak diterima di sini. Pengawal, bawa pria ini keluar!" seru Kinara dengan raut wajah penuh permusuhan.


Berani-beraninya bedebahh ini muncul di sini.


"Wooo ... tenanglah, Kakak Ipar. Aku hanya mampir dan mengucapkan selamat untuk rumah baru kalian," terang Jericho dengan tenang. Ia berjalan ke arah Kinara seraya memamerkan seringai lebar di wajahnya.


"Berhenti di situ!" teriak Kinara dengan nada mengancam. Ia mundur dua langkah untuk menjaga jarak dari saudara iparnya itu.


"Bawa pria ini keluar! Jangan pernah biarkan dia menginjakkan kaki meski hanya di halaman rumah!" perintah gadis itu pada empat orang bodyguard yang telah bersiaga di dekatnya.


Jericho terkekeh seraya mengangkat kedua tangannya ke udara. "Kenapa sangat takut melihatku, Kak? Aku hanya berkunjung ... ah, ngomong-ngomong, di mana Alex?"


"Bukan urusanmu!" sergah Kinara sembari mengatupkan gigi.


Jericho baru akan membalas lagi ucapan Kinara, tetapi dua orang bodyguard segera menarik tangannya keluar.


"Aku akan kembali! Aku akan kembali untuk menjenguk kalian!" teriak Jericho dari depan pintu masuk. Tak lama kemudian, suara tawa yang panjang dan aneh terdengar dari mulut pria itu.


Kinara bergidik. "Siapa yang membiarkan dia masuk?" tanyanya pada dua orang bodyguard yang masih berdiri di dekatnya.


"Maaf, Nyonya. Kami tidak menyadarinya karena pria itu menyamar sebagai kurir pengantar bunga. Dia mengaku bunga-bunga itu adalah kiriman dari tuan untuk Anda. Maaf, lain kali kami akan lebih berhati-hati."


Tangan Kinara terkepal erat di sisi tubuhnya.


"Suruh Lorie menemuiku setelah dia pulang nanti," pesan Kinara sebelum berbalik menuju ruang baca.


Pria itu datang pasti ada maksud tersembunyi di baliknya. Apa pun itu, yang jelas bukan maksud baik. Alex, cepatlah pulang ....